Dia terbelalak saat hendak keluar dengan langkah yang cepat dan nyaris menabrakku, dia hampir jatuh karena kaget. Ekspresi wajahnya yang tadinya biasa-biasa saja langsung pias dan gugup.
"Ka-kau ada di sini?" Mendadak suamiku panik dan terbata-bata.
"Ya...."
"Sejak tadi?"
"Ya."
Dia semakin pucat dan menelan ludah.
"Apa kau melihat semua yang terjadi di dalam?"
"Ya, kenapa?"
"Ah!" Lelaki itu memegang keningnya dan mulai gelisah.
"Aku bisa jelaskan Sayang, Ini hanya salah paham. Kau pasti hanya mendengar percakapan itu setengah-setengah saja kan?"
"Aku dengar dengan jelas saat kamu memanggil wanita itu dengan ungkapan sayang kau bujuk dan kau kecup keningnya lalu kau minta dia untuk kembali ke lokasi proyek! Apa itu salah?"
Suamiku gemetar bukan main saat aku mengatakannya. Sebenarnya aku ingin sekali menampar wajahnya dengan tas yang kubawa tapi aku tidak suka main kasar pada kepala keluarga. Lagipula, main kasar akan membuatnya kehilangan respek pada istrinya sendiri. Lalu kesempatan untuk pelakor itu semakin terbuka lebar untuk masuk dan memprovokasi suamiku.
"Ini hanya salah paham."
"Tidak ada yang namanya salah paham jika aku sudah dengar dan lihat bagaimana kalian berpelukan, saling menenangkan dan saling menghibur, itu benar benar luar biasa."
"Ayo ikut aku ke kantorku agar kita bisa bicara." Lelaki itu meraih tanganku dan mengajakku ke ruangannya, tapi aku menepis.
"Tidak usah."
"Atau pulanglah lebih dulu aku akan selesaikan pekerjaanku lalu menyusulmu."
"Tidak usah juga, Mas. Jangan repot repot, aku sudah tahu semuanya."
"Tahu apa?"
"Aku melihatmu b******a dengan wanita itu, aku melihatmu di Malam perayaan keberhasilan kalian. Aku juga mendapati c*****************a itu di jasmu semalam. Apa aku kurang bukti?"
'"Sayang aku mohon ini tidak seperti yang kamu lihat...."
"Lalu mana yang benar? Sudahlah, jangan bersandiwara, aku muak hidup dalam kepalsuan dan kebohonganmu."
"Aku sedang bekerja, Hafsah, bisakah kita bicara nanti?"
"Kau mengelak pembicaraan denganku tapi kau menyempatkan waktu untuk bicara dengan Niken," ujarku sambil tertawa.
"Bukan begitu tapi aku memang sedang sibuk."
"Baiklah aku akan pergi, lanjutkan kesibukanmu."
"Hafsah aku mohon agar kau tidak salah paham...."
"Bukan pemahamanku yang salah tapi kenyataannya sudah terpampang di depan mata."
"Apa kau akan langsung memberitahu masalah ini pada anak-anak?"
"Kalau aku mau sudah kulakukan dari dulu," jawabku sambil membalikkan badan.
"Hafsah...."
Lelaki itu mencoba memanggilku lagi tapi terlambat, aku sudah tidak ingin membahas apapun.
*
Saat di lokasi parki, ketika mengambil mobil, aku sempat berpapasan dengan wanita itu, dia juga nampak mau pergi dari kantor itu. Kami berpuasa untuk beberapa detik dia kelihatan menghindariku dan langsung naik ke dalam mobilnya, aku sendiri memilih untuk tidak ambil pusing atau berusaha bicara dengannya, kulaanjutkan kegiatanku yang berikutnya.
*
Usai belanja di supermarket aku mampir ke rumah ibu dan ayah mertua, kedua sejoli yang sudah menikmati masa pensiun dan keuntungannya investasinya itu, menyambutku dengan hangat.
"Mana anak anak?"
"Seperti biasa mama, mereka kuliah."
"Apa mereka baik-baik saja?"
"Ya, baik baik saja."
"Lalu, bagaimana kabar Farid."
"Sehat Ma."
"Oh ya, Ma, Pa, Hafsah ingin bertanya."
"Apa itu nak?" tanya ayah mertua.
"Aku mendapati mas Farid b******a dengan salah satu bawahannya, aku tidak sengaja memergoki mereka tapi suamiku tidak menyadarinya. Suatu saat ku beritahu kalau aku sudah tahu permainannya dan dia bilang dia bisa jelaskan, aku harus bagaimana?"
Ayah dan ibu mertua nampak saling memandang dan mengernyitkan alis, sepertinya mereka tidak percaya tentang keteranganku atas putra sulungnya.
"Kau yakin Nak?"
"Ini masalah serius ayah... Aku tak pernah berani main main."
"Lalu apa yang kau rencanakan?"
"Apa kalian setuju kalau aku mengambil tindakan sesuai dengan keinginanku."
"Jangan buru-buru untuk ingin bercerai."
"Tidak, aku tidak merencanakan itu."
"Biar kami yang bicara pada Farid."
"Kalau ayah dan ibu menegurnya maka aku dan dia akan bertengkar."
"Tetap saja,aku harus menegur anakku."
Pembicaraan tidak berlangsung panjang, waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, aku teringat harus kembali ke rumah untuk memasak dan menyiapkan makan siang serta menunaikan ibadah.
*
Saat kutepikan mobil di depan rumah, ternyata mobil suamiku sudah lebih dulu ada di sana. Aku heran sekali saat membuka pintu dan mendapati dia menghampiriku.
"Kau dari mana saja?"
"Ada apa?"
"Syukurlah kau pulang karena kupikir kau kabur."
"Oh, aku tidak akan kemana mana. Yang berbohong dan berselingkuhlah yang akan kebakaran jenggot dan kesulitan membuat kebohongan baru di atas kebohongan yang lama."
Aku tidak lagi mau menatap wajah suamiku, kekecewaan yang mendalam membuat diriku jadi benci dan hancur. Kalau aku sudah kecewa jangankan untuk menatap wajah, melihat siluet tubuhnya saja aku tak mau. Enggan dan benci rasanya.
"Hafsah..." Lelaki itu menarik tanganku dengan wajah penuh kekhawatiran dia berusaha membujuk dan menatapku dengan pandangan memelas.
"Jangan sentuh aku, Mas."
"Aku mohon."
"Tanganmu sudah kotor, kau menyentuh daging yang tidak halal untukmu jadi aku tidak mau dicampur adukkan dan hidupku akan celaka gara-gara tidak berkah bersamamu."
"Jangan bilang begitu, Hafsah...." Lelaki yang terbiasa tegar dan tangguh itu mulai menangis lalu menjatuhkan dirinya di hadapanku.
Aku mengabaikannya dan beranjak masuk ke dalam kamarku. Lelaki itu tertunduk menangis sambil berlutut dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, sementara aku tidak tersentuh sedikitpun dengan tindakan itu, aku melihat itu seakan hanya sebuah drama dan sandiwara saja.
Aku turun ke dapur setelah sholat Dzuhur dan mandi, udah pasti lelaki itu duduk di lantai dan menyandar di dinding di ruang tamu sikapnya benar-benar aneh dan seumur hidup dia tidak pernah seperti itu. Kapan ya nampak begitu sedih dan putus asa. Seperti biasa aku tidak terpengaruh ku abaikan dia dan kulanjutkan pekerjaanku di dapur.
Waktu telah menunjukkan pukul 1 siang saat aku sudah selesai memasak, lelaki itu bangkit dari posisinya dan langsung datang lalu memelukku.
"Tolong ampuni aku."
"Tidak bisa, aku tak mau, hatiku sakit, sedih dan hancur. Tapi tenang aja, Aku tidak akan memaksamu untuk memahami perasaanku. Lanjutkan hidupmu dengan bahagia, berselingkuhlah sampai kau puas. Aku akan pura-pura tidak tahu apa-apa. Asal kau tetap memberiku uang yang banyak, aku akan bahagia."
"Jangan begitu, aku takut padamu."
"Kenapa kau takut, berselingkuh dan tidur bersama wanita itu membuktikan bahwa kau tidak takut padaku, tindakanmu yang selalu asik-asik saja dengan gudikmu itu membuktikan bahwa kau tidak menghargai keberadaanku tidak menghargai keluargamu dan keluargaku yang sudah sama-sama percaya kita untuk membangun rumah tangga."
"Kalimatmu sangat menyakitkan."
"Kalimat saja menyakitkan apalagi sebuah penghianatan yang terpampang di depan mata."
"Lebih baik kau marah dan memukulku daripada kau mengatakan itu," keluhnya yang kembali bersedih lagi.
"Makanan sudah siap, makan dan pergilah bekerja. Hasilkan uang yang banyak agar kau bisa membagi rata antara aku dan peliharaanmu itu."