Kutepikan mobil garasi, mematikan lalu menutup pintunya sambil menghela nafasku. Jujur saja keluar rumah selama 1 jam dan mencari udara segar membuatku sedikit terbebas dari rasa pengap dan kesedihan hati. Terus berada di rumah membuatku terpikirkan akan kejadian yang kulihat di kantor suamiku serta bagaimana kenangan indah tentang kami mencekik leherku. Aku sebenarnya tidak mau teringat-ingat lagi tapi entah kenapa bayangan itu berkelebat dan terus terngiang-ngiang. Saat aku mendorong pintu utama suamiku yang kebetulan duduk di ruang tamu langsung berdiri. "Kau dari mana saja?" Melihat dia terlihat begitu tegang aku hanya menanggapi dengan santai, kutatap jam dinding lalu bertanya kembali kepadanya. "Kamu pulang kantor lebih cepat hari ini?" "Aku khawatirkanmu mengingat betapa seri

