Dua Puluh Empat

1710 Words

Ketika Dini terbangun, jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Jendela yang tirainya dibuka lebar-lebar menjadi alasan sang puan terbangun, sebab matahari berhasil menyusup masuk dan menyinar wajahnya. Membuat cahaya terang nan hangat itu mengusik dirinya dari tidur lelap. Namun, berbeda dengan sang puan. Ardi belum terbangun sekalipun. Entah kapan pria itu tertidur hingga dirinya tidak terusik sama sekali oleh cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar. Menakjubkan bagaimana Ardi mampu tertidur dengan teramat pulas dengan posisi kaki tergantung begitu saja di ujung sofabed. Mengingat ukuran benda tersebut tidak sebanding dengan tinggi badannya, meski dia sudah sedikit meringkuk. Bisa dipastikan Ardi akan terbangun dengan sedikit pegal di pinggang dan leher nanti. Sekarang, Dini harus memikir

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD