Adakalanya kamu harus bersyukur daripada terus-terusan meratapi nasib yang berujung insecure.
_____
"Thank you."
Segelas es kopi dan croissant mendarat mulus di atas meja setelah menunggu sekitar beberapa menit. Sore ini Devon memutuskan untuk keluar apartemen demi menjernihkan pikirannya.
Ini semua gara-gara ulah Cia sialan, tangan usilnya kemarin merusak semua rencana indah yang telah Devon susun hari ini. Ekspektasi untuk produktif hari ini hanyalah wacana dan di rumah tanpa melakukan apapun membuat Devon merasa menjadi paling bodoh sedunia. Tangan dan kakinya membawanya ke sini, ke salah satu anak cabang usahanya, 48n.
48n—read: foreign—adalah brand yang Devon rintis saat dirinya duduk di bangku menengah atas, lebih tepatnya saat Devon berusia 17 tahun. Tak terasa, sudah hampir 8 tahun Devon mampu mempertahankan brand miliknya sendiri. Sama sekali tidak mudah, terlebih usianya terbilang cukup muda saat itu.
Satu nama yang membawa Devon cukup sukses dalam karirnya. Berbeda dengan papanya yang menekuni berbagai macam bentuk bisnis perumahan, penginapan, dan properti, serta mamanya yang terjun dalam bisnis kosmetik, Devon lebih memilih untuk mendirikan kafetaria dan produk fashion lain.
Entah hal bodoh apa yang merasuki Devon, sampai-sampai ia menyetir sampai sini. Anak cabang Foreign yang letaknya sekitar 12 km dari tempat tinggalnya. Devon datang sebagai pelanggan, bukan pemilik. Yang jelas itu bukan tipikal Devon sekali, menyetir di sore hari saat jalanan berpotensi macet adalah bencana.
Tidak ada yang mengetahuinya, pegawai sampai manager yang bertugas di sini belum pernah bertatap muka dengan Devon secara langsung. Semua itu ditangani Brandon. Devon tidak ingin repot-repot untuk mengurusi segala perekrutan karyawan dan setelah menyerahkan pelimpahan tugas ke Brandon, nasib sial selalu menghantui Devon. Iya, benar. Siapa lagi kalau bukan Lily. Menurut Devon itu setimpal, meski pun hatinya tetap dongkol saat Lily berulah.
Devon melepas masker yang sedari tadi ia pakai, masih ada kacamata berlensa gelap yang yang bergelantung di pangkal hidungnya. Kafenya terhitung cukup ramai pengunjung. Nuansa kafe yang stylish dan fotogenik cukup mampu menggaet minat pengunjung, terlebih kawula muda.
Semoga saja tidak ada satu pun salah seorang dari 3,9 juta pengikut akun Instagramnya berada di sini. Untuk mengantisipasi itu semua, Devon juga memilih tempat duduk tepat di belakang pintu masuk. Kemungkinan besar semua orang tidak sadar dan akan melewatinya, Devon harap semesta tidak sedang mengerjainya sore ini.
Rasa pahit dan dingin dari es kopi memenuhi kerongkongannya. "Bagus."
Krak.
Bunyi dari sendok yang membentur croissant terdengar nyaring. Satu suapan croissant melebur dalam lidahnya. "Pas."
Devon menyunggingkan senyumnya, kafe ini masih menjaga standar produksi. Rasa kopi dan croissant yang baru saja ia makan, sesuai dengan apa yang ia harapkan. Adanya masalah di salah satu produk clothing line-nya beberapa hari yang lalu, membuat otak Devon untuk memikirkan dugaan-dugaan dan prasangka buruk ke semua anak cabang bisnisnya.
Kini Devon dapat kembali bernapas lega. Tinggal membuang satu borok dan semuanya akan kembali seperti semula.
"Ah, dude. Lo ke sini buat refreshing otak, jangan mikir kerjaan mulu." Hati Devon menginterupsi.
Otaknya menyanggah. "Katanya tadi mau produktif. Ya sekalian dong, jangan setengah-setengah."
Devon menggeleng-gelengkan otaknya, mencoba melerai pertikaian antara otak dan hatinya. Ada enggak, sih, yang hidupnya seperti Devon? Semua serba tidak sinkron dan bertabrakan, tetapi hasil yang dihasilkan tetap selaras. Devon sendiri juga bingung, entah dirinya harus menyesal atau bersyukur.
Sukses dalam karir tidak semata-mata membuatnya merasa senang. Khawatir dan cemas bisa datang secara tiba-tiba saat dirinya lengah dan merasa cepat puas. Khawatir akan bagaimana nasib para pekerjanya jika bisnis yang ia pertahankan selama ini harus roboh seketika itu juga.
Semua ini merupakan awalan yang bagus bagi Devon sebelum dirinya menggantikan posisi papanya dalam perusahaan nanti. Devon mengurut-urut pangkal hidungnya, mengapa mendadak dirinya merasa sangat tua setelah melakukan refleksi diri?
24 tahun masih bisa dikatakan muda, kan?
Cring.
Lonceng menari saat pintu masuk terbuka. Sepasang anak manusia beda jenis memasuki kafetaria dengan tangan saling menggenggam.
"Romantis banget," cibir Devon tangannya ia gerakkan menyentuh pipi seperti saat Lily sedang mengagumi seorang anak laki-laki beberapa hari yang lalu.
"Cih, bilang aja lo pengen." Kata hati Devon menyentil harga dirinya. Bukan karena apa, tetapi yang terucap memang benar adanya.
Pernah sempat terbersit di kepala Devon pertanyaan seperti ini. "Ini sebenarnya hati sama otaknya punya siapa, sih? Kenapa enggak pernah dukung gue? Mana kerjaannya ribut mulu."
Otaknya ikut menyahut. "Lo-nya aja yang bego, enggak bisa bikin otak sama hati bisa sinkron."
Devon mengernyitkan keningnya kebingungan. "Kenapa otaknya bisa membaca jalan pikirannya?"
Sepersekian detik berikutnya Devon memukul ringan kepalanya. "Otak 'kan gunanya buat mikir, ya pasti kebaca sama otak lah. Aish, bego lo udah kelewatan, Dev."
Devon mulai menyadari bahwa dirinya bodoh. Ini semua pasti gegara otak dan hatinya yang terlalu banyak berjalan tak seirama. Pandangan Devon menyusuri sekitar, mencari apa pun yang enak dipandang untuk mencari pengalihan akan dirinya yang selalu saja kalah terbully oleh hati dan otaknya.
Indahnya langit senja yang menampilkan sorot jingga, begitu menyejukkan mata. Membawa nuansa damai untuk Devon.
Lagi dan lagi, otaknya mengingatkan dirinya kembali ke kenyataan. "Halah, jangan sok-sokan nyari damai deh, Dev. Lo jadi anak tunggal aja udah lebih dari damai, jatuhnya malah kesepian. Udah gitu sok ide banget pindah ke apartemen. Nyari damai buat apa, sih? Mau nyari wangsit biar enggak jomlo lagi? Mm."
"Otak sialan," umpat Devon dalam hati.
"Astaga berdosa banget kamu, Dev. Udah diingetin malah marah-marah. Kami enggak mau ngingetin lagi, baru tahu rasa lo." Hatinya membela otak.
"Gini aja baru saling bela, kemarin kalian ke mana aja? Seiringan kalau lagi mau hujat gue doang? Mm, kompak banget."
Melepas pandangan dari indahnya langit senja, pandangan Devon mengabsen satu per satu pengunjung yang ada di kafenya. Cobaan seakan tidak ingin pergi atau setidaknya berkurang sedikit saja dalam hidupnya. Mendadak Devon ingin segera meninggalkan kafe saat mengetahui bahwa kebanyakan pengunjung berpasang-pasangan. Semesta bercanda di waktu yang kurang tepat lagi.
"Bener-bener enggak tahu diri ya lo, Dev," tutur hatinya.
Hah, maksudnya?
"Lo tuh harusnya bersyukur. Itung-itung kafe lo banyak pengunjung, meski isinya bikin nyesek. Inget-inget lagi di sini salahnya siapa? Lo, bego. Udah tahu konsep kafe, mangsa pasarnya anak muda. Eh ini didatengin anak muda ... banyak, lo malah dongkol. Fix, bego lo udah kelewatan, Dev." Otak Devon bersekongkol membela hatinya.
"Bukan gitu maksudnya, hss. Gimana, sih, cara ngomongnya ... tapi bisa kan, jangan umbar kemesraan depan umum. Emang harus gitu, kemesraan diumbar-umbar?"
"Halah, bacot. Bilang aja lo iri, terus lo pengen ngerasain uwu-uwuan. Iya, kan?"
Secara tidak langsung apa yang baru dikatakan oleh otaknya, benar adanya. Devon saja yang berlebihan. Ketakutan akan kegagalan kisah romansa di masa tua nanti mendadak menyusupi pikirannya saat melihat orang lain berbahagia dengan pasangannya.
Itu selalu terjadi berulang, Devon sendiri tidak mengerti bagaimana cara menghentikannya. Akan selalu muncul pertanyaan 'Apakah Devon bisa merasakan hal serupa? Kapan?'
"Halo, Kak. Permisi." Sapaan merdu dari seorang gadis manis menyapa telinganya.
Ini bukan salah satu dari 3,9 juta orang pengikut Devon, kan?
Tangan gadis itu melambai di depan wajah Devon. "Kak?"
Dengan sigap Devon menghentikan lamunan dan dugaan buruk dalam dirinya. "Iya, ada apa?"
Gadis itu menjulurkan ponselnya. "Boleh minta fotonya? Aku kalah main jenga sama temen-temenku, hehe."
Devon memanjangkan lehernya untuk melihat ke arah yang ditunjuk. Benar, ada sekerumun perempuan dalam satu meja yang memandang ke tempatnya.
"Gimana? Boleh, ya, Kak?"
Entah angin dari mana, Devon mengangguk. Gadis itu mendekat dan mengambil duduk di kursi samping Devon.
Ckrek. Ckrek. Ckrek.
"Makasih, Kak. Semoga hari kakak menyenangkan," pamit gadis itu.
Orangnya sudah pergi, namun bau semerbak parfumnya menetap menempeli otak dan hati Devon. Dasar, anak muda jaman sekarang.
"Heh, Panjul! Lo juga masuk golongan anak muda jaman sekarang, enggak usah ngatain orang!" maki hatinya.
Mm ... ngomong-ngomong identitas Devon tidak ketahuan, kan? Sudah cukup seharian dirinya tidak bisa menyelesaikan masalahnya, Devon tidak kuat jika harus diundur lagi. Ini dirinya tidak akan masuk akun lambe-lambean lagi, kan? []