“Selamat sore, Nyonya Santana,” sapa Dinda dengan membungkuk layaknya pelayan yang mengabdi. “Jangan menggodaku, atau kau yang harus membayar kamar VIP ini.” “Oh, aku pasti akan jadi gelandangan jika harus membayarnya.” Dinda tertawa lalu menarik tangan Maura bersamanya. “Kamu tau, aku sangat iri denganmu karena mendapatkan lelaki seperti Tuan Sagara itu. Sepertinya aku haris terlahir kembali baru aku akan mendapatkan pria seperti dia.” “Memang kau tau apa tentang dia? Kau tau, saat dia menyuruhku tanda tangan kontrak pernikahan itu dia mengancam akan melemparku dari pesawat jet-nya. Aku bahkan mengira dia terkena penyakit gangguan kejiwaan.” “Maura, sekarang aku benar-benar yakin jika kaulah yang punya gangguan kejiwaan. Kamu tau apa yang dilakukan suamimu untuk melenyapkan berita

