Dua puluh

1815 Words
Saat itu pelanggan cafe begitu banyak, salah satu di antara mereka adalah seorang pria dengan marga Park itu. Ia duduk diam di sana dengan americano pesananannya yang sama sekali belum teeminum Sudah sejak tadi matanya tidak berhenti mengawasi tiap gerak-gerik Minjoo yang tengah melayani pelanggan. Tentu tanpa sepengetahuan gadis itu tentu saja. Tidak lama kemudian Jihoon datang menghampiri Chankyung, lelaki muda itu datang dengan buku menu dalam tangannya. Ia tersenyum manis ke arah Chankyung seperti akan melayani tamu pada umumnya Tapi Chankyung tahu tentu bukan hal itu yang benar-benar akan dilakukan oleh Jihoon. Ucapan yang terucap dari bibir lelaki imut amat berbeda dengan senyuman manis yang masih betah bertengger di wajahnya. "Apa yang Hyung inginkan?" tanya-nya to the point.  Ada jeda sebentar untuk Chankyung menjawab pertanyaan dari Jihoon, semula ia ingin menjawab jika dirinya ingin berbicara dengan Minjoo.  Tapi setelah memikirkannya lagi berbicara dengan gadis itu sepertinya bukan ide yang bagus, akan lebih baik baginya untuk mengkonfirmasi pertanyaan yang mengganjal dalam benaknya melalui orang-orang terdekat Minjoo lebih dulu. Jihoon contohnya. Chankyung akan mencoba bertanya pada lelaki itu soal hubungan Minjoo dan Hunjae, semoga saja dia mau bekerja sama. "Ada yang ingin ku tanyakan padamu sepulang bekerja," jawab Chankyung pada akhirnya. Jihoon menatap Chankyung dengan penuh curiga. Sepertinya Jihoon belum sampai sepercaya itu pada Chankyung, ya meskipun ia sudah tidak segalak waktu di awal pertemuan dulu. Jihoon sedikit melirik Minjoo yang masih sibuk melayani pembeli dibantu beberapa orang lainnya dengan ekor mata, kemudian lelaki itu kembali megalihkan pandangannya ke arah Jihoon. "Soal Minjoo Nunna?" Tergagap. Meski tergagap pada mulanya, Chankyung mengangguk saja setelahnya. Seolah mengerti Jihoon turut menganggukan kepalanya, dan hal yang selanjutnya ia lakukan benar-benar membuat Chankyung tidak mengerti. Apa anggukan sebelumnya adalah jawaban Jihoon yang menyetujui dirinya untuk berbicara bersama sepulang kerja, atau itu hanya respon dirinya yang paham dengan maksud tujuan Chankyung? Pasalnya setelah menganggukan kepala itu Jihoon langsung beranjak pergi tanpa mengucap apapun lagi, sampai tidak lama kemudian seorang pelayan lain muncul sembari membawa kertas yang telah dilipat menjadi dua bagian. "Chankyung-ssi?" tanya pelayan itu ramah. Chankyung mengangguk sejenak lalu pelayan tersebut menyerahkan kertas tadi dan berlalu pergi. Cepat-cepat Chankyung membuka kertas tersebut, membaca tiap deretan kata yang ada di sana dengan seksama. Surat itu berasal dari Jihoon. Lelaki itu mengatakan untuk menemuinya di belakang cafe dekat toilet. Dengan bergegas Chankyung beranjak, ia terpaksa menemui Minjoo yang juga terkejut akan kehadirannya. Sepertinya ia baru saja sadar. "Permisi. Di mana toiletnya?" Chankyung berpura-pura tidak mengenal Minjoo, ia hanya tidak ingin membuat gadis itu merasa kurang nyaman dengan kehadirannya. Minjoo menunjuk satu lorong ke arah belakang, ia menunjukan letak toilet tanpa bersuara sama sekali dan hal itu kian membuat Chankyung berpikir jika Minjoo benar-benar membencinya. Setelah Chankyung pergi, Minjoo menghela nafas lega. Ia menumpukan badannya pada meja kasir dan mengatur pernafasnnya yang mendadak serasa sesak. Ia mengamati lagi lorong tempat Chankyung menghilang, sebenarnya apa yang dirasakan gadis itu adalah bagian dari rasa terkejutnya. Ia tidak menyangka jika akan bertemu lagi dengan Chankyung di sini. Sudah berapa lama pria itu ada di sana? Ia datang bersama siapa dan apa yang pesan. Pertanyaan beruntun itu yang memenuhi kepala Minjoo sekarang, belum lagi senyum tipis yang pria itu berikan sebelum menghilang di balik lorong penghubung ke arah belakang terasa agak janggal. Kenapa Minjoo melihat seperti ada raut kecewa di sana, sebenarnya apa yang terjadi dengan Chankyung. Apa ia tidak senang bertemu dengan dirinya? Berbeda halnya dengan Chankyung. Ia buru-buru berjalan menghampiri Jihoon yang tengah terduduk dengan bermain ponsel miliknya. "Lee Jihoon," sapa Chankyung buru-buru. Si pria Lee hanya menatap pria itu datar. Ia segera turun dari kotak kayu berisi persediaan kopi yang harusnya segera ia bawa masuk ke dalam, tapi ia menggunakan kesempatan tersebut untuk berbicara dengan Park Chankyung. "Ada apa Hyung ingin bertemu denganku?" tanya Chankyung to the point. Chankyung menghela nafas sejenak, rasa sesak kembali menghantam hatinya saat ia mengingat kejadian di mana Minjoo juga Hunjae terlihat seperti sepasang kekasih. "Aku ingin bertanya satu hal padamu, tapi ku harap kau bisa jujur dengan jawabanmu," buka Chankyung memulai pembicaraan mereka. Jihoon masih diam mengamati, ia tidak menjawan ya atau tidak, tapi dilihat dari ekspresinya lelaki itu terlihat setuju. "Soal Minjoo Noona dan Hunjae Hyung, 'kan?" Tebak Jihoon tepat sasaran. Chankyung mengangguk mengiyakan, mendengar nama Hunjae membuat moodnya tiba-tiba berubah buruk. "Ada hubungan apa mereka sebenarnya?" kini giliran Chankyung yang bertanya to the point, sudah sejak tadi ia menahan rasa keingintahuannya yang begitu besar. Ia ingin segera tahu agar bisa segera mengambil tindakan. Haruskah ia terus maju ke depan atau menyerah dan merelakan sekali lagi, membiarkan Minjoo bahagia dengan pilihannya sendiri. "Menurut Hyung bagaimana? Mereka terjalin seperti apa yang terlihat," kata Jihoon masih dengan nada sama.  Lelaki itu mendongak, menatap langit malam tanpa bintang dengan senyum cerah pada wajahnya. Tidak lama kemudian lelaki itu terkekeh kecil, seolah ada hal yang lucu sehingga bisa membuatnya tertawa seperti itu. "Seandainya perasaan seseorang bisa dengan mudah dikendalikan, pasti akan menyenangkan," ujar Jihoon tiba-tiba. "Maksudmu?" Jihoon melihat lama ke arah Chankyung kemudian menghela nafas berat, ia mendekati Chankyung dan menepuk bahu pria itu pelan. "Berjuanglah untuk perasaan Hyung sekali lagi, perjuangkan perasaan Hyung untuk Noona sekali lagi. Tapi ku harap kali ini Hyung tidak akan pernah mengecewakannya lagi." Chankyung terdiam mendengar penuturan Jihoon. Ia berbalik menatap punggung lelaki itu yang kini masuk ke dalam area cafe dengan sekotak bahan baku kopi. Memperjuangkan? Apa itu artinya Minjoo dan Hunjae tidak memiliki hubungan lebih dari sekadar teman? Apa itu artinya? Senyum cerah segera terbit pada wajah Chanyung, ia merasa senang karena kembali mendapat harapan dan semoga saja apa yang ia harapkan kali ini akan menjadi kenyataan. Tepat pukul sembilan malam saat cafe akan segera tutup. Jihoon baru saja keluar dsri ruangan khusus staff cafe saat ia berpapasan dengan Minjoo yang akan ke arah toilet. "Noona maaf, sepertinya aku tidak bisa membantumu menutup cafe hari ini. Aku sudah memiliki janji penting," kata Jihoon dengan nada menyesal. Minjoo yang mendengar hal itu hanya tersenyum, ia memberikan pandangan menggoda ke arah Jihoon yang masih diam di tempat. "Kau akan bertemu dengan gadis itu ,ya?" tanya Minjoo masih dengan nada menggoda.  Terlihat jelas rona samar-samar pada wajah Jihoon, kemudian lelaki itu mengalihkan wajah pada sisi yang lain dan hal itu membuat Minjoo tertawa karenanya. Memang belum lama ini ada seorang gadis yang datang menemui Jihoon. Gadis dengan perawakan mungil itu kerap kali menunggu Jihoon pada jam makan siang, keduanya akan mengobrol dekat dengan beberapa kali tertawa bersama.  NMinjoo sudah memperhatikan hal itu beberapa kali dan ia bisa menarik satu kesimpulan dari bagaimana cerahnya wajah Jihoon saat gadis itu datang atau rona samar yang menghiasi pipi lelaki itu tiap kali sehabis bertemu dengan gadis bersurai coklat gelap itu. "Sudah sana temui dia," kata Minjoo cepat. Jihoon mengangguk kemudian melesat pergi dari cafe yang kini hanya menyisakan satu orang di dalamya yaitu Do Minjoo. Saat Minjo tengah memeriksa stock bahan kopi untuk besok, lonceng yang tergantung di atas pintu masuk berbunyi seolah-olah baru saja ada yang masuk ke dalam cafe. Mengira itu Jihoon,  Minjoo bertanya apa ada yang kurang atau tertinggal pada pria itu. "Jihoon-ah apa ada yang tertinggal?" tanya Minjoo sembari matanya masih fokus melihat bahan baku untuk besok. Tidak kunjung mendapat jawaban membuat Minjoo denga  segera menoleh, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Chankyung ada di sana, berdiri tidak jauh dari tempatnya dengan senyum yang merekah hebat. Gadis itu masih memperhatikan Chankyung yang kini berjalan mendekat ke arahnya, meski keadaan jadi cukup canggung tapi hal itu tidak membuat serta merta senyum merekah Chankyung luntur begitu saja. Saat ini pria itu sudah berada tepat di hadapan Minjoo, gadis itu mendongak dan bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang tegas juga mata indah Pria bermarga Park itu. "Cafe sudah tutup, silahkan datang lagi besok," ujar Minjop dengan sedikit tergagap.  Chankyung mengangguk tapi tidak lantas pergi dari sana, ia hanya bergeser sedikit agar Minjoo dapat memberseskan meja terakhir. Berusaha untuk tidak peduli. Minjoo tetap melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, ia dengan gerakan kilat membereskan meja terakhir dan bersiap untuk pulang. Tapi saat ia akan mengambil tas di ruangannya tanpa sengaja gadis itu melihat Chankyung yang masih berdiri pada tempatnya sembari melihat sekitar. Merasa diperhatikan Pria itu menoleh, ia tersenyum manis ke arah Minjoo yang justru mengalihkan pandangan ke arah lain. Dengan langkah cepat Minjoo berusaha menghindari Chankyung yang masih menunggunya, ia berusaha mengabaikan pria itu meski ia terus mengikuti Minjoo. Tepat saat Minjoo akan menutup cafe ia harus lebih dulu menunggu Chankyung keluar, ia tidak mungkin mengunci pria itu di dalam cafe atau ia bisa berada dalam masalah. "Keluarlah, aku akan mengunci pintu," ujar Minjoo pada akhirnya. Ia kesal karena Chankyung sengaja memperlambat langkahnya yang membuat Pria itu masih ada di dalam cafe. Mengabaikan apa yang Minjoo katakan, Chankyung justru menyeringai ia seperti sengaja menggoda si gadis agar merasa kesal. Dan benar saja, semakin Minjoo menunjukan wajah kesalnya maka semakin menjadi pula kelakuan Chankyung. Pria itu memilih berhenti tepat sepuluh langkah dari pintu masuk. Ia sengaja melakukannya untuk membuat Minjoo bertambah kesal dan masuk kembali ke dalam cafe untuk membujuknya. Dan tepat sesuai dugaan, dengan kaki menghentak juga ekspresi wajah tidak bersahabat Minjoo kembali masuk ke dalam cafe, gadis itu sempat mengomel sebal pada Chankyung yang justru membalas hal itu dengan senyuman lebar. "Jika kau ingin membuat masalah, jangan padaku! Aku sudah lelah dengan semuanya," ujar Minjoo lagi masih mempertahankan ekspresi kesalnya. Tepat saat Minjoo akan kembali berbicara, Chankyung lebih dulu menarik tangan gadis itu kemudian mendaratkan ciuman tepat di bibir ranum si gadis. Mata bulat Minjoo berkedip beberapa kali mendapat perlakuan seperti itu dari Chankyung, ia ingin melepaskan diri tapi kekuatannya tidak sebanding, belum lagi perlakuan Chankyung yang membuat kakinya lemas bagaikam jelly.  Minjoo bahkan berpikir jika saat ini ia tidak bisa menopang tubuhnya sendiri jika saja satu tangan Chankyung tidak memeluknya erat. Pada sela-sela kegiatan mereka, ada hal yang tidak disadari oleh keduanya. Ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan mereka dari jauh, mengamati dengan lamat apa saja yang terjadi di antara keduanya sampai saat ini. Tangan Hunjae mengepal pada setir kemudi, ia meremat benda itu kuat-kuat kemudian memukulnya dengan emosi.  "Kenapa aku harus kembali kalah dari Chankyung?!" pria itu berujar marah, ia masih mengamati keduanya yang kini telah selesai dengan kegiatan mereka. Darah Hunjae kian mendidih saat melihat rona samar dari pipi Minjoo, dan juga Chankyung yang dengan berani mengusap pipi gadis itu sampai ke sudut bibir. Hunjae mengertakan gigi-giginya karena perasaan kesal yang luar biasa, ia benar-benar tidak suka dengan adegan romansa yang baru saja ia lihat. Ia ingin turun untuk memberi perhitungan pada Chankyung tapi ia urung melakukannya. Ia tidak ingin membuat Minjoo berpikir jika dirinya adalah pria yang kasar dan arogan, ia akan membalas semua perbuatan Chankyung dan mendapatkan Minjoo ke pelukannya kembali dengan cara yang halus. Ia akan menjatuhkan Chankyung, menghancurkan pria itu dengan taktik cantik yang membuatnya tidak dapat terlacak sehingga tidak akan ada yang tahu jika ia adalah penyebab dari hancurnya hidup seorang Park Chankyung. "Kau akan segera mendapat balasannya, Park Chankyung."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD