10

957 Words
"Apa tidurmu nyenyak semalam?" tanya lelaki itu saat aku sedang melata piring di meja makan. Dia menjumpaiku, mendekati ke dapur saat aku sedang menyiapkan sarapan lalu mencium kening ini. "Iya, tidurku bagus, kau bagaimana Mas?" "Aku nyaman memelukmu," balasnya sambil duduk lalu mengesap kopi, aku menggeser kursi lagi duduk harapannya. Memberinya piring makan dan meletakkan nasi goreng ke atas permukaan benda itu. "Makanlah." "Baik," jawabnya. Kami makan dan saling diam sekali aku dan dia saling memandang sampai akhirnya lelaki itu tidak tahan untuk bertanya, "Ada apa, kenapa kau diam saja?" "Aku ingin bertanya padamu." "Tentang apa?" "Apa yang kau sembunyikan dariku?" tatapanku tajam padanya, "Apa maksudmu, sudah nyari seminggu kau terus bertanya tentang apa yang aku sembunyikan Memangnya apa yang aku sembunyikan," tanya lelaki itu sambil menahan makanan di sendoknya. "Baiklah kalau kau tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Tapi, Aku tetap menunggumu untuk jujur." "Kejujuran macam apa yang kau inginkan, aku benar-benar tidak mengerti." "Apa kau nyaman terus membohongiku, aku minta tolong itikad baikmu agar kau memberitahu aku yang sebenarnya." Kurasa dia paham maksudku karena untuk ukuran lelaki yang begitu cerdas dia tidak mungkin tidak memahaminya. Apalagi yang disembunyikan kalau bukan rahasia tentang wanita bernama Niken itu. Kenapa dia masih terus bertahan dan pura-pura seakan aku tidak mengetahui apapun. "Aku harus mandi," ujarnya bangkit. Tidak pernah seumur hidup lelaki itu tidak menghabiskan makanannya di piring. Selain karena dia menyukai masakanku lelaki itu butuh asupan energi untuk bekerja sepanjang hari, jadi kenapa, tiba-tiba dia berhenti makan dan meninggalkanku begitu saja. Lelaki itu berdiri lalu menatapku beberapa detik kemudian beranjak menuju ke kamar. Dia seakan merajuk padaku, dan berharap bahwa aku akan membujuk lalu minta maaf dan mengalah lagi padanya kemudian dia akan kembali berbuat sesuka hatinya. Meski sudah naik ke tangga lelaki itu terus mengintipku dengan ekor matanya, aku mengetahui tatapan itu dan aku yang nggak dipusingkan segera membereskan piring makan dan kopinya yang belum habis. Aku melempar semuanya ke wastafel dan dia tercengang dengan itu. Suamiku yang masih berdiri di tangga hanya menghalalkan nafas sambil menggelengkan kepala lalu naik ke kamar kami. * Tiga puluh menit berikutnya dia sudah turun dalam pakaian yang rapi dan wangi, Sudah gerimis dan memakai pakaian yang ku setrika semalam. Lucu ya, saat aku benar-benar melayani dan menyiapkan pakaian suami dengan rapi, ironisnya, dia kembali mengusutkan pakaiannya dengan bermain tangkap tangkapan bersama wanita lain. Pantas saja, akhir-akhir ini, setiap kali pulang kerja, pakaiannya selalu saja kusut dan berantakan, seakan ia baru berbaring di atas jerami padahal sepanjang waktu ia duduk di ruangannya. Hari ini, aku berencana untuk mengikuti dia lagi. Aku ingin mengikuti kemana dia pergi dan syukur-syukur kalau dia mengarahkan ku ke rumah wanita itu. Aku ingin tahu letak tempat tinggalnya dan seberapa sering suamiku berkunjung ke sana. "Kenapa kau menatapku?" tanyanya sambil mengenakan sepatu. "Tidak ada, hanya berpikir saja." "Apa yang kau pikirkan." Ternyata sudah 20 tahun kita bersama, kita serumah, seatap dan seranjang, kita punya anak yang kesemuanya cerdas dan membanggakan. Aku harap, Jangan Ada dusta diantara Kita Dan sesuatu yang disembunyi-sembunyikan." "Aku tidak mengerti kenapa kau terus memancing perkataan semacam itu. Apa kau mencurigaiku karena kau tidak bisa melihat ponselku?" "Entahlah, terkadang insting itu begitu tajam." "Hah, ada ada saja," balasnya sambil mengambil kunci dan beranjak pergi. Untuk pertama kalinya .... ia tidak membiarkanku menjabat tangannya. Biarkan saja Sepertinya setelah minggu ini aku akan terus-terus meluangkan waktu untuk mengikuti dan melihat perbuatan Suamiku di belakangku. Aku harus mengendap-ngendap pergi ke kantornya dan jangan sampai terlihat oleh asisten pribadinya sebelum dia melaporkan itu pada suamiku. Kadang aku juga mengendap lokasi proyek dan berharap bahwa s dari ratusan orang yang bekerja di sana tidak seorangpun yang apanya menyadari bahwa aku datang. Kalaupun ada yang melihat kuharap aku diabaikan, setidaknya, sampai aku punya cukup bukti. Kubereskan dapur, lalu melanjutkan membersihkan rumah kemudian mandi dan bersiap-siap untuk keluar mengawasi Mas Farid. Kebetulan aku sudah belanja bulanan dan seperti biasa sudah kusiapkan makan untuk siang nanti bagi ketiga anakku yang baru pulang kuliah dan sekolah. Jadi, aku aman. Mengendarai mobilku lalu berangkat ke kantor Mas Fikri yang jaraknya 15 menit dari rumah kami. Sengaja tidak kumasukkan mobilku ke ke lokasi parkir gedung kantor karena itu bisa membuatku ketahuan datang. "Selamat pagi Bu?" "Pagi," jawabku pada petugas jaga di pintu depan. Suasana kantor sedikit serius dan sibuk jadi pekerja di sana tidak begitu memperhatikan kedatanganku. Kunaiki lift lalu beranjak ke lantai dua. Kucari keberadaan Mas Fikri di kantornya dan kebetulan asisten pribadinya tidak menyadari kehadiranku yang sempat melewati ruangannya tadi. Ruangan-ruangan di lantai dua terbagi dalam berbagai divisi departemen yang dibatasi dengan panel kaca. Ruang suamiku ada di paling ujung dengan tulisan ruang direktur pelaksana, ada meja asisten di sebelah kiri pintu masuk, yang juga dibatasi dengan kaca. Kubuka pintu perlahan dan tidak mendapati seorangpun di sana. "Siapa yang ibu cari?" "Bapak di mana?" "Barusan ada di ruangannya Bu apa harus saya carikan?" "Tidak, tidak usah, aku mau pergi saja," balasku ramah, Padahal aku cuma menghalau agar dia tidak menyadari kalau aku tengah mengawasi mas Farid diam-diam. Kulangkahkan kakiku ke ujung koridor yang ada di sayap kanan, kemarin aku melihat suamiku sekelebatan lewat dan menuju ke arah ruangan yang ada di sebelah kiri. Aku mempercepat langkah untuk mengikutinya. Saat tiba di depan pintu ruangan itu ada celah kaca berbentuk persegi seperti pintu-pintu yang biasanya ada di rumah sakit. Aku mengintip dari sana. Rupanya ada Niken, saat suamiku baru saja masuk wanita itu langsung menyergap dan menghambur ke dalam pelukannya, wanita itu mendaratkan bibirnya di wajah suamiku dengan bertubi-tubi. "Aku mau tanya padamu!" Punya suamiku yang langsung mencekal kedua tangan wanita itu dan menjauhkan dia dari pelukannya. "Apa, Mas?" "Apa ini? Kenapa kau meletakkan ini di dalam saku bajuku?" Mas Fikri mengangkat lingerie semalam ada di dalam saku jasnya. Wanita itu tertawa saja dengan santai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD