Aku tidak bisa terus berdiam diri dan menunggu takdir yang bisa saja menyeret kepada jurang yang paling dalam. Aku harus mulai menyiapkan pengacara untuk diriku sendiri dan pengacara keluarga, siapa tahu polisi tiba-tiba menemukan bukti dan menyeret suamiku serta menjangkit diri ini yang secara tersirat pernah melindunginya. Atau ... aku pergi saja menemui keluarga korban, kemudian membangun keakraban dan memberi mereka santunan, tindakan seperti itu seakan akan menunjukkan bahwa kami merasa bersalah tapi jika nilai kompensasinya besar, maka kurasa mereka bisa sedikit meringankan tuntutannya pada suamiku. Ah, aku hampir menjambak rambutku sendiri karena merasa pusing. Kemarin, aku yang nyaris jadi korban niat jahatnya tapi sekarang aku malah membantunya untuk berlindung. Cinta ituka

