"Ada apa sebenarnya Bunda?" Putra sulungku datang bertanya padaku saat diri ini mencuci piring sendiri yang di dapur sementara kedua putriku duduk dengan ayahnya di depan TV sambil makan buah.
Tiada seorangpun yang menyadari kesalahan Ayahnya di antara mereka, lagi pula aku tidak ingin merusak citra panutan mereka menjadi lelaki yang akan mereka benci seumur hidup.
Aku tidak akan merusak keluargaku atau menghancurkan rumah tangga dengannya hanya saja aku butuh waktu untuk menerima kenyataan dan berdiri menata hatiku sendiri. Mungkin suatu saat Mas Farid akan sadar dan bertobat, mungkin juga tidak. Segala sesuatu atas keputusan dan sikapnya hanya akan kupasrahkan kepada Tuhan yang maha kuasa. Yang di atas lebih tahu mana yang terbaik untukku dan anak-anak.
Di sisi lain, kadang dalam kesendirian dan saat terlintas kenangan-kenangan baik aku kerap meneteskan air mata, aku benar-benar mencintainya dan mempercayainya tapi tiba-tiba dia berselingkuh dengan seorang arsitek hanya karena wanita itu cukup cantik dan seksi.
Apa salahku.
Kadang memikirkan apa kesalahan yang telah kubuat saja membuatku bingung, apa salah dan dosaku dan bagian manakah aku tidak melayaninya dengan benar. Haruskah aku tampil terbuka tidak menyesuaikan dengan umurku. Di hari-hari biasa aku tetap terlihat cantik dan mengenakan pakaian yang pantas, ke salon sekali sebulan untuk merawat diri dan itu pun atas izin dan ditemani olehnya. Aku harus bagaimana agar dia bahagia.
"Bundaaa..." Handi mengguncang tanganku menyentakkan diri ini atas lamunan akan pemikiranku yang berusaha menelaah kesalahan sendiri.
"Kenapa Bunda terlihat linglung."
"Eh, tidak ada, Nak, bunda baik baik saja."
"Kenapa Bunda tidak makan dengan kami dan tidak bergabung ke ruang tv."
"Bunda akan membersihkan dapur," balasku.
Handy mendesah pelan lalu menjauh. Sepertinya aku akan menyerah untuk membujuk diri ini agar tetap bersikap mesra pada ayahnya.
Anakku bergabung kembali dengan sofa bersama saudara dan ayahnya dan tak lama kemudian Mas Farid bangkit dari sana lalu menghampiriku ke dapur.
"Tolong bergabunglah agar tidak terjadi keanehan di rumah ini."
"Maaf, aku harus membersihkan kompor dan mengelap kabinet, nanti noda."
"Selama ini kau selalu memanfaatkan waktu dengan kami di jam berkumpulnya keluarga, jangan berubah Hafsah."
"Astaga, aku sedang membersihkan dapur, Apa kau tidak melihatku?"
"Aku mohon...."
"Aku muak denganmu," desisku sambil tersenyum sinis.
*
Aku baru saja membereskan tugasku saat bel pintu rumah berdentang. Suaranya cukup lantang dan membuat salah seorang anakku bangkit dari tempat duduknya dan pergi membuka pintu. Aku yang penasaran hanya menunggu siapa yang akan datang jam segini ke rumah kami. Biasanya kalau mertua atau saudara ipar mereka pasti akan menelpon sebelum datang.
"Ayah, ada teman ayah mencari ayah," ujar Alexa. Anakku yang duduk di bangku SMA itu sedikit centil dan cukup berenergi, kulit kulitnya yang putih dengan rambut sepinggang ikal Mayang membuat dia cukup jadi kesayangan dan menarik semua orang.
"Siapa nak?"
"Wanita cantik sekali, saat aku buka pintu kupikir dia pacar Ayah, tapi ternyata dia hanya bawahan," ujar putriku sambil bercanda, anak-anakku yang lain juga ikut tergelak mendengar selorohan adiknya.
Mendengar bahwa yang datang adalah wanita cantik mas Farid mendadak jadi tegang, dia menatapku lama dia menatapku sambil berusaha meredakan ketegangan dalam dirinya.
"Apa kau tanya siapa namanya?"
"Kenapa Ayah terus berdiri di situ pergi dan temui saja sebelum staf Ayah itu kabur karena Ayah tidak segera menemuinya."
"Ba-baik."
Mas mas Farid beranjak diikuti oleh Alexa dan Cindy di belakangnya.
"Assalamualaikum saya datang ke sini untuk bertemu di rumah atasan saya dan saya ingin berkenalan dengan keluarganya ucap wanita itu sambil menyodorkan sebuah kotak kue kepada Cindy."
"Salam kenal, saya adalah bawahan ayahmu."
"Oh, terima kasih Tante, wah lapis legit, aku suka ini, makasih Tante," balas Cindy tanpa firasat apapun.
Anakku yang kudidik dengan adab terbaik tidak pernah menaruh curiga pada orang-orang yang baru mereka temui selain sikap ramah dan menyambut dengan welcome.
"Ayo masuk Tante, Jangan terus berdiri di depan pintu,"ujar Alexa.
"Kurasa minum tehnya jangan sekarang, karena ini sudah malam," ucap mas Farid yang mulai gelisah dan takut karena aku kini datang ke ruang tamu dan memperhatikan mereka semua.
"Ini masih jam 08.00 lewat ayah, ayo kita nikmati lapis legit dari Tante ini."
"Eh, ... Anu...." Mas Farid makin tidak nyaman, terlebih saat ia mendengar kata " menikmati" dan "lapis legit" wajahnya jadi tidak nyaman dan gugup bukan main.
"Sebenarnya aku ada tugas yang mau kukerjakan," ujar Mas Farid. "Ada maket proyek terbaru yang harus kuperiksa jadi sebaiknya kau pergi saja," suruhnya kepada Niken.
Wanita yang disuruh malah menggelengkan kepala dan tersenyum dengan santai.
"Aku sudah datang ke sini pak, aku ingin berkenalan dengan keluarga anda karena anda sudah memperlakukan saya dengan baik dan membimbing saya dalam pekerjaan saya jadi saya ingin sekali berterima kasih...."
Wanita itu melenggang masuk tanpa izin, lalu duduk di sofa dan menyilangkan kakinya dengan santai, tidak sungkan sedikitpun seakan-akan ia sedang mengolok diriku dan mempermainkan hatiku di hadapan anak-anak.
"Wah benarkah Tante, apa Ayahku sebaik itu?" tanya Cindy.
"Ya, dia adalah atasan terbaik di dunia."
"Wah, ayahku memang hebat," ujar anak anak bertepuk tangan.
"Ayah kalian bukan saja hebat tapi dia adalah pria tertampan di kantor kami."
"Benarkah? Mungkin itulah sebabnya kami tumbuh jadi anak-anak yang cantik dan kakakku tampan sekali mirip ayah."
"Tentu saja, aku jadi iri pada keluarga kalian yang sangat harmonis dan bahagia."
"Ah, syukurlah Tante," balas anakku yang terlihat langsung akrab apa adanya tanpa ada insting apapun sementara mas Farid Masih berdiri begitu saja mematung.
"Ayah Bunda kenapa kalian berdiri saja bukannya kalian yang mengajarkan kepada kami kalau kita harus segera menyambut dengan Rama kedatangan tamu?"
"Ah iya bener juga bunda hanya bingung karena baru bertemu dengannya hari ini."
"Kita kan sudah pernah bertemu Mbak kemarin aku sempat mengantarkan berkas ke tempat ini. Dan kita juga bertemu di lokasi proyek...."
"Benarkah?"
Anak-anak yang bertanya seperti itu sementara ayahnya semakin gelisah luar biasa, jelas, dia panik dan tidak nyaman, khawatir pahlawan itu akan mengatakan yang sebenarnya kalau dia punya hubungan dengan mas Farid.
"Sebaiknya kalian kembali ke kamar dan ...."
"Ayah, Kami sedang bicara dengan tante ini dan Ayah ingin mengusir kami?"
"Iya Pak, biarkan saya akrab dengan mereka Siapa tahu saya pun bisa jadi anggota keluarga, misalnya, Jadi adik angkat Anda."
Aku langsung tertawa sini mendengarnya.
"Oh ya?"
"Ada apa Mbak, apa anda kurang senang? Saya minta maaf apabila perkataan saya membuat anda tidak nyaman dan terkesan terlalu lancang," ucapnya yang pura-pura sok sopan di hadapan anak-anak.
Demi Allah andai aku tidak menimbang perasaan dan mental anak-anakku, aaahhhrrg, Aku ingin sekali mengulitinya.