Hari ini memang masih banyak saudara yang datang, terutama saudara sepupu Ibu. Mereka tidak bisa datang tadi malam karena rumahnya jauh di luar kota.
“Pakai jilbabmu, lupakan perkataan Nenek yang tadi.”
Aku segera memakai jilbab dan keluar bersama nenek. Aku menutup mulutku melihat siapa yang datang. Ini seperti mimpi, mereka datang bersama-sama ke sini.
“Assalamu’alaikum, Fia.” Nadia memelukku erat.
Aku menjawab salam dan membalas pelukannya. Di belakangnya ada teman satu kelasku. Mereka beramai-ramai datang menggunakan bus mini. Aku tidak menyangka jika mereka sekompak ini.
“Maaf aku baru bisa datang. Kamu yang sabar, ya!” Nadia melepaskan pelukan, dia menggenggam erat kedua tanganku.
“Makasih, Nad.” Aku tidak bisa berkata-kata. Nadia satu-satunya teman yang dekat denganku. Dialah gadis paling berisik yang pernah kutemui. Satu hari tanpanya membuat duaniaku terasa sepi.
“Fia, kami turut berduka cita. Semoga kedua orang tuamu diampuni dosanya dan mendapatkan tempat yang layak di surga-Nya.” Anindya menyerahkan sebuah kardus bergambar air mineral yang ada manis-manisnya.
“Aamiiin ya Allah. Makasih banget kalian sudah mau datang. Seharusnya kalian tidak perlu repot-repot seperti ini.”
Kupersilakan semua teman-teman untuk duduk di tikar seadanya. Rumahku tidak terlalu besar, sehingga sebagian harus duduk di ruang tengah. “Kalian, kok, bisa izin pergi ke sini?”
“Kita sudah enggak ada pelajaran hari ini, Abah sama Umi juga mau nyusul katanya,” jawab Nadia.
“Apa? Umi dan Abah mau ke sini?” Aku sungguh tidak percaya.
Aku hanyalah santri biasa seperti temanku yang lainnya. Tidak ada hal yang istimewa dariku, tetapi mereka menyempatkan datang ke sini. Padahal semalam mereka sudah membantu sampai pemakaman selesai.
“Iya, mereka mampir dulu ke kampus, sekalian jemput Gus Anam katanya,” jawab Anindya.
Gus Anam, aku tersenyum mendengarnya. Hanya mendengar namanya saja membuat dadaku kembang-kempis. Aku harus menghirup banyak oksigen.
“Silakan diminum!” Nenek membuatkan teh hangat untuk teman-temanku. “Tidak perlu sungkan sama nenek, cuma ini seadanya yang bisa kami berikan.”
Kami berbincang cukup lama. Tidak banyak yang dibicarakan, hanya membahas persiapan muwadaah bulan depan. Aku harus kembali ke pondok sebelum acara perpisahan.
“Kamu nanti bakal balik kan , Fia?” tanya Anindya. Dia santri baru, satu tahun ini dia tinggal di pondok. Namun, semua orang langsung mengenalnya karena kebaikan dan kecantikannya. Bahkan dia menjadi salah satu saingan terberatku karena kecerdasannya.
“Insya Allah aku bakal balik.” Aku tentu harus menyelesaikan semua tanggung jawabku di pesantren. Baru setelah itu aku bisa keluar dengan tenang.
Aku akan melanjutkan kuliah di tempat yang sama dengan Gus Anam. Kuliah, kerja, dan menjadi gadis rumah tangga. Benar, gadis rumah tangga lebih tepat untukku karena bukan ibu rumah tangga.
“Assalamu’alaikum.” Suara ucapan salam Umi Hanifah membuat kami menoleh ke pintu.
Kami segera berdiri dan mencium tangan umi bergantian. Di belakang umi ada Abah dan kedua putranya. Gus Anam dan si pohon pisang. Julukan itu lebih tepat untuk gus Azam karena dia hanya punya jantung dan tidak memiliki hati. Memang ketampanannya tidak diragukan lagi, tetapi dia sangat kaku dan jutek.
Abah dan Umi beserta keluarga duduk di samping kakek dan nenek kemudian mengutarakan tujuan kedatangan mereka ke sini. Apakah mereka ingin melamarku? Oh, tidak mungkin, Fia. Khayalanmu terlalu tinggi. Aku menggelengkan kepalaku pelan.
“Assalamu’alaikum, Mbah. Niat kami ke sini untuk mendoakan almarhum dan almarhumah Pak Mujib dan Ibu Kartini. Semoga amal ibadah mereka diterima, mendapatkan pengampunan dan mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.
Zam, kamu yang memimpin doa, ya!” Abah meminta Gua Azam untuk memimpin doa.
“Eh, kenapa saya, Bah?” Wajah Gus Azam tampak terkejut.
Baru kali ini aku melihat ekspresi Gus Azam yang seperti itu. Tanpa sadar aku memandangnya dan dia juga menatapku.
“Astaghfirullahalazim.” Aku segera menundukkan kepala.
“Ada apa, Fia?” tanya umi sambil tersenyum.
Apakah umi melihatku barusan? Semoga saja tidak. Mau ditaruh di mana mukaku ini? Aku semakin menundukkan kepala. Bagaimana jika semua orang di sini melihatku menatap Gus Azam? Padahal yang mereka ketahui aku menyukai Gus Anam.
“Tidak ada apa-apa, Umi. Fia hanya–“ Hanya apa? Aku bingung harus mengatakan apa.
“Kamu yang akan menggantikan Abah selanjutnya, Zam. Jadi kamu harus mulai terbiasa dari sekarang!” Sekali lagi abah memperingatkan Gus Azam. Dia adalah anak pertama sekaligus orang yang akan melanjutkan perjuangan abah mengurus pesantren.
Syukurlah, aku tidak perlu menjawab pertanyaan Umi.
“Bismillahirohmaanirrohiim.” Gus Azam mulai memimpin doa tanpa ragu.
Beruntung sekali diriku. Akhirnya aku bisa selamat dari pertanyaan Umi.
Semua orang menundukkan kepala dan berdoa dengan khidmat. Namun, mataku tak lepas dari Gus Anam. Sayangnya dia terhalang oleh Gus Azam. Baru kali ini aku mendengar suara Gus Azam. Dia membaca tahlil dengan fasih. Tanpa sadar aku memandangnya terus menerus.
‘Ya Allah, mengapa rasanya hatiku bergetar mendengar suaranya? Sepertinya aku lapar karena belum sarapan.’
Waktu bergerak seiring berputarnya jarum jam. Tanpa terasa Gus Azam telah selesai memimpin doa.
“Fia, kami pamit dulu, ya!” Umi Hanifah berpamitan. “Mohon maaf apabila kehadiran kami merepotkan nenek dan kakeknya Shafia.”
“Tidak, Umi. Kami malah merasa senang karena Umi dan keluarga bersama teman-teman Fia mau datang ke sini. Kami mengucapkan terima kasih banyak.” Nenek mengucapkan terima kasih kemudian bersalaman dengan Umi.
Teman-temanku juga berpamitan untuk segera kembali ke pondok. Mereka masih tetap mengikuti pengajian di pondok. Banyak sekali kegiatan pondok yang harus mereka ikuti hingga acara puncak perpisahan.
“Makasih, Umi, Abah. Makasih semuanya sudah menyempatkan diri datang ke rumah Fia.”
“Fia, kami balik dulu, ya! Segera balik ke pondok. Kami semua kangen sama kamu. Enggak ada lo, enggak rame.” Nadia dan Anin bergantian memelukku, kemudian yang lainnya ikut bersalaman.
Mereka semua sudah naik ke kendaraan masing-masing. Begitu juga dengan keluarga abah. Namun, tiba-tiba Gus Azam keluar dan berlari kembali ke rumahku.
“Ada yang tertinggal, Gus?”
“Tidak ada. Boleh saya numpang ke kamar mandi? Saya sakit perut.” Gus Azam memegangi perutnya, wajahnya terlihat pucat dan sedikit berkeringat.
“Mari saya antar ke belakang, Gus.”
Aku segera mengantarkan Gus Azam ke kamar mandi.
Dia berjalan mengikuti langkahku hingga sampailah di sebuah kamar kecil di dekat dapur. Tidak ada perbincangan di antara kami. Dia lekas menutup pintu setelah masuk ke ruangan itu. Aku kembali ke depan setelah mengantarkan Gus Azam. Rumahku tidak memiliki banyak kamar. Aku yakin Gus Azam tidak akan tersesat jika sudah selesai.
Sambil menunggu Gus Azam, aku membereskan gelas dan minuman di ruang tamu. Namun, hingga Umi kembali masuk rumah, putranya tidak lekas keluar.