BAB 13| Levin Berulah

1659 Words
Ada dua kategori penyesalan. Yang pertama, ketika kamu menyesal karena melakukan sesuatu dan yang kedua, ketika kamu menyesal karena tidak pernah melakukannya. —Levin. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · "Lo udah sampai mana, Dev? Masih lama, enggak?" Satu pertanyaan yang sama sudah Devon dengar puluhan kali kurang dari satu jam dirinya mengendarai mobilnya. "Hmm. Bentar lagi sampai." "Bentar lagi itu kapan?" Terdengar suara helaan napas dari sambungan telepon di seberang sana. "Kasih estimasi waktu yang akurat dong. Gue udah capek jagain Levin." "Bentar—" Pip.  Devon menatap ponselnya di atas dashboard dengan pandangan datar. Jangan salahkan Devon jika dirinya nanti tidak ingin mengangkat panggilan telepon dari orang yang sama itu lagi. Tales dan bar-bar lain tidak pernah bersahabat dekat dengan Devon. Dirinya tidak mengerti pola pikir orang-orang yang selalu melarikan diri ke bar dan meminum minuman beralkohol untuk mencari pengalihan saat pikirannya tak mampu memikirkan jalan keluar untuk masalah yang sedang dialami saat ini. Bukan menemukan solusi, yang ada malah menambah masalah.  Stupid! Levin dan bodoh adalah pasangan yang serasi untuk saat ini. Entah masalah apa yang dialami Levin, Devon tidak ingin mengurusinya. Terseret untuk membantu Levin merupakan petaka bagi Devon dan malam ini ... Devon kembali ikut terseret. "Tadi pagi, Lily. Sekarang, Levin. Besok, siapa lagi?" Bukan berniat untuk pamrih atau tidak ikhlas, namun Devon juga butuh untuk mengurus dirinya sendiri. Devon yang bodoh, mengutamakan kepentingan orang lain dan mengabaikan dirinya sendiri. Kurang 50 meter lagi. Papan lampu bertuliskan Tales sudah terpampang jelas di tengah gelapnya malam dari kejauhan. Terlihat sepi dari depan dan sangat ramai saat di dalam. Tidak susah bagi Devon untuk mengenali Levin. Joe—bartender, kenalan Levin—melambaikan tangannya ketika mengenali mobil Devon. "Sha!" Rintihan Levin samar-samar terdengar saat Devon mendekat. "Lo cantik, Sha." Devon menutup hidungnya saat tercium bau alkohol yang amat pekat dari tempatnya berdiri. "Kenapa dia?" "Habis minum." Keinginan untuk menyentil otak Joe sudah sangat membara di tubuh Devon sejak tadi. Mulutnya sudah gatal ingin meneriaki Joe bahwa anak umur sepuluh tahun juga paham kalau orang pergi ke bar tujuannya untuk minum. "Gue tahu." Devon melirik Levin yang sedari tadi tak henti-hentinya meracau. "Maksudnya, dia kenapa?" "Ya mana gue tahu." Joe mengangkat bahunya. "Joe gue seriusan nanya, ya!" Hasrat Devon untuk benar-benar menyentil Joe kian membesar.  Belum sempat Devon melancarkan aksinya untuk menyentil Joe. Pemuda ini sudah amat tidak sabaran untuk menghempaskan Levin dari hadapannya saat ini juga. "Gue juga seriusan jawab, ya, Bapak Devon. Buruan, bantuin gue." Devon bersedekap melihat pria di depannya ini yang tengah kesusahan memapah seorang pria mabuk seorang diri. "Bantuin woi! Jangan diem aja." See?! Joe sebel, kan? Itulah yang dirasakan Devon. Sebal karena ulah Levin dan harus ditambahi sebal karena mendengar jawaban Joe yang bertele-tele. "Bilang dulu yang jelas, kenapa Levin bisa kayak gini?" Joe terlihat berpikir keras saat Devon menanyainya pertanyaan yang begitu mudah. "G-gegara minum. Kurang jelas apalagi, sih, Dev?" Jelas sekali Joe menutupi alasan mabuknya seorang Levin. "Yang detail dan spesifik," tutur Devon penuh penekanan. "Gue enggak ada waktu—" "Semakin lo ngulur waktu, pekerjaan lo di dalam sana semakin menunggu." Devon mengetuk-ngetukkan kakinya secara berirama. "Gue sih ...." Joe mengangkat tangannya tanda menyerah saat Devon sedang menjeda ucapannya. "Oke gue kalah." "Tadi—" "Sha!" racau Levin yang tak lama setelahnya terdengar nada sesenggukan yang amat ngilu, "gue bego, ya, Sha?!" Devon masih meunggu penjelasan dari Joe yang sempat terpotong akibat racauan Levin. Sha? Siapa Sha? "Jangan kelamaan ngerangkai kalimat buat bohongin gue, ya, Joe." Joe menggeleng. "Ya Tuhan. Enggak Levin, enggak lo, dua-duanya sama aja. Negatif thinking mulu." "Cepetan atau gue tinggal balik?" Joe menghela napas gusar. "Jadi ... tadi sekitar jam 10an si Levin ke sini. Itu masih terlalu sore buat minum, kan?" Devon mengangguk. "Nah, gue sendiri enggak tahu masalahnya Levin apa." Devon menelisik mencari adanya kebohongan yang mungkin diucapkan oleh Joe. Nihil, Devon tidak dapat menemukan itu dalam wajah polos di depannya ini. Bersih tanpa celah."Terus?" "Ya-ya enggak ada terusannya. Udah gitu doang. Ayo buruan—" "Berapa botol yang dia minum?" potong Devon, "kita sendiri tahu. Levin jago banget kalau urusannya alkohol. Kenapa dia bisa sampai mabuk? Udah jelas bukan gelas lagi ukurannya, kan?" Serentetan pertanyaan Devon membuat Joe mati kelabakan di tempatnya. "Ya ... ya gitu." Devon memutarkan bola matanya, Joe kembali bertele-tele. "Ya gitu itu maksudnya apa, Joe?" "Iya bener itu maksudnya. Semua yang ... barusan lo tanyain itu ...." Joe menjeda perkataannya. "... itu semua benar. Eits!" Joe mengangkat telunjuknya saat Devon kembali akan memojokkannya. "Tapi jangan tanya alasannya ke gue. Gue sendiri enggak tahu dan Levin juga enggak ngasih tahu gue, itu jawaban apapun yang mau lo tanyain. Okay?" "Kenapa lo enggak nyegah dia buat minum sabanyak itu sampai dia mabuk?" Joe mengusap peluh yang ada di dahinya. "Gue udah coba. Emang ada yang bisa ngejalanin Levin buat minum? Lo sendiri udah tahu jawabannya, Dev." Devon manggut-manggut. "Siapa Sha? Kenapa—" Joe memotong ucapan Devon. "Levin dateng sendirian, kalau Lo mau nanyain itu. Gue enggak tahu siapa 'Sha' yang dimaksud. Buruan bantuin gue gotong si kunyuk satu ini. Kerjaan gue masih banyak di dalam." Masih menjadi rahasia mengapa bisa seorang Levin yang notabenenya sangat tahan dengan kadar alkohol tinggi bisa mabuk malam ini. "Sha! Lepasin gue, b*****t! Gue cuma mau, Sha!" Levin berontak dan berteriak dengan kondisi tak sadarkan diri. "Diem, Vin! Ternyata pas mabuk, lo enggak kalah nyusahin kayak pas lo sadar!" maki Joe. Rupanya bukan hanya Devon yang merasa bahwa Levin menyebalkan, buktinya Joe juga mengeluhkan hal yang sama. Tenaga Levin juga terbilang cukup kuat meski dirinya tengah tak sadarkan diri. "Ya Tuhan, Vin! Berat banget, sih, lo? Jangan-jangan kebanyakan dosa ya, lo?" Devon menulikan telinganya. Sebenarnya ini yang mabuk Levin atau Joe? Mengapa dua orang ini berisik sekali? Blam. Pintu mobilnya dibanting dengan penuh kebahagiaan ketika Levin berhasil masuk ke dalamnya. "Gue balik masuk, Dev. Bye," pamit Joe. Napasnya terdengar tersengal-sengal. Kini tinggal Devon seorang diri yang dilimpahi tugas untuk mengurus Levin yang sedang mabuk parah. Bau alkohol memenuhi mobil Devon saat dirinya baru membuka pintu. "Mari kita akhiri hari ini dengan cepat tanpa mengeluh." Devon menekan umpatan yang akan keluar dari mulutnya dan menggantinya dengan kalimat penuh harap yang ia ucapkan layaknya mantra penenang. Nahas, seakan kesialan belum ingin berhenti menguji Devon. Jalanan pulang menuju apartemennya secara mendadak menjadi ramai. Meskipun bukan macet, namun ini tidak wajar mengingat jam sudah hampir menunjuk pukul 2 dini hari. "Sha! Gue kurang apa sih? Apa yang bisa mereka kasih dan gue enggak bisa?" Racauan Levin semakin menjadi, isakan tersedu-sedu juga terdengar lebih jelas. "Sha siapa, sih? Dari tadi manggil Sha mulu? Berisik, Vin! Mana mulut lo bau banget lagi." "Sha ...." Devon memilih diam dan fokus untuk mengendarai mobilnya. Hidungnya sudah semakin tidak tahan dengan bau alkohol yang semakin menyengat. Devon dapat mengetahui dengan jelas, alkohol yang Levin minum kadarnya sangat tinggi. Baunya tidak sama seperti biasanya. Hoek! "Jangan bilang, kalau ...." Devon menatap waswas penumpang di bangku belakang mobilnya. "Mobil gue! Levin sialan!" *** "Engh." Pagi indah Devon harus diawali dengan kegaduhan yang terduga. Bukan suara alarm atau pun cuitan burung-burung seperti pagi-pagi biasanya, melainkan suara barang jatuh. Brak! "Heh? Ini suara apa, sih?" Devon menyingkap selimut yang membungkus badannya. Matanya mengerjap berulang kali, terasa lengket dan perih. Nyawa Devon juga belum sepenuhnya lengkap, masih berkelana dalam mimpinya tadi. Tak! Bruak! Suara benda jatuh kembali terdengar berulang-ulang dan suaranya semakin keras. "Ah paling kucing." Sepersekian detik setelahnya, mata Devon membelalakan matanya. Rasa kantuk yang awalnya menggebu langsung memudar seketika itu juga. "Ini kan lagi di apartemen, bukan di rumah mama. Itu suara apa?" Otak Devon masih memproses apa yang sebenarnya terjadi. "Ya kali ada maling pagi-pagi begini." Tetap mengantisipasi semua kemungkinan yang ada, Devon bergerak untuk mengambil tongkat baseball di pinggir lemari. Brak! Duagh! Suara benda-benda jatuh itu terdengar semakin kencang. Devon membuka pintu kamarnya pelan-pelan, mengusahakan agar tidak menimbulkan suara sama sekali meski derit pintu sekali pun. "Enggak ada orang. Masa iya ada maling masuk?" Mata Devon menelusuri semua bagian apartemennya, tidak ada yang berbeda. Hingga tiba-tiba hidung menghidu bau yang kurang sedap. Brak! Hoek. Devon menoleh ke sumber suara. Manusia yang lebih menyerupai zombie teronggok tidak berdaya di ujung dapur. Jangan lupakan muntahan-muntahan yang berceceran dari ruang tamu hingga dapur. "Vin, lo enggak berniat buat ngerjain gue, kan?" Muntahan Levin di mobil Devon tadi malam saja belum dibersihkan, kini apalagi? Levin ingin menambahi tugas Devon? Good. "Sha?" Devon memandang malas Levin yang tergeletak di lantai. Menebak-nebak berapa banyak kadar alkohol yang Levin tenggak tadi malam sehingga Levin tetap teler hingga pagi. "Sha mata lo? Shaiton maksud lo?" "Ah lo, Dev." "Lo enggak lagi ngerjain gue, kan, Vin?" "Hah? Gimana, Sha?" Mata Levin benar-benar sayu. Nampaknya ini akan menjadi hari yang panjang bagi Devon. Sepupunya yang satu itu tidak dapat diajak untuk berkompromi saat ini. Devon sudah bisa menerka apa yang membuat Levin bisa menjadi seterpuruk ini. Seseorang yang bernama Sha terus-menerus dipanggil berulang kali sejak tadi malam. "Levin. Levin. Levin. Masa iya buaya kayak lo bisa segoblok ini cuma gara-gara satu cewek." Levin merogoh sesuatu yang berada di atas kabinet dapurnya. "Siapa namanya? Sha? Cewek mana yang udah berhasil naklukin lo? Udah kurang stok lo, jadi down banget kayak gini?"  "Dear, Devon." Levin mengumpulkan tenaganya untuk berdiri namun gagal. Kepalanya terlalu berat untuk beranjak dari lantai. "Sadar diri, bego! Apa kabar lo yang masih sendirian?! Enggak usah sok nasehatin gue deh, lo!" Devon mengibaskan tangannya. "Daripada main-main terus berujung nyesel, mending sendiri." "Nyesel gegara udah pernah nyoba ngelakuin suatu hal, lebih baik daripada nyesel gegara enggak pernah mau nyoba sesuatu, dude. Hahaha, Devon. Devon." Hoek. Devon menggelengkan kepalanya, melenggang untuk menemui tukang bersih-bersih. Pikirannya sedang berperang untuk mengenyahkan ucapan Levin yang menohok. Mendoktrin otaknya untuk kebal dan tetap percaya bahwa perkataan orang mabuk kebanyakan omong kosong yang isinya melantur. Namun di satu sisi, hatinya menolak keras dan mulai mempercayai bahwa perkataan orang mabuk biasanya terkesan jujur dan apa adanya. Itu semua berakhir menimbulkan pergulatan batin tersendiri untuk Devon. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD