Delapan

2009 Words
"Mau ku antar?" tawar Chankyung cepat. Minjoo sempat melirik Chankyung sekilas, Pria itu tersenyum lebar saat menawarinya tumpangan. "Tidak terima kasih. Aku akan naik taksi," jawabnya singkat.  Minjoo bangkit, ia berjalan meninggalkan Chankyung yang rupanya menggekor di belakang.  Minjoo menghentikan langkah sambil menghentak, ia menatap marah ke arah Chankyung yang juga turut menghentikan langkahnya. "Jangan ikuti aku! Pulang sana," usirnya ketus. Namun bukannya pergi Chankyung justru tersenyum lebar, Minjoo baru saja berujar dengan nada kesal seperti dulu. Persis seperti saat SMA. Maksud ku agak bersahabat ketimbang beberapa saat lalu. Alis Minjoo tertaut. Kebingungan karena Chankyung malah berkespresi senang saat ia usir. "Apa ada yang salah dengan otaknya?" begitu pikir Minjoo. "Daripada kau membuang-buang uang untuk membayar taksi, lebih baik ikut saja denganku. Gratis," dan tanpa menunggu jawaban dari Minjoo. Chankyung sudah lebih dulu mengamit lengan si gadis dan membawanya ke arah mobil merah miliknya yang terparkir apik tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini Minjoo sendiri tidak bisa menolak atau memberontak. Tenaganya tidak sepadan dengan pria yang kini tengah menggandengnya dengan erat. Ia hanya bisa pasrah dengan dumalan sebal yang bisa ia lontarkan dalam hati. Mereka sampai di tempat dimana mobil Chankyung diparkir, masih dengan senyum merekah yang tersemat di wajahnya Chankyung dengan senang hati membuka-kan pintu penumpang untuk Minjoo lalu mempersilahkan gadis itu untuk masuk ke dalam. Keduanya sudah duduk nyaman dalam mobil, sebenarnya tidak juga. Minjoo sebenarnya tengah menahan rasa kesal. Ia sudah membulatkan tekad untuk bisa menjauhi Chankyung, ia juga sudah berusaha keras untuk itu, tapi jika begini jadinya ia justru meragu. Bukannya apa, Chankyung belum bertindak terlalu jauh untuk mengembalikan kepercayaanya soal Pria itu, tapi perasaan Minjoo sudah mulai goyah sedikit demi sedikit. Ia hanya khawatir dirinya akan jatuh lagi dan dikecewakan lagi dengan cepat. Minjoo belum dan tidak akan pernah siap untuk kecewa lagi. "Kau tahu, aku senang bisa dekat dengamu lagi," suara Chankyung terdengar lebih dulu. Senyum pria itu masih belum mau luntur juga, apa ia sebahagia itu? "Kita tidak dekat," Minjoo menyahut malas. Pandangannya masih saja ia alihkan ke arah jalanan. Dari pantulan kaca Minjoo bisa melihat samar-samar Chankyung yang mengangguki ucapannya barusan. Tanpa sengaja tatapan keduanya bertemu saat Chankyung melirik sekilas ke arah Minjoo, meski keduanya hanya bertemu pandang lewat pantulan kaca tapi hal itu nyatanya bisa membuat Minjoo salah tingkah dan lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah depan. Chankyung yang melihat hal itu hanya tersenyum simpul, ia tahu gadis di sampingnya ini tidak benar-benar membencinya. "Ya, mungkin belum. Tapi aku senang, apalagi saat kau mau jadi temanku. Rasanya seperti punya harapan baru," Chankyung terdiam beberapa saat. Pria bermarga Park itu meremat stir mobilnya kemudian mengulas senyum tipis sebelum menyambung cerita. "Jika dipikir, aku ini bodoh ya," ucapnya lagi "Memang," lagi-lagi Minjoo merespon ketus. Chankyung tersenyum tipis menanggapi hal itu, mencoba maklum meski sebenarnya ia ingin Minjoo bisa merespon dengan sedikit lebih baik. "Harusnya aku dulu memperlakukanmu dengan baik. Menerima kotak makan siang juga susuu rasa pisang darimu dengan baik, memghargai apa yang kau buat untukku ataupun membalas sapaanmu meski hanya sesekali. Tapi aku tidak melakukannya. Kau tahu kenapa?" Tidak ada sahutan, Minjoo masih diam dengan posisinya yang sama. Matanya masih fokus menatap rintik salju meski telinganya awas mendengar tiap perkataan Chankyung. Ia penasaran ingin bertanya, tapi gengsi kini terlanjur menguasainya. "Apa kau percaya jika aku sebenarnya juga menyukai mu sejak dulu?" ujar Chankyung yang lebih terdengar seperti pengakuan. Minjoo mendengkus. Ia berbalik menghadap si Pria dan menatap tepat ke arah Chankyung yang masih fokus mengemudi. "Bukankah sudah ku katakan, berhenti membahas soal masa lalu Park Chankyung! Lagipula kau tidak menyukaiku, kau itu membenciku omong-omong. Kau bahkan menamaiku Gadis Aneh saat itu," seru Minjoo kesal. Pria di sampingnya ini tidak bisa ya tidak membahas masa lalu? Apa ia tidak mengerti jika Minjoo ingin sekali move on. Pikirnya kesal. Chankyung terkekeh. Satu tangannya ia gunakan untuk mengusak surai Minjoo, sedang yang lainnya memegang stir mobil. Mencoba menyeimbangkan keduanya. Senyum Chankyung kian lebar saat Minjoo tidak memprotes atas apa yang baru saja ia lakukan, ia merasa jika itu adalah pertanda baik. "Aku senang kau masih mengingat hal itu. Tapi mau mendengar satu cerita? Aku berjanji ini yang terakhir. Jika ini masih tidak membuatmu percaya, aku akan menjauh dan aku berjanji tidak akan menganggumu lagi," ucap Chankyung mantab.  Minjoo menimang. Jika harus jujur, ada rasa tidam suka dalam diri Minjoo saat Chankyung berkata akan menjauh. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa berpikir seperti itu. Minjoo sendiri tidak inginmunafik jika ada bagian dalam dirinya yang merasa senang saat pria itu kembali, tapi sekali lagi perasaan takut atas kejadian di masa lalu akan kembali terulang lebih mendominasi. Tiap kali bayangan masa lalu itu muncul, maka ketakutannya kian bertambah besar. "Baiklah, ini yang terakhir," putus Minjoo final. Dengan cekatan Chankyung menepikan mobil, ia melepas sabuk pengaman miliknya juga milik Minjoo. Ingin rasanya Minjoo  mengumpat saat Chankyung mendekat dan tersenyum ke arahnya, belum lagi jarak keduanya yang bisa dibilang amat dekat. Oh! Maksud ku terlalu dekat. "Ceritaku akan memakan waktu dan perlu posisi nyaman untuk itu," demi boneka Penguin di rumahnya! Suara Chankyung kali ini terdengar lebih lembut daripada permen kapas kesukaan Minjoo. Minjoo setengah mati menahan untuk tidak tersenyum mendengar perkataan Chankyung, meski rona merah pada pipi bulatnya menghianati apa yang ia inginkan. . . Flashback . . November 2014 Chankyung P.O.V "Pergilah! Jangan ikuti aku!" lagi-lagi mulut ku mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan hatiku. Dia, Minjoo. Gadis Aneh yang selalu mengejar ku hampir dua tahun ini. Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu senang mengekor juga menguntitku kapanpun dan di manapun. Yang jelas di mana ada aku di sana pasti ada Minjoo, aku sampai risih dibuatnya. Pada awalnya hal itu memang terasa menggangu, dan menjengkelkan tentu saja. Tapi makin lama aku mulai terbiasa. Aku mulai nyaman dengan kehadirannya yang selalu tidak terduga. Gadis dengan poni tirai itu akan berteriak nyaring sampai membuat ku malu hanya untuk sekadar memanggil nama ku yang ada di perpusatakaan lantai dua. Sebenarnya, keberadaan ku di sini hanya karena satu hal. Yaitu Do Minjoo. Ya, Gadis Aneh itu. Tiap tiga kali seminggu ia akan bediri di bangku penonton lapangan sekolah. Ia ada di sana untuk menonton dan mendukung sang sahabat bermain sepak bola. Ia akan duduk di sana sembari tersenyum lebar lalu meneriaki ku yang memang sengaja mengambil tempat duduk di sebelah jendela yang menghadap langsung ke arah lapangan. Karena hanya dari sini aku bisa mengamatinya tanpa khawatir akan ketahuan. Aku selalu tersenyum tiap kali ia berteriak atau bertingkah heboh karena sahabatnya mencetak skor. Ia terlihat memggemaskan dengan mata bulat juga pipi tembamnya yang bersemu. Jangan lupakan bibir bentuk hati itu, apakah itu akan terasa manis layaknya s**u pisang yang selalu ia berikan untukku? Astaga! Apa yang sebenarnya ku pikirkan? Seperti kebiasaanya di hari-hari sebelumnya, lagi-lagi Minjoo memberi ku makanan. Kali ini bukan snack ataupun s**u pisang, melainkan kotak makan siang.  Ia selalu membuatkan satu kotak makan siang khusus untuk ku. Ia terlalu perhatian, juga gigih di saat bersamaan. Aku salut padanya. "Yo, kau dapat makanan lagi?" sahabat ku, mungkin satu-satunya. Kim Jongsoo, dia datang lagi. Aku mendengkus, baru saja akan ku buka kotak bekal makan siang dari Minjoo, namun kembali urung ku lakukan.  Aku malu mengakui jika aku ingin makan bekal yang dibuat Minjoo mengingat aku yang selalu berkata jika aku tidak menyukai gadis itu. "Makanlah, aku tidak butuh," sialan! Mulutku ini benar-benar! Dengan terpaksa aku menyerahkan kotak bekal makan siang dari Minjoo kepada Jongsoo, sialan! Kenap mulutku ini selalu mengatakan hal-hal yang berkebalikan dengan hatiku sih?! Jongsoo menerima kotak bekal itu dengan senyum sumringah, sial! Kenapa ia harus selalu muncul tiap kali aku mendapat sesuatu dari Minjoo. Jongsoo mulai membuka kotak bekal itu, di sana terdapat telur gulung, kimbab juga beberapa tumis sosis. Baunya harum dan membuat perutku lapar seketika, aku benar-benar ingin mencobanya. "Hei, jangan seperti itu. Sesekali cobalah hargai kerja kerasnya, sekedar tersenyum saat menerima pemberiannya kurasa tidak buruk. Kau tahu, kau itu terlalu dingin," ujar Jongsoo sambil mengunyah makanan. Membuatku makin kesal saja. Aku terdiam mendengar ucapan Jongsoo. Aku tahu soal itu, tapi aku tak bisa mengendalikan diriku. Tiap berhadapan dengan Minjoo, otakku serasa mati kutu. Aku tidak dapat memikirkan apapun dan berakhir dengan mengatakan apa yang sebenarnya tidak ingin ku katakan.  Jika boleh jujur, tentu aku ingin bisa bersikap lembut padanya, menunjukan perasaan yang sesungguhnya dan mengakui  jika aku juga menyukainya. Tapi sekali lagi aku tidak bisa. Rasa gengsi juga harga diriku terlalu tinnggi, aku tidak bisa mengatakan isi hatiku dengan leluasa sepertinya.  Aku terlalu malu, atau terlalu egois? Entahlah, mungkin keduanya. Aku tidak bisa berkata manis meski itu sekedar ucapan terima kasih. Justru yang kulakukan adalah sebaliknya. Kata-k********r, juga sentakan selalu aku lontarkan padanya. Aku tahu aku bodoh, tapi sekali lagi ku tegaskan, aku bukanlah orang yang bisa mengekspresikan perasaan dengan mudah. Aku merasa tidak bisa membalas segala perbuatannya selama ini, belum lagi dengan semua kesabaran juga kegigihannya saat menghadapi sikap menyebalkan ku. Aku merasa tidak pantas dengan diriku sendiri yang justru selalu membuatnya terluka meskia mencoba menutupi hal itu. Ku lepas kacamata begitu pening mulai terasa. Rasanya begitu sulit, meski sebenarnya mudah. Jongsoo terlihat lahap memakan masakan Minjoo, apa masakannya seenak itu? Haishh, semakin lama kepalaku jadi makin pusing. Aku ingin bersikap lembut pada Minjoo tentu saja, tapi entah kenapa terasa begitu sulit. Sepertinya aku butuh udara segar. "Jika aku menerima tiap pemberiannya sambil tersenyum, itu akan membuatnya besar kepala dan mengira aku memberinya harapan. Hal itu jauh lebih menyakitkan mengingat aku benar-benar tak menyukainya." Dasar bodoh! Lagi-lagi aku mengatakan hal berlawanan dengan hatiku. Benar-benar tak menyukainya? Cih, yang benar adalah aku benar-benar menyukainya. Jongsoo menoleh padaku dengan mulut penuh, ia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku mengerti maksudnya. "Benar-benar tidak menyukainya? Kau bodoh ya? Jika aku jadi kau sudah ku terima sejak lama cinta Minjoo," astaga! Mengobrol dengan Jongsoo membuatku makin kesal saja, dia tidak tahu posisiku! Ku putuskan untuk kembali ke kelas saja, moodku sudah terlanjur buruk.  Saat aku sampai di pintu kelas aku sudah melihatnya lagi. Dia, Do Minjoo. Dia di sana, duduk dengan senyum yang mengembang lebar. Aku kurang paham bagaimana bisa ia menjadi akrab dengan teman sekelas ku dan berada di sini setiap jam istirahat tiba.  Meski ia berbeda kelas denganku tapi ia selalu datang kemari setiap jam istirahat, bukan hanya untuk menemui ku tapi ia benar-benar mencoba mengakrabkan diri dengan semua siswa di kelas ku. "Annyeong Chankyung-ah, bekalnya sudah dimakan?"  Lag-lagi ia bertanya riang, membuat seluruh warga kelas menjadi ricuh karena pertanyaanya.  Aku yang terlanjur malu mencoba acuh tidak menanggapi. Jujur saja dalam hati aku gugup setengah mati. Senyuman itu, senyuman cantik yang selalu membuatku tidak dapat tidur nyenyak tiap kali terbayang. Senyum cerah yang entah sejak kapan mulai menjadi candu tersendiri untukku melihatnya. Mencoba acuh aku lebih memilih untuk segera duduk pada tempatku, mengambil buku ensiklopedia dan mencoba fokus. Ku sumpal telinga dengan headset yang selalu ku bawa, jaga-jaga jika Minjoo tengah berceloteh di dekat ku. Bukan! Bukannya aku tidak menyukai celotehannya, hanya saja aku akan selalu terbayang dengan apa yang ia lakukan dan itu akan membuat ku sulit berkonsentrasi dengan pelajaran. Belum lagi sorakan warga kelas, membuatku makin dan makin salah tingkah. Puk! Satu kotak s**u rasa pisang. Aku sudah tahu siapa pelakunya. Itu adalah gadis manis yang kini tengah berlari keluar kelas karena bunyi bel pelajaran. Ia tersenyum tulus sembari berbalik untuk melihat ke arah ku.  Bisa ku lihat Minjoo menggumamkan kata yang selalu ia berikan untukku. Kata-kata sederhana yang bisa membuat hatiku menghangat meski aku menyembunyikannya. Bukan sesuatu yang berlebihan, ungkapan cinta atau sebagainya. Minjoo hanya akan mengumamkan kata semangat sembari mengepalkan tangan ke atas dengan senyum cerahnya, tapi hal itu sanggup membuat sesuatu dalam dadaku berdesir halus. Sungguh, aku serasa gila menyimpan perasan ini seorang diri. Jika boleh jujur aku ingin sekali bisa mengungkapkan semua perasaan ku padanya, mengatakan dengan sejujur-jujurnya soal apa yang sebenarnya aku rasakan. Tapi mengatakan hal yang ada dalam pikiran ternyata tidak semudah apa yang ku bayangkan. Aku hanya akan terdiam atau melakulan hal-hal yang tidak seharunya ku lakukan tiap kali berdekatan dengan dirinya. Dan itu benar-benar membuat ku gila. Kapan aku bisa mengakui perasaan ku sendiri dan berhenti melakukan sesuatu yang justru membuatnya terluka. Kapan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD