"Itulah akibatnya membesarkan anak terlalu dimanja dan tidak dididik dengan tegas," ujar Mas Farid menyalahkan diriku. Aku sudah tidak lagi menjawab hanya air mata yang berderai mewakili betapa hatiku seakan terkuras dan tinggal ruang hampa yang sudah lebam oleh perkataan dan tindakannya yang kasar. Aku terdiam sampai menggelengkan kepala mencoba menyangkal semua perkataannya, namun bibir ini sudah tidak sanggup untuk mengeluarkan sepatah kata. Sudah berselingkuh, bersikap semena-mena, lalu memutuskan untuk meninggalkan kami begitu saja, menikah di depan, mata kasar kepada anak, lalu menjatuhkan talak tanpa perasaan, lengkap sudah perkara yang akan membuatku akhirnya jera berhubungan dengan lelaki itu. "Kenapa kau diam saja. Apa kau sedang merayakan di dalam hatimu betapa siang tadi

