Akan ada masanya kamu mengeluh dan bersyukur secara bersamaan dalam hari yang sama.
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
Tujuh hari dalam seminggu, hari Rabu tertandai sebagai hari yang melelahkan bagi Devon. Itu terhitung sejak dirinya masuk kuliah beberapa hari yang lalu dan seakan semesta menyetujuinya, semenjak itu juga pasti ada setidaknya satu pertemuan yang mengharuskan Devon hadir di dalamnya.
Cklek.
Devon mengusap-usap butiran air yang jatuh menetes dari rambutnya yang basah. Bukannya segar, Devon malah merasakan gerah setelah kakinya meninggalkan kamar mandi.
"Fuhhh." Devon meniup tangannya berharap udara yang dihasilkan bisa terpantul ke lehernya.
Jangan tanya bagaimana hasil usaha Devon itu? Sudah jelas itu sia-sia. Dingin? Enggak. Malah semakin berkeringat yang ada. Benar kata pepatah, seseorang tidak mampu berpikir dengan jernih saat sedang bodoh.
Devon mengurungkan niatnya ke walk in closet dan beranjak menuju nakas, tempat di mana remote AC berada. Dirinya menurunkan derajat suhu hingga titik terendah AC. Devon harus akui ada benarnya juga perkataan mamanya 7 tahun lalu, saat dirinya berniat merintis usaha pertama kali.
Devon memaksakan diri untuk menjadi multitasking.
Devon merasakan itu secara berkesinambungan. Mengeluh kelelahan dan mudah merasa capek jika mengerjakan semuanya secara bersamaan. Beda sekali saat Devon mengerjakan satu pekerjaan hingga larut malam, rasa capek bahkan tidak berani menghantuinya. Terekam jelas bahwa pikiran Devon tidak dapat dibagi-bagi. Devon sadar bahwa dirinya sama seperti manusia-manusia lain pada umumnya.
"Hoam." Satu uapan panjang keluar dari mulut Devon. Sebisa mungkin Devon tidak menyandarkan badannya atau pun meletakkan kepalanya untuk merebah sejenak.
Rasa kantuk menyerang Devon secara mendadak dan melewatkan makan malam setelah melewatkan makan siang sebelumnya, bukanlah pilihan yang bagus.
"Masih jam setengah 9." Devon menutup mulutnya. "Hoam ... tapi capek banget."
Tepat pukul 8 malam tadi, Devon menginjakkan kaki di apartemennya. Terbilang cukup sore jika membicarakan beristirahat. Apa yang bisa dikata? Berpuluh-puluh ton rasa lelah menumpu di pundak Devon.
Bertahan tidak melakukan apapun selama kurang lebih 15 menit, membuat rasa kantuk Devon bertambah menjadi dua kali lipat. Devon mengulet tubuhnya ke kanan lalu kiri. "Engh, masih harus bikin data. Eh, apa tidur dulu aja, ya? Ntar bangun tengah malem."
Dari mulai rambut Devon yang awalnya basah hingga saat ini sudah mengering, rasa kantuk itu tak kunjung ingin pergi. Tak ingin melayani rasa lelahnya, Devon bangkit dari posisinya sekarang. Melangkahkan kaki menuju lemari pakaian dan mengambil satu kaus untuk dipakai.
Sejenak Devon menempelkan punggung tangannya ke dahi. Hangat. Hei, ini bahkan belum ada seminggu dari awal dirinya masuk kuliah. Tolong jangan tumbang dulu.
"Baru juga seminggu, masa udah mau tumbang?" tanya Devon untuk dirinya sendiri di depan cermin.
"Buruan makan, bego! Makanya makan itu yang teratur!" sambar otak Devon.
"Mending masak apa delivery order?" Devon menghentikan langkahnya untuk keluar kamar. "Sama aja. Makan nasi mentega malem-malem kayaknya enak."
Sebelumnya, Devon menyempatkan diri untuk mengecek ponsel terlebih dulu, berharap ada pembaruan postingan atau apapun di sana. Seperti beberapa hari belakangan ini, satu akun i********: seseorang mampu membuatnya kecanduan. Bahu Devon terkulai lemas ketika menyadari tampilan itu masih sama seperti yang dirinya terakhir kali lihat.
Meninggalkan semua kegundahan yang ada, tangan Devon meraih gagang pintu, bersiap untuk membukanya. "Di kulkas masih punya kacang polong enggak, ya?"
"SURPRISED!" Cia mengangkat kaleng colanya dengan senyuman lebar terpasang di wajah.
Devon sempat terkejut dan kebingungan. "Ini apartemen gue, kan? Gue lagi enggak mabok, kan?" batinnya.
5 orang pengacau tersenyum semringah ketika Devon terkejut—senyum semringah layaknya iblis. Levin, Cia, Dio, Tito, dan ... Willy, Devon harap Willy masih waras dan tidak ketularan 4 orang itu.
"Ah enggak seru yang punya rumah lempeng aja mukanya." Cia berbalik badan setelah Devon tidak merespon apa-apa dan menatapnya sinis.
"Ngapain ke sini?" Devon berjalan mendekat ke arah ruang tamu. Mencomot satu potong pizza dari sana lalu di single sofa.
"Makasih Dio. Sama-sama, Bang Devon yang baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung," sindir Dio.
Tidak terpengaruh dari sindiran Dio, Devon mengulang pertanyaan yang sama. "Ngapain ke sini?"
"Emang enggak boleh kalau saudara main ke rumah saudara?" Pertanyaan Devon dibalik dengan pertanyaan lain oleh Tito.
"Emang kita saudara?" Devon meraih satu potong pizza lagi dari atas meja.
"Woah. Gila gila gila." Perkataan Devon sontak mengundang gelengan kepala dan riuh tepukan tangan Cia. "Lo keren."
"Ngapain ke sini?" ulang Devon.
Levin melempar saus sambal yang masih terbungkus rapi dalam sachet. "Lo enggak lagi cosplay jadi robot, kan, Dev? Pengeng kuping gue, enggak ada pertanyaan lain?"
"Tumben." Devon mengedikkan bahunya, meraih kaleng soda yang belum dibuka dari tangan Dio lalu meminumnya asal.
"Dasar tuan rumah enggak tahu diri, ada tamu tuh dikasih makan. Eh ini, malah nyerobot makanan punya tamu." Dio mengatupkan binirnya seraya menahan tangan untuk tidak menjadikan kepala Devon sebagai samsak.
Devon meneguk colanya amat pelan seperti slow motion seakan cola itu mengalir begitu nikmat melewati kerongkongannya. Satu tangan Devon mengusap ujung bibirnya yang basah. "Katanya saudara?"
"Ngomong sana sama tembok! Awas aja nanti. Kalau Devon lagi nyariin, kita belaga bego aja." Tito mengambil alih remote dari tangan Cia, membesarkan volume televisi agar telinganya tidak terkontaminasi dari pertanyaan Devon yang mungkin akan memacu perdebatan nantinya.
"Orang gue cuma nanya ...." Devon meneguk colanya sebelum meneruskan sanggahannya. "Ngapain ke sini? Kok tumben."
"Iring gii cimi ninyi, ngipiin ki sini? Kik timbin." Tito menirukan ucapan Devon dengan nada meledek. "Mumpung gue lagi baik hati aja, lagi pengen nemenin lo yang tiap harinya kesepian. Yang kerjaannya cuma kencan depan laptop sama minum kopi."
Devon manggut-manggut. "Oh."
Tito mengepalkan tangannya mendengar jawaban Devon yang membuatnya harus menahan emosi. Berbicara dengan Devon seperti berbicara dengan tembok. Tidak peduli, menyebalkan, mengandung banyak kata mengapa di dalamnya, dan jangan lupakan darah tinggi sebagai efek samping mendengar respon Devon. Sifat menyebalkan Devon hampir mirip seperti saat pacar kalian dalam keadaan ngambek, dosen yang terus memojokkanmu saat sedang presentasi, dan seorang ibu yang sedang menginterogasi anaknya saat ketahuan menghilangkan Tupperware.
"Oh? Orang bilang panjang lebar cuma dijawab oh. Gue sambit juga Lo, Dev."
Devon mengangkat dagunya menunjuk Cia, Dio, dan Willy. "Kenapa kalian ikut?"
"Pengen aja," jawab Dio. Sedangkan Cia nyengir tak keruan di tempatnya. "Lagi dimarahin mama ehehe."
Devon menatap Willy, meminta Willy juga ikut buka suara. Aneh rasanya jika Willy mengatakan 'pengen' seperti alasan Dio tadi, menilik Willy adalah tipe orang yang lebih suka mengurung diri di dalam kamar daripada harus keluar rumah hanya untuk acara yang tidak jelas tujuannya. "Diseret Cia."
"Hehehe." Cia merangkul pundak Willy. "Buat tameng, biar mama enggak tambah marah."
Devon mengelap peluhnya yang menumpuk di dahi. "Tumben milih bar, malah milih apartemen gue."
"Bodo amat deh, Dev." Levin yang sedari tadi menjadi pendengar akhirnya angkat bicara juga. "Udah dibilangin pengen main. Terserah dong milih di mana, di bar mulu juga bosen. Ya sekali-sekali pindah ke tempat Lo, enggak masalah dong? Nanya mulu kerjaan lo, kayak Lily aja."
"Oh." Tangan Devon mencomot satu potong pizza lagi. Makan malam dengan 3 potong pizza dan sekaleng cola bukanlah hal yang bagus mengingat Devon melewatkan makan siangnya tadi. Sialnya, perutnya sudah penuh dan tidak kelaparan. Rasa kantuknya juga masih setia menancap dalam kelopak mata Devon.
"Dev ... Dev, enggak sehat banget hidup lo," kata Devon dalam hati.
"Tahu tuh, padahal Cia kabur dari mama biar bisa ikut Bang Levin ke bar. Tahunya malah ke apartemen Bang Dev." Cia memelototkan matanya, sedikit tidak terima dirinya terdampar di apartemen Devon.
Jangan tanya mengapa Devon menanyakan alasan mereka semua datang ke mari daripada menanyakan bagaimana caranya mereka semua bisa masuk ke dalam apartemennya? Rata-rata semua saudaranya membagi pin masuk apartemen masing-masing. Benar, kurang efisien jika menyangkut masalah privasi dan Devon terjebak ikut di dalamnya setelah Brandon yang kurang ajar menyebar pin masuk apartemen Devon.
"Aaa so sweet." Cia menempelkan kedua tangannya di pipi. Saudara-saudaranya yang lain juga menonton film itu dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
Devon mengalihkan pandangannya menatap lurus ke arah televisi. Membosankan, drama romansa picisan sedang diputar itu menampilkan adegan yang membuat perut Devon mual.
Drtt!
Drtt!
Dua deringan beruntun dari ponsel Devon di atas meja sontak memicu lirikan dari semua pasang mata yang ada di ruang tamu.
"Ciee, Bang Devon." Cia membentuk tangannya menyerupai bentuk hati seraya menaikturunkan alisnya menggoda. "Siapa tuh? Cia bilangin Tante Aga, ah."
Untuk menekan rasa salah tingkah yang meronta-ronta dalam dirinya, Devon menopangkan dagunya dan memilih berpura-pura tak menghiraukan notifikasi itu dengan menonton film.
"Yakin enggak mau dilihat dulu siapa yang chat?" Levin menyeringai dalam duduknya.
Devon mengangkat satu alisnya dengan tatapan bertanya. Mungkin jika para pengganggu ini tidak ada di apartemennya, Devon bisa leluasa.
"Dicariin Clara nih, Bang Dev." Dio memajukan kepalanya membaca notifikasi dari ponsel Devon yang masih senantiasa hidup kurang dari satu menit yang lalu. "Enggak mau dibales, Bang?"
Tito mengernyitkan dahinya. "Clara siapa? Jangan bilang kalau ...."
Devon mengedikkan bahunya. Tangannya sudah gatal ingin meraih ponselnya sejak tadi, bahkan ini baru semenit dari ponsel itu berbunyi tadi. Bukan karena notifikasi pesan dari Clara, namun notifikasi lain.
Notifikasi postingan dari orang yang Devon tunggu-tunggu sejak tadi, moodbooster Devon.
@audiueo
Notif itu muncul bebarengan dengan notif pesan masuk dari Clara saat Devon tak sengaja melirik ponselnya tadi. Hanya dengan mendengar bunyi notifikasi saja, rasa kantuk Devon hilang tak berbekas seketika.
Devon tekankan sekali lagi. Ha-nya-men-de-ngar. Bahkan Devon belum melihat apa yang diposting sang pemilik akun di seberang sana. Hell! Semujarab itu.
Entah beruntung atau sial. Yang pasti para saudaranya tidak menyadari bahwa ada notifikasi lain dan mereka ahanya menyadari notifikasi dari Clara. Setidaknya Devon bisa mengelus d**a dengan lega karena tidak ditanyai mengapa dirinya menyalakan notifikasi postingan seseorang. []