Bab II : Dalam Pelukan Hutan, Dalam Pelukan Ibu

2313 Words
"Agas panjat pohon itu!" Seru ibu kepada Agas, "Cepat!" Tegasnya. "Iya Bu." Jawab Agas. Mereka berdua bersembunyi di atas pohon besar yang tinggi untuk menghindari kejaran Gorin. Lalu Gorin dengan helm terlihat berlarian dibawah bersama beberapa anak buahnya menyusuri hutan untuk mencari yang lari. Gorin itu nampak keheranan dan melihat ke arah pohon tempat Galva bersembunyi. "Heuu!" Agas kaget hampir berteriak. Lalu Galva mebekap muka dan mulutnya dengan kuat. "Ssssst, diam!" Katanya berbisik. Gorin dengan helm itu terus memandangi ke arah Galva bersembunyi dan meraung "Aaarr Eeer!". Galva yang bersembunyi semakin berkeringat dingin dan menangis, dia mengira tempat sembunyinya diketahui. Di tengah keputusasaan itu dia mengharapkan secercah harapan untuk hidup. Tapi tanpa diduga ternyata mereka berbalik arah, Gorin berhelm itu mengetahui persembunyian Galva tapi dia membiarkan mereka, dan menyuruh anak buahnya untuk kembali. Setelah Gorin itu menghilang dari pandangan Galva menghembuskan nafas lega "Haaaaah! Syukurlah mereka pergi." Lalu Galva merasakan tangan Agas yang gemetaran, dia menangis dan berkata "hiks, hiks, I ibu... I itu... Sse eperti, ss sss sosok yang kulihat saat itu, m mereka sa sangat, menakutkan." Galva memeluk Agas dengan lembut dan mengusap-usap dadanya, lalu berkata. "Tenang Agas, ibu masih bersamamu, Kita pasti bisa melewati semua ini." Setelah malam berdarah tanggal 17 abrayir 5020, tentara yang ditawan pada malam itu dibawa oleh Gorinian dan tidak diketahui nasibnya, sedangkan para pengungsi habis dimakan oleh Gorin, tidak ada satupun yang selamat dapat kembali ke desa pengungsian. Keesokan harinya para pedagang yang mendatangi desa Skenhodoy kaget melihat kondisinya yang sudah tidak berpenghuni, dengan cepat rumor menyebar dikalangan pedagang, berpindah dari satu desa ke desa lain hingga sampai ke telinga Konsulat Amadil pemimpin Brasatian. Tapi yang orang-orang tidak ketahui adalah Galva ibu Agasga bersama anaknya berhasil selamat, meskipun masih berada di hutan luar wilayah sihir Skenho, Mereka berusaha kembali ke rute pengungsian yang mereka tinggalkan dan berusaha bertahan hidup dengan sembunyi-sembunyi, di hutan lepas seperti itu bukan hanya ada ancaman dari Aluzelian dan Gorin saja, tapi juga ancaman hewan-hewan buas seperti monster yang sering disebut mahluk terkutuk oleh orang desa, karena seolah-olah mereka diciptakan hanya untuk mengamuk. Di hutan lepas itu Galva dan anaknya tampak tidur di atas pohon setelah lelah berlari semalaman, dia mengikat pinggangnya ke dahan pohon agar tidak terjatuh saat tidur. Matahari menembus sela-sela daun dan mengelus kening Galva hingga terbangun dan bergumam. "Ku harap kamu baik baik saja Wud." "Agas bangun! Kita harus kebawah mencari makan." Ucap ibu. "Uuh, Iyaa." Jawab Agas dengan mata setengah terbuka. Setelah turun dari pohon besar itu mereka mulai mencari semak dan apapun yang bisa dimakan. "Lihat jamur yang itu," lalu Galva memetiknya dan berkata, "jika kamu menemukan ini di hutan kamu bisa memakannya." "Nah semak ini juga bisa dibuat sup." Jelas Galva pada anaknya, dia hafal betul tumbuhan hutan yang bisa dimakan. Setiap Galva menemukan tumbuhan yang bisa dimakan dia langsung menjelaskan pada anaknya, Agas berusaha mengingat semuanya. "Tapi untuk pagi ini kita makan jamur ini mentah saja ya Agas, karena kita harus buru-buru menemukan jalur pengungsi!" Jelas ibu. "Iya Bu aku mengerti." Jawab Agas. Di pagi yang cerah itu mereka berjalan perlahan menuju desa pengungsi, sambil mencoba mengingat kembali jalan yang telah dilalui, di malam p*********n Galva berlari sangat kencang sampai jarak jalan pengungsi dan posisinya saat ini cukup jauh, selain memiliki pengelihatan yang tajam Brasat adalah pelari hebat. "Ibu! sebenarnya kadal yang menyerang desa kita itu mahluk apa?" Tanya Agas. Sambil terus berjalan Galva menjawab. "Mereka disebut Gorin, salah satu dari dua ras yang terkutuk menurut kisah orang-orang." "Kenapa mereka dikutuk?" Tanya Agasga. Ibu menjelaskan. "Yang pertama adalah Aluzelian, mahluk berkulit merah berbadan kuntet, tapi memiliki daging dan kulit yang tebal, mereka memiliki mulut yang besar cukup untuk melahap kepalaku dalam satu suapan, di keningnya memiliki dua tanduk dan bertelinga runcing, rambut mereka keriting dan memiliki ekor seperti ekor keledai." "Lalu?" Tanya Agasga. "Dan ras terkutuk kedua adalah yang kau lihat tadi malam, kedua ras itu disebut Aluzelingger," jawab Galva dan lanjut menjelaskan, "Ciri-ciri ras terkutuk ada 4, mereka tidak memiliki akal dan hati nurani, suka berbuat kerusakan, hidup seperti binatang. Semua ini dijelaskan di dalam kitab Dhasta, tapi penyebab mengapa mereka dikutuk tuhan aku kurang tau, mungkin nanti bisa kita tanyakan ke orang-orang desa." "Jika mereka hidup seperti binatang mengapa yang tadi malam itu memiliki pakaian dan s*****a, apa mereka benar-benar terkutuk?" Tanya Agas. Galva diam tidak menjawab menyadari bahwa yang dikatakan Agas ada benarnya juga. Ketika sedang santai berjalan, Galva melihat kawanan Torung Anrearin jauh di depan jalur mereka, nama itu di ambil dari bahasa catus yang berarti 'burung yang bertaring' orang biasa menyingkat namanya menjadi 'Toar' Salah satu hewan buas terkutuk. "Agas, sembunyi di sela pohon itu! Kita harus bersembunyi lagi sekarang." Ucap Galva. "Ada apa bu?" Tanya Agas panik. "Di depan sana ada sekumpulan toar, mereka akan memakan kita jika tetap melanjutkan perjalanan." Jelas Galva. "Di saat seperti ini mata kita yang tajam, sangat berguna untuk menghindari bahaya." Lanjut Galva menjelaskan. "Toar itu apa?" Tanya Agas. "Cepat masuk ke sela pohon itu dulu!" Mereka merayap ke sela pohon raksasa melewati lubang kecil, di dalamnya sempit hanya cukup untuk 4 orang dewasa, di dalam juga gelap dan lembab, untungnya Galva masih membawa lampu miliknya, saat ia masuk Galva menyalakan lampu listriknya dan melihat berbagai macam serangga menghindari cahaya, mereka berdua pun masuk ke dalam. "Fuuh, untuk saat ini kita tidak dapat keluar dulu, mungkin kumpulan toar akan melewati jalan ini atau mungkin mereka akan lewat jalan yang lain." Ucap Galva. "Jadi Toar itu apa?" Agas kembali bertanya. Sambil membuat tombak menggunakan pisau yang dia bawa Galva menjelaskan. "Toar adalah hewan buas, yang ditakuti para pemburu, mereka selalu berkelompok, mereka seperti burung besar dengan mulut dipenuhi taring, beberapa kali orang-orang melihat Toar berburu bersama Gorin di hutan." "Jadi Gorin bisa menundukkan mereka?" Tanya Agas. "Ya, karena Toar adalah hewan sosial, ketika pejantan alpha mereka berhasil dikalahkan Toar akan mematuhi siapapun yang mengalahkannya, apalagi Gorin memiliki feromon dan dapat memanipulasi komunikasi Toar, jadi Gorin menjinakan Toar tanpa sengaja karena mereka membunuh pejantan alphanya." Galva menjelaskan. Agas memeluk Galva dengan kuat, dengan wajah ketakutan dan lelah, lalu berkata. "Bu kenapa dunia ini dipenuhi dengan banyak hal mengerikan?" Galva tersenyum tapi juga prihatin mendengarnya, karena di usianya yang masih 7 tahun Agas harus melihat terlalu banyak hal yang tidak menyenangkan. "Tapi jika kamu menyadarinya, dunia ini lebih banyak dipenuhi kebaikan dan keindahan." Jawab Galva. Agas nampak diam dan seperti tidak acuh kata ibunya. Lalu Galva melanjutkan. "Contohnya saja pohon ini, disaat puluhan mahluk jahat mengejar kita, ada ribuan pohon yang berdiri melindungi kita." Agas melihat wajah ibunya dengan tersenyum dan memejamkan matanya sambil tersenyum. Sambil mengelus kepala Agas dan memeluknya Galva berkata. "Kamu ingat prajurit sakit di desa?" "Iya aku ingat." Jawab Agas sambil memejamkan mata. "Mungkin kita saat ini seperti mereka, tuhan menginginkan kita menjadi kuat, maka kesulitan datang menghampiri." Jelas Galva. Lalu Galva berkata. "Dengar Agas, keindahan dari setiap mahluk hidup tergantung dengan keadaan hatinya, jika kamu punya hati yang bersih maka kamu akan menjadi mahluk indah, tapi jika hatimu kotor kamu tidak ada bedanya dengan para binatang buas yang mengejar kita, jadi kamu harus hidup dengan hati bersih." Agas menjawab sambil dalam keadaan setengah sadar. "Iyaa..." Lalu beberapa saat Agas tertidur. Lalu Galva membiarkan anaknya pulas dipelukannya tapi tidak lama terdengar suara perut lapar Agas. "Gruuuk, gruuuk!" Mendengar itu Galva menidurkan anaknya ke tanah dan menggelar kain yang dia bawa untuk menjadi alas tidur agar tidak terlalu dingin, setelah itu Galva memindahkan Agas ke atas kain tersebut dan menyelimutinya. Galva mencium kening Agas dan berkata. "Sabar ya Agas, ibu akan mencarikan makanan yang lebih baik dan air untuk minum." Lalu Galva mengintip keadaan di luar secara perlahan, dan kebetulan dia melihat sekumpulan Toar berlarian melewati pohon tempatnya bersembunyi, "Brugh Brugh Brugh Brugh!" Dan mengeluarkan suara aneh, "kek Kek kek, oooooooouuuuuuuu!" Agas tampak terganggu dengan suara itu dan menutup kupingnya sendiri. Melihat itu semua Galva menjadi yakin untuk keluar dari pohon, dia keluar perlahan sambil melihat-lihat keadaan di luar, saat dirasa aman Galva keluar dari persembunyiannya dengan berbekal tombak buatan sendiri dan pisau bawaannya. Dia berjalan lurus ke arah Utara untuk mencari buah yang dapat dimakan dan mencari sumber air. "Aku akan mencari berry, biasanya di tempat seperti ini ada banyak, dan air, jika tidak kutemukan sumber air mungkin genangan air saja cukup." Gumam Galva sambil berjalan menyusuri hutan. "Wah itu dia pohon berry, terima kasih Tuhan! Aku harus ambil yang banyak!" Galva menemukan pohon berry dan mulai memasukan buahnya ke dalam kantung dari kain. Setelah dirasa cukup banyak, dia melanjutkan berjalan untuk mencari air. "Aku mendengar suara aliran air! Tapi dimana?" Berhenti berjalan sambil menerka-nerka dari mana asal suara dan memfokuskan matanya, "naah itu dia air!" Galva berlari ke arah aliran kecil air. Dia mengeluarkan kantung air Dari tasnya dan memasukan air dari aliran kecil itu ke dalam kantung air, lalu menunggunya terisi penuh sambil melihat sekelilingnya. Tanpa suara seekor Topra meluncur dari atas dahan pohon menggunakan sayapnya, lurus tepat menuju bahu Galva dan menggigitnya "haargp!" "Aaaaaa!" Galva berteriak kaget, lalu menusuk-nusuk tombaknya tepat ke arah leher Topra berulang kali. "Hiaah, hiaah, hiaah!" Sehingga mahluk itu terjatuh dengan penuh luka, setelah itu Galva terus melarikan diri, tapi dari atas dahan pohon muncul lagi seekor Topra lainnya menyerang Galva. "Aaaah! " Galva terjatuh di atas kedua lututnya, Topra itu menggigit pundaknya sangat kencang. Galva dengan penuh emosi mengeluarkan pisaunya dan menusuk ke arah Topra dengan sekali tusukan keras. "Yaaarh, jleb!" Topra itu mati seketika. Setelah itu Galva mengambil kembali tombaknya dari atas tanah, dan bersiap dengan posisi bertarung, dia berhenti sejenak dan melihat ke dahan-dahan pohon untuk memastikan tidak ada lagi Topra yang meluncur ke bawah menyerangnya. Betul saja perkiraan Galva, seekor Topra meluncur dari atas dahan ke arahnya, sambil menahan sakit Galva bersiap menyambut serangan. Saat Topra berada tepat di depan Galva, dia langsung menusuk jantung hewan itu dengan tombak "jleeebb!" "Waaaak, waaaak!" Hewan itu mengamuk dan jatuh. Dengan luka yang banyak serta lamanya waktu dia bertarung membuang racun virasilin menyebar dengan cepat. "Shhh, aaa. Badanku terasa kebas" Galva kembali ke tempat persembunyian penuh luka. "Akhirnya, sampai juga." gumam Galva Saat masuk ke lubang pohon tempatnya bersembunyi Galva melihat Agas masih tertidur nyenyak lalu meletakan Berry dan kantung air setelah itu dia memotong alas tidur Agas untuk membersihkan luka dan membuat perban darinya. Galva tidak dapat menemukan penawar racun di hutan itu, dia juga sudah terlanjur kesakitan. Tubuhnya terlalu banyak menerima racun. "Aaa, kepalaku pusing sekali." Gumam Galva. "Aku harus mencari penawarnya!" Ucapnya sambil berusaha berdiri dengan semua keadaan itu. Dia mencari tumbuhan lumava, satu satunya yang bisa menetralkan racun topra, tapi beberapa saat kemudian otot-ototnya terasa lumpuh tidak dapat bergerak, hanya bisa bergerak sedikit sekali. Lalu tiba-tiba dadanya terasa sesak. "Heeu heeu dadaku sesak! heeu heeu" Galva merasa kesulitan bernafas dan berbaring disebelah Agas. "Tu..Tuhan to...to...tolong!" Galva meringis kesakitan. Lalu ia mencoba memeluk anaknya walau sangat lemah tangan dan kakinya untuk digerakan, ini semua karena racun dari burung yang menyerangnya barusan, Catussian biasa menyebut mereka Topra, di ambil dari kata Torung Repisra berarti burung beracun. Tanpa penanganan secepatnya racun ini akan melumpuhkan seluruh organ tubuh. Semua tenaga terakhir Galva dia keluarkan hanya untuk memeluk Agas untuk terakhir kalinya, pudar semua harapan Galva. Dia menutup matanya perlahan-lahan, air matanya menetes berusaha meraih pipi Agas, kematian membawanya tanpa ampun. Nafas terakhirnya ditarik begitu lembut, meninggalkan Agas tanpa menggangu tidurnya. Waktu pun berlalu hingga menjelang sore, angin-angin sejuk menembus sela-sela hutan, tubuh kaku Galva masih memeluk Agas, pelukan itu sudah tidak lagi hangat hingga ia terbangun. Agas membuka mata dengan lemas karena sejak pagi hingga sore itu dia baru makan sedikit, lalu melirik ke sebelah kirinya melihat ibunya yang sedang tertidur memeluknya. Agas mengangkat tangan Galva yang menimpa badannya tapi kesulitan karena tubuhnya telah kaku. Agas duduk dan berkata. "Ibu bangun ini sudah sore!" Tidak ada respon apapun dari ibunya. Agas mengira ibunya kelelahan, lalu dia melihat ada sekantung buah berry dan mulai memakaninya. Agas memakan berry itu dengan lahap dan berkata. "Hehe tenang ibu, aku akan menyisakannya untukmu." Setelah puas makan dan minum Agas duduk terdiam melihat ke arah luar pohon, melihat cahaya dari celahnya semakin memudar tanda hari semakin gelap. Agas mulai ketakutan dan membangunkan ibunya lagi. "Bu...ibu...bangun, ini sudah malam!" Ucap Agas sambil menguncang-guncang tubuh ibunya. Agas melihat wajah ibunya yang pucat dan merasakan tangannya telah dingin, Agas mulai merasa panik karena ibunya sangat sulit dibangunkan. "Buu..." Sambil menahan tangisnya. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke d**a ibunya ingin mendengar suara detak jantung yang biasa dia dengar ketika ibunya tidur dengannya. Agas akhirnya meneteskan air mata menangis dengan pedih. "I..bu... Hu..hu...ba..nguun..hu...hu..hu" ucap Agas sambil mendekat ke pelukan ibunya. Agas semalaman hanya berdiam di pelukan Galva, sambil mengharapkan dia hidup kembali. Dia melewati malam itu dengan rasa sesak di hati, membuatnya kesulitan untuk bisa tidur, sampai dia kelelahan dan terlelap. Saat pagi tiba, Agas masih berdiam dalam dekapan ibunya yang sudah menjadi bangkai itu, saat dia menoleh ke arah ibunya beberapa serangga telah mengerumuni tubuh Galva. "Hus...hus... Pergi dari tubuh ibuku!" Ucap Agas sambil mengusir serangga yang berdatangan. Melihat itu semua Agas menjadi bersedih, hingga akhirnya dia sadar bahwa secepatnya harus menguburkan ibunya, jika tidak hal yang kurang baik pasti akan terjadi pada tubuh mayit. "Selamat tinggal ibu, aku akan menguburkanmu sebaik-baiknya." Ucap Agas sambil terus menangis. Lalu Agas membungkus tubuh ibunya dengan alas tidur, setelah itu Agas keluar menggali tanah sedalam yang dia bisa Dia menggali tanah itu menggunakan cakarnya hingga tangannya dipenuhi luka karena tergores batu, dia juga menggunakan tombak buatan ibunya untuk mengikis tanah, lalu Agas menyeret tubuh Galva dan memasukannya ke dalam tanah, lubang cetek itu dia gali sendiri hampir seharian tanpa henti, tapi memang hanya itu kemampuannya. "Ibu..." Ucap Agas sambil memandangi tubuh mati itu untuk terakhir kalinya. Lalu dia menutup lubang berisi mayit itu dengan tanah dan menebar berry yang dibawa ibunya ke atas kuburan, setelah itu Agas hanya termenung sendirian, kaki dan hatinya sudah lemas tak memiliki semangat juang. sekarang dia harus melanjutkan perjalanannya sendirian
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD