Sembilan

2019 Words
Sial! Dingin sekali hari ini. Aku tidak menyangka jika musim gugur tahun ini akan terasa begitu dingin seperti saat ini. Segera ku eratkan mantel yang membalut tubuh ku, berusaha untuk menghalau udara dingin yang seolah menusuk tulang. Aku butuh sesuatu yang hangat sekarang. Haruskah aku mampir ke kedai saat perjalanan pulang nanti? "Chankyung-ah!"  Ku tolehkan kepala ke arah belakang. Ada Minjoo di sana tengah berlari sembari tersenyum lebar. Astaga! Gadis itu lagi. Kenapa ia harus datang sekarang, dan lagi kenapa jantung ku mulai berdetak dengan heboh seperti ini, diamlah! Jangan sampai Minjoo tahu jika aku merasa deg-degan saat melihatnya! Entah aku yang asyik melamun atau bagaimana  tahu-tahu saja Minjoo sudah ada di depan ku. Dan seperti biasanya ia juga memperlihatkan senyum manisnya padaku. Apa gadis ini tidak tahu  jika senyumnya itu berbahaya? Itu akan mengundang semacam reaksi ane pada tubuhku untuk menegang dengan detak jantung yang semakin menggila setiap detiknya. Benar-benar berbahaya. "Kau harus pakai sarung tangan, cuaca semakin dingin akhir-akhir ini. Kau bisa sakit nanti," ujarnya perhatian. Sial! Aku hampir merona karenanya, dan kenapa aku jadi seperti anak perempuan begini?  Ku pikir ada satu dari beberapa aspek yang membuat ku bisa jatuh pada pesona seorang Do Minjoo, terlepas dari dia yang selalu mengejar ku terus-terusan.  Aku menyukai sikapnya yang itu meski pada mulanya aku membecinya, bahkan sampai sekarang aku belum bisa mengakuinya. Bodoh bukan. Salah satu aspek tersebut adalah sikap juga perhatian tulusnya. Ia bisa terlihat kekanakan juga dewasa di saat bersamaan, ia bisa sangat perhatian seperti saat ini tapi ia juga bisa jadi sangat menyebalkan saat dirinya berdekatan dan bercanda dengan Hunjae. Sahabatnya. Kadang, aku merasa jika diriku dan Minjoo seperti terkoneksi satu sama lain. Atau mungkin, ini adalah sinyal dari semesta? Bisa jadi. Yang ku maksud adalah, seperti saat ini contohnya. Entah kebetulan atau takdir, disaat aku tengah kedinginan, Minjoo datang dengan kehangatan. Aku tidak bohong soal itu. Karena ia kini memasangkan sarung tangan dengan gambar jerapah kuning yang ia bawa, dari celotehnya ia membuat sendiri sarung tangan rajut yang tengah ia pakaian padaku.  Itulah alasan aku menyebut dirinya datang membawa kehangatan. Hati juga sikapnya membuat ku merasa hangat dan nyaman. Omong-omong soal Jerapah, aku jadi ingat perkataan Jongsoo. Anak itu pernah bercerita padaku jika dirinya pernah secara tidak sengaja mencuri dengar saat Minjoo tengah berbicara dengan Hunjae sahabatnya, di kantin sekolah beberapa hari yang lalu. Gadis itu mengatakan jika aku ini sama dengan Jerapah. Minjoo mengatakan jika  aku tinggi dan lucu. Sebenarnya aku mengakui itu tapi kenapa harus Jerapah? Apa ia tidak bisa menyamakan diriku dengan sesuatu yang lebih keren? Oh, mungkin lebih baik dengan mengakui jika aku itu keren saja sudah cukup. Kini telapak tanganku terasa hangat, hati ku juga. Apa akan terlalu berlebihan jika ku katakan senyuman Minjoo jugalah yang membuat hati ku terasa menghangat? Ku rasa tidak. "Bisa tidak kau pergi? Jangan mengikuti ku terus! Kau itu perempuan, jangan jatuhkan harga dirimu demi laki-laki."  Bodoh! Bodoh! Chankyung bodoh!  Kenapa aku harus berkata begitu. Rautnya yang semula cerah kini muram, kata-kataku pasti melukainya. Sudah pasti! Dasar Chankyung bodoh! Aku terus memaki dalam hati, kapan kiranya mulut ku ini bisa mengatakan apa yang sebenarnya ku rasakan? Sudah cukup untukku membuat Minjoo terluka dengan apa yang ku katakan selama ini. Setelah terdiam cukup lama Minjoo mendongak kan kepalanya. Damn! Kau benar-benar bodoh Park Chankyung! Sekali lagi aku membuat gadis manis di hadapan ku ini menangis. Meski ia tersenyum kecil tapi jelas ku lihat genangan air mata di pelupuk mata bulatny, dan lagi-lagi akulah penyebab semua itu. "Selama itu Chankyung, aku tak masalah," ia menyahut lirih sambil tersenyum kecil. Bohong! Meski kau tersenyum, aku tahu kau terluka. Kenapa kau harus berpura-pura, aku tahu kau terluka karena perkataan ku. "Kau tahu 'kan, aku tidak menyukaimu. Benar-benar tidak menyukaimu. Jadi pergilah sebelum aku bertindak lebih jauh." "Tahu. Aku juga tahu kau menyukai gadis lain." Deg! Apa? Bagaimana bisa? Katakan padaku jika apa yang baru saja ku dengar adalah salah, apa maksud Minjoo jika aku menyukai gadis lain. Siapa? "Kau." "Aku sudah memperhatikan juga mengikutimu hampir dua tahun, jika kau lupa. Aku bahkan mengenal dirimu lebih dari diriku sendiri," "terlalu mudah bagiku untuk tahu. Wajahmu akan berbinar saat Baekhee ada di sana, pipimu akanbersemu layaknya buah persik saat Baekhee menyapa. Ku rasa kau begitu menyukainya ya." Baekhee? Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya! "Tapi tidak apa. Meski Chankyung menyukai Baekhee, aku masih boleh kan menyukaimu? Tolong jangan larang aku lagi. Ini cinta pertama ku, aku ingin membuat cinta pertamaku berakhir baik meski itu hanya kebohongan." Bodoh!  Kenapa kau bisa berpikir begitu? Kau tidak tahu alasan sebenarnya aku bersemu. Itu adalah dirimu, bukan Baekhee. Baekhee? Aku bahkan tak memiliki perasaan apapun padanya. Yang ku sukai itu dirimu, Minjoo. Hanya dirimu. . . Beberapa waktu yang lalu . . Suasana perpustakaan sepi seperti biasa, tempat paling nyaman untuk menyendiri. Ku dudukan diri di bangku dekat jendela, tempat terbaik untuk menatap ke arah lapangan. Lebih tepatnya untuk melihat seseorang yang sudah berhasil mencuri perhatian ku akhir-akhir ini. Tunggu!  Kemana gadis itu? Ini hari Jum'at, jadwal klub sepak bola berlatih. Dan aku tahu persis Minjoo akan ada di sana, duduk sambil menyemangati Hunjae.  Tapi hari ini ... kemana gadis itu? Sudah sejak tadi aku tidak melihatnya. Apa ia tidak masuk? Ku putuskan keluar dari perpustakaan. Tujuan ku datang ke perpustakaan adalah untuk melihat Minjoo, tapi hari ini gadis itu tidak ada di sana.  Dan entah kenapa aku menjadi khawatir. Aku melangkah terburu, mataku mengedar mencari-cari kemana kiranya Minjoo berada. Langkah ku terhenti tepat di koridor, wajahku tiba-tiba terasa panas. Sekedar informasi, aku tidak demam hari ini. Apa yang ku alami hari ini adalah karena seorang gadis yang tengah bersembunyi di balik tembok dekat anak tangga. Dalam hati aku merasa lega begitu tahu Minjoo ada di sana, tapi kenapa ia harus bersembunyi? "Chankyung-ah?" Baekhee? "Ya?" "Tolong berikan ini pada Jongsoo ya," katanya sambil memberiku sekotak coklat. Aku mengangguk saja dan menerima coklat tersebut. Selepas Baekhee pergi, kembali ku cari Minjoo yang tiba-tiba saja menghilang entah kemana. Gadis itu tidak ada di sana, ia kembali hilang tanpa bekas. Kemana lagi anak itu?  Langkah ku pelan seiring mata mengedar, berusaha mencari keberadaan Minjoo agar tidak ketahuan.  Tapi nihil. Aku sama sekali tidak bisa menemukan gadis itu di manapun, sebenarnya kemana dia pergi? "Apa yang kau cari?" Hampir saja ku pukul kepala Jongsoo saat anak itu berbisik tepat di arah telinga ku. Ia tergelak, tertawa puas karena berhasil membuatku terkejut. Sialan! "Sialan," umpat ku kesal. "Mencari apa sih?"  "Bukan apa-apa. Ah! Ini, dari Baekhee," ku serahkan kotak coklat yang sebelumnya diberikan Baekhee pada Jongsoo. Pemberitahuan saja, mereka berdua memang dalam masa pendekatan. Dan terkadang aku yang terpaksa menjadi kurir hadiah antara keduanya. Benar-benar! "Jika kau mencari Minjoo, ia ada di taman belakang sekolah. Aku tidak sengaja melihatnya tadi. Wajahnya terlihat sendu, apa kau bersikap sarkas lagi padanya?" Aku kadang bersyukur dengan adanya Jongsoo di hidupku, anak ini kadang bisa berguna juga seperti saat ini. Aku segera berlari tanpa menjawab pertanyaan Jongsoo. Iya, Minjoo pasti terluka, dan itu karena kebodohan ku. Itu kesalahan ku. Langkah ku terhenti di taman belakang sekolah. Dengan napas terengah karena berlari mataku mengedar mencari keberadaan sosok Minjoo, ada rasa lega dalam diri saat ku lihat Minjoo duduk terdiam di bawah pohon rindang. Meski di satu sisi aku merutuk, wajahnya yang biasa bersemu kini terlihat murung. Ia menunduk, memainkan jari-jarinya sendiri. Gadis itu pasti terluka, dan itu karena kelakuan bodohku. Ku coba mendekat, mencoba menarik perhatiannya dengan berdehem beberapa kali. "Chankyung?"   Aku menoleh, berpura-pura terkejut dengan kehadirannya. Minjoo tersenyum meski tipis. Ku dudukan diri di sampingnya, ia tak berkata apapun. Hanya menatapku dalam diam kemudian menghela napas. "Apa yang kau lakukan di sini?" "Bukan apa-apa, hanya sekedar lewat," hahaha alasan yang tidak masuk akal Park Chankyung. Sekadar lewat? Bahkan anak kecil saja akan tahu jika aku tengah berbohong, lokasi taman belakang yang cukup jauh dan jarang dilalui orang bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan alasan masuk akal untuk alasan yang baru saja ku berikan. "Nyaman bukan. Tidak banyak yang tahu soal taman ini, anak-anak lain lebih suka berada di taman depan ataupun lapangan. Padahal menurut ku di sini adalah tempat terbaik di sekolah. Akan menyenangkan saat menghabiskan waktumu di sini." ujarnya. "Tempat terbaik? Kenapa? Menurutku sama saja," Minjoo terkekeh, cantik. "Kau akan tahu nanti. Chankyung-ah, apa boleh aku melihat wajahmu?"  Eh? Ragu, ku anggukan kepala. Aku bergeser, memposisikan diri agar bisa berhadapan dengan Minjoo. Sungguh, aku tidak bisa menahan perasaan ini. Jantung ku rasanya akan meledak saat Minjoo tersenyum.  "Terima kasih," lagi-lagi ia tersenyum. Rasa-rasanya aku ingin meleleh. . . Saat ini . . Tolong berhenti tersenyum seperti tak ada yang terjadi. Kau boleh memaki, memukul atau berteriak jika kau terluka. Itu akan lebih baik untuk ku daripada kau harus berpura-pura dan tersenyum seperti itu. Berhentilah berbohong dan tunjukan perasaan mu yang sebenarnya. "Geurom, annyeong Chankyung-ah."  Salah satu kebodohan yang paling ku sesali seumur hidup. Malam itu, Minjoo pergi dengan raut kecewa yang kentara. Dan itu karena seorang pria bodoh seperti ku. "Apa aku sudah keterlaluan?" ingin rasanya aku menertawai diriku sendiri. Jawaban atas pertanyaan yang ku ajukan sudahlah jelas. Tentu saja, sudah pasti Minjoo akan terluka. Bahkan mungkin jika aku yang berada di posisinya, aku mungkin sudah menyerah sejak lama. "Mianhae," gumam ku lirih.  Tidak pernah ku duga jika Minjoo akan menjauh. Sikapnya jadi berbeda belakangan ini, ia tidak lagi memberikan kotak makan siang buatku. Minjoo lebih memilih menitipkannya pada Jongsoo, dan jujur saja aku tidak suka. "Ini," Jongsoo meletakan kotak makan siang dari Minjoo, aku meliriknya sekilas. Entah kenapa mendadak aku kesal melihat wajah Jongsoo.  Kenapa harus dia yang jauh lebih dekat dengan Minjoo, bukan aku. "Mengaku saja jika kau mulai menyukainya,"  Jongsoo berujar sambil bersedekap dadaa. Dia memang paling mengenal ku. "Jangan sok tahu," sangkal ku. Kembali coba ku fokuskan diri pada buku dalam genggaman, aku malas untuk berbicara dengan Jongsoo.  Bukan tanpa alasan, saat aku melihat wajah anak itu aku kembali teringat jika ia dekat dengan Minjoo, dan aku tidak menyukai itu. Jongsoo berdecak, ia merebut buku milik ku lalu membuangnya sembarangan. Tepat saat aku akan berteriak, ucapan Jongsoo berhasil membuat ku diam seketika. "Kau kesal Minjoo menitipkan kotak bekal makan siang padaku? kau juga merasa kosong saat Minjoo menjauh bukan, mengakulah," aku mendengkus. Menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. "Ya! Lalu aku harus bagaimana? Aku sudah terlalu banyak menyakitinya," kataku kesal. Sungguh, aku tidak bisa berpikir sekarang, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. "Kejar dia bodoh, memang apalagi? Sebentar lagi ujian akan berlangsung, kau tidak punya banyak waktu Chankyung." Kata-kata Jongsoo terus berputar dalam ingatan ku. Ya, memang semenjak Minjoo menjauh, aku merasa sedikit lega. Aku tidak perlu khawatir dengan detak jantung ku yang akan menggila saat berdekatan dengannya ataupun wajah ku yang akan jelas terlihat memerah karena malu. Tapi di sisi lain aku merasa kosong. Semua yang ku lakukan terasa salah, serba salah. Dan aku bingung apa yang harus ku lakukan sekarang. Aku takut kembali melukai perasaanya seperti sebelumnya. "Haishh" ini tidak benar, aku tidak bisa membiarkan ini terjadi lebih lama. Rasanya aku bisa gila. Semua bayang-bayang Minjoo, bagaimana ia tersenyum, berceloteh, bergumam hingga kemarin. Saat ia pergi dengan kepala menunduk dalam, raut sendu juga senyum tipis gadia itu, semua terputar jelas dalam kepala. Dan hal itu embuat ku pening seketika. Ini benar-benar tidak baik untuk keadaan ku Belum lagi rumor yang beredar panas pagi tadi. Soal Minjoo juga Hunjae yang katanya berkencan. Hal itu juga yang jadi salah satu faktor mood ku yang kian terasa kacau. Sebenarnya tidak mengheran kan jika mereka benar-benar berkencan atau terlibat dalam suatu hubungan. Mereka memang benar-benar dekat dan saling memperhatikan satu sama lain.  Aku juga pernah mendapati Hunjae menatap Minjoo dengan tatapan sendu saat gadis itu tengah memberikan hadiah ulang tahun untukku beberapa waktu lalu. Dan hanya dengan melihat hal itu aku sudah bisa menyimpulkan jika Hunjae menyukai Minjoo. Mungkin saja gadis itu juga menyukai Hunjae, ia jauh lebih baik memperlakukan Minjoo daripada aku. Aku harus menyelesaikan ini semua, aku harus menyelesaikannya dengan segera. Dengan cara apapun aku tidak bisa membiarkan ini terus berlarut, hari ini. Aku akan menyatakan perasaan ku. Dan semoga saja masih ada kesempatan buat ku.  Tolong, izinkan aku untuk menyampaikan perasaan ku kali ini saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD