BAB 12| Penghujung Hari yang Menyebalkan

1492 Words
Tidak hanya ada satu jalan untuk menuju suatu tempat, namun ada banyak jalan untuk bisa menuju tempat yang sama. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · Perkedel kentang, tumis udang, nugget, dan nasi panas adalah bayaran yang Devon dapat setelah menjaga Lily seharian penuh. Nyatanya Lily tetap bersama Devon setelah selesai menghadiri acara kondangan tadi. Alasannya masih sama seperti beberapa hari lalu.  "Lily mau ikut Om Devon aja, biar mama sama papa bisa bikinin adik buat Lily." Brandon dan Shannon bahagia, Devon meringis kecewa. Kebohongan apalagi yang mereka racunkan untuk Lily? Memangnya membuat anak semudah membuat kue atau menyusun lego? Yang tidak Devon habis pikir lagi adalah di antara banyaknya om dan tante yang Lily punya, mengapa ia harus memilih Devon? Mengapa? Lily bisa memilih ... Steve dan bisa bermain bersama si kecil, Fani. Atau mungkin memilih Dio, agar bocah nakal yang satu itu tidak bisa bermain game lagi. Oh, atau merecoki Levin, supaya Levin tahu bagaimana menyebalkannya Lily. Tapi ini? Mengapa harus Devon? Lily benar-benar mampu membuat Devon bad mood seharian ini. Entah itu karena terlalu banyak bertanya, merengek atau meminta sesuatu yang neko-neko saat Devon sedang sibuk bekerja. Sebenarnya sajian makan malam yang berupa perkedel kentang, tumis udang, nugget, dan nasi panas ini kurang seimbang dengan tingkah Lily yang membuat Devon terus-terusan memutar otak. Lumayanlah, setidaknya perut Devon terisi. Drrt! Satu pesan masuk ke dalam ponselnya saat Devon baru saja akan menyendokkan nasi ke dalam mulutnya. __________ Levin: Tales [08:13 pm] Levin: nanti malem [08:13 pm] __________ Devon menyingkirkan ponselnya, sama sekali tidak berminat membuka pesan dari Levin. Devon hanya mengintip melalui notifikasi bar. Tubuhnya butuh makan untuk bisa mengembalikan tenaganya yang terkuras habis setelah menjaga Lily. "Mam—" "Habiskan makananmu dulu, sayang," perintah Shannon. Tangannya sibuk membenahi serbet yang menggantung di leher Lily. Serbet yang mencerminkan penggunanya, serbet itu terus bergerak dan tidak berhenti bergeser dari tempatnya semula, sangat persis dengan Lily. "Jangan berbicara saat mulutmu penuh makanan. Oke?" Lily mengangguk seraya mengacungkan jempolnya. Tidak mengucapkan apapun, hanya menggerakkan tubuhnya tanda mengerti. "Huh?" teriaknya dalam hati. Semua itu sontak membuat Devon syok. Mengapa Lily menjadi penurut sekali? Sangat berbeda jauh saat hanya bersama Devon. Fix, Lily punya dendam pribadi dengan Devon. Tanpa pikir panjang lagi, Devon meluapkan kedongkolan hatinya ke makanan. Menyendok nasi sepiring penuh, memenuhi piringnya dengan tumis udang, memindahkan nugget dan perkedel kentang sebanyak mungkin. "Lo ngambil makanan kayak orang enggak makan sebulan, Dev." Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Tidak jauh beda dari Lily, Brandon juga menyebalkan. Sifat menyebalkan Brandon menurun ke Lily, malah jauh lebih parah. Devon tidak mempedulikan sindiran Brandon, makanan di depannya lebih menggugah selera daripada berdebat dengan Brandon. "Heh! Diajak ngomong malah diem, ck." Baru saja Devon berniat untuk mengeluarkan sindiran sarkas untuk Brandon, namun kalah cepat dengan Lily.  Lily mengangkat sendoknya. "Papa! Enggak boleh ngomong pas makan, nanti Lily jewer kalau nakal." Good girl! Ingatkan Devon untuk memberi Lily hadiah nanti. Kapan lagi Lily membelanya? Hahaha, ini wajib diperingati. "Sayang ...," gumam Shannon penuh penekanan dengan diiringi sikutan setelahnya, membuat Brandon bungkam, "jangan kasih contoh yang buruk di depan Lily!" "Awas aja lo, Dev!" "Sayang!" peringat Shannon sekali lagi. Devon dapat tertawa puas saat lawannya—Brandon dan Lily—tidak dapat berkutik karena berada di bawah pengawasan pawangnya. Khas sekali bahwa mereka tertekan dan cenderung lebih penurut. Sikap yang Brandon dan Lily tunjukkan sangat berbanding terbalik saat ada atau tidaknya keberadaan Shannon di sekitarnya. Setidaknya Devon dapat bernapas tenang walau hanya untuk makan malam. Drrt! __________ Levin: WOI [08:29 pm] __________ Devon hanya melirik ponselnya tanpa ingin menyentuh atau membalas pesan dari Levin. Sepiring penuh makanan di depannya menyuruh Devon untuk segera melahapnya hingga lenyap tak bersisa. Satu suap. Dua suap. Tiga suap. Semua makanan terasa nikmat jika perut sedang lapar. Tidak jauh beda dengan yang Devon makan dari malam-malam sebelumnya.  "Apanya?" celetuk hatinya. "Enggak ada yang beda kecuali suasana. Bilang aja lo lagi ngebayangin kapan suasana kayak gini bisa lo dapet. Iya, kan?" Maksudnya apa? Kenapa dirinya terus-terusan dituntut memutar otak. Bayangan dan ganjalan yang ada dalam otak dan hati Devon terlalu tinggi dan mengambang untuk dapat dengan mudah dipahami. Devon sendiri tidak paham dengan maksud hatinya. "Heh, bego! Lo lagi ngebayangin gimana rasanya punya keluarga bahagia yang lo bangun sendiri, kan?" Otak Devon mengeluarkan semua unek-uneknya, Devon terlampau lemot untuk diajak bicara secara halus. "K-keluarga? Haa? Gue enggak lagi ngomongin keluarga, deh, perasaan. Kenapa semakin lama otak sama hati gue semakin enggak jelas, sih?" pikir Devon. Hati dan otaknya yang dari awal tidak satu tujuan, semakin lama semakin menyulitkan Devon. Keinginan, hati, dan otak Devon seolah berjalan pada jalur masing-masing. Hanya dalam fase tertentu saja mereka bisa berkerja sama, menanyai kapan Devon akan menikah, misalnya. Seperti yang dilakukan Nyonya Christ tadi pagi. Padahal dari awal Devon ingin mengomentari makanan yang ia makan, bukan keluarga atau suasana apapun. Pikiran Devon belum sempat berkelana jauh ke sana. Hanya ada satu yang mengganjal dari makan malam hari ini, sayur. Devon tekankan sekali lagi. Sa-yur, bukan ke-lu-ar-ga. Apalagi ki-sah-cin-ta. Devon butuh kuah sayur. Kerongkongannya kurang licin saat menelan makanan, meski dalam piringnya tersaji tumis udang. Tumis udang buatan Shannon tidak ada sayurnya sama sekali. Murni udang yang dibumbui asam manis dan ... minyak. "Mama! Mama Lily minta adik perempuan aja, ya!" Uhuk. Uhuk. Bukan Brandon atau Shannon yang tersedak, namun Devon. Sudah Devon katakan 'kan, tadi, rongga kerongkongannya kurang licin untuk menelan makanan. Pada dasarnya Lily yang sudah kelewat hobi membuat Devon dalam masalah, tanpa menyentuh Devon SMA sekali, Lily mampu melakukannya. Devon membatin, "Ini Lily minta adik kayak lagi request dibikinin donat yang besokannya langsung jadi aja. Lagi, itu semua bahkan enggak bisa diprediksi apalagi di-request secara gamblang."  Belum sempat berpikir dengan jernih, otak Devon kembali menyadarkannya. "Enggak usah sok g****k dong, Dev! Kesel lama-lama. Namanya juga anak kecil, ya gimana bisa tahu? Ngompol aja masih nyariin orang tuanya, belum ada waktu buat belajar dari mana datengnya anak, dia. Uhuk. "Lo lama-lama ngeselin juga ya, Dev. Bilangnya aja semua anggota keluarga besar gue nyebelin. Heh, ngaca lo! Lo juga enggak kalah nyebelin dibanding mereka!" Uhuk. Uhuk. Pukulan telak dari otaknya, tepat mengenai pola pikir Devon saat itu juga. "Mampus! Syukurin! Tahu rasa!" Serentetan umpatan dari Brandon tertuju pada Devon. Lebih parahnya lagi, bukannya berhenti batuk-batuknya malah semakin menjadi. Shannon mengikut lengan Brandon lalu beralih mendorong gelas berisi air mineral mendekat ke arah Devon. "Minum, Dev." Devon menerima sodoran itu, dirinya masih berusaha meredakan kerongkongannya yang agak panas seusai tersedak. Sepertinya Devon harus memberi tahu Shannon untuk lebih memperhatikan asupan makan Lily. Terlebih sayuran! Selain agar sesuai anjuran orang-orang agar melakukan hidup sehat dengan makan makanan 4 sehat, 5 sempurna, setidaknya sayuran akan membantu tubuh untuk tetap sehat. Lily butuh hidup sehat untuk menjadi dewasa, agar ia berhenti menanyakan hal-hal aneh dan mencoba mencari solusi atau jawaban untuk masalahnya sendiri. *** "Lo ngapain masih di sini, sih, Dev? Pulang gih, ganggu orang aja lo." Hampir tengah malam dan Devon masih setia merusuh di rumah Brandon. Kini waktunya Devon mengurus urusannya—48n. "Ya udah makanya cepet bantuin gue."  Tidak ingin menyerah dan malah memperkuat pertahanannya di ruang kerja Brandon, Devon yang awalnya berdiri di samping rak besar beralih mendudukkan diri di singgasana kebesaran milik Brandon. "Kenapa malah ambil posisi lo?" Brandon memandang Devon dengan tatapan sinis. "Angkat p****t lo, buruan pergi sekarang!" Devon manggut-manggut. "Wohoo santai, dude. Gue bakal pergi setelah lo bantuin gue." "Nih! Buka mata lo." Brandon menunjuk-nunjuk kartu nama yang terkapar tak berdaya di atas meja. "Gue udah kasih ini sejak sejam yang lalu ya, bego." "Hubungin!" "Besok, Dev! Astaga. Kurang jelas apalagi sih gue bilangnya?" Brandon meraup mukanya. "Besok! Sekarang udah malem, sana pulang." "Coba aja sekarang. Kalau bisa sekarang kenapa harus nunggu besok?" Devon mendorong kartu nama itu menjauh darinya. Brandon menyunggingkan bibirnya. "Ya udah kalau gitu. Kalau bisa lo kenapa harus gue yang ngehubungin?" Skakmat! Devon memikirkan seribu alasan agar Brandon menyetujui permintaannya. "Itu ... kan kenalan lo, sekalian dong kalau gitu. Kalau niat bantuin jangan setengah-setengah dong." "Yang bego kan lo, Dev!" Brandon memutarkan bola matanya malas. "Kan gue udah bilang, gue bantuin. Besok! Bukan sekarang! Lo tuh yang enggak sadar diri, minta tolong tapi maksa." "Hmm." Tidak ingin beranjak pergi, Devon malah merebahkan kepalanya di atas meja. "Heh, Panjul! Pergi, ngapain malah tiduran?" "Berisik!" Brandon menganga di tempatnya. "Bodo amat, Dev! Mau lo di sini nyampek pagi, terserah! Gue kunciin dari luar, Bye!" Drtt! Getaran dari ponsel Devon menginterupsi dua orang anak manusia di ruangan itu. Levin is calling... "Kenapa lagi tuh anak?" Brandon menghentikan langkahnya untuk berbalik. Devon menggeleng. "Enggak tahu." Ponselnya tetap bergetar, meski diabaikan beberapa saat. Mau tak mau, tangan Devon bergerak menggeser tombol hijau yang ada di ponselnya. "Halo. Kenapa, Vin?" "..." "s**t!" Pip. "Gue pulang," pamit Devon. Tidak perlu bersusah payah dan adu otot lagi, panggilan dari Levin barusan membuat Devon beranjak dari tempatnya. Sepupunya yang satu itu tak henti-hentinya menyusahkan, selalu ada cara bagi Levin dan sepupu-sepupu Devon yang lain untuk mengusik hidup Devon. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD