"Tolong maafkan aku dan lindungi aku," ujarnya sambil menyentuh ujung kakiku, aku bersurut dari hadapannya dan menggelengkan kepala. Aku menatapnya dengan pandangan mata penuh ketidakpercayaan, tubuhku gemetar dan aku menyadari bahwa aku sedang berhadapan dengan seorang pembunuh berencana. Dengan psikopat berdarah dingin yang tega ingin melenyapkan Ibu dari anak-anaknya, hanya demi menutupi hubungan perselingkuhan dan tetap menyimpannya awet sebagai rahasia. Mungkin setelah kematianku dia akan menguasai saham milikku yang diberikan ayah, kemudian dia akan mempengaruhi anak-anakku untuk menerima wanita itu sebagai ibu tiri mereka. Lalu, mereka akan berbahagia sementara aku mati dalam keadaan merana. Ya Tuhan. "Teganya kamu, betapa diceknya kamu membuat rencana yang hendak menyakitiku. A

