Bab III : Suara Hutan, Bisikan Ibu

1142 Words
Agas terus menatap kuburan ibunya dengan mata kosong, berusaha keras mengalihkan hidup Galva ke dalam relung hati dan pikirannya. Setiap detik yang berlalu, ia merasakan beban yang semakin berat, namun tak ada yang bisa menghapus bayangan itu. Lamunannya terhenti, terpecah oleh suara-suara mengerikan yang datang dari dalam hutan—suara yang seolah menggema, menandakan bahwa kegelapan bukan hanya milik hatinya. "Kuuuuk...Kuuuuik...Kuuuuuuk!" Dia memutar-mutar kepalanya untuk memeriksa sekitar. Belum kering air mata, realitas kembali meneror jiwa sedihnya "Suara apa itu!? Apa yang harus kulakukan sekarang!? apakah aku bisa tetap hidup tanpa ibu!?" Teriaknya di dalam hati lemas gemulai lengannya, bibir kering menganga sebesar telunjuk tanpa suara, menghadapi detik pertama tanpa ibu. Maka ia segera membungkus pisau ibunya yang digunakan untuk menggali tanah, lalu memegang tombak dengan waspada. Seorang anak Brasatian berusia 9 tahun mulai berjalan menyusuri hutan dengan kaki kecilnya. Dia mengingat perkataan Galva ketika sedang bersembunyi di lubang pohon. "Tepat di balik pohon ini menghadap ke arah yang kita tuju, desa tempat kita mengungsi." Dia menyusuri hutan berhari hari menuju satu satunya harapan, hanya bertahan dengan tumbuhan yang dia kenal, minum dari genangan air dan lumut. Dia memaksa dirinya terus berjalan untuk mencari persembunyian agar dapat melewati malam hari dengan aman, bersembunyi dan ketakutan begitulah cara semua mahluk kecil bertahan hidup di alam liar. hari itu Agas berjalan penuh semangat, meskipun kelaparan dan kelelahan dia ingin mencapai desa secepat mungkin. gemuruh petir membuat Agas semakin gelisah, langitpun semakin gelap mengusirnya agar segera mencari tempat berteduh. Siang itu dia terpaksa terhenti di tempat berteduh, tertidur bersama percikan air hujan yang terus membasahi tubuh dan wajahnya. Karena kelelahan dia tertidur di sana seharian penuh hingga malam hari. Malam itu menutup hari pertama dengan damai. Tapi di hari kedua. Agas terbangun dengan perut kosong, hanya terisi air hujan dan daun pahit yang dulu pernah dikenalkan ibunya sebagai tanaman bertahan hidup, hanya jika dia beruntung menemukan beri manis yang bisa menyenangkan lidah. Tubuhnya menggigil, giginya bergemeletuk di bawah bayang-bayang akar pohon tua. Di kejauhan, lolongan panjang terdengar. Ia menutup telinga, gemetar, memeluk lutut. "Jangan mati... Jangan mati, Agas... Ibu pasti marah..." bisiknya sendiri, nyaris seperti doa. malam itu sangat dingin, baju dan alas tidur lembab memaksanya untuk tetap terjaga di sepanjang malam. "Aduh pusing sekali kepalaku..." ucapnya lemah sambil mencengkram kepala yang sudah terasa panas. Pepohonan hanya diam seperti menunggunya menyerah. Sekujur tubuhnya nyeri. Setiap dia ingin pulas tertidur suara ibu membisik di dalam hati, Galva hadir di antara mimpi dan kenyataan berbicara pada anaknya "Berjuanglah Agasga Wud!" memupuk setetes harapan yang hampir hanyut ke dalam lautan nan luas. malam berlalu tanpa memberikan kepuasan. Mata Agas sembab dan berjalan sempoyongan. Perutnya berbunyi "Kruuuk" Agas berdiri dengan lemah mecari-cari apapun untuk bisa dimakan. Setengah hari Agas mengelilingi hutan hanya menemukan sedikit buah dan bebijian, dia makan semua walau tidak mengenyangkan sama sekali. Agas berjalan lemah, demamnya belum juga turun. "Lelah sekali, aku harus beristirahat dulu" ucap Agas pelan. Dan masuk ke dalam celah batu besar lalu bersandar. "Huuh...huh..." Nafasnya terengah-engah, padahal baru berjalan sebentar. Sela bebatuan yang terpapar kehangatan sinar matahari membuat tubuhnya terasa nyaman, mengantarkan Agas ke dalam tidur lelap—seperti hadiah kecil untuk perjuangannya. Namun ketenangan itu retak oleh suara: "DRUP... DRUP... DRUP..." Langkah besar bergemuruh, mengguncang tanah di tengah hutan. Mata Agas perlahan terbuka. Langit telah berubah dari biru menjadi abu-abu, dan suara malam mulai berdatangan. Dari sudut pandang tempat tidurnya, dia melihat—dua sorot mata di atas wujud besar yang samar-samar. "Apa itu?" pikir Agas sambil menyipitkan mata. Cahaya yang redup membuat penglihatannya terbatas, bahkan untuk mata Brasatian yang seharusnya lebih tajam. Wujud itu semakin dekat, mengeluarkan suara berat berfrekuensi rendah, seperti dentuman dari dasar bumi. Jantung Agas berdegup tak karuan. Bukan karena demam, tapi karena ketakutan yang merayap hingga ujung kuku. "Huh... hah... huh... hah..." Napasnya memburu tak terkendali. Ia menyudutkan tubuh ke celah batu paling dalam, mencoba menahan suara. Air matanya menetes tanpa suara, hanya rasa gentar yang tumpah dalam diam. Makhluk besar itu kini tepat di hadapannya. Dari balik bayang, hanya kakinya yang terlihat kulitnya berwarna putih seperti jamur namun lebih kasar. Hewan-hewan hutan berhamburan. Suara burung beterbangan, gesekan dedaunan, dan dentuman kecil dari binatang melarikan diri, seolah alam pun takut dan memilih menjauh. Makhluk itu melangkah perlahan, mengelilingi tempat Agas bersembunyi. Setiap kali kakinya menyentuh tanah, serbuk halus berkilauan jatuh dari tubuhnya, mengendap di rerumputan, seperti hujan cahaya dari dunia lain. Agas menahan napas, menutup mulut dengan dua tangan. Guldarak, meski ia belum tahu nama itu. Berdiri di sana sejenak, kemudian membalikkan tubuh dan perlahan menjauh, kembali ke arah semula. "Drup... drup... drup..." Langkah-langkah berat itu perlahan mengecil. Ketegangan mereda bersama suara yang menghilang. "Huuuuh... Selamat..." bisik Agas, akhirnya berani menghembuskan napas. Tubuhnya gemetar, tapi hatinya masih berdetak. Dia tertidur sampai esoknya, mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah. Agas terbangun bersama matahari, dan melanjutkan perjalanan bersama membirunya langit. Pada hari keempat itu sakitnya sudah memudar, dan dia bertekad mengakhiri perjalanan itu. 4 hari perjalanan dia lakukan secara sembunyi-sembunyi, beberapa kali dipaksa berhenti karena dia melihat hewan buas dihadapannya. Hingga sampailah ia di tempat yang aneh. "Apa itu!?" Gumam Agas kaget Dihadapannya terlihat banyak sekali tulang-tulang Gorin tertancap oleh akar-akar pohon, mayat-mayat tulang itu seperti dihalangi oleh pepohonan agar tidak dapat mencapai lebih dalam lagi, tidak hanya satu, Agas melihat sangat banyak tulang-tulang itu tertancap. "Apa ini aman?" Agas berfikir sejenak sebelum memutuskan. "monster macama apa lagi yang bisa menyisakan bekas pertempuran segila ini!" pikir Agas. dia meyakinkan dirinya untuk percaya pesan ibu agar berjalan lurus ke arah tumpukan tulang itu. Dengan gundah dia melangkah melewati tulang-tulang yang berserakan itu. Lurus menuju desa kormagu. setelah semua jalan panjang itu beberapa jam kemudian Agas melihat dinding dari batu dengan gerbang dari sela sela pepohonan. Bersemi kegembiraan di hatinya berhasil keluar dari cengkraman hutan. Tapi dari pintu yang terbuka sebarisan brasat dengan tangan terikat keluar sambil ditendang-tendang oleh beberapa tentara catus, wajah mereka tampak kesakitan dipenuhi luka, mereka memakai baju besi yang sudah lusuh oleh pertempuran. Agas lalu berhenti dan memantau dari kejauhan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tentara catus tampak sedang berbicara kepada bawahannya setelah itu dia memenggal kepala brasat sat per satu tanpa ampun. sambil menunggu ajal mereka hanya bisa menangis dan tertunduk, ternyata desa itu tengah dikuasai oleh kerajaan Atiria. Agas jatuh berlutut, perutnya melilit dia tidak dapat menahan lagi "Hueeek!!! huek!" Agas memuntahkan sebagian isi perutnya melihat kejadian itu, kepala prajurit brasat putus satu per satu memuncratkan darah segar diikuti dengan kejang dari sekujur tubuh mereka. "Tidak mungkin, ini sama sekali bukan tempat aman aku harus menjauhi tempat ini!" gumam Agas sambil membersihkan sisa muntah di mulutnya. berlari dia ketakutan ke arah Utara menjauhi desa, keluar melewati tempat yang serupa dimana ada banyak tulang belulang yang tadinya dia lewati. Dia segera mencari tempat persembunyian yang aman di sela-sela akar pohon ataupun bebatuan. Kakinya gemetaran, lemas sudah tangan dan tatapannya. "Ibuu... Aku takut.." ucap Agas sambil terbaring.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD