Sepuluh

2040 Words
Aku berlari ke arah taman belakang. Mata ku mengedar, mencari keberadaan Minjoo pada area sekitar.  ihil. Ia tidak terlihat dimanapun, gadia itu tidak ada di sini. Dengan napas terengah ku putuskan duduk pada batu di bawah pohon dengan daun yang mulai menguning dan gugur. Semilir angin membuat ku merasa damai. Sekarang aku paham mengapa Minjoo menyebut taman belakang sekolah sebagai tempat terbaik. Di sini tenang juga damai, cocok untuk menghabiskan waktu sekaligus menenangkan diri. "Apa yang kau lakukan di sini?" Minjoo?  Aku menoleh, benar itu dia. Minjoo menatap ku dengan pandangan bingung yang justru terlihat menggemaskan. Bagaimana mata bulat itu berkedip juga ekspresinya yang terlihat mirip dengan sosok serial animasi Penguin biru berkacamata. Sadar atau tidak, aku mulai tersenyum. Rasanya lega bisa melihatnya lagi setelah belakangan ini ia menjauh.  "Bukan apa-apa. Ini area sekolah, siapapun bebas ada di sini," Hahaha aku memulainya lagi. Tidak bisakah mulut ini mengatakan sesuatu yang lebih baik? Benar-benar menyebalkan. Jika biasanya Minjoo akan tersenyum lalu membalas ucapan ku beberapa saat lalu, kali ini agak berbeda. Ia hanya menggedikan bahu kemudian duduk di sebelah ku.  Haha aku lupa dengan apa yang sudah ku lakukan malam tempo hari. Patut jika Minjoo berlaku demikian, ucapan ku hari itu benar-benar keterlaluan. Minjoo menyantap bekal makan siang yang di bawanya. Entahlah, melihatnya makan membuat ku merasa ikut kenyang. Terdengar berlebihan memang, tapi kau akan mengakuinya juga saat jatuh cinta. Segala yang benar bisa terasa salah begitu juga dengan sebaliknya. Jika sudah begini aku jadi paham maksud dari kalimat cinta itu buta. "Kalau mau ambil saja, aku tidak pelit ko."  Sial! Aku ketahuan tengah memperhatikannya. Aku berdeham beberapa kali guna menghilangkan rasa gugup, sebenarnya malu. Mau ditaruh di mana wajahku ini. Aku yang sudah terlalu sering memintanya pergi, menjauh dari hadapan ku justru ketahuan memperhatikannya secara diam-diam. Hebat kau, Park Chankyung. Minjoo pasti akan menganggap mu aneh mulai dari sekarang. "Tidak mau? Padahal bekal makan siang dariku sudah dimakan Jongsoo," eh? Jongsoo? "Jongsoo?" "Eung. Aku menitipkan bekalmu padanya. Tapi dia bilang, selama ini kau tidak pernah memakan bekal dari ku dan selalu memberikan bekal itu untuknya. Jadi, sekalian saja kuberikan padanya, toh kau juga takkan memakan itu 'kan?"Minjoo mengatakan hal itu dengan lirih. Dasar, anak hitam itu. Bukannya aku tidak  ingin memakan masakan Minjoo. Hanya saja tiap kali aku akan membuka kotak makan siang darinya, anak hitam itu lebih dulu muncul dan membuat ku urung menjalankan niatku sebelumnya. Sekali lagi ku tegaskan, ego juga gengsi ku terlalu tinggi untuk mengakui jika aku juga menyukai Minjoo. Aku tidak ingin siapapun tahu soal hal itu, bahkan sekalipun itu Jongsoo.  Yah, meskipun ia juga sudah tahu hal itu sekarang. "Ah, satu lagi. Maaf jika selama ini aku selalu menganggumu, membuatmu kesal dengan semua tingkah laku ku. Aku melakukan semua itu hanya agar bisa menarik perhatianmu, tapi kurasa kau benar-benar terganggu. Maaf ya." Kenapa? Kenapa kau harus minta maaf?  Di sini aku yang bersalah, aku yang tidak bisa jujur akan perasaan ku sendiri. Aku yang terlalu pengecut, bodoh karena mempertahankan ego juga gengsiku. Minjoo hanyalah korban dari keegoisan dan kebodohan ku, tidak seharusnya ia meminta maaf dan merasa bersalah untuk hal ini. Itu tidak benar, Minjoo-ya. "Kau … kenapa?"  Jujur saja Minjoo agak berbeda hari ini, maksud ku benar-benar bukan seperti dia yang biasanya.  Mulai dari penampilan. Ia yang biasanya mengucir satu rambutnya, kini ia membiarkan hal itu tergerai bebas. Sikapnya yang suka berteriak seenaknya kini tak lagi nampak. Ia terlihat jauh lebih dewasa, juga pendiam. Sebenarnya dia kenapa? Aku seperti melihat Minjoo yang berkebalikan dari dirinya yang biasanya. "Aku? Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit merubah kebiasaan, aku tidak ingin lagi menjadi seperti dulu. Maksud ku cukup untuk bersikap kekanakan dan menyebalkan, lagipula sikap seperti itu akan menganggu beberapa pihak," Aku tahu Minjoo  tengah menyindir ku. Dan ku akui juga sikap ku memang menyebalkan, sebenarnya sangat. "Hunjae juga pernah bilang, bukan lagi saatnya bermain saat memasuki kelas akhir. Apalagi memperjuangkan sesuatu yang sudah kau tahu jawabannya." Hunjae. Mendadak aku ingat soal rumor itu, aku tidak suka saat mendengar Minjoo menyebut namanya.  Belum lagi soal rumor yang beredar, aku jadi makin tidak menyukainya. Omong-omong soal rumor, aku jadi penasaran soal kebenarannya. Apa iya mereka berdua benar-benar berkencan, aku tidak rela jika sampai hal itu benar terjadi. Jangan sampai perjuangan ku yang baru saja akan ku mulai sudah harus terhenti karena ada nama Hunjae di sana. Aku benar-benar tidak ingin hal itu sampai terjadi. "Kau ingin bertanya soal rumor aku dan Hunjae 'kan?" lagi-lagi Minjoo mengatakan sesuatu yang tepat sasaran.  Meski sempat ragu pada akhirnya aku mengangguk. Tidak ada gunanya lagi berbohong, toh aku akan mengungkapkan perasan ku juga. "Menurutmu bagaimana?" "Apanya?" aku bertanya balik. Maksudnya apanya yang bagaimana?  Aku tidak mengerti. "Jika aku benar-benar berkencan dengan Hunjae, kira-kira bagaimana reaksi Chankyung.  Ah, apasih yang ku katakan, sekalipun itu benar kau juga tidak akan peduli. Chankyung 'kan tidak menyukai ku." Siapa bilang?! Aku menyukaimu, sangat menyukaimu. Aku hanya bodoh karena tidak bisa mengatakan itu semua dan justru melakukan hal yang bertentangan dengan perasaan ku. Apa kau tahu bagaimana raksi ku saat pertama kali mendengar rumor itu? Aku tidak suka! Jangan berkencan dengannya! Terus bersama ku sampai kapanpun. Ingin rasanya aku berkata demikian, tapi aku adalah Chankyung, si pria bodoh nan pengecut.  " Omong-omong, ujian akhir sebentar lagi dimulai. Mari sama-sama berjuang dan ayo bertemu lagi di masa depan. Semoga saja saat itu kau sudah bisa menyukai ku," tutup Minjoo pada akhirnya  Gadis itu tersenyum kecil, ia menyudahi acara makan siangnya dan hanya menatap ke depan.  Seharusnya, saat ini adalah saat terbaik bagiku. Ini adalah saatnya untukku mengungkapkan perasaan ku yang sebenarnya, mengatakan semua kesalah pahaman yang terjadi selama ini. Iya, hanya seharusnya. Karena apa yang ku lakukan benar-benar adalah tindakan bodoh. Aku tidak bisa melakukannya. Yang ku lakukan hanya diam mematung layaknya orang bodoh, bahkan hingga Minjoo berdiri dan berlalu pergi sambil melambai padaku. Aku masih saja diam mematung di tempat ku, mendadak tubuh ku rasanya kaku. Pasti selama ini Minjoo merasakan sakit hati yang teramat besar karena ku. Senyum manisnya masih terekam jelas hingga bayangnya menghilang dalam pandangan. Hari itu, hari terakhir aku bertemu dengannya. Setelah ujian akhir selesai, Minjoo menghilang bak ditelan bumi. Ia tak terlihat dimanapun, bahkan saat pesta kelulusan ia tidak  hadir. Aku mencarinya layaknya orang gila. Bertanya kesana-kemari juga mengunjungi tempat-tempat yang mungkin ia singgahi. Bahkan aku sampai berlutut di depan Hunjae, memintanya agar memberitahu keberadaan Minjoo padaku Tapi percuma saja.  Segala upaya yang ku lakukan berakhir sia-sia, aku masih tidak  menemukannya hingga tiga tahun lamanya. Hunjae juga seolah menutup rapat soal  ke mana perginya Minjoo, padahal tidak mungkin ia tidak tahu di mana keberadaan gadis itu mengingat betapa dekatnya mereka berdua. Tapi aku juga sadar diri. Hunjae pasti ingin melindungi Minjoo dari orang yang hanya bisa melukai perasaanya sepertiku. Atau itu justru permintaan Minjoo sendiri karena ia yang mencoba move on dari ku? Entahlah. Yang jelas ini semua adalah kesalahan ku, semua ini terjadi karena diriku. Sumber dari semua ini adalah aku. Dan aku menyesal, benar-benar menyesal. Aku menjalani hari-hariku dengan terus mencari-cari Minjo, bahkan aku tidak menjalin ataupun berdekatan dengan gadis manapun setelah itu. Perasaan ku masih berada di jalur yang sama, ia masih berada di tempat yang memang seharusnya dan hanya untuk orang yang sama.  Perasaanku masih terpaku pada satu orang yang telah berhasil mencuri perhatian ku sepenuhnya, membolak-balikan hatiku sampai rasanya seperti terkena badai besar saat ia menghilang tanpa kabar. Masa-masa kuliah ku terasa suram, waktu ku lebih banyak ku habiskan untuk menunggu Minjoo di dekat gedung sekolah ku dulu. Berharap ia datang agar aku bisa memperbaiki semuanya. Terlihat bodoh dan menyedihkan? Aku tahu. Setidaknya ini bisa menghibur ku saat bayangan masa lalu di antara kami melintas seperti filem klise.  Menyedihkan memang, tapi aku menyukainya. Ini terasa lebih baik daripada aku harus belajar melupakannya karena perasaan bersalah juga menyesal itu akan terus datang dan datang. Hal itu masih terus berlanjut hingga satu hari Jongsoo datang, anak itu menepuk bahu ku. Ia terlihat prihatin dengan keadaan ku, bagaimanapun juga dia yang paling tahu soal ceritaku dan Minjoo. "Mau sampai kapan kau terus begini? Tidak ingin melanjutkan hidup?" "Melanjutkan hidup? Sedangkan hidupku saja sudah pergi, itu semua karena kebodohan ku Jong," ku tenggak segelas soju. Kami ada di tenda pinggir jalan, aku butuh seseorang untuk berbagi. Dan ku pikir itu Jongsoo. Hanya dirinya yang bisa mengerti bagaimana posisiku, setidaknya sampai saat ini. "Jika kau berpikir begitu, rupannya kau benar-benar bodoh. Jika kau terus begini, bagaimana bisa kau menemukan Minjoo. Sekalipun kau menemukannya, apa dia mau dengan pria sepertimu?" "setidaknya perbaiki dirimu dulu. Buat dirimu menjadi lebih baik hingga layak untuk bersanding dengan Minjoo nantinya," lagi-lagi ia berceramah. Aku tahu arah pembicaraan kami. Hal itu tak jauh-jauh dari permintaan Ayah agar aku menggantikan posisinya di perusahaan. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak memiliki minat untuk bergabung dalam perusahaan. Jangan kan menggantikan posisi Ayah, tiap beliau membahas soal bisnis atau hal sejenisnya aku benar-benar tidak tertarik. "Sekedar saran. Saat kau sudah menempati posisi di perusaan, akan lebih mudah bagimu untuk mencari Minjoo, kau punya kemungkinan untuk mempunyai banyak relasi bisnis. Bukan tidak mungkin kau bisa menemukannya saat kunjungan kerja. Atau malah ia yang jadi relasi bisnismu," aku terkekeh, perkataan Jongsoo itu mustahil. Ia mengatakan itu hanya agar aku mau bergabung di perusahaan, anak ini benar-benar gigih. Aku salut. "Kau jangan berkata yang tidak-tidak, itu bukan peluang besar Tuan Kim. Kau hanya ingin agar aku menuruti kemauan Ayahku 'kan?" Kini Jongsoo yang terkekeh, ia meminum soju kemudian menghela napas. "Kau tahu, Paman Park sudah seringkali membantuku. Setidaknya aku harus membantunya meski sekali, aku bukan orang yang tidak tahu balas budi. Dan ku harap kau bisa membantu ku mewujudkan itu," Ku hela napas pasrah. Ya, mungkin ini saatnya. Pada akhirnya ku putuskan untuk menerima tawaran Jongsoo, meski aku harus lebih dulu menyelesaikan kuliah ku yang sebelumnya kacau.  Aku tidak ingin membuat bangkrut perusaan Ayah dengan kemampuanku yang tidak sepadan. Lagipula siapa tahu perkataan Jongsoo benar adanya. Ku selesaikan kuliah dalam waktu singkat. Aku belajar mati-matian demi mengejar gelarku yang selama ini tertinggal, dan aku baru sadar jika sudah terlalu lama diri ku larut dalam kesedihan. Terlalu banyak hal yang bisa ku jadikan peluang namun justru ku sia-siakan. Aku akan memperjuangkan semuanya mulai sekarang. Setidaknya seperti kata Jongsoo, aku harus menjadi pantas dulu agar layak bersanding dengan Minjoo nantinya. "Kau bekerja terlalu keras sajjang-nim*"  Jongsoo masuk ke ruangan ku tanpa mengetuk. Ia memang asisten yang sedikit kurang ajar. "Ini cara satu-satunya agar aku bisa melupakannya,"  Hampir satu tahun aku mulai aktif mengambil alih posisi Ayah, dan selama itu pula aku mulai menyibukan diri dengan setumpuk pekerjaan yang seakan tidak ada habisnya. "Berhasil?" Aku menggeleng, sia-sia saja. Aku tidak bisa melupakan Minjoo.  Yang ada aku justru kian merindukannya. "Aku tidak bisa melupakannya. Aku terlalu jahat untuk gadis sebaik dirinya dan mungkin ini adalah karna buatku." "Sebenarnya bukannya kau tidak bisa, hanya saja kau tidak mau. Bukannya aku ingin memprovokasi, hanya saja kau memang terlihat tidak berniat melupakannya," aku terkekeh mendengar ucapan Jongsoo. Ya, kurasa Jongsoo benar. Sebagian dalam diriku memang enggan untuk melupakan Minjoo. "Entahlah. Sepertinya kau benar, aku memang tidak  berniat melupakannya," "Heish, sudah ku duga. Lebih baik kau datang ke caffe baru tak jauh dari sini. Aku tidak mau kembali merevisi berkas-berkas yang sebenarnya tidak bermasalah hanya karena kau yang tidak bisa fokus." "Ya, ya. Kau ini asistenku, kenapa kau yang memerintahku sih."  "Biar saja, kau terlihat menyedihkan jika terus berada di sini dan berkencan dengan pekerjaanmu Park Chankyung." Dan di sinilah aku pada akhirnya. Setelah perdebatan sengit dengan Jongsoo dan cukup puas mengagumi desain luar caffe. Ku putuskan masuk dan  duduk di salah satu bangku dekat jendela besar yang menghadap jalan. Jalanan tampak ramai, membuat pikiran ku melayang pada Minjoo. Apa yang sedang ia lakukan? Bagaimana rupanya sekarang, apa ia baik-baik saja. Ku harap iya. "Permisi Tuan, silahkan menunya." Deg! "Minjoo?"  Dalam hati kuucap banyak terimakasih pada semesta, setelah sekian lama aku mencari. Hari ini, aku bertemu dengannya. Dengan dia yang jadi duniaku, cintaku. Kali ini, aku takkan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan. Akan ku kembalikan kisah ku pada jalur yang seharusnya, pada tempat yang memang ditakdirkan menjadi rumah untuknya. Akan ku perjuangkan semuanya, takkan kubiarkan kesalahan masa lalu terulang lagi saat ini. Aku akan berusaha membuat Minjoo kembali padaku. "Sepertinya ... aku merindukanmu." . . Chankyung P.O.V END . . Flashback END.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD