“Fia, boleh Umi masuk? Azam lama sekali. Sepertinya terjadi sesuatu dengannya karena tidak biasanya dia berlama-lama di kamar mandi.”
“Silakan, Umi. Mari saya antar.”
Sesampainya di depan kamar mandi, Umi mengetuk pintu. “Kamu lama sekali, Zam? Kalau masih lama Umi tinggal, ya!”
“Tunggu, Umi. Sarung Azam basah. Boleh minta tolong pinjamkan ke Shafia?”
Deg!
Mendengar dia menyebut namaku saja membuat hati ini tidak karuan. Rasanya aku ingin pingsan mengetahui jika Gus Azam tahu namaku. Apakah dia memiliki perhatian khusus terhadap santri biasa sepertiku atau memang dia sudah hafal nama-nama santri?
“Fia, bolehkah umi meminjam sarung ayahmu?” tanya Umi.
Aku mengangguk dan segera mencari sarung di kamar Ayah. Aku mengambil sebuah sarung tenun dengan merek gajah jongkok kemudian menyerahkannya kepada Umi.
Tidak lama kemudian pintu terbuka, Gus Azam menerima sarung dari Umi kemudian menutup pintu kembali.
Masih teringat jelas bayangan Gus Azam ketika sakit perut tadi. Dibalik mukanya yang sedingin kulkas dua pintu, dia memiliki wajah yang lucu ketika kesakitan. Eh, apakah aku suka melihatnya kesakitan?
“Sudah selesai, Umi.” Gus Azam sudah keluar dengan memakai sarung milik Ayah.
“Ya sudah, ayo kia pulang. Anam masih ada kelas.” Umi terburu-buru karena Gus Anam masih ada kuliah katanya.
Sejenak aku bergeming melihat penampilan Gus Azam. Padahal hanya sarungnya yang berubah. Dia memakai sarung tenun kesukaan Ayah. Aku seperti melihat sosok Ayah pada dirinya. Air mataku sudah tidak terbendung lagi. Setelah beberapa hari kutahan sekuat tenaga agar tidak menangis, kini dia membuatku mengingat kembali sosok Ayah. Aku berlari meninggalkan Umi, masuk ke kamar dan menutup pintu.
“Ayah, Ibu, Fia kangen.” Aku berteriak sekencang-kencangnya, kulempar jilbabku ke sembarang arah dan mengacak rambut frustrasi.
Kusandarkan tubuhku di balik pintu. Tidak kuhiraukan teriakan Umi dan Nenek dari luar. Rasa sesak ini muncul kembali melihat Gus Azam memakai sarung milik Ayah. Aku tidak mau keluar sebelum mereka pergi karena tidak akan kuat melihat kenyataan ini.
“Fia, keluarlah! Umi mau pulang,” ucap Nenek sambil mengetuk pintu.
“Iya, Nek, Umi bisa pulang sekarang. Fia enggak bisa keluar. Fia ingin sendiri dulu.”
“Kami pulang, Nek. Salam buat Fia. Maaf jika kami melakukan suatu kesalahan sehingga membuat Fia kembali bersedih.”
“Kami yang harus meminta maaf karena Fia sudah bersikap tidak sopan. Maafkan cucu kami, Umi.”
Kudengar suara mereka semakin menjauh. Tidak lama kemudian suara deru mobil perlahan menghilang. Mereka sudah pergi.
“Fia, keluar, Nak! Nenek mau pulang, pakdemu sudah datang.” Nenek mengetuk pintu kamarku dengan pelan.
Semenjak kepergian Gus Azam dan keluarganya beberapa hari yang lalu, aku tidak pernah keluar kamar selain makan, mandi, dan salat. Hingga akhirnya Nenek dan Bude akan pulang sore ini.
Tadi malam acara doa bersama tujuh hari sudah selesai. Aku akan tinggal di rumah ini sendirian. Kuhapus sisa air mata kemudian memakai jilbab dan keluar. Sudah ada Nenek, Kakek, Bude Siti dan suaminya yang menjemput.
Mereka akan kembali ke rumah hari ini. Jarak rumah kami memang cukup dekat, masih dalam lingkup satu kecamatan. Namun, mereka harus tetap pulang karena memiliki kesibukan masing-masing.
“Fia, Bude sudah siapkan makanan buat kamu. Kalau ada apa-apa kamu bisa telepon bude atau langsung datang ke rumah.” Bude Yuli membantu mengemasi barang-barang nenek.
“Makasih, Bude. Aku juga akan balik ke pondok karena sebentar lagi ada acara perpisahan.”
Perpisahan akan dilaksanakan dua minggu lagi. Aku harus segera kembali ke pondok supaya bisa ikut meramaikan. Dua tahun terakhir, aku selalu ditunjuk menjadi pembawa acara. Namun, tahun ini adalah acara perpisahanku. Aku tidak mungkin menjadi MC lagi.
“Kapan kamu balik ke pondok? Bilang saja sama Bude biar nanti kami yang mengantarkan,” tanya Pakde Irul.
“Lusa, Pakde. Fia mau beresin rumah dulu.”
Setidaknya aku kembali ke pondok jika rumahku sudah rapi. Tadi pagi Bude Yuli sudah mengecek barang di toko. Semuanya masih bagus dan belum kadaluwarsa.
Aku akan meminta Bude Yuli supaya membuka dan mengurus toko Ibu untuk sementara waktu agar tidak ada pelanggan yang kecewa. Toko Ibu sudah memiliki banyak pelanggan. Untung sedikit tidak apa-apa asalkan lancar dan bisa balik modal.
“Ini ATM dan tabungannya. Pinnya tanggal lahir kamu. Simpan dan gunakan sebaik mungkin. Uang itu bisa kamu gunakan untuk kuliah,” ucap Pakde Irul sambil menyerahkan sebuah kartu dan buku rekening berwarna biru.
Kemarin pakde membantuku mengurus santunan jasa raharja. Aku memiliki tabungan yang cukup banyak untuk bisa bertahan hidup dan melanjutkan kuliah. Lulus dari pesantren nanti, aku juga bisa melanjutkan berjualan di toko Ibu.
“Insya Allah, Pakde. Fia akan menggunakan uang ini sebaik mungkin.”
Pukul empat sore, mereka bersiap pulang ke rumah. Aku mengantar mereka hingga di teras rumah. Namun, belum sempat naik ke mobil, mereka dikejutkan dengan kedatangan sebuah mobil sport hitam keluaran terbaru.
Seorang lelaki paruh baya turun dari mobil tersebut. Sebuah kacamata hitam bertengger di hidung peseknya. Gayanya seperti OKB, orang kaya baru. Apakah ayah memiliki teman seperti itu? Sepertinya tidak.
“Assalamu’alaikum, Pak Mujib ada?” tanya lelaki tersebut dengan senyum ramah.
Dia berjalan mendekat membawa sebuah map yang entah apa isinya aku tidak tahu. Apakah dia tidak mendengar kabar jika ayahku sudah meninggal satu minggu yang lalu.
“Ada urusan apa dengan anak saya?” tanya Kakek.
“Jadi begini, Pak. Perkenalkan nama saya Rozaq, pemilik perkebunan kopi terluas seantero kota ini. Mujib pernah meminjam uang kepada saya untuk pengobatan istrinya. Dan bulan ini dia berjanji akan melunasinya. Sebagai jaminannya, dia bahkan memberikan sertifikat rumah ini kepada saya.”
Mendadak tubuh Kakek melemas. Dia memegang d**a kirinya sambil mengucapkan istighfar.
“Berapa hutangnya Mujib?” tanya Pakde Irul.
“Lumayan, sih. Cuma 150 juta,” ucapnya sambil memperlihatkan bukti surat perjanjian hutang bermeterai.
“Jangan asal ngomong, Pak. Ayah saya tidak mungkin melakukan itu. Dan Ibu saya baik-baik saja. Ibu tidak pernah sakit.”
Toko sembako Ibu sangat ramai bahkan ayah bisa membeli mobil second dua bulan yang lalu. Tidak mungkin jika ayah sampai mengambil hutang.
“Fia, yang dia katakan memang benar. Ibu kamu sakit.” Nenek merangkulku dari belakang.
“Ibu tidak sakit, Nek. Ibu sehat, dia wanita yang kuat.”
“Ibu kamu sakit, Shafia. Tini memiliki kanker p******a. Berbagai pengobatan selalu dia jalani supaya bisa bertahan hidup. Ini semua dilakukan demi kamu.”
“Nenek pasti bohong. Mengapa semua orang membohongiku? Apa salahku, Nek? Apa aku ini bukan anak kandung Ayah dan Ibu?”
“Istighfar, Fia! Adikku adalah orang yang melahirkanmu. Aku sendiri yang menyaksikan. Perihal dia tidak bisa memberikanmu adik karena rahimnya sudah diangkat. Lima tahun setelah kelahiranmu, dia keguguran. Di saat itu pula dia harus merelakan rahimnya diangkat.” Bude Yuli angkat bicara.
Jadi, inikah hal yang selama ini disembunyikan Nenek? Begitu banyak rahasia yang sama sekali tidak aku ketahui.
“Jadi, Shafia ini anaknya Mujib?” tanya orang yang bernama Rozaq itu. “Aku akan membebaskanmu dari hutang ayahmu dengan satu syarat.”
Semua orang menatap ke arahnya. Aku sendiri bingung bagaimana cara melunasi hutang Ayah yang tidak sedikit itu. Aku tidak mau jika rumahku disita, apalagi dijual oleh lelaki tua itu.
“Apa syaratnya?” Aku memberanikan diri menatap lelaki bau tanah itu.
“Menikahlah denganku!”