9

802 Words
Tanpa sengaja air mataku berderai, lututku gemetar dan aku berusaha membekap mulutku dengan kedua tangan, menghalau tangisanku agar tidak pecah dan terdengar oleh penghuni rumah. Aku tidak kuasa melihat benda berwarna merah marun yang teronggok di lantai kamarku itu. Aku merasa jijik menyentuhnya dan segera kulempar tapi aku tak bisa menepis fakta bahwa mereka memang melakukan sesuatu sebelum jam pulang kerja dan sebelum aku memukul wanita itu di tepi hutan. Aku rasa ini kan berusaha memprovokasi dan cari gara-gara denganku sehingga dia punya celah untuk masuk dan memanasi suamiku sehingga hubungan kami keruh. Ada tabir tipis antara penipuan dan rasa cinta yang sesungguhnya. Jika diperhatikan saat suamiku mengutarakan cinta padaku dia mengatakannya dengan begitu tulus jujur dan tatapan matanya benar-benar menunjukkan kalau dia mengatakan yang dia rasakan. Tapi saat aku menyaksikan dia mengatakan hal yang sama kepada Niken, maka aku tersadar, bahwa suamiku memang pandai bersandiwara. Dia menipuku, dia menipu semua orang demi keuntungan dan kebahagiaannya sendiri. Dia memang munafik dan egois. Aku segera mengambil benda itu meletakkannya kembali ke dalam jas suamiku berikut dengan dompet dan kunci mobilnya. Aku tidak ingin dia tahu kalau aku menyaksikan apa yang ada di dalam jasnya. Aku tidak ingin dia syok dan segera menutupi permainannya selama ini. Aku melangkah ke wastafel lalu mencuci wajahku, meresapi dinginnya air dan berusaha menenangkan diri dengan terus mengucapkan kalimat istighfar. Aku merasa nyaris gila dalam 3 hari terakhir ini, aku menyimpan masalah yang begitu besar sebuah Rahasia yang menghimpit hatiku dimana Aku ingin sekali membaginya dengan orang lain tapi ini terlalu aib untuk dibicarakan. Aku bahkan tidak sanggup mengutarakan kepada ayah dan ibu mertua serta orang tuaku. Apa yang akan jadi reaksi mereka serta bagaimana mereka menilai kami nantinya. "Ya Allah, sabarkanlah hati ini agar aku bisa mendapatkan solusi terbaik dalam masalah yang menghimpit mentalku." Aku mengusap tangan di wajah sambil berusaha sekali lagi membasuh diriku dengan air yang mengalir dari keran. Saat baru saja keluar dari kamar mandi suamiku masuk ke kamar kami. Melihat mataku yang merah dia nampak menatapku dengan tatapan penuh pertanyaan. "Tidak ada Mas aku hanya kelilipan." "Oh baiklah." Aku merupakan diriku sementara lelaki itu masih berdiri dan mengetik sesuatu di ponselnya. "Oh ya Mas, Tolong keluarkan barang-barang dari jasmu siapa tahu kau lupa besok hari." "Iya, sayang, oke." Lelaki itu berjalan ke arah kaca rias, posisinya membelakangiku, meski begitu aku masih bisa melihat pantulan dan ekspresi wajahnya. Dia merogos akunya dan mengeluarkan dompet serta kunci mobil di sana. Saat merogo yang satunya lagi lelaki itu nampak heran saat diam-diam dia mengeluarkannya aku bisa melihat ekspresi terkejut di sana. Dia panik dan menelan ludah lalu mengembalikan barang itu secepatnya ke dalam jasnya. "Di mana aku akan meletakkan baju kotor itu sayang?" "Biar aku saja yang letakkan," jawabku. "Tidak usah biar aku saja," ucapnya dengan ekspresi gugup yang tidak bisa ia sembunyikan. "Ada apa memangnya?" "Ti-tidak ada, aku hanya ingin meringankan beban." "Sudahlah, ayo tidur." Lelaki itu tidak memperdulikanku dia kabur membawa jasnya ke lantai bawah dan aku yakin dia pasti menyembunyikan CD itu di suatu tempat, mungkin juga hendak membuangnya. Niken kurang bijaksana saat dia mempertimbangkan keputusannya. Mungkin niatnya ingin membuatku sakit hati, tapi itu bisa jadi Boomerang karena saat suamiku mengetahuinya, maka itu akan jadi pertengkaran di antara mereka. Jelas saja, Mas Farid merasa terancam karena perbuatan gundiknya itu. Dia bisa menghancurkan rumah tangga kami dan tentu saja Mas Farid tidak mau itu terjadi secepatnya. * Beberapa menit kemudian suamiku kembali ke kamar, lampu kamar sudah ku matikan sehingga dia langsung berbaring di sisiku. "Mas ... Kenapa kau gelisah?" "Tidak kok." "Aku seakan mendengar detakan jantungmu." "Karena Kau adalah belahan jiwaku." Dia mengembalikan badan lalu merangkul diri ini ke dalam pelukannya, seperti yang selalu dia lakukan setiap malam selama kami menikah. "Yakinkanlah diriku dan berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah berpaling sedikitpun." Lelaki itu terdiam aku bisa merasakan tangannya yang memelukku mulai gemetar. "Jujurlah pada diriku Jika ada yang mengganggu hatimu atau kau mulai menyukai orang lain." "Bicara apa kau? Aku hanya menggantimu saat aku kehilangan akal dan mulai gila. Selagi aku waras Aku tidak akan kehilangan dirimu selamanya." "Jika ada yang kau sembunyikan dariku jujurlah dari sekarang sebelum semuanya berakhir dengan buruk." "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," ucapnya dengan nada suara yang bergetar tentu saja ia paham maksudku. "Mas, hanya kau dan Tuhan yang tahu isi hatimu jadi jujur saja pada diri sendiri. Aku setia padamu tapi jika kau tidak ingin bersamaku lagi maka ...."aku tidak bisa melanjutkan ucapanku karena lelaki itu menutup bibir ini dengan ujung jemarinya. "Tidak, Hafsah, Jangan katakan kalimat yang akan mematahkan hatiku. Tanpamu, apalah arti diri ini." Aku meneteskan air mata saat mendengarnya, bukan karena tersentuh oleh kalimat-kalimat penuh cinta tapi aku hanya kecewa dia masih terus bertahan dalam kebohongannya. Suatu saat nanti, saat semuanya terungkap suamiku akan merasa sangat malu dan hancur. Aku pastikan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD