BAB 14| Surprised (?)

1338 Words
Sebenarnya dunia itu luas atau sempit? · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · Jam makan siang dan Devon adalah dua hal yang tidak dapat disatukan. Berada di tengah restoran mewah untuk berdiskusi dan membicarakan bisnis bukanlah keahlian Devon. Biasanya ia hanya mengawasi, menyetujui, dan terima beres. Namun, kini? Si Brandon sialan itu menyuruhnya keluar dari zona amannya. Perkataan Brandon 2 jam yang lalu pun masih terngiang di kepala Devon. "Kalau enggak sekarang, kapan lagi? Lo dibantuin lama-lama ngeselin ya, Dev. Udahlah terserah lo, gue udah hubungin pihak sananya. Kalau lo enggak mau dateng, ya udah resiko lo sendiri." Saat Devon ingin melimpahkan masalah ini ke Tito, pria itu menolaknya mentah-mentah. Tito bahkan masih terlihat tidak terima dan dongkol ketika mengingat Devon mengalihkan plan mereka secara tiba-tiba. Di sinilah Devon terdampar menunggu relasi bisnis yang dijanjikan oleh Brandon datang. Sebenarnya jika dipikir-pikir kembali, semua perkataan Brandon ada benarnya. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Terlena dalam zona nyaman cukup lama membuatnya menjadi malas. Tetapi kenyataannya, Devon benar-benar malas untuk berbasa-basi dan memasang senyum palsu selama beberapa jam dengan orang baru dan memiliki maksud tertentu. Devon bukan tipikal orang seperti itu. Kenyataan lain juga menamparnya cukup keras, tidak selamanya Devon bisa mengandalkan Tito dan Brandon. Pasti ada saatnya yang entah kapan, dirinya sendiri yang harus turun tangan. "Andai aja semua masalah enggak dibuat rumit." "Hello Bapak Devon yang terhormat. Namanya juga ma-sa-lah ya pasti rumit. Kalau enggak rumit namanya bukan masalah," sahut otaknya. "Mm bener juga." Devon melirik jam tangannya ketika mendapati tempat di sekelilingnya semakin ramai. Tangan Devon beralih menggapai iPad-nya membaca ulang pesan dari Brandon. "Ini gue enggak salah meja atau salah restoran, kan, ya?" Matanya melirik nomor meja yang ada di depannya. "Bener. Tapi mana orangnya? Kalau first impression-nya aja udah jelek gimana sama kinerjanya nanti?" "Tungguin aja dulu. Lo tuh emang ditakdirin sendiri, Dev. Udahlah terima nasib aja, relasi bisnis aja buktinya molor." Otaknya lagi-lagi meledek Devon. Devon mengetikkan sesuatu di room chat-nya dengan Brandon. Tidak perlu menunggu lama balasan yang ditunggu Devon masuk. __________ Brandon: TUNGGUIN AJA, JANGAN NGELUH! [12:50 pm] __________ Sialan! "Enggak ada gunanya ngeluh ke Brandon." Menunggu merupakan kegiatan yang membosankan bagi Devon. Intinya hanya buang-buang waktu dan mempersulit keadaan. Harus berapa lama lagi dirinya menunggu? Devon mengurut batang hidungnya, mengusahakan moodnya tidak turun. Butuh tenaga banyak untuk menampilkan senyum terbaik yang dirinya punya di depan orang baru. "Permisi, maaf terlambat." Wanita yang tidak asing di penglihatan Devon menyeret kursi yang ada di depannya. "Halo, Om ganteng!" Sapaan dari bocah genit itu juga ikut-ikutan masuk ke telinganya. "Loh Devon?"  Clara adalah orang pertama yang menyadari bahwa pria yang tengah duduk di depannya ini adalah pria yang sama dengan pria yang ditemuinya kemarin di acara kondangan. "Iya?" Satu alis Devon terangkat. Devon hafal betul bentuk muka wanita di depannya ini, hanya saja otaknya terlalu lama merespon untuk mengingat siapa namanya. Clueless! "Eh bentar, deh." Clara melihat nomor meja dan ponselnya secara bergantian. "Ini meja nomor 7, kan?" Devon mengangguk. Clara menunjuk Devon dan dirinya sendiri dengan tatapan bingung. "Loh kok? I-ini gimana, sih?" Devon juga sama bingungnya. Kesialan apalagi yang harus menimpanya hari ini? Menunggu relasi bisnis terlalu lama sudah menguras habis moodnya, Devon sangat tidak siap jika harus menghadapi kesialan lain untuk saat ini. "Om ganteng, princess Lily mana?"  Oh apalagi ini? Wajah polos tanpa dosa itu menanyai hal yang tidak penting. Devon masih sibuk merapalkan doa agar tidak ada yang masalah lain yang menghalanginya, mana sempat dirinya memikirkan Lily. "Boy, jangan terlalu genit. Itu tidak baik." Tangan Clara mampir ke puncak kepala putranya. "Mm Devon," panggil Clara dengan deheman. "Iya?" "Kamu ngapain di sini? M-maksudnya ada acara apa di sini?" Clara melayangkan pertanyaan dengan penuh keingintahuan. Devon manggut-manggut. "Nunggu orang." "Iya tahu nunggu orang." Clara mengibaskan rambutnya ke belakang, menyampirkan salah satunya di belakang telinganya. "Maksudnya siapa? Enggak mungkin, kan, kalau satu meja reservasi di book 2 orang beda kepentingan?" Devon mengangguk, ada benarnya juga. Tidak mungkin 1 meja di book 2 orang beda kepentingan dalam waktu yang sama sekaligus. "Aku lagi nunggu, mm ... Darwin." "Darwin?" ulang Clara. Devon mengangguk mantap. "Iya Darwin." Secercah senyum terbit di ujung bibir Clara. "Mayor.co?" Devon dilanda kebingungan secara mendadak. Bagaimana bisa Clara mengetahui siapa Darwin yang Devon maksud? Jangan bilang kalau— "Syukurlah. Aku kira salah tempat, Darwin lagi ke kamar mandi." "Maksudnya?" tanya Devon. Dirinya tidak ingin berspekulasi sendiri dari apa yang baru saja ia dengar. "Aku sama Darwin yang bakal ngurus kerjasama antara 48n dan Mayor.co." "Hah gimana?" Layaknya orang d***o, Devon sama sekali tidak bisa menerjemahkan perkataan Clara. "Ya ampun, Dev. Kamu itu lucu banget, ya." Suara kekehan Clara lama-lama berubah menjadi tawa yang nyaring. "Mayor.co itu masuk naungan perusahaan papa aku. Darwin itu saudara sepupu aku. Ini kali pertamanya aku terjun buat nanganin kerjasama ... setelah ya you know that. Mohon bantuannya, ya." Devon meringis mendengarnya. Kejutan macam apa yang ia dapat hari ini? Semoga saja jalannya tidak terhalang apapun. "Mm, it's okay." Devon menjeda ucapannya. "Sorry—" Clara menggeleng. "Eng-enggak kok. Itu bukan masalah hehe." Devon mengernyitkan keningnya, kebingungan. Jawaban yang dikeluarkan Clara bukanlah jawaban yang tepat untuk pertanyaan Devon. "Mm sorry. Maksudnya, nama ... kamu?" Clara menganga. "Kamu enggak baca kartu nama aku, ya?" Devon tidak tahu bagaimana caranya merespon kembali, kartu nama yang Clara berikan kemarin sudah tewas mengenaskan seusai Devon remas dan berakhir teronggok di tempat sampah. *** Dunia terasa sempit bagi Devon. Semuanya terbatas dan menemui orang yang sama—itu-itu saja. Bahkan Devon sendiri pernah merasa jenuh. Sempat terlintas di kepala Devon, apakah circle kehidupannya hanya sebatas keluarganya? Yang paling jauh mungkin hingga sampai relasi saja. "Ketemu Cia lagi. Ketemu Lily lagi. Ketemu Dio lagi. Ketemu Levin lagi. Muter aja terus." Bertemu orang yang sama secara berulang dengan tingkah yang menyebalkan setiap harinya mampu membuat Devon stres berkepanjangan. Cklek. Dua makhluk tak kasat mata serentak melongokkan kepalanya saat pintu terbuka dari luar.  "Ngapain lo?" "Buta lo?"  Jelas sekali itu bukan jawaban. Mereka melanjutkan kegiatan makan siang yang kesiangan tanpa memedulikan Devon di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan Tito dan Levin yang dimaksud. "Maksudnya ngapain kudu di ruangan gue?" desak Devon. "Soalnya lo enggak ada di sini tadi." Levin meneguk air mineral yang ada di atas meja. "Udah, sih, enggak usah dibikin ribet." Tito mengangkat mangkuknya menjadi lebih dekat ke arah mulut. "Kalau laper, bilang. Enggak usah ngamuk-ngamuk kayak cewek. Ribet lo." Berusaha untuk mengabaikan dua orang pengganggu yang ada di ruangannya, Devon melangkahkan kakinya menuju lemari pendingin di pinggir ruangan. Kerongkongannya butuh air dingin. Drrt! __________ Clara J.:udah nyampe, dev? [02.03 pm] __________ Uhuk. Satu pesan yang masuk ke ponselnya seketika itu juga membuat Devon tersedak. Air dingin yang harusnya bekerja untuk mendinginkan sarafnya, kini malah berbanding terbalik. Bukan hanya kerongkongan Devon yang panas, hawa-hawa di sekelilingnya ikutan panas. "Mari kita saksikan, kegoblokan apalagi yang diperbuat oleh Bapak Devon." Tito mengatakan itu dengan nada datar, posisi mulutnya tetap mengunyah makanan. "Minum aja masih keselek, gimana mau lancar nyelesaiin masalah hidup? Kayak Lily aja, makan masih belepotan," sahut Levin. "Berisik lo berdua!" Levin menimpuk Devon dengan gumpalan kertas. "Lo yang berisik, bego. Lihat notif udah kayak ketiban gajah. Mana mata lo melotot banget lagi."  Sabar, jangan gubris! Anggap omongan Levin dan Tito bagai kaset rusak. Entah rapalan apalagi yang kini Devon masukkan dalam otaknya. "Eh!" Satu teriakan dari Levin menghentikan langkah Devon. "Ambilin gue air dong, Dev. Haus!" Devon menabahkan hatinya, keinginan untuk mendepak dua orang ini dari ruangan begitu menggebu. "Awas aja kalau lama-lama makin tambah ngeselin." Meski kesal, Devon tetap mengambilkan satu gelas air dingin. Entah apa yang terjadi nanti, akal sehatnya masih berfungsi untuk menahan diri tidak menyiramkan air itu ke muka Levin atau Tito. "Gimana pertemuannya? Susah, kan? Pasti gagal, ya?" sindir Tito setelah gelas berisi air yang Devon bawa telah mendarat mulus di atas meja. Devon memutar bola matanya. "Berisik!" Tito menggerakkan tangannya seperti sedang manghidu sesuatu. "Emh, bau-bau kegagalan tercium, bung." "Mana ada?" Devon kembali meneguk airnya. Bingung akankah ini termasuk dalam kategori beruntung atau sial? Singkat saja, Devon mengharapkan semua berjalan sesuai keinginannya. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD