Tidak ada yang lebih baik selain belajar dari pengalaman.
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
Hari akan terasa panjang saat diawali pagi-pagi buta sekali. Beberapa orang ada yang beranggapan terlalu banyak tidur sama dengan membuang-buang waktu, seperti Devon misalnya. Waktu terlalu berharga untuk dibuang begitu saja, terlebih waktu tidak mungkin untuk dapat diulang kembali.
Mata dan otot-otot tubuh Devon terasa segar seusai mandi. Otaknya juga sudah bangun sepenuhnya, siap untuk diajak berpikir dan menyelesaikan masalah. Bukan lagi menunda-nunda, dirinya sudah cukup greget menahan diri sejak kemarin. Untung saja ponselnya dapat diajak bekerja sama lagi. Notifikasi-notifikasi sialan itu sudah lenyap, meski belum sepenuhnya lenyap. Setidaknya ponselnya sudah kembali berfungsi dengan baik—masih dengan diselingi beberapa kali ngebug, sebenarnya.
Mungkin akun lambe-lambean itu sudah menemukan berita panas terbaru, sehingga para opini netizen yang awalnya terpaku di akun Devon dapat teralihkan.
Tangan Devon sibuk mengusap-usap rambutnya yang masih basah. Semangatnya sangat menggebu-gebu untuk segera datang ke kantor hari ini. Langkahnya sangat mantap saat menuju lemari.
"Pakai baju apa kita hari ini?"
Gantungan kemeja hitam bercorak strip horizontal berwarna putih menarik perhatian Devon. Letaknya yang berada di barisan paling ujung menandakan bahwa kemeja itu jarang terjamah Devon.
Selesai menutup lemari, Devon berpindah tempat mencari setrika. Satu tangan menenteng baju dengan handuk yang tersampir di leher dan satu tangan mengacak-acak tempat penyimpanan lain untuk mencari setrika.
"Ckck, kasihan banget. Mana masih muda lagi."
Layaknya game Angry Bird, di mana saat si burung terjatuh maka pasti ada babi yang akan tertawa. Bukannya membantu, otak dan hatinya malah bersekongkol meledeknya.
"Ah ketemu." Devon mengangkat setrikanya. Nahas, sepertinya nasib baik belum ingin menghampiri Devon. Kabel setrika ini mempersulit geraknya, menurunkan semangat Devon yang awalnya menggebu, dan demi segala apapun itu, Devon kurang menyukainya.
Karena pagi ini dirinya sangat bersemangat, sebisa mungkin Devon tidak mengumpat. Dirinya masih berusaha menjaga pagi indahnya, jangan sampai ada hal buruk yang mengacaukan kebahagiaannya saat ini.
Setrika–bikin sarapan–makan sarapan–kantor. Devon mendoktrin otaknya agar merasa senang, karena segala sesuatu yang dikerjakan dengan senang hati pasti tidak akan terasa. Devon tidak ingin terburu-buru dan merasakan waktu untuk bersiap-siap ke kantor terasa lama. Untuk itu, Devon hanya perlu menjaga moodnya.
Mungkin kalau Devon memiliki pintu ke mana saja seperti Doraemon, Devon ingin ke kantor sekarang. Persiapan ini menimbulkan perasaan sedikit rasa khawatir di hati Devon, khawatir akan rencana yang ia susun dengan apik untuk hari ini harus gagal seperti yang sudah-sudah.
Tangan Devon memegang ujung steker bersiap untuk menancapkannya dalam stopkontak.
Percobaan pertama, tidak masuk.
Percobaan kedua, seperti ada sesuatu mengganjal.
Percobaan ketiga, tetap meleset.
ASDFGHJKL! HSHS!
Devon mencoba menarik napas dalam-dalam, kembali mendoktrin dirinya untuk tetap tenang. "Sabar. Orang sabar cepet dapet pacar."
Tangannya mengambil ancang-ancang untuk kembali memasukkan steker setrika ke stopkontak. Walaaa, berhasil.
"Jiah, pacar. Masukin steker ke lubang stopkontak aja susah banget, gimana nanti bisa masukin ke lubang-lubang lain?"
Tolong kalau kalian tahu di mana tempat reparasi otak dan hati, beri tahu Devon sekarang juga. Devon butuh itu, dirinya sudah sangat muak dengan otak dan hatinya yang sering sekali menghinanya. "Lubang? Lubang apa? Kalau gini, kan, otak gue jadi travelling, Panjul. Apa katanya? Lubang? Lubang apa yang dimaksud?"
Perlu sekitar 15 menit untuk Devon menyetrika kemejanya. Membolak-balik setiap sisi, baik luar maupun dalam. Membuat kemejanya yang awalnya kusut menjadi licin seketika. Ada yang butuh jasa setrika kilat? Hubungi Devon. Plak, tapi bohong.
"Lawakan lo garing banget, Dev," ledek otak dan hatinya.
"Dahlah, iyain aja biar cepet. Kasian si jomlo satu ini lagi menghibur diri."
Devon mengembuskan napas lelah, beginilah susahnya jika otak dan hatinya selalu tidak sinkron. Sekalinya sinkron, malah sangat kompak untuk membuat Devon darah tinggi.
Setelah menyampirkan kemeja yang yang sudah tersetrika dengan rapi di depan pintu lemari, Devon melangkah menuju dapur. Menyiapkan sarapan untuknya sendiri. Ingat, berpikir itu butuh tenaga.
"Omelette bukan ide yang buruk untuk sarapan."
Tanpa berbasa-basi lagi, Devon mulai mengotak-atik isi kulkasnya. Mencari apapun yang ia butuhkan untuk membuat sarapan. Tangannya begitu gesit saat mengambil mangkuk dan sendok. Hanya kurang dari semenit, telur yang ia pecahkan mendarat sempurna dalam mangkok tanpa ada yang meleber sedikit pun.
Beralih dari mangkuk dan telur, Devon mengambil pisau dan seledri, oh jangan lupakan daun bawangnya juga. Sebelum ujung mata pisau tepat mengenai seledri, otak dan hati Devon kembali menghujatnya.
"Lagi cosplay jadi Caca Handika, Dev? Masak, masak sendiri. Makan, makan sendiri.Cuci baju sendiri. Tidur pun sendiri."
"Sadboi detected ini mah," sahut lainnya.
Fix, Devon harus cari tukang reparasi otak dan hati dalam waktu dekat.
***
Ketika semua orang mengatakan pengorbanan seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin. Berbeda dengan, Devon. Nyatanya hukum ekonomi yang tepat mengatakan bahwa dengan pengorbanan tertentu untuk mendapatkan hasil yang maksimal atau dengan pengorbanan minimal untuk mendapatkan hasil tertentu. Setidaknya apa yang kita korbankan, itulah yang akan kita dapatkan.
Terlalu munafik jika Devon tidak menginginkan sedikit pengorbanan untuk mendapatkan hasil yang banyak. Namun dalam implementasinya sendiri itu semua nol besar dan Devon sudah pernah melakukannya saat awal merintis karir.
Yang Devon dapatkan? Buang-buang uang, buang-buang waktu, dan buang-buang tenaga? Menyesal dan kesal pasti ada. Rasa lelah dan ingin menyerah juga ada. Apalagi pada saat itu Devon masih terukur muda, emosinya masih kurang stabil untuk bisa mengambil keputusan dengan benar.
Tanpa adanya uji coba dan kegagalan. Devon yakin, dirinya tidak akan pernah bisa sampai di titik ini. Pengalamanlah yang membuatnya bisa sebesar ini.
Mata Devon menelisik satu per satu angka yang ada di layar laptopnya, mencocokkan satu demi satu dengan bukti yang ia dapatkan di ponselnya. "k*****t!"
Satu hal yang Devon tahu pasti, masalah yang ia duga-duga selama ini akhirnya terjadi. Tidak etis rasanya jika ia menuduh tanpa adanya bukti yang akurat.
"Mau bermain-main rupanya? Mm bisa banget."
Satu borok yang ada akan menghambat seluruh kinerja tubuh. Bukan boroknya yang dibuang, tetapi akar penyebab timbulnya borok yang harus dibuang.
Devon memijat-mijat pangkal hidungnya---kebiasaan yang sering dirinya lakukan saat mengalami masalah. "Untung belum masuk ajaran baru."
Devon menyalakan iPad, mencari nama Brandon dalam kontaknya.
Tut tut tut...
"Kenapa, Dev?" Suara Brandon terdengar setelah deringan pertama berbunyi, tanpa sapaan dan basa-basi yang mengawali. Tak sampai di situ, telinga Devon mampu mendengar bunyi berisik namun sedikit samar dari seberang sana.
"Bantu cariin orang buat ngisi tempat kosong yang ada di kantor ...." Devon menjeda ucapannya. "... buat bulan depan."
"Kenapa?"
Devon menggeleng, setelahnya tangan Devon mendaratkan satu pukulan tepat di dahinya. Dirinya lupa bahwa Brandon tidak mungkin bisa melihat gelenganya di telepon. "Bukan apa-apa, cuma masalah kecil."
"Enggak ada masalah yang nilainya kecil, Dev. Jangan pernah bilang apapun pakai kata 'cuma', jangan berlagak gede untuk hal yang sepele." Ucapan Brandon menamparnya bertubi-tubi.
"Maaf."
"Mm okay. Itu doang yang pengen lo omongin?" Suara Brandon terdengar tertahan. Nih orang lagi ngapain, sih? Jangan-jangan—
"Iya."
"Butuhnya masih bulan depan, kan?"
Devon menajamkan telinganya mendengar jawaban dari Brandon. Tanda-tanda yang mudah tertebak.
"Mm."
"Lo ganggu, bego. Arghh—"
Pip.
"Anjir, Brandon tai." Telinga suci Devon ternodai oleh bunyi-bunyian laknat dari Brandon. "Hei, ini sudah agak siang, dude. Matahari aja udah kerja dari tadi pagi. Lah situ? Seneng banget terkungkung di kamar."
Bukannya membela Devon, hati dan otaknya malah membela Brandon dan menghujat Devon habis-habisan.
"Iri bilang boss. Bilang aja otak lo udah travelling ke mana-mana."
"Mending jomlo diem aja deh, cari pasangan dulu gih abis itu cobain. Rasanya ... ah mantap."
Meninggalkan otak dan hatinya yang makin tak keruan. Devon berusaha untuk kembali memfokuskan diri menjalankan plan-nya hari ini. Jemari tangannya menekan tombol-tombol yang sudah ia hafal di luar kepala.
"...."
"Tolong katakan pada kepala divisi pelaksanaan, temui saya di ruangan setelah makan siang."
Pip. []