BAB 3| Awal Masalah

1580 Words
Semua orang punya timing-nya masing-masing, hanya tinggal menunggu kapan timing itu datang menghampiri. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · Tidak ada yang lebih menyebalkan dari seorang Lily, anak kecil berumur 5 tahun ini rasanya telah ditakdirkan untuk mengacaukan hidupnya. Lihatlah, ulahnya. Tertidur setelah makan siang dengan dikelilingi kotak-kotak slime yang isinya berceceran ke mana-mana? Bagaimana bisa? Begitulah ajaibnya Lily. Dan kalian tahu apa yang dikatakan Lily, setibanya Devon tadi? Bisa-bisanya Lily memanggilnya dengan sebutan papa di depan orang yang tidak Devon kenal, di depan khalayak umum. "Papa," panggil Lily dengan wajah sumringah saat melihat Devon kembali. "Lily cantik, kan?" Devon sudah mengecek ulang, dirinya ingat sekali bahwa ia tidak pernah lupa untuk membersihkan telinga sehabis mandi. Devon berani jamin tidak ada congek yang menghalangi telinganya. Apa kata Lily tadi? Papa? Lily benar-benar mengujinya. Yang lebih memalukannya lagi, saat Devon harus berhadapan dengan orang tua dari anak laki-laki yang Lily ajak main. "Wah, anaknya berani banget ya, Pak. Pinter banget, enggak takut sama orang baru." Entah Devon harus senang atau sedih saat mendengar pernyataan itu. Devon bingung mencerna makna dari 'wah, anaknya berani banget ya, Pak.' Pada dasarnya Lily memang tidak tahu malu dan centil, tentu saja. Oke anggap saja itu pujian, tidak baik berburuk sangka. Apa tadi? Pak? Orang ini benar-benar mempercayai semua omongan Lily. "Mamanya ke mana?" Double kill. Tolong beritahu, apa yang harus Devon lakukan sekarang. Apa yang sebenarnya Lily lakukan saat ia tinggal tadi? Rasanya Devon telah melewatkan banyak hal. Lily yang berulah, Devon yang harus membereskan. Dasar, Lily! Si pembuat ulah itu malah sibuk memandangi lawan mainnya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan Lily berceloteh ria. Ternyata bukan hanya Devon yang risi menghadapi Lily, apalagi saat Lily banyak bicara yang seolah tidak ada hentinya dan tidak punya rem. Devon membenci itu. Shanon yang cerewet dan sikap Brandon yang bobrok melebur menjadi Lily yang menyebalkan. "Pak?" Ibu muda itu melambaikan tangannya di depan muka Devon. "Ah iya?" Kedua orang di depannya ini nampak menunggu jawaban darinya. Setelah ini Devon harus mencuci otak Lily, agar anak itu bersikap dan bertindak sewajarnya. "Ini keponakan saya." Devon menampilkan senyum terbaiknya. "Dia tidak merepotkan, kan?" "Oh maaf, saya kira anda ayahnya Lily." Wanita itu tersenyum kikuk. "Tidak masalah, hahaha. Lily memang seperti itu ...." Devon manggut-manggut, meski dalam hatinya dipenuhi umpatan. "... seperti itulah menyebalkannya, bahkan kadang tambah parah," lanjutnya dalam hati. Sisi lain hatinya berteriak tak terima. Ayah Lily? Memangnya wajahnya setua itu sampai-sampai orang-orang beranggapan dirinya telah menikah dan mempunyai anak? Atau jangan-jangan gegara masalah bisnis yang dihadapinya membuat wajah Devon keruh dan terlihat tua? Pria yang bisa Devon tebak sebagai ayah anak laki-laki yang sedang bermain dengan Lily, kini angkat bicara. "Lily sangat menggemaskan, dia mau mengajak main Bryan lebih dulu. Tidak seperti Bryan, anak kami sangat pasif dan susah berbaur." Bolehkah Devon meminta kantong kresek? Lily menggemaskan? Dilihat dari mana pun Lily tidak menggemaskan, menyebalkan yang ada. Lagi-lagi hanya senyuman yang mampu Devon berikan, meskipun umpatan yang ia tahan sejak tadi sudah akan mencapai batas maksimal, Devon masih mengusahakan untuk menahannya. "Ya begitulah Lily." Saat Devon berupaya membangun citra baik untuk Lily, tiba-tiba terdengar suara centil melintasi telinganya. "Kamu mau jadi pacar Lily, enggak?" Tolong ingatkan Devon untuk mengagendakan pengumuman ke keluarga besarnya mengenai etika berbicara di depan bocah kecil. *** Kemarin ada dan datang untuk menjadi sejarah, dan hari ini ada untuk menjadi misteri dan teka-teki. Harapan untuk hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah harapan yang dicita-citakan oleh semua orang, begitu juga dengan Devon. Tepat tanggal 1 Agustus dan yang lebih menyedihkannya lagi hari Sabtu. Semesta memang sebercanda itu. Seakan semua alam sedang bersekongkol dengan Devon, sore yang harusnya ia gunakan untuk bertapa atau memikirkan brandnya dan masalah-masalah kecil lain. Cia, adik sepupunya itu malah menyeretnya masuk ke tengah-tengah pertemuan wajib keluarga besar yang dapat dipastikan akan ricuh dan mampu membuat Devon sakit kepala tiba-tiba. "Om Devon, Lily mau makan kentang! Kak Dio enggak mau bagi kentangnya ke Lily." Kurcaci satu ini tiba-tiba menghampirinya dengan wajah tertekuk dan berteriak-teriak tak keruan. "Orang tuanya Lily siapa, sih? Gue apa Brandon? Ini kenapa bocah ngadunya ke gue?" batin Devon. Sebenarnya Devon sudah berusaha sekuat yang ia bisa untuk memojokkan diri dari kerumunan, kupingnya bahkan terasa pengang sejak dirinya memasuki ruangan ini. Rasanya seperti mendengar lebah dan nyamuk sedang berlari-lari di sekelilingnya. Oh bukan, Devonlah yang terlihat seperti nyamuk di ruangan ini. Semua om dan tantenya, sepupu-sepupunya, dan seluruh orang dewasa seusianya yang berada di rumah Oma memiliki pasangan, kecuali dirinya. "OM DEVON!" Devon sempat kaget mendengar teriakan Lily, untung saja daging yang berada di tangannya tidak terjatuh menimpa tanah. Benar sekali, Devon memilih berpura-pura menyibukkan diri dengan alat pemanggang dan daging serta jagung. Acara rutin awal bulan yang selalu digelar bergilir di rumah omanya, menjadi daftar terakhir kegaiatan yang ingin Devon hadiri. "Kentang!! Lily mau kentang!" Tidak kemarin, tidak hari ini, Lily benar-benar menyebalkan. Apa Lily tidak melihat Devon membawa daging, bukannya membawa kentang. "Minta ke papa atau minta ke mamanya Lily, Om enggak punya kentang." Lily mengentak-entakkan kakinya kesal. "Ah Om Devon enggak seru." "Hei, kalau mau kentang itu cari. Bukan malah berteriak seperti orang utan. Kentang tidak punya kaki, kentang tidak bisa menghampirimu hanya dengan kau teriaki." Lily mengacung jari tengahnya ke arah Ken—keponakan Devon yang berusia 7 tahun, 2 tahun lebih tua dari Lily—tak sampai di situ saja, Lily memeletkan lidahnya, mengejek. "Bang Ken juga enggak seru." Ken adalah lawan Lily yang sepadan. Bocah kecil yang satu ini, terlihat lebih dewasa dari usianya. Stay cool dan berbicara seadanya adalah kebiasaannya. Namun sekali Ken berbicara, ucapannya sangat menohok. Tidak seperti Lily yang sering rewel dan banyak bicara, Ken lebih tenang. Devon bersyukur saat si pengganggu Lily menjauh dari radarnya. Devon mengangkat daging hasil panggangannya ke piring, memberinya saus barbeque homemade buatan omanya. Hanya ada dua pilihan, bergabung dengan Cia, Dio, dan sepupunya yang berusia remaja atau bergabung dengan Ken dan keponakannya yang masih balita lainnya, namun berpotensi juga Lily akan mengganggunya lagi. Pilihannya hanya itu, karena Devon tidak ingin bergabung dengan saudara sepupu sepantarannya. Devon malas jika harus ditanya-tanya. "Nih." Devon menyodorkan sepiring daging panggang ke arah Ken, dirinya mengambil tempat untuk di samping bocah pendiam itu. "Thank you." Tanpa ba-bi-bu dan embel-embel kerewelan lain, Ken menerima pemberiannya. "Untung Ken, bukan Lily." Devon bersyukur dalam hati. Devon memakan dagingnya dengan tenang, meski hati dan kepalanya berkelana ke mana-mana. Melihat seluruh sepupu yang sepantaran dengannya berbahagia dan telah memiliki pasangan masing-masing, membuatnya merasa iri. Kenapa harus ada peringatan hari kasih sayang? Kenapa harus ada peringatan national boyfriend's day? Kenapa harus ada peringatan national girlfriend's day? Pertanyaan-pertanyaan itu mulai bergerombol memenuhi kepalanya. "Dev, nitip dulu sebentar dong. Gue mau ke kamar mandi." "Eh tapi—" Steve mengangsurkan Fanny sebelum Devon menyetujui. Inilah alasan mengapa Devon, kurang menyukai pertemuan wajib keluarga besarnya yang diadakan sebulan sekali. Dirinya pasti akan jadi tempat penitipan anak dadakan. "Tuhkan udah cocok, tinggal nunggu kamu punya gandengan aja, Dev." Apa Devon meninggalkan sesuatu? Rasanya ia lupa belum mengatakan kalimat pernyataan itu adalah alasan pendukung akan alasan mengapa dirinya mengubah kurang suka menjadi benci datang ke pertemuan keluarga semacam ini. "Hmm." Devon sudah agak kebal dengan kata-kata itu yang selalu ia dengar tiap bulan. Tidak munafik, sebenarnya Devon juga memikirkan akan jodohnya kelak. "Jadi kapan mau bawa gandengan?" Kalau Tante An menanyainya, Devon harus bertanya pada siapa? Andai Devon tahu dan punya, tidak perlu disuruh Devon akan membawa gandengan dan memberi tahu hari dan tanggal pastinya. Tetapi ini? Devon sendiri tidak tahu apa jawabannya. "Mm." Jawaban paling aman yang ada di kepala Devon. "Jangan hmm hmm doang, Dev," sindir mamanya. Lah, ini kenapa mama ikut-ikutan mencecarnya segala? Ini anakmu loh, Ma. "Ikan Dio aja punya gandengan, masa' Om Devon, enggak? Hahaha, cih kalah sama ikan." Ini kenapa bocah satu ikut-ikutan komentar sama ngatain? Kenapa Dio jadi ikut-ikutan nyebelin kayak Lily? "Mm, iya." "Pinter banget ya, Dev, enggak boleh ngomong 'hm' cuma ditambahin kata 'iya' doang di belakangnya hahaha." Disa juga ikut melipir dan mengomentarinya. Loh, memang salahnya di mana? Enggak ada aturan mainnya juga. "Udah waktunya kamu nyusul saudara-saudara kamu nikah, Dev." Tidak ada tanggapan apapun dari Devon. Menjawab dalam hati adalah kebiasannya saat didesak dan dipojokkan. Lagi pula terlalu banyak 'hm' yang iya katakan dalam beberapa waktu ini. Jika Devon beralasan masih umur segini dan masih ingin fokus untuk lulus S2, mamanya punya alasan kuat yang mampu memojokkan ke ujung paling pojok. Bagaimana, tidak? Kebanyakan sepupu-sepupunya itu nikah muda, awal-awal umur dua puluhan. Saat mereka masih harus fokus menempuh S1. Devon tidak semultitalent itu. Plak, otaknya menampar Devon untuk sadar diri. "Apa merintis bisnis saat SMA bukan termasuk multitalent, bodoh? Jangan merendah untuk digampar, Dev." "Pinjem handphone lo, Bang Dev. Mau minta hostpot." Sudah pernah Devon katakan, bukan? Semua anak kecil di keluarga ini tidak tahu diri. Setelah membawanya terjebak di tengah-tengah perkara, Cia meminta hostpot darinya. "Please," lanjutnya, "Cia butuh banget, Bang Dev, dari tadi buffering mulu." Lah yang nanya siapa, Siti? Dosa apa Devon harus menjadi bagian dari keluarga absurd ini? Daripada daging panggang yang telah masuk ke mulutnya harus keluar, Devon mengangsurkan ponselnya agar CIA berhenti menampilkan puppy face yang menjijikkan itu. Coba tebak, apa yang terjadi selanjutnya. Cia melipir pergi menjauh tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, benar-benar tidak tahu diri. "Makasih ya, Dev." Steve mengambil alih Fanny dari gendongannya, meninggalkan perasaan iri yang menempeli tubuh Devon. Apa hanya Devon yang ingin merasakan uwu, tetapi tidak mau berusaha untuk mencari sumber uwu-nya sendiri? []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD