Jujur saja bertengkar dan berteriak-teriak bukan keahlianku, aku lebih memilih untuk bicara seperti itu padanya, dengan demikian, Dia mungkin akan berpikir keras untuk berusaha memperbaiki kesalahan. Atau... bisa jadi dia tidak menemukan kesadarannya.
Kuambil makananku ke piring lalu kubawa piringku ke ruang tengah dan makan di depan tv, untuk pertama kalinya aku tidak makan di meja makan karena lelaki itu ada di sana.
"Aku jadi malu dan segan untuk makan."
"Malu menunjukkan bahwa kau masih punya akal. Tapi entah kenapa, sejak awal, ke mana rasa malu itu pergi. Ke mana rasa takut akan dosa dan kemungkinan aibmu akan terungkap di saat kau berani menyingkap pakaian wanita itu di dalam ruang kerjamu?"
"Aku mohon, aku ...."
Aku tidak lagi mendengar perkataannya karena tiba-tiba kuambil remote dan kubesarkan volume TV. Aku benci mendengar pembelaannya yang seperti pembenaran tidak masuk akal. Aku sudah bosan dan aku lelah.
Melihatku yang acuh tak acuh saja serta hanya sibuk menonton TV lelaki itu terdiam malu kembali pergi meninggalkan rumah kami.
Kurasa dia akan kembali ke kantornya dan melanjutkan pekerjaannya atau mungkin dia akan cari hiburan dan ketenangan dulu. Entahlah, aku tak mau ambil pusing.
*
"Halo Bunda," ujar Alexa, putri bungsu kesayangan semua orang. Dia menghambur memelukku sesaat setelah pulang sekolah.
"Ih adek bau keringat," ujarku bercanda.
"Bundaaa..." Anakku merajuk sementara aku tergelak melihat ekspresinya.
Tak lama kemudian, Cindy dan kakaknya kembali. Mereka kuliah di kampus yang sama jadi Ayahnya menyiapkan sebuah mobil untuk transportasi anak-anak.
"Bunda, aku mencoba menyetir mobil sementara Kakak mengawasiku di samping."
"Oh ya, apa itu tidak bahaya."
"Aku berhasil menyetir di jalan sepi," ujarnya sambil bertepuk tangan dan tetawa bahagia.
Anak sulungku yang kalem dan penurut datang mendekat mengecup tangan dan keningku lalu duduk di sisiku.
"Apa Ayah dan Bunda ada masalah?"
"Tidak ada."
"Tapi kenapa ayah memintaku untuk menenangkan Bunda?"
" Oh ya apa dia melibatkanmu?"
"Apa masalahnya?"
"Tidak serius. Sudahlah, pergi ganti baju kalian dan makan, ada rendang yang Bunda masak di meja makan."
"Waaaaw rendang, aku sudah lama mau makan itu," ujar Alexandra.
Kedua putriku lari ke kamar mereka dan bersemangat ganti baju. Mereka terdengar bercanda dan berbahagia sementara hanya tinggal aku dan putraku di ruang keluarga.
"Apa bunda dan Ayah bertengkar hebat?"
"Tidak juga, jangan pikirkan urusan itu, yang penting kamu tetap kuliah dan tenang."
"Tapi sepertinya ayah begitu khawatir."
"Jangan terlalu khawatir, kami akan baik-baik saja."
"Perlukah aku memberitahu Ayah, kalau Bunda sudah memaafkannya, jadi ayah bisa tenang?"
"Iya, katakan saja begitu."
Aku terpaksa membohongi anakku agar percakapan itu tidak berlangsung panjang dan membuat dia jadi khawatir.
"Pergilah makan, setelah itu istirahatlah jika kau tidak punya kegiatan di luar."
"Iya Bunda, aku sayang bunda," balasnya sambil merangkul lalu beranjak ke kamarnya.
Kupandangi tubuh anakku dari belakang saat dia beranjak pergi meninggalkanku, sebenarnya kalau bukan demi mereka, kalau bukan demi mengamankan aset dan warisan mereka semua, mungkin aku tidak akan bertahan sejauh ini. Aku pasti akan langsung minta cerai dan lari sejauh mungkin dari Mas Farid. Aku benci penghianatan dan tidak bisa berdamai dengan itu.
Ah, ya Allah. Bantu aku bertahan.
*
Menjelang magrib suamiku kembali pulang, aku dan anak-anak sedang mengaji di musalla rumah saat lelaki itu melewati kami.
"Ayah baru pulang?"
"Iya."
"Sayang Ayah tidak bisa salat berjamaah dan mengaji bersama kami."
"Belakangan ayahmu sangat sibuk sehingga Mungkin dia lupa betapa syahdunya beribadah dan mengaji bersama keluarga." Aku menyindir suamiku, sementara anak-anak yang seakan langsung memahami perkataanku terlihat menatap diri ini dengan heran.
"Aku mandi dulu," ujar Mas Farid menghindar.
Saat dia sudah pergi anak-anak berlari padaku dan bertanya tentang mengapa aku bersikap seperti tadi.
"Kenapa Bunda berkata seperti itu?"
"Tidak ada, aku hanya ingin mengingatkan saja. Dunia ini hanya sementara harta yang kita kumpulkan akan kita tinggalkan menuju keabadian jadi seharusnya kita fokus saja tentang amal kebaikan yang akan kita bawa pulang ke akhirat."
"Kalau begitu seharusnya kita semua saling memperbaiki diri dan saling mengingatkan."
"Benar," balasku.
" Lalu kenapa bunda belum pakai jilbab sampai sekarang?"
Pertanyaan itu selalu dilontarkan putra sulungku dan aku tidak memiliki jawabannya. Mungkin juga aku belum berani mencoba ataukah ada alasan lain dalam diriku yang membuat aku belum berani mengenakan pakaian muslimah lengkap. Mungkinkah hal ini juga yang membuatku mengalami ujian rumah tangga yang begitu besar? Aku juga tak tahu.
"Bunda tidak ada prinsip atau keyakinan yang membuat bunda tertahan, hanya saja Bunda belum siap untuk perubahan besar, biarkan bunda belajar pelan pelan."
"Iya, kami doakan yang terbaik dan berharap bunda akan stiqomah, semoga bunda segera berhijab sehingga Ayah semakin menyayangi Bunda. Aku yakin bunda akan semakin cantik dengan rambut yang ditutup," ujar anakku Cindy.
"Iya Nak, semoga secepatnya."
*
Usai mengaji, aku dan anak-anak melanjutkan percakapan dan obrolan kami di meja makan, kami hendak santap malam dan menikmati hidangan yang kumasak sebelum maghrib tadi.
"Kita panggil aayah."
"Tidak usah panggil dia ayahmu pasti lelah."
"Kita tidak pernah melewatkan makan tanpa Ayah, bunda kenapa sih sebenarnya?"
"Tidak ada Nak. Ayah kalian Mungkin mandi dulu."
"Meskipun begitu kita harus tetap menunggunya.'
"Baiklah kalau begitu. Alexa panggilah ayahmu."
"Baik,Bunda." Putri bungsuku beranjak dari meja makan sementara aku dan kedua kakaknya masih menunggu dengan sabar. Sebenarnya kalau bukan karena anak-anak aku tidak Sudi semeja dengan lelaki itu. Melihat wajah dan ekspresinya polos membuatku tidak berselera makan dan ingin murka sepanjang waktu. Aku kesal sekali dan dendam padanya.
Jujur saja, andai norma dan adat kebiasaan tidak mencegahku, akan kutunjukkan padanya bagaimana rasanya diselingkuhi dan akan kubuktikan padanya kalau aku bisa mendapatkan pacar baru yang lebih baik daripada dia.
Lima menit kemudian suamiku turun dengan kaos oblong dan kain sarung melilit pinggangnya. Dia turun bersama putriku sambil bercanda dan tertawa-tawa. Tapi tawa itu seketika musnah saat lelaki itu menatap mataku yang kutunjukkan kebencian dan sakit hati kepadanya.
"Mari kita makan."
"Makanlah, sementara kalian makan, bunda akan memotong buah dan menyiapkan kudapan."
"Makan barengan aja Bunda...."
"Sebenarnya Bunda kenyang sekali, jadi, makanlah dulu," balasku.
Mas Farid mulai menyadari kalau aku tidak nyaman berada di sekitarnya dan aku benci dia mendekatiku. Ada ekspresi kekecewaan yang terpampang jelas di wajahnya. Tadi dia b penuh dengan senyuman dan ceria, tapi setelah melihatku, mendadak dia jadi murung dan tidak berselera.
Biarkan saja, dengan begitu dia mulai dapat pelajaran bahwa menyakiti hati istri bukanlah perkara yang mudah dilakukan lalu bisa dimaafkan begitu saja.