Aku tahu dan bisa merasakan gejolak hati serta perasaan putra putriku yang tercetus di pernikahan ayahnya. Meski kini kami dalam perjalanan meluncur pulang dan semua orang diam saja, aku yakin di dalam hati mereka terjadi peperangan dan kebisingan yang luar biasa. Hati siapa yang tidak teriris saat melihat ayah sendiri melangsungkan pernikahan dengan orang lain di depan ibu kandung mereka. Meski aku tegar, tapi tentu saja anak anak geram. Sampai di rumah anak-anak yang memang sejak pagi belum makan apa-apa langsung kubuatkan makanan dan kusuruh mereka untuk makan. Di acara pernikahan ayahnya tadi mereka tidak makan, jarak yang jauh dan perjalanan pulang pergi selama 2 jam membuat anak-anak lapar juga. "Ayo makan," ujarku. "Tak selera Bunda." "Kenapa? Kan sudah dapat kalung dan j

