Seorang gadis berperawakan mungil yang menggunakan seragam putih abu-abu tengah memasuki pekarangan sekolah. Tampak siswa siswi yang lain mulai menyapanya. Memberikan senyuman bersahabatnya ke gadis mungil tersebut. Ada juga yang menatapnya iri dan ada juga yang berbisik-bisik mencemoohnya.
Seolah tak peduli dengan kedengkian warga sekolah lainnya, gadis itu tetap berjalan dengan anggunnya untuk memasuki kelasnya. Semua orang menyapanya dengan ramah. Gadis itupun membalasnya tak kalah ramah.
Semua orang menyukainya. Menyukai gadis yang selalu tersenyum ramah ke setiap orang. Menyukai gadis yang selalu mendapatkan juara umum disekolahnya. Menyukai gadis yang cantik namun periang dan terkesan pecicilan. Semua orang menatapnya kagum. Gadis itu tampak sempurna dengan segala kelihaiannya.
Tetapi sayang, orang hanya memandangnya dari luar. Tak pernah sekalipun mereka mengetahui seluk beluk kisah memilukan dari gadis itu. Semua manusia tak ada yang sempurna, termasuk gadis itu. Dari luar dia terlihat sangat riang, tetapi jika sudah menelusurinya lebih dalam lagi, gadis itu selalu menyimpan kesedihannya. Gadis itu sukses mengelabui banyak pasang mata. Dia tersenyum ramah, bersikap riang, pecicilan dan genit hanya untuk menutupi kelemahannya.
Tepukan pelan dibahunya membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya untuk melihat siapa orang yang dengan seenaknya menepuk pundaknya tanpa seizinnya.
"Pagi, Lana. Maaf gue kemarin keterlaluan banget. Gak seharusnya gue ninggalin elo." ucap Ando dengan raut wajah menyesal.
Alana tertawa geli dan meninju lengan Ando pelan. "Santai aja, Do." jawab Alana. Walaupun Alana sempat kecewa karena sifat Ando yang tegaan. Alana tak pernah bisa marah dengan Ando. Karena hanya Ando lah satu-satunya orang yang paling mengerti Alana dan tau tentang kisah hidup Alana.
Ando tersenyum senang. Dia merasa bersalah karena tega meninggalkan Alana yang sangat ketakutan. Ando tahu kemarin Ibunya Alana datang kerumah Alana. Tetapi entah kenapa waktu itu Ando sangat marah karena Alana yang dengan santainya menerima kalau dia hamil karena lelaki yang seenaknya merampas ciumannya. Entah perasaan apa itu. Ando juga tak mengetahuinya. Yang jelas dari dulu Ando sangat tak menyukai jika Alana-nya berdekatan dengan lelaki lain. Hal itulah yang menyebabkan Ando mengeluarkan petuah-petuah anehnya agar Alana-nya hanya mau berteman dekat dengan Ando. Tidak dengan lelaki lainnya.
"Yuk masuk. Bentar lagi bel." ajak Alana. Ando langsung merangkul bahu Alana seperti biasanya dan mereka berjalan bersama memasuki kelas mereka.
Walaupun Alana pecicilan dan tak jarang juga dia membuat keributan. Tetapi dia tetap menjunjung tinggi pendidikan. Dan Alana juga harus bersaing ketat dengan siswa lainnya agar gelar juara umumnya tak berpindah ke siswa lainnya.
Alana belajar dengan giat karena dia ingin menjadi orang yang sukses dikemudian hari. Alana ingin bebas dari rumahnya. Alana tak ingin bergantung dengan orang lain lagi. Dia ingin segera sukses dan pergi jauh dari orang-orang yang sering menyakitinya.
Ando juga sama dengan Alana. Dia juga ingin cepat-cepat menjadi orang yang sukses agar dia bisa menunjukkan kepada Ayahnya bahwa tanpa Ayahnya pun Ando bisa meraih kesuksesannya.
Berbeda dengan sifat Alana yang ramah, Ando adalah kebalikannya. Ando adalah orang yang sangat misterius, sulit ditebak dan tentu saja tampan. Hal itu juga sering membuat Alana pusing.Terkadang sifat Ando suka berubah-ubah. Membuat Alana pusing meladeninya. Dan Ando hanya menunjukkan sifat anehnya hanya didepan Alana. Selebihnya dia selalu menunjukkan sifat cueknya kepada orang lain.
Alana dan Ando adalah dua insan yang cocok untuk disatukan. Mereka meliki nasib yang sama. Sama-sama anak broken home. Tetapi sifat mereka yang berbeda juga menjadikan mereka untuk saling melengkapi. Dan hubungan mereka juga tak lebih dari sahabat. Keduanya juga nyaman dengan hubungan tersebut. Mungkin itu yang menyebabkan Ando merasa aneh jika Alana-nya berdekatan dengan lelaki lain selain dirinya. Entahlah, Ando juga masih belum paham dengan semuanya.
Jam terus bergulir. Pelajaran Matematika yang sangat menguras otakpun sudah tergantikan dengan bel istirahat. Semua siswa menghela napas lelah dan berhamburan keluar kelas untuk menuju kantin sekolah. Begitupula dengan dua sejoli Alana dan Ando.
"Lo mau apa, Lana?" tanya Ando saat mereka sudah berada dikantin yang penuh sesak dengan manusia.
"Nasi soto sama jus jeruk." jawab Alana. Ando mengangguk dan segera berjalan meninggalkan Alana untuk memesankan pesanan Alana dan pesanannya juga.
Sementara Ando memesan makanannya, Alana sibuk dengan ponselnya. Sebenarnya jika istirahat seperti ini, mereka selalu duduk beramai-ramai bersama teman-teman yang lainnya. Tetapi tadi Ando memintanya agar mereka duduk berdua saja karena Ando ingin menjelaskan sesuatu kepada Alana. Dengan senang hati Alana menuruti Ando.
Tak jarang siswa pria menggoda Alana. Dan Alanapun tak masalah dengan godaan pria-pria tersebut. Alana malah dengan senang hati membalas godaan mereka. Jika orang yang baru mengenalnya, pasti mereka beranggapan bahwa Alana adalah gadis murahan. Tetapi jika memang orang-orang tersebut sudah mengenal Alana dengan baik, mereka pasti langsung merubah persepsi mereka.
Alana juga tak masalah dengan kelakuan centilnya. Itu merupakan hiburan tersendiri untuknya. Dan semua orang juga tahu bahwa Alana tak serius dengan segala godaan anehnya.
"Ck! Centil banget." sungut Ando sambil meletakkan pesanan mereka dimeja. Alana hanya menyengir lebar dan segera menyantap makan siangnya.
"Lana sebenernya gue mau ngomongin tentang...."
"Tentang apa hayo? Lo mau ngomong kalo lo jatuh cinta sama gue kan, Do? Ck! Udah kebaca." potong Alana.
Ando mendengus kesal dan melemparkan tissue ke wajah Alana. "Bukan itu b**o!"
"Gue mau ngomongin tentang ciuman cowok ke cewek." ujar Ando.
"Sebenernya orang hamil itu bukan karena ciuman. Apa yang kita pelajari pas kelas 11 tentang reproduksi itu emang bener. Cewek bisa hamil karena s****a cowok yang masuk ke rahimnya." lanjut Ando.
Alana mengernyit heran. Setelah itu tawanyapun pecah. "Ando, Ando... Lo b**o banget sih. Jelas gue tau tentang itu dan gue juga tau kalo lo itu nipuin gue." ucap Alana tertawa. Sementara Ando melongo ditempat.
"Gak mungkin gue jadi juara umum kalo hal kayak gitu aja gue gak tau. Dan lo tau kenapa gue ngejer-ngejer cowok yang waktu itu nyium gue?" Ando menggeleng.
"Karena gue udah janji sama diri gue sendiri, siapapun orang yang ngambil ciuman pertama gue, orang itulah yang nantinya harus jadi suami gue. Ralat, wajib jadi suami gue." lanjut Alana yang membuat Ando semakin menganga.
"Terus kemarin ngapain lo bilang ke gue kalo elo hamil?" tanya Ando kesal.
"Karena gue pingin ngerjain elo. Selama ini gue berasa bodoh banget terus-terusan ditipuin sama elo. Makanya gue mau balas dendam sama elo." jawab Alana sambil menunjuk Ando dengan garpu yang ada ditangannya.
Ando menunduk dan mengacak rambutnya frustasi. Alana terkikik geli melihat Ando yang kini sudah seperti orang depresi.
"It's oke brother, walaupun elo sering nipuin gue, elo masih gue anggap sebagai sahabat gue kok." ucap Alana dengan tawa gelinya sambil menepuk-nepuk pundak Ando pelan.
****
Sepulang sekolah, Alana langsung bergegas untuk pergi ke perusahaan besar dan terkenal yang kemarin didatanginya. Ya, perusahaan milik Abi. Lelaki yang sudah diklaim sebagai calon suaminya.
Alana menolak ajakan Ando yang ingin mengantarkannya pulang. Alana tahu jika Ando mengetahui Alana akan pergi ke sana, maka Ando tak segan-segan menyeret Alana untuk ikut pulang kerumahnya dan menyekap Alana digudang rumah Ando.
Alana menyeka keringat yang menetes dari dahinya saat dia sudah sampai diperusahaan milik Abi. Hari begitu panas dan terik. Matahari sedang menunjukkan ke agungannya yang membuat semua orang merasa gerah dan kesal. Tetapi tidak dengan ibu rumah tangga. Mereka tentu senang, karena dengan begitu, pakaian yang mereka jemur akan cepat kering.
Alana berjalan memasuki perusahaan Abi dan berhenti didepan resepsionis yang baru kemarin dijumpainya. "Hai, mbak." sapa Adel menyengir.
Resepsionis itu memutar bola matanya malas. "Mau ngapain lagi sih, dek?"
Alana menyengir lebar dan memicingkan matanya untuk melihat name tag yang tertempel dibaju resepsionis tersebut. "Emm... Gina. Oh Gina." gumam Alana pelan setelah dia mengetahui nama resepsionis tersebut.
Alana kembali menatap Gina dan tersenyum penuh arti. "Mbak, namanya bagus banget sih. Unyu-unyu gimana gitu."
Gina mendengus lelah. "Langsung aja deh, dek. Mau ngapain ke sini?"
"Hehe.... Ruangan Pak Abi dimana ya, mbak?" tanya Alana dengan cengiran lebarnya.
"Kamu itu siapanya sih? Jangan-jangan kamu penguntit lagi." tuduh Gina.
"Ish mbak sembarangan banget sih. Saya ini calon istrinya."
"Calon istri apaan? Eh dek, kamu itu masih SMA. Pak Abi mana mungkin mau sama kamu."
"Nah justu itu mbak. Saya lagi mau memperjuangkan cinta saya. Orang tua saya dan orang tuanya udah kenal lama dan mereka jodohin kami." ucap Alana mengarang.
"Kamu serius?" tanya Gina tak percaya. Alana hanya mengangguk pasti.
"Ruangan Pak Abi ada dilantai paling atas. Semangat terus ya. Semoga kamu dan Pak Abi bisa bersatu."
"Trimakasih, mbak. Amin." ucap Alana sambil menahan tawanya.
Sumpah b**o banget. Mau aja ditipuin sama anak SMA kayak gue. batin Alana sambil terkikik geli.
Alana berjalan menyusuri perusahaan milik Abi dengan santai. Dia tak memedulikan pandangan heran karyawan perusahaan ini.
Alana mencari-cari ruangan Abi setelah sampai dilantai teratas perusahaan ini. Tak menunggu waktu lama, Alana sudah menemukan ruangan Abi. Mudah jika ingin mencari ruangan Abi. Didepan pintu ruangannya sudah tergantung namanya. Apalagi ruangannya juga merupakan ruangan yang paling besar dilantai ini.
Alana menghampiri sekretaris Abi yang tengah sibuk dengan komputernya. "Permisi, mbak. Pak Abinya ada didalam tidak?" tanya Alana formal.
Sekretaris Abi langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Alana dengan wajah menelitinya. "Maaf, adek siapanya ya?"
"Saya temannya, mbak. Boleh masuk gak?"
"Maaf dek, gak sembarangan orang boleh menemui Pak Abi."
"Mbak please, saya capek mbak pulang sekolah langsung kesini. Mana saya naik angkot lagi. Liat nih keringat saya, mbak." ucap Alana memelas sambil menunjukkan keringat yang bercucuran didahinya.
"Gita, saya mau keluar seb..." perkataan Abi terputus saat matanya menangkap Alana yang tengah berdiri tak jauh darinya.
Alana yang menyadari kehadiran Abi langsung mendorong Abi agar masuk kembali kedalam ruangannya. Alana menggunakan kesempatan emas ini agar dia bisa mengobrol bersama Abi.
"Ngapain lagi sih elo kesini?" tanya Abi geram setelah Abi masuk kembali kedalam ruangannya akibat dorongan kuat Alana.
Alana menyengir lebar. "Mau ngunjungi calon suami."
Abi menggeram frustasi. Dia benar-benar lelah dengan sifat aneh Alana. "Gue bukan calon suami elo. Gue udah punya pacar." Ya, Abi harus menggunakan berbagai cara untuk menghindari Alana. Termasuk berbohong.
"Gue gak percaya. Bawa pacar Om kesini sekarang kalo Om memang punya pacar." tantang Alana.
Abi langsung gelagapan. Bingung harus melakukan apa. Pacar saja dia tak punya. Tetapi otaknya yang pintar dengan cepat menemukan ide yang sangat cemerlang. Abi tersenyum senang. Kali ini dia harus berhasil membuat Alana pergi dari hidupnya.
"Sebentar, biar gue telpon pacar gue dulu." ucap Abi sambil mengeluarkan ponselnya.
"Tunggu aja, sebentar lagi dia kesini kok." ucap Abi dengan senyuman kemenangannya setelah menyelesaikan panggilan teleponnya. Alana mengangguk dan menatap Abi dengan pandangan meremehkan.
Dia gak tau kalo tadi malam gue nge-stalk dia. Jelas-jelas dibiodatanya tertulis kalo dia itu masih single. batin Alana.
Alana menunggu kedatangan 'pacar' Abi dengan kedua tangan yang bersedekap dibawah dadanya. Alana memandang Abi sengit. Sementara Abi mengacuhkannya dan duduk dipinggiran meja kerjanya.
Alana menolehkan pandangannya dari Abi saat menyadari kehadiran seseorang. Alana meneliti wanita yang kini tengah berdiri tak jauh darinya. Sementara Abi tersenyum senang saat mengetahui siapa yang datang ke kantornya.
"Nah, ini dia pacar gue." ucap Abi menyeringai sambil berjalan ke arah wanita tersebut dan merangkul pundaknya. "Sekarang lo percaya kan kalo gue udah punya pacar?" tanya Abi kepada Alana.
Wanita yang berada dalam rangkulan Abi masih diam ditempat. Sementara mata Alana meneliti wanita yang berada dirangkulan Abi. Alana seperti pernah melihatnya.
Setelah Alana mengetahui siapa wanita cantik didepannya ini, Alana langsung membelalakkan matanya dan menatap wanita itu dengan wajah berbinarnya. "OMG! Kakak yang namanya Kak Adel kan? Astaga! Akhirnya aku bisa ketemu Kakak juga." ucap Alana girang sambil menarik wanita yang bernama Adel itu dari Abi dan Alana langsung memeluknya erat.
Alana sangat senang bisa menemui wanita yang baru tadi malam dilihatnya diinternet.
Abi terpaku ditempat saat melihat Alana yang mengenali Adel. Abi merasa nasib buruk mulai mendatanginya.
"Om bohong! Masa adik sendiri dijadikan pacar. Dosa Om!" ucap Alana sebal setelah dia melepaskan pelukannya.
Abi melotot ke arah Alana. Alanapun membalas pelototan Abi. Jadilah mereka berdua pelotot-pelototan.
Adel berdehem pelan. Membuat Alana dan Abi menghentikan aksi pelotot-pelototan mereka. "Kamu siapa?" tanya Adel lembut kepada Alana.
Alana tersenyum senang. Suara Adel terdengar sangat merdu ditelinga Alana. Membuat Alana terkagum-kagum dengan Adel. "Suara Kakak merdu banget yaampun." tutur Alana dengan mata yang berbinar-binar.
"Kenalin Kak, aku Alana. Calon istri Om Abi." lanjutnya dengan senyuman lebarnya. Adel melotot kaget dan langsung menatap Abi, meminta penjelasan darinya.
"Dia itu cewek gila, Del. Gak usah didengerin. Lo bawa aja cewek ini ke rumah sakit jiwa." ucap Abi kesal. Abi sudah sangat frustasi. Alana memang bocah yang ajaib.
"Emangnya gue sakit jiwa apa, pake mau dibawa kerumah sakit jiwa segala." balas Alana tak terima. "Biar Lana aja yang jelasin ke Kak Adel. Jadi gini Kak, Om Abi alias Kakaknya Kak Adel ini udah melecehkan Lana yang polos ini. Jadi Lana mau minta Om Abi supaya dia tanggung jawab." jelas Alana yang membuat Adel membelalakkan matanya.
"Melecehkan?" tanya Adel heran. Setelah itu Adel menatap Abi garang. "Adel gak mau tau. Adel gak mau punya Kakak yang gak bertanggung jawab sama apa yang udah diperbuatnya. Pokoknya Kakak harus tanggung jawab." tegas Adel sambil pergi dari ruangan Abi.
Alana tertawa menang. "Om kena sister complex ya? Masa adik sendiri dijadiin pacar."
"Mendingan sama aku aja, Om. Masih muda dan sexy." lanjut Alana sambil mengerling genit ke arah Abi.
Abi memandangnya ngeri. Abi baru sadar kalau Alana memakai seragam SMA. Abi meneliti tubuh Alana dari atas ke bawah.
Lumayan juga. Coba kelakuannya gak aneh. Pasti dia masuk ke dalam kategori istri idamanku.
Alana yang dipandangi Abi dengan lekatpun menjadi gugup. Tiba-tiba rasa percaya dirinya hilang. Abi yang melihat kegugupan Alana mendapat ide untuk mengerjainya.
Abi tersenyum miring sambil melangkah mendekati Alana. "Om mau ngapain?" tanya Alana takut sambil beringsut mundur.
Abi semakin mendekat ke arah Alana yang membuat Alana berjalan mundur untuk menjaga jarak dengan Abi.
Seketika tawa Abi pecah saat melihat raut wajah ketakutan Alana. "Lo itu emang aneh. Tadi lo nyodorin diri lo ke gue. Sekarang dideketin aja langsung ketakutan gitu." ucap Abi tertawa.
Alana mendengus kesal dan menghampiri Abi. Alana menyeringai ke arah Abi yang membuat Abi kebingungan. Tanpa babibu lagi, Alana langsung menginjak kaki Abi kuat yang membuat Abi meringis kesakitan. Alana tertawa puas saat melihat Abi yang menahan sakit dikakinya.
"Lo!" geram Abi sambil menunjuk wajah Alana dengan jari telunjuknya. Alana membalas geraman Abi dengan menjulurkan lidahnya. Setelah itu, Alana berbalik untuk pulang kerumahnya. Sudah cukup hari ini dia bermain-main dengan Abi.
Tetapi sayang, belum sempat Alana melangkah, Abi sudah menahan tangannya dan langsung mencium bibir Alana. Alana terdiam ditempat dan melotot kaget saat merasakan bibir Abi yang melumat bibirnya kasar.