"Mau kemana Ma?" Mas Farid yang sudah pakai piyama dan berbaring di tempat tidur kaget melihat diriku mengambil mantel dan tas. "Ke rumah ayah." "Kau yakin tidak pergi ke rumah Niken kan?" Aku dan ia bersitatap di mana lelaki itu nampak menelan ludahnya dengan susah payah. Ekspresi cemas seperti itu, jarang sekali terlihat di wajahnya kecuali ia memang benar-benar bersalah. Dan saat ini, lelaki itu menyadari betapa fatal perbuatan yang dia lakukan dan betapa akibatnya telah merepotkan semua orang. "Akan kulakukan hal yang harus kulakukan." "Semua kerepotan ini berakar dariku jadi harusnya aku yang menyelesaikannya." "Sudahlah istirahat, besok kau harus menemui beberapa orang dan memeriksa jalannya proyek jadi kau harus tidur. Aku stop manager keuangan jadi aku punya banyak waktu ya

