BAB I : Desa Skenhodoy

3972 Words
Desa-desa kecil di wilayah perbatasan harus menghadapi mimpi buruk siang dan malam terutama bagi para prajurit, dengan benteng seadanya, mereka harus berjaga dari dua musuh, ancaman invasi Aluzelian dan serangan bangsa Catus. Setelah kekalahan telaknya bangsa catus sudah banyak berkembang, mereka mempelajari cara melawan strategi jarak jauh brasatian, Kini banyak teritori brasatian harus terpukul mundur dari dominasinya di wilayah sihir sken-ho, mereka merasakan kesulitan yang berbeda setelah 5 tahun gencatan s*****a, apalagi Kerajaan Atiria sudah memperkuat pertahanan di desa pinggirannya dengan mengirim panglima-panglima terbaik untuk melatih warga sipil menjadi korps pasukan khusus. Pagi itu, kicau burung tetap menggema, seolah tak peduli pada riak konflik yang merayap di tanah yang dipijaknya. Seperti hari-hari sebelumnya, si kecil Agasga berlarian riang, mengekor ibunya menuju sumur desa Skenhodoy. Desa sunyi di ujung dunia itu berdiri jauh dari megahnya kastil Brasat, tersembunyi di luar batas wilayah Seknho, bagai serpihan kisah yang nyaris terlupa. "Agas! Hati hati!" Galva marah. "Hahaha... tenang saja bu aku ini sangat lincah." Sahut Agas sambil terus berlari mengitari ibunya dan memainkan tongkat kayu yang dia pegang. mereka berdua berjalan melewati beberapa serdadu yang terluka, tiba-tiba Agasga berhenti berlari dan kebingungan melihat para tentara itu yang terlihat sangat kesakitan. Ibu menarik tangan Agasga dan mendekatkannya ke sebelah ibu sambil berkata. "Jangan melihat mereka seperti itu, perilakumu kurang sopan." Ucap ibu Agasga menatap mata ibunya dan bertanya "mereka kenapa bu? kenapa mereka terlihat lemah dan kesakitan? bukankah mereka itu adalah kesatria." Ibu menjawab "mungkin dia terlihat lemah ketika sakit, tapi rasa sakit itulah yang membuat para kesatria semakin kuat." "hah apa sakit membuat kita kuat? tapi sakit itu tidak enak, apapun masakan ibu jadi terasa hambar." Balas Agas dengan polos "hihihi... apa yang aku bicarakan pada anak-anak," ibu nampak bergumam sendiri. lalu terlihat dari kejauhan teman ibunya dan Nadan anaknya, juga ingin mengambil air di sumur. dengan sangat antusias Agasga berteriak "ibu lihaat itu Nadan bolehkah aku bermain dengannya?, boleh ya bu yaa?." "iya boleh," jawab ibu "tapi pulang lagi nanti siang untuk makan, hati-hati jangan bermain di sekitar prajurit yang sedang sakit, dan jangan mendatangi ayahmu yang sedang berjaga di dekat gerbang benteng, itu akan mengganggu pekerjaannya." Ayah Agasga adalah prajurit tamtama, yang diberi tugas untuk menjaga area gerbang, sebelum ikut wajib militer dia adalah tukang kayu, karena perang yang berkelanjutan dan banyak tentara gugur ketika bertempur akhirnya Konsulat Amadil memerintahkan untuk wajib militer kepada warga sipil pria yang kondisi fisiknya memenuhi syarat lalu nantinya akan dibentuk korps tentara rakyat, dan Wud Ayah Agasga harus mentaati aturan tersebut demi keamanan desa. Di belakang gerbang desa yang terbuat dari blog blog kayu besar dengan engsel-engsel besi semua pagar menancap dengan kokoh, para penjaga begitu waspada melihat apapun di sekitar mereka, mata elang brasatian adalah mata paling tajam diantara bangsa apapun, mereka terkenal dengan strategi jarak jauh menggunakan teknologi yang mereka sembunyikan dan dapat menembakkan proyektil tajam dari jarak yang sangat jauh, para penggunanya merupakan penembak jitu, dan termasuk kedalam korps pasukan khusus; mereka beroperasi di garis belakang agar teknologi s*****a tidak terungkap, taktik ini menciptakan kepanikan di barisan musuh dengan membunuh tanpa terlihat. Meski begitu para prajurit desa hanya bisa menggunakan busur panah, karena pasukan khusus garis belakang banyak dimajukan ke garis depan, sehingga anggota pasukan khusus semakin sedikit, dan semua peralatan canggih itu hanya boleh diberikan kepada mereka para prajurit elit terlatih. Di sisi pintu itu terlihat para prajurit berdiri dengan tegap, tatapan kosong yang terlihat di matanya seperti mata peramal tengah melihat tragedi di masa depan, Wud ayah Agasga ada di sebelah kiri pintu bersama seorang lainnya di sisi yang lain. Di bawah terik matahari yang tepat di atas Kepala tak lama terdengar suara terompet, "Wuuuump!" kode dari kapten untuk melakukan pergantian penjaga, lalu datang dari arah barak dua orang tentara pengganti, disaat yang sama Wud dan rekannya pergi meninggalkan gerbang ke arah barak. Di depan barak terlihat kapten sedang mengurusi catatan prajurit sendiri dan tampak kesulitan memegangi catatannya, Wud yang melihat kapten kerepotan berinisiatif menghampirinya dan berkata. "Kapten!" Dengan postur tegak penuh hormat, "apa yang bisa kubantu". "Ha, Wud! Tolong kau pegangi kertas ini sebentar!." Jawab kapten Wud mengambil kertas-kertas yang cukup tebal itu. "kita cukup kekurangan orang disini, apalagi kepala desa sedang pergi ke kastil pusat untuk rapat, orang-orangku yang mengurus ini juga semuanya mati dan belum ada penggantinya, jadi untuk beberapa hari kedepan satu desa ini ada di bawah kendaliku." Ucap Kapten sambil mencatat dengan leluasa. Kapten melirik ke arah Wud dan berkata "tunggu sebentar Wud sedikit lagi." Terlihat di dekat tenda tenda medis beberapa kantung mayat yang berada di kereta kuda sedang dikeluarkan oleh beberapa petugas, kondisi di barak cukup ramai, banyak anggota keluarga yang menangis mencari keluarganya, beberapa yang kurang beruntung mayatnya tidak diketahui keberadaannya, mereka semua ingin membantu menguburkan keluarganya di pekuburan masal. Wud tampak diam menunggu, melihat kapten di tengah kerumunan orang yang berduka . "kalau boleh tau ini catatan apa kapten?." Tanya Wud. "ini adalah data mengenai ransum, dan kesehatan tentara, aku baru saja memeriksa persediaan makanan, lalu para serdadu yang mati dan hilang, lalu sekarang harus memeriksa tentara yang sudah tidak sakit, apakah mereka sudah pulih atau kabur, karena akhir-akhir ini banyak tentara yang sakit tidak kembali lagi karena melarikan diri, mental mereka hancur mungkin karena mereka tentara wajib militer sehingga mentalnya masih lemah." Jelas kapten. "satu pertanyaan lagi kapten, untuk menenangkan pikiranku, apakah para pengintai sudah kembali?." Wud bertanya lagi. Kapten nampak gelisah dan menyela pembicaraan sambil menepuk pundak Wud dan berkata. "Baik Wud kau boleh pergi! Dan terimakasih," mengambil tumpukan kertas yang dipegang Wud, "beristirahatlah sejenak kau sudah berdiri di samping gerbang sejak tadi malam." Wud hanya mengira bahwa kapten sedang fokus hingga pertanyaannya tidak terdengar. "Baik kapten terima kasih." Jawab Wud. Lalu Wud pergi kedalam barak dan meletakkan badannya di atas karpet tipis di atas lantai sambil menatap ke langit dan tampak merasa lega tapi juga cemas akan masa depan, namun dia berusaha melemaskan badannya untuk istirahat. Di balik kelelahan dan kecemasan seorang ayah, senyum Agasga mekar begitu segarnya, ayahnya benar benar memberikan kenyamanan dan keamanan bagi Agas, dia bermain di perkebunan kecil bersama temannya, dia menganggap semua akan berjalan seperti biasa di dunia yang tidak terprediksi ini. Perkebunan itu tepat berada di samping benteng kayu, sebagian benteng masih memiliki kerangka yang sederhana, orang disana sedang meningkatkan benteng secara perlahan, sebagian sudah dua lapis, tapi di beberapa sisi masih satu lapis, dan terlihat di atas menara benteng satu lapis itu para penjaga telah pergi untuk ganti sif, dan penjaga yang lain juga sedang dalam perjalanannya menuju ke benteng. Melihat semua itu Agasga mencoba mendekati benteng. "hoi!, Ayo kita mengintip keluar benteng." Seru Agas pada temannya. Nadan melirik tembok dengan rasa ingin tau dan berkata "Orang tua kita selalu melarang kita keluar sana, itu membuat aku penasaran," dan berkata lagi "mungkin sebentar saja, sebelum para penjaga datang dan memarahi kita." Murni karena penasaran mereka berdua mendekap pagar, Agasga dengan mata berbinar mencoba melahap semua yang dia lihat sepuasnya, di luar sana banyak pohon-pohon besar menjulang ini baru pertama kali dia melihat kaki dari pohon- pohon yang selama ini dia saksikan pucuknya dari kejauhan, diselanya seperti lorong-lorong gelap yang dipenuhi semak-semak, ketika Agasga dan Nadan sedang asyik menikmati pemandangan itu tiba-tiba... "Nadan apa kamu melihatnya?" Ucap Agas, "di semak sebelah sana!" Sambil menunjuk salah satu pohon. "ya seperti ada yang bergerak-gerak di sana, mungkin itu adalah seekor rusa, aku tidak yakin?" Ucap Nadan Agasga menyela "tidak mungkin itu rusa, itu terlalu tinggi, lagi pula itu terlihat seperti berjalan dengan dua kaki " "Mungkin itu penjaga?" Tanya Nadan "kurasa tidak ada brasatian yang memiliki tubuh sebesar itu, atau mungkin itu adalah..." Jawab Agasga. Pembicaraannya terpotong berubah menjadi kesunyian, ketika sosok itu mendekat sedikit, terlihat sosok kadal yang berdiri dengan dua kaki, tubuhnya sangat besar hingga brasatian dewasa harus mendangak untuk melihat kepalanya, taring-taring besar dan tajam membuat mereka berdua ketakutan setengah mati. Agasga berteriak "Larii Nadan, larii!" Sambil menjauh dari tembok itu. sambil berlari di belakangnya Nadan berkata "aku ingin pulang!, sampai bertemu besok Agasga, aku pulang duluan." Dengan panik dan takut. "aku juga akan pulang daah."ucap Agasga. Mereka berdua berlari ke rumah masing masing, orang-orang di jalan yang melihat Agas berlari keheranan, kenapa anak itu nampak takut sekali, di hari yang cukup tenang ini. Dengan kasar Agasga membuka pintu rumah dan menutupnya dengan kencang "Buaagh!" Ibunya yang sedang memasak di dalam kaget dan menghampiri pintu, dia melihat Agasga yang sedang ketakutan, lalu berlari menuju kamarnya. Ibunya kebingungan dan buru-buru pergi ke kamar Agasga. sambil duduk disebelah Agas di atas kasur ibunya menepuk tubuh Agas dengan lembut. "Ada apa Agas, kenapa kau berlari ketakutan, tidak biasanya kamu pulang secepat ini?" Agasga terlihat masuk kedalam selimutnya lalu mengeluarkan kepalanya dari selimut dan berkata "Tadi aku melihat sosok mahluk besar aneh di luar pagar." "ha, kamu bermain keluar pagar, itu sangat berbahaya Agas kamu tidak akan ibu izinkan main lagi kalau kamu kesana!" "tidak Bu, aku tidak keluar pagar. Aku hanya mengintip di sela pagar!" Agas merubah posisinya menjadi duduk. "Seperti apa wujudnya?" Tanya ibu Penasaran. "Dia memiliki taring, bertubuh besar dan memiliki kulit yang bersisik." Kelas Agas. Ibunya tercengang, sambil spontan menutup mulutnya, dia menyadari sesuatu yang tidak Agasga ketahui. "Jadi itu apa bu?" "Bukan apa apa, itu hanya binatang yang belum pernah kamu lihat." Berusaha menyembunyikan kebenaran dari anaknya agar tidak ketakutan. Agasga dengan polos percaya pendapat ibunya. Lalu ibu menarik selimut Agas. "Sudah, tidak usah takut lagi sekarang ayo makan bersamaku!" Agas keluar dari selimut dan mengikuti ibunya. Di barak, Wud tertidur sejenak dengan alas seadanya, tidak terasa hari sudah malam, terompet pergantian penjaga kembali berbunyi satu kali "Wuuuump!" Sekarang giliran Wud berjaga lagi, teman-teman sekamarnya bersiap-siap, dan membangunkan Wud. "Wud cepat bangun, sudah giliran kita berjaga lagi." Ucap Madili sahabatnya. Wud dengan mata merah setengah terbuka menjawab. "Hmmmm." Madili melihatnya sambil tersenyum. "Hahaha, ayo Wud!" Sambil menarik tangannya dan memaksanya untuk bangun. Wud terbangun dengan berat sekali "iya iya, sebentar aku akan mengganti baju." Beberapa teman sekamar Wud sudah meninggalkan kamar, lalu Wud dan temannya segera bergegas ke posnya. Di jalan dia melihat kapten yang nampak letih, dia bilang "cepat Wud !" "Baik kapten." Jawab Wud Sambil berlari bersama temannya. Ketika sampai di atas pos, disana hanya terlihat lampu-lampu bulat seperti obor yang di letakan di titik tertentu oleh tentara untuk melihat di sela hutan yang gelap. Angin malam terasa dingin berhembus dan mereka berdua seakan berada di atas perahu yang berlayar di tengah samudra dengan semua kegelapan itu. "Apa kau tau Wud?" ucap Madili dengan ekspresi gelisah, "para pengintai yang dikirim kapten belum kembali, padahal hari ini seharusnya mereka datang melapor." "oh ya? Kebetulan sekali, siang tadi aku menanyakannya pada kapten tetapi dia sepertinya tidak mendengar ucapanku." Jawab Wud. Madili Melanjutkan. "Ya, besok kita akan tau kebenaranya, kapten sepertinya belum benar-benar yakin kondisi mereka." Di saat yang sama di ruang komando, kapten bersama semua pemimpin regu sedang berusaha membicakan semua masalah. Kapten berkata. "Tiga orang anggota regu 12 yang kukirimkan untuk misi pengintaian seharusnya sudah kembali hari ini, tapi mereka belum kembali sampai sekarang, dengan begini ada beberapa kemungkinan keadaan yang sedang terjadi." Semua Pemimpin regu yang disebut Nath berusaha menenangkan diri mendengar informasi yang cukup mengerikan itu. Di desa strategis itu kapten memimpin 16 regu, setiap regu setidaknya berisi 12 orang. Tiba-tiba seorang penjaga datang dengan sangat terburu-buru, membuka pintu ruang komando Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya, dengan nafas terengah-engah dia berkata. "Lapor! Gorin terlihat menuju ke arah desa!" Seisi ruangan menjadi tegang, mendengarnya. Gorin adalah teror yang lebih mengerikan daripada Aluzelian, meski keduanya adalah Aluzelingger. "Apa!" kapten terbelalak, "ini diluar prediksi! bagaimana bisa mereka sampai kesini!?" kapten tertunduk pucat tapi berusaha tenang untuk bisa mengambil keputusan terbaik. dari atas menara penjaga terdengar suara terompet peringatan yang ditiupkan tiga kali "Wuuuump, Wuuuump, Wuuuump...!" Tidak lama penjaga lain datang. "Lapor! Para Gorin ini tidak seperti biasanya! Mereka menggunakan s*****a dan beberapa terlihat mengenakan zirah besi dan tulang, kira-kira jumlah mereka ada 200. Saat ini pasukan penjaga sedang menembaki mereka dengan panah!" "Dengan begini sudah dipastikan tim pengintai mati atau hilang." Ucap kapten, lalu dia berteriak, "ini situasi darurat! Semua Nath, kumpulkan seluruh anak buah kalian!" Lalu kapten bertanya kepada prajurit yang melapor. "Dari arah mana mereka datang?" "Mereka datang tepat ke depan gerbang!" Jawab prajurit itu. "Kumpulkan semua anak buah kalian di lapangan untuk perang! Laksanakan!" Lanjut kapten. Dengan serentak semua Nath menjawab. "SIAP! Kapten!." Semua pemimpin regu berlarian menuju baraknya untuk mengumpulkan mereka yang beristirahat, seketika lapangan dipenuhi oleh regu-regu tentara berbaris, dan kapten terlihat berdiri menunggu di hadapan semua orang. "Malam ini kita akan bertarung untuk bangsa dan keluarga kita!" Ucap kapten dengan berapi-api, "dua orang dari regu manapun kumpulkan penduduk desa untuk mengungsi ke desa belakang!" Para prajurit tampak memilih mereka yang paling muda untuk mengantar para warga desa, dua pemuda itu maju ke depan menghadap kapten. "Cepat! Bergegas untuk mengungsikan warga lewat benteng belakang!" Titah kapten "Siap kapten!" Jawab dua pemuda itu sambil pergi meninggalkan lapangan. Di atas menara penjaga terlihat tentara berlarian berkumpul di titik yang diserang, mereka meninggalkan posnya masin-masing "Incar matanyaa! Atau mulutnyaa!" Teriak Wud ke para tentara baru di sampingnya, lalu bergumam, "mustahil darimana mereka belajar menggunakan semua alat itu" Gorin dikenal dengan ras kadal yang tidak berbudaya, mereka seperti binatang yang berdiri dengan dua kaki, yang orang ketahui mereka hanya memiliki kekuatan yang luar biasa dan tidak mungkin memiliki kecerdasan untuk menggunakan alat, tapi malam itu mematahkan semua keyakinan. "Raaaargh." Suara raungan Gorin memenuhi udara yang dingin, dengan berlari mereka menabrakan badannya ke arah pintu benteng, "Brugh buaaagh!" mereka memukul-mukulnya dengan s*****a mereka "Brugh, Brugh, brug!". "Tahaaan pintu gerbaang!" Ucap salah satu pemimpin regu yang bertugas di gerbang bawah. "Aaaaarg!!" Suara tentara teriak bergemuruh. Para tentara mencoba menahan gerbang dengan tubuhnya "Ambil drum ituuu, letakan di sini!" Teriak seorang prajurit. "Kau berdua bawa gerobak itu kemari!" Titah seorang Nath. Mereka mengganjal gerbang dengan drum-drum kayu, dan apapun yang ada di sekitarnya. Kapten berlari ke atas menara pantau mencoba menyaksikan para penyerang. "Kapten! Zirah yang mereka gunakan membuatnya sulit untuk kami tembak!" Ucap Wud yang kebetulan ada di sebelah kapten, "lihatlah! Hanya beberapa yang terkena panah, itupun mereka masih bisa bergerak." Kapten juga baru percaya setelah melihatnya, Gorin yang menggunakan zirah dan gada. "Garis depan mereka semuanya berzirah, tim pemanah kami hanya bisa melemahkan mereka dengan menembak matanya, dan jika beruntung kita bisa menembak mulutnya!" Lanjut Wud menjelaskan keadaan pada kapten. Kapten menyimak laporan Wud sambil melihat-lihat kondisi luar benteng. "Terus tembak mereka semuaaa! Habiskan panah kaliaan! Jika bisa incar garis belakangnya yang tidak berziraaah!" Teriak kapten kepada semua pemanah. Garis belakang pasukan Gorin tidak ikut maju bersama pasukan berziarah, mereka seperti sedang menunggu gerbang hancur di belakang. Sambil mencabut pedang pendeknya dan mengangkat perisainya kapten berkata "Baik Wud, aku akan kebawah, tolong serang mereka semaksimal mungkin!" Wud menganggukkan kepalanya, lalu kapten berlari kebawah menuju samping gerbang. Retakan di pintu benteng Semakin terlihat, sampai di sebelah kanannya berlubang, sehingga ada Gorin yang memasukan kepalanya dan meraung "raaargh!" "Aaaaaa, tangaankuuu!" Teriak seorang prajurit yang menahan gerbang. Para tentara kaget dan salah satu prajurit menghunus pedangnya dan secepatnya menusuk mulutnya "jleeeb" darah segar muncrat kemana-mana. "Cepat beri dia perban!" Seru seorang pemimpin regu menyuruh anggota untuk memberi pertolongan pertama pada orang yang tergigit itu. "Semuanyaa! Bersiap dengan tombaak!" Teriak kapten. Pasukan dibawah berbaris dengan formasi dan kuda-kuda terbaiknya, mereka meluruskan tombaknya ke arah depan, tombak itu dirancang untuk menusuk kedalam kulit Gorin yang sangat keras. "Kalian yang kehabisan anak panah! secepatnya turun kebawah bergabung bersama kami! Ini perintah kapten! Ambil perisai kalian di bawah!" Ucap seorang prajurit dari bawah yang diperintahkan kapten. Kapten menaruh 9 regu untuk bersiap di depan gerbang dan sisanya menjadi pemanah. Lubang kecil di pintu gerbang semakin membesar karena para Gorin itu menyodok-nyodoknya dengan s*****a mereka, di beberapa titik pintu lubang juga terbentuk akibat pukulan keras Gorinian. "Ambilkan aku tombak!" Teriak kapten pada prajurit di belakangnya. "Ini kapten!" Kapten mengambil tombak itu dan menusuk-nusuk lubang di pintu "hiyaaa! Mundur kalian" teriak kapten, "Hey Semua Nath! Ikuti aku!" Lalu mereka mengikuti yang dilakukan kapten. Di dalam desa para warga sedang sibuk berkemas untuk pengungsian. "Cepaat semuanyaa! Kita sudah kehabisan waktu!" Prajurit muda berteriak pada warga desa "Ayo Agas!" Ucap Galva sambil merapikan baju anaknya. "Ada apa ini Bu?" Agas panik dan bingung. "Ayo ikuti ibu!" Ucap ibu sambil menarik lengan Agasga. Warga ramai memegang lampu-lampu yang dibuat oleh teknologi listrik brasatian, teknologi yang tidak pernah mereka bagikan. Lampu itu seperti obor menggunakan baterai besar dan cukup terang untuk menerangi jalan. Mereka semua menuju pintu samping untuk mengungsi ke desa seberang yang berada di dalam wilayah sihir Skenho. "Kemana kita menuntun warga?" Tanya prajurit muda pada temannya. "Lihat itu!" sambil menunjuk arah keluar, "pintu ini dibuat lurus menghadap langsung ke desa seberang, rute ini seharusnya aman untuk pengungsian dari serangan Aluzelingger, karena jalan ini terhimpit wilayah sihir." Jelas temannya. "Ooh, berarti kita hanya tinggal berjalan lurus tanpa belok sedikitpun?" "Ya benar." Jawab temannya. Di balik gerbang para tentara masih berusaha berjuang mempertahankan gerbang, panah semakin sedikit, beberapa pemanah sudah turun ke bawah bergabung bersama pasukan tombak. "Kreeek, teek,!" Pintu gerbang semakin melemah, suara retakanmya sangat terdengar. "Mundur semua, perisaii!" Teriak kapten yang menghentikan serangannya. Pasukan penjaga tergabung ke dalam beberapa barisan dengan perisainya kapten berada di baris depan bersama yang lain. Lalu... "Braaaaak, drrrrr, brrruuug!!!" Gerbang terbelah. Gorin yang paling depan terlihat sangat besar, dia meluruskan kepalanya ke depan dan meraung "Rraaaaaaaaaa!!!" Gorin berlari ke arah tentara dengan cepat bersama yang lainnya. "Tombaaak! Bersiaaap!" Teriak kapten Tanpa disangka-sangka para Gorin itu melompat sangat tinggi "wuuuus!" Menerobos baris tengah, mereka melakukannya secara bersamaan. "Bruugh!" Seorang prajurit terinjak hingga tewas. Prajurit di sebelahnya kaget dan mencoba menyerangnya dengan pedang. "hiaaaaa, dasar ras terkutuuk!" Teriaknya. Gorin itu menghantamkan kapak dua lengan hanya dengan satu tangan saja dengan sekali tebas. "Wooop, sreeeep" kepala prajurit itu putus. Kapten melihat ke belakang dan kaget. "mereka gila, benar benar gila" "Jleeeb, raaaaaaa!!" Beberapa Gorin tertusuk tombak yang mengarah ke langit, akan tetapi beberapa yang tidak mengenai organ vital masih bisa mengamuk. Formasi Brasat hancur seketika, itu seperti p*********n warga sipil, bukan perang, serangan Gorin datang seperti gajah yang melindas alang-alang. Kepala, dan anggota tubuh Brasat tercecer kemana-mana, Zirah yang dikenakan Brasat tidak ada artinya bagi kekuatan tebasan Gorin. Brasatian mulai menggunakan taktik jarak dekatnya melawan Gorin, mereka menggunakan kelincahan dan mulai melepas zirah-zirah yang dianggap berat. Dengan cakar yang tajam dan struktur tulang yang ringan menjadikan mereka dengan mudah melompat tinggi dan mempercepat pergerakannya. "Wuuuus" kapten melompat-lompat menghindari serangan Gorin. "Drep dep, dep, dep" kapten sampai di belakang Gorin dan memanjat badannya Lalu segera menggoroknya di bagian leher "baaaats, serrrrrrr." Kapten menyembelih Gorin yang sedang berdiri dengan sangat cepat. Tentara yang lain melemparkan tombaknya dan mulai menggunakan belatinya masing-masing dan melompat ke punggung Gorin. Tapi itu tidak semudah kelihatannya, nyatanya banyak prajurit tidak berhasil mengindari serangan Gorin dan malah mati, strategi akrobatik seperti ini memerlukan kecepatan dan ketepatan. Prajurit-prajurit itu mulai ketakutan ketika melihat mayat temannya, yang tergeletak dimakan mentah-mentah oleh Gorin itu. "Hiii aaaaaa!" Seorang prajurit ketakutan dan kabur. Para pasukan semakin kacau beberapa ikut kabur dan yang lainnya mencoba melawan dengan payah, lalu... "Wuuuus, Brugh, sreeeep!" Wud dari atas benteng melompat ke punggung Gorin. "Hiyaaaaa, wuuusss!" Setelah Gorin itu terbunuh Wud langsung melompat ke Gorin di sebelahnya, dia seperti monyet yang menguasai dahan-dahan pohon, "yaaaaa! Wuuus," dengan cepatnya Wud menghabisi 3 Gorin dengan sangat cekatan. tentara lain yang melihatnya menjadi kagum dan kembali bersemangat lagi melihatnya. "Seraaang teruuus kita akaan menaaaang!" Teriak salah satu prajurit dengan kencang . Kapten yang babak belur tersenyum dan berteriak "ayooo semuaaa serang terus!" D. Pelarian Para tentara yang kabur berlari secepatnya dan bertemu dengan para pengungsi "hei, kami ikut denganmu!" Sambil gemetaran dia berkata pada 2 prajurit muda yang bertugas disana. "Kenapa kalian ada disini!?" Tanya prajurit muda "Sudah tidak perlu bertanya, kami akan ikut mengawal pengungsi!" Balasnya, darah membasuh seluruh badan mereka, ada yang sambil memegang luka luka di tangan dan kaki. Warga yang melihat tentara gemetaran panik dan mempercepat langkahnya. Mereka semua baru saja meninggalkan gerbang untuk melarikan diri dan berjalan di bawah pohon-pohon raksasa di malam hari, tidak ada satupun orang yang berbicara, mereka semua hanya ingin berjalan dan secepatnya segera sampai. Pengawal di depan tiba-tiba menghentikan langkahnya "tunggu, aku melihat sesuatu di depan sana!" Sambil mengeluarkan pedangnya. Penjaga yang lain juga menyiapkan s*****a masing-masing. "Sreek, srek, srek." Suara langkah terdengar dari hutan. Lalu lampu menyoroti sesosok Gorin, dia masuk dengan tenang tanpa raungan dia memakai helm, berzirah besi tebal, memakai jubah bulu dan di kedua lengannya mengenakan tengkorak kepala Gorin, dia menggunakan s*****a gada yang sangat besar, ras lain belum pernah membuat gada sebesar itu. "Grrr, rrr, rrr, rrrrr!" Seolah kadal itu menertawai para pengungsi yang ketakutan. Semua penjaga bersiap dalam posisi siaga dengan keringat dingin. "Jangan lihat Agas!" Ucap Galva sambil menggendongnya, lalu dia berinisiatif melarikan diri sendiri berpisah dari kelompok, ke arah yang bukan seharusnya. Para warga yang melihat Galva lari, panik dan mulai berlarian kocar-kacir berpisah. Di tengah pelariannya Galva bertemu Gorin. "Sriiing!" Galva mengeluarkan pisau, "hiyaaa!" Dia berlari ke arahnya dan bermaksud mengolongi Gorin itu lalu kabur. Ketika Gorin itu berlari ingin menyerang Galva tiba-tiba... Gorin dengan helm berteriak. "Raaa aaa uuurrr uuu uuur!" setelah itu Gorin yang lain mulai keluar dari persembunyiannya di hutan. Karena suara teriakan itu, Gorin yang menyerang Galva menoleh dan menghentikan serangannya, lalu segera bergegas ke sumber suara. Dengan begitu Galva terselematkan tapi orang-orang dibelakang yang mengikutinya langsung diinjak-injak dan ditebas olehnya ketika berlari. "Hiks, hiks." Sambil menangis Galva berlari sendiri bersama anaknya yang digendong. Warga yang berlarian terhenti karena melihat mereka telah dikepung. "raaawr!" Para Gorin mencakar, memukuli, dan menebas semua pengungsi yang ada di sana. "Aaaaaa, aaaaa, aaaaaaa!!!" Hutan itu bergemuruh dipenuhi dengan teriakan p********n, bau amis darah tercium sangat menyengat. Di dalam benteng, kapten mundur ke titik yang lebih kosong dan meniup terompet yang dia gantung di sabuknya dua kali "wuuuuump, wuuump!" Tanda untuk mundur. Lalu para tentara yang tersisa berlarian ke belakang arah suara. Disana hanya tersisa kapten bersama puluhan tentara yang dipenuhi luka, mereka kehilangan semangat juang lagi. Wud dengan kaki dan punggung yang sudah dipenuhi cakaran tampak mundur berdiri disamping kapten, puluhan Brasatian itu sedang menyaksikan sahabat-sahabat mereka yang dijadikan santapan, bahkan Gorin itu memakan temannya yang mati, mereka tidak menghiraukan puluhan tentara brasat yang hanya terdiam di ujung dengan putus asa. "Munduuur! Mundur menuju para pengungsi! ini kesempatan kita!" Seru kapten. Dengan berlari terengah-engah, beberapa ada yang membopong temannya, mereka mundur. Tapi sepertinya Gorin tidak akan membiarkan stok makanan hidupnya melarikan diri begitu saja. "Rooooor aarr!" Gorinian berteriak mengejar bersama beberapa yang lain, mereka menunda makannya. Para tentara mempercepat larinya, memaksa temannya yang terluka untuk berjalan lebih cepat, tapi ketika sampai di tengah desa. Begitu terkejut dan putus Asanya mereka melihat sekumpulan Gorin datang dari arah jalur pengungsi, dengan bersimbah darah, beberapa tampak ada yang sedang mengunyah Anggota tubuh Brasat. Seorang Brasat menyadari keadaan dan menyerang sambil menangis dan membabi buta. " Yaaaaaaaa! Ibuuuuuu!!" Teriaknya Lalu Gorinian yang memakai helm dengan mudah memukul kepala Brasat itu hingga remuk dan berbicara menggunakan bahasa Brasat dengan gagap pada semuanya. "Be erhe enti, ji ika ti dak ma u ma ti ii!" Hilang harapan hidup, s*****a yang dipegang Brasat berjatuhan. "Trang, tang, tang, tang!" Semua menganggap dirinya sudah mati. Wud yang membopong Madili berkata pada kapten dengan putus asa "apa yang harus kita lakukan kapten?" Kapten masih terbelalak melihat Gorin yang bisa bicara, dan berkata dengan lirih "aku tidak tau, mungkin kita bisa kabur nanti setelah ditangkap." Gorin dengan helm itu mulai mengikati tangan dan leher mereka dan membawanya ke gerbang yang sudah banjir darah. Malam itu adalah serangan terdahsyat Aluzelingger yang pernah diketahui, karena tidak ada satupun pengungsi yang diketahui selamat, semua tentaranya hilang, dan satu desa telah dianggap sebagai kuburan dengan rumah dan tulang yang berserakan sebagai batu nisannya, malam itu dikenal sebagai tragedi p*********n Desa Skenhodoy. Para penguasa mulai bertanya-tanya, bagaimana bisa Aluzelingger yang tidak berakal memiliki strategi perang yang begitu efisien?.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD