“Hai, kamu tidak perlu menangis. Aku tidak akan menggunakan kalung ini, sepertinya ini adalah benda berharga untukmu. Kamu bisa menyimpannya lagi.” Aku mengembalikan kalung Anindya. “Aku ikhlas, Fia. Dia sudah menjadi iparku. Aku tidak mungkin bersamanya. Selain itu, hati ini sudah ada pemiliknya.” “Siapa?” Aku penasaran siapa pemilik hatinya. Dia bahkan tidak melirik anak Abah Sya’roni sama sekali. Padahal beberapa kali kulihat Gus Anam sering memperhatikannya. Apa mungkin dia sungkan karena aku menyukai Gus Anam? “Rahasia. Nanti kalian naksir ama Ilham kalau aku ceritain.” Anindya menutup mulutnya karena sepertinya dia keceplosan. Dia menyebutkan sebuah nama yang sebelumnya tidak pernah kami ketahui. “Jadi, namanya Ilham?” Anindya tersipu malu. Aku dan Nadia tidak henti-hentinya m

