BAB 18| Kobam!

1667 Words
Tidak ada yang lebih mengenalmu selain dirimu sendiri. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · Beberapa potong pizza dan sekaleng cola tidak benar-benar membuat Devon kenyang. Terbangun kelaparan pada pukul 3 pagi membuat kepalanya sedikit pusing. Terlebih ini semua akibat dirinya melewatkan makan siang dan malah makan makanan cepat saji di malam harinya, gaya hidup Devon sangat tidak sehat. Dingin dan kerasnya meja kaca menjadi daftar pendukung sakit kepala Devon. Tidak hanya itu, posisi duduknya yang aneh saat tidur juga berimbas pada punggung dan pinggangnya. Sekarang? Dirinya malah terjebak untuk kembali berkutat di dapur lagi setelah tidur kurang dari dua jam. Benar sekali, para 5 pengganggu kemarin memilih menginap dibanding pulang. Devon kira si biang keladi seukuran Levin bisa insyaf setelah mengalami ... mungkin bisa disebut patah hati, setelah mabuk berat disertai tangisan meraung-raung tempo hari lalu.  "Buaya mana bisa patah hati?" Ternyata perkiraan Devon salah besar. Bukannya berhenti, Lebih malah semakin menjadi. Kalau hanya Tito yang diajak, Devon tidak heran. Tetapi ini? Bocah SMA seumuran Dio, Cia, dan ... Willy—meski Willy waras dan tidak ikut-ikutan Levin kemarin malam, namun anak satu itu terseret diajak. Pertanyaan Devon 'ngapain ke sini?' akhirnya menemui jawaban saat tengah malam. Pizza, burger, kentang, dan cola hanyalah hidangan pembuka. Nyatanya Tito dan Levin mengalihfungsikan dapur apartemen Devon menjadi bar secara tiba-tiba. Bir, liqour, rum, dan batangan liquid vapor mendominasi bau apartemen Devon semalaman. Si bodoh Dio dan Cia juga mau-mau saja diajak bersenang-senang tanpa memikirkan efek samping dan nasib sekolahnya esok hari. Meski hanya cocktail, kenyataannya itu bisa membuat Dio dan Cia mabuk hingga tepar. Untung saja masih ada satu manusia waras yang bisa membantu Devon yaitu Willy. Keberadaan Willy di sini membuat Devon agak terbantu untuk membereskan ulah-ulah para pengacau itu. Willy punya andil yang cukup besar. Di pagi ini saat matahari belum bangun dan semburat cahayanya masih malu-malu untuk memberikan kehangatan, Cia membangunkan Devon dari mimpi indahnya. Mimpi sempurna yang hingga kini masih terngiang di kepala Devon, yang membuat Devon sama sekali tidak ingin beranjak bangun. "Bang Dev, bangun!" Cia menggoyang-goyangkan lengan Devon. "Perut Cia sakit, kepala Cia pusing, tenggorokan Cia kering! Tolongin!" Devon masih ingin menyambung mimpinya. "Mm." "Hiks ... hiks." Satu isakan lolos dari mulut Cia, yang mau tak mau membuat kantuk Devon lenyap. Devon mengucek matanya perlahan untuk memastikan. Mata sayu dengan bekas air mata yang meluber ke mana-mana, baju kemarin malam yang tampak lusuh, anak rambut yang mencuat keluar jalur menandakan orang yang berada di depannya ini butuh bantuan. "Tenggorokan Cia kering banget." Cia mengelus pelan lehernya sembari meringis setiap selesai mengatakan satu kata. Devon mengurut pangkal hidungnya sebelum bangkit menuju dapur. Kepalanya sendiri juga pusing sebenarnya, tapi apa boleh buat. Devon menelengkan kepalanya menunjuk kursi yang tadinya ia tempati. "Duduk." Devon mengambil sekaleng s**u untuk dipanaskan dalam heater. Setelah memastikan heater sudah bekerja sesuai fungsinya, Devon meninggalkan dapur menuju kamarnya. Apalagi kalau bukan untuk mengambil minyak angin dan koyo di kotak P3K. Bekas muntahan yang masih terlihat karena belum dipel dengan bersih, tiga orang terkapar seperti sedang simulasi mati, dan satu orang tengah fokus menatap ponselnya. Pemandangan yang indah, bukan? Devon menghampiri Cia yang tergeletak tak berdaya seolah tak mampu menopang kepalanya lagi. Bau alkohol yang bercampur dengan makanan yang Cia makan kemarin malam sangat kuat menyapu hidung Devon saat berhadapan langsung secara dekat dengan Cia. "Gimana enggak mau tambah pusing aklau gini caranya?" batin Devon. "Makanya anak kecil kalau dibilangin orang tua itu nurut. Sakit?" Cia mengangguk dengan bibir mencebik. "Ya udah rasain, jangan ngerengek." Devon menempelkan dua lembar koyo di masing-masing pelipis Cia. "Salah siapa ikut-ikutan Levin?" "Cuma pengen tahu rasanya doang," bantah Cia. "Gimana rasanya? Enak?" Devon mengoleskan minyak angin di leher, tengkuk, dan perut Cia. Cia menggeleng. "Enggak." "Rasain!"  Devon melangkahkan kakinya saat mencium bau s**u yang khas dan mendengar suara heaternya yang berteriak menandakan waktu kerjanya telah usai. Ia menuang s**u itu ke dalam tiga gelas, tidak etis jika Devon menolong Cia jika pada akhirnya Devon juga terkapar nantinya. "Minum gih, biar cepet enakan."  Devon kembali berbalik arah menuju dapur, lebih tepatnya menuju kabinet untuk mencari persediaan roti dan peanut butter yang ia yakini seharusnya masih tersedia di dalam sana. "Kenapa enggak diminum?" tanya Devon ketika mendapati segelas s**u di hadapan Cia masih penuh. "Masih panas. Ya kali diminum, yang ada malah sakit tenggorokan." Devon melongo atas jawabn Cia. Hell! Beri tahu Devon, orang mana yang tidak tahu fungsi dari lepek. Devon juga tahu kalau itu panas ... itu gunanya lepek ada di dunia ini, argh. "Kan di situ ada lepek, tinggal tuang kan bisa?" Cia menggeleng malas lalu menyenderkan kepalanya kembali ke atas meja. "Males." Asdfghjkl. Mengapa perempuan seribet ini? Daripada dirinya terpancing keributan, Devon memilih mengalah. Hei, bahkan tidak ada satu menit bagi Devon untuk menuang s**u panas ke atas lepek. Mengapa kaum hawa hobi sekali mempersulit diri? Devon menarik napas panjang dan mengembuskan napas lelah berulang kali. Jangan sampai dirinya terpancing emosi, ini masih pagi untuk marah-marah. Devon juga tak ingin kepalanya bertambah pusing karena amarah. Lebih baik Devon menyibukkan diri dengan mengoleskan lembar demi lembar roti gandum dengan peanut butter. Tidak butuh waktu lama, piring kosong di depannya sudah dipenuhi dengan roti gandum yang sudah terolesi peanut butter di atasnya. Devon mendorong piring itu mendekat ke arah Cia. "Makan gih." Cia menatap roti gandum tanpa nafsu. "Ini enggak ada saus keju, ya?" God, bunuh Devon sekarang! Tolong berikan alasan yang jelas pada Devon, mengapa wanita itu makhluk yang menyebalkan? Ini Cia enggak bisa, ya, tinggal makan apa yang ada tanpa harus menantang emosi Devon di pagi hari? Kamera dong, tolong! Devon sudah tidak kuat. *** Waktunya hibernasi yang pas untuk Devon adalah saat 2 dari 5 pengganggu meninggalkan apartemennya hari ini—Willy tidak terhitung pengganggu.  Cia, Dio, dan Willy sudah pergi dari apartemen Devon dari pukul 6 kurang 6 menit. Perlu sedikit paksaan untuk mengantarkan Cia masuk mobil suruhan Devon, alasannya hanya satu takut kena omel mama dan butuh tenaga yang kuat untuk membopong Dio, manusia itu masih setia teler. "Akhirnya bisa istirahat lagi." Satu keberuntungan bagi Devon untuk bisa tidur sejenak sebelum siap-siap untuk masuk kuliah jam 10 pagi nanti. Karena kamarnya sudah dapat dipastikan terkontaminasi bau alkohol yang bercampur muntahan dan vapor. Devon melenggang kembali menuju bar dapur miliknya seperti semula, tempat aman saat ini. Kepala Devon langsung menempel dengan sendirinya saat pantatnya baru saja mendarat mulus ke kursi. Lelah memang tidak bisa dibohongi. Devon mengecek ponselnya sekali lagi sebelum benar-benar memejamkan mata. "Ah ...." Devon mengulet badannya. "Masih ada sekitar 3 jam buat tidur." Devon begitu manis saat tidur, meninggalkan semua overthinking yang selama ini bergumul di otaknya dan semua kegelisahan yang selama ini menyelimuti hatinya. Meski hanya beberapa jam, namun ini benar-benar berharga bagi Devon.  Devon juga sama seperti manusia lain kebanyakan yang mengalami masalah, bisa berkeluh kesah, butuh makan dan tidur, bahkan quarter crisis life Devon juga mengalaminya. Itu semua sama. Hanya kadar overthinking, tingkat kegelisahan, dan ingin semua yang dilakukannya harus menjadi setidaknya sesuai dengan keinginan Devonlah yang menjadi pembeda. "Dev." Satu kali panggilan yang Devon dengar samar-samar dan coba ia abaikan. "Dev." Panggilan itu datang dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya. Nampak sekali si pemanggil tengah berusaha mengusik tidur nyenyak Devon. "Dev, woi!" Tidak menyerah, si pemanggil berteriak agak kencang tepat di depan telinga Devon dan Devon tetap bertahan di posisinya. "Dev ... bangun, bego!" Goyangan kuat di lengan Devon disusul dengan siraman air setelahnya membuat Devon tersentak. Siapa lagi si pembuat ulah yang bisa dijuluki master dari segala master selain Levin? Lihat setelah membangunkan Devon, si tikus satu itu meninggalkannya dengan santai menuju kulkas. Good! Lalu apa maksudnya? "Kalau lo cuma mau buka kulkas doang, kenapa pakai acara bangunin gue?" Devon melayangkan tatapan mematikan yang ia punya. "Lo tidur apa simulasi mati?" ledek Levin. Kerutan di kening Devon terukir dalam. "Apa maksudnya?" "Handphone lo bunyi. Gue aja yang tidur di kamar bisa denger." Levin mengukur jarak ponsel Devon yang tak jauh dari hadapannya. "Lo yang cuma sejengkal, ke mana aja? Budek lo?" Devon mengibaskan tangannya, kepalanya masih terlalu berat untuk bangun. "Biarin aja." "Mata lo, biarin aja." Levin menyalakan keran dan kembali menciprati Devon dengan air. "Udah lebih dari setengah jam handphone lo bunyi mulu." "Huh?" Nyawa Devon yang belum sepenuhnya terkumpul membuat otaknya kurang tanggap dalam merespons Levin. "Maksudnya?" Levin mengendikkan bahunya. "Buka aja handphone lo, kalau enggak percaya." Devon sontak terkejut melihat angka yang terpampang di ponselnya. Bukan karena belasan panggilan tak terjawab dan puluhan pesan masuk dari Clara, namun jam yang tertera di dalam sana.  "09:17 am?" Devon mengucek matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya benar. "K-kok bisa?" "Mana saya tahu, saya kan mabuk." Levin menikmati keterkejutan Devon dengan ditemani segelas air putih dingin dan roti gandum sisa Cia tadi. "Siapa Clara? Gebetan baru, hum? Audi siapa? Diem-diem banyak cewek ya, Dev, hahaha." "Apaan sih."  "Dih, kok marah? Orang gue cuma nanya," kilah Levin. "Bukan siapa-siapa." "Really?" Levin mengangkat alisnya, menantang. "Mungkin kalau itu jawaban buat Clara, gue percaya. Kalau Audi?" Devon terdiam mematung mendengar pertanyaan yang Levin lempar. "Ooo, I see." Levin mengelus dagunya dengan seulas smirk yang menghiasi bibirnya. "Bapak Devon terhormat ini sedang jatuh cinta rupanya." "Jangan sok tahu!" Levin tertawa terbahak. "Dev ... Dev. Gue tuh udah jadi buaya berpengalaman selama bertahun-tahun. Udah pernah ngalamin segala macam kisah sama berbagai macam pihak." "Lagi, mana ada cowok yang ngaktifin notifikasi postingan akun cewek, kalau bukan suka namanya. Cih, sok enggak ngakuin lo," sambung Levin. "Berisik!" "Yeuh, malu? Coba aja kali, Dev. Lo bakal rasain enaknya terbang ke langit ketujuh." Levin memejamkan matanya sembari membayangkan apa yang barusan ia ucapkan. "Gini, deh. Kalau lo belum nemuin si Audi-Audi itu, lo coba aja sama Clara. Clara yang di kontak lo itu Clara Josh, kan?" Levin membasahi kerongkongannya sebelum menyambung perkataannya. "Katanya janda itu lebih berpengalaman loh, Dev. Hahaha!" "Shut up! Tutup mulut kotormu itu, Vin!" Ada satu hal yang membuat jantung Devon terpacu cepat. Di saat kemarin para saudaranya meledeknya karena notifikasi dari Clara. Mengapa Levin bisa sadar ada notifikasi lain yang Devon tutupi? Atau jangan-jangan .... []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD