Dua belas

1589 Words
Pagi hari saat Minjoo bersiap akan kembali bekerja di caffe, saat itu ia baru saja akan sarapan dengan roti panggang yang baru selesai ia buat. Tidak lama kemudian terdengar suara bel dari arah pintu depan. Dengan segera Minjoo meninggalkan roti panggangnya dan membuka pintu, di sana sudah ada Hunjae yang tersenyum manis sembari menyodorkan sebucket bunga lili. "Terima kasih," ujar Minjoo senang.  Gadis itu menyingkir dari ambang pintu dan mempersilahkan Hunjae untuk masuk, memang sudah jadi kebiasaan bagi Hunjae untuk datang ke apartemen Minjoo setiap pagi guna mengantar gadis itu ke caffe miliknya. Minjoo sendiri sudah beberapa kali mengatakan jika Hunjae tidak perlu menjemputnya setiap pagi karena arah cafe dan kantor Pria itu yang memang tidak sejalan, tapi tiap kali Minjoo mengatakan hal itu Hunjae tidak akan mendengarkan gadis itu. Ia akan datang lagi setiap paginya sembari membawa bunga seminggu sekali. Dan itu terus terjadi seperti satu kebiasaan. "Mau roti?" tawar Minjoo yang kini kembali mengoles butter pada rotinya. Hunjae menggeleng kecil, ia duduk tepat di hadapan Minjoo menyangga wajahnya dengan satu tangan. Sadar jika si Pria tengah memperhatikannya membuat Minjoo yang sebelumnya tengah asyik menyantap roti menoleh, ia memberi kode seolah bertanya kenapa Pria itu menatapnya seperti itu. "Kopi," Hunjae mengatakan hal itu tanpa suara, dan membuat Minjoo tergelak di tempat. Belum lagi Pria itu membuat ekspresi lucu dengan satu alis yang terangkat dibarengi ekspresi konyol miliknya. "Arraseo." Keduanya sempat tertawa sesaat sebelum kemudian Minjoo beranjak ke arah dapur guna membuatkan satu kopi sesuai permintaan Hunjae.  Sembari menunggu Minjoo,  Hunjae melangkah kan kakinya berkeliling. Ia memang sudah hapal tempat ini karena seringnya ia datang,  dan tujuannya kali ini adalah satu rak penuh buku novel juga komik koleksi Minjoo.   Gadis itu memang amat menyukai Komik juga Novel bergenre komedi ataupun komedi romantis.  Hunjae meneliti tiap judul buku yang ada di sana, ia bahkan tahu Novel mana yang jadi favorit Minjoo.  Saat Hunjae tengah sibuk melihat-lihat koleksi Novel dari arah pintu utama terdengar bunyi bel,  segera Hunjae beranjak untuk membuka pintu.  Sempat terjadi situasi canggung selama beberapa detik begitu Hunjae membuka pintu.  Pria itu terdiam begitu mendapati Chankyung ada di depan pintu dengan senyum merekah lebar,  Pria itu terkejut tentu saja.  Setali tiga uang dengan Hunjae,  Chankyung juga sama terkejutnya. Ia bahkan membulatkan mata dengan ekspresi terkejut yang tidak bisa ia tutupi, Pria itu tidak tahu jika Hunjae bisa ada di unit apartemen Minjoo sepagi ini.  "Hunjae-ya,  mwohae?" suara Minjoo terdengar nyaring dari arah ruang tamu. Tidak lama kemudian gadis itu datang dan sama terkejutnya seperti dua Pria sebelumnya.  Ia menghampiri keduanya dengan ekspresi canggung,  dan sungguh suasana di sana sangat canggung sampai Minjoo sendiri bingung harus melakukan apa.  "Hai," Chankyung menyapa dengan canggung. Minjoo hanya meringis kecil sebagai respotemp sempat melirik ke arah Hunjae sebentar. Pria itu masih diam dengan ekspresi datar, mungkin sadar jika Minjoo memperhatikannya Hunjae balas menengok ke arah gadis itu. Kali ini ia tersenyum sampai matanya membentuk satu garis layaknya bulan sabit seolah mengatakan jika dirinya tidak apa-apa.  Pada akhirnya Minjoo mempersilakan Chankyung untuk masuk ke dalam, ia kembali ke dapur untuk membuat minuman lainnya.   Sedikit dalam hati Minjoo merutuk,  kenapa Chankyung harus datang dan darimana Pria itu tahu nomor unit apartemennya.  Minjoo kembali denga satu cangkir kopi yang ia hadapkan ke arah Chankyung yang duduk berhadapan dengan Hunjae, jika tidak salah lihat saat dalam perjalanan ke ruang tamu tadi ia melihat dua Pria itu tengah berbincang, tapi kenapa saat ia sampai mereka berdua langsung terdiam dengan ekspresi terkejut.  Apa yang mereka bicarakan, batin Minjoo bertanya. "Chankyung-ssi, bagaimana kau tahu alamat unit apartemen ku?" mulai Minjoo bertanya.  Pria yang ditanya hanya tersenyum kecil, ia menggaruk kepalanya sendiri yang Minjoo tebak ia tidak merasa gatal.  "Kemarin, aku mengikutimu sampai kau masuk ke dalam unit apartemen mu," cicitnya.  Minjoo maupun Hunjae sama-sama terkejut dengan pengakuan tidak terduga Hunjae. Terlebih Minjoo, gadis itu terlihat shock setelah mendengar itu semua.  Menyadari raut dua orang di hadapannya Chankyung buru-buru meralat ucapannya barusan, ia menjelaskan soal apa yang sebenarnya ia lakukan.  "Aku benar-benar tidak bermaksud menguntit, tapi aku hanya . Ingin memastikan jika Minjoo sampai dengan selamat, hanya itu. Sungguh," terangnya kemudian. Meski masih terlihat agak kurang yakin dengan penjelasan Chankyung,  Minjoo juga Hunjae mengiyakan saja apa yang Pria itu katakan. Keduanya tidak ingin memperpanjang hal itu.  "Jadi apa tujuanmu?" itu bukan Minjoo yang bertanya, melainkan Hunjae. Pria itu bertanya dengan nada serius dan ekspresinya juga tidak jauh berbeda.  Minjoo sendiri terkejut saat tahu Hunjae bisa menunjukan ekspresinya secara terang-terangan.  "Aku ingin menjemput Minjoo, dia pasti akan ke cafe hari ini," sahutnya jujur.  Hunjae mengangguk, ia berbalik menatap Minjoo yang duduk di sebelahnya dan tersenyum ke arah gadis itu.  "Aku berangkat dulu ya,  sudah ada yang menjemputmu." Minjoo sendiri bingung harus bagaimana, ia ingin menahan Hunjae tapi di sisi lain ia tidak enak pada Chankyung. Pria itu pasti akan tersinggung jika ia melakukan hal itu, terkesan seperti tidak menghargai usahanya datang ke sana pagi-pagi sekali.  "Kalian akan berangkat bersama?" Menyadari jika dirinya terlambat datang, Chankyung merasa tidak enak hati. Ia merasa Hunjae mengatakan demikian karena kedatangannya di sana.  "Tidak, aku hanya berkunjung. Lagipula arah kantorku dan cafenya berlawanan arah," sahut Hunjae santai.  Berbeda dengan Hunjae, Minjoo justru memasa memasang wajah kesal mendengar jawaban Pria itu. Ia bahkan la langsung pergi dari sana masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu kencang. Minjoo keluar dari kamar tidak lama kemudian, meski masih dengan wajah masam gadis itu sudah berganti pakaian dan siap untuk berangkat ke cafe.  Ia sempat melongok ke sana-ke mari saat tidak mendapati Hunjae ada di sana, melainkan hanya ada Chankyung yang baru saja kembali dari menelepon seseorang. "Di mana Hunjae?" tanya Minjoo tanpa basa-basi.  Chankyung tersenyum kecil mendengar hal itu, ia sadar meski hubungan keduanya telah membaik tapi gadis bermarga Do itu masih belum bisa menerima dirinya sepenuhnya.  Sekalipun dengan status sebagai teman.  "Dia bilang ada urusan, jadi dia pergi dulu," jawab Chankyung seadanya.  Terlihat jelas ekspresi Minjoo yang kesal bukan main, gadis itu tampak menggerutu sendiri membuat Chankyung merasa tidak enak hati.  Ia berpikir harusnya ia saja yang pergi tadi, harusnya ia menahan Hunjae agar tetap di sana dan mengantar Minjoo seperti apa yang mungkin saja mereka sering lakukan.   Dan harusnya ia bisa lebih bersabar.  Mungkin butuh waktu lebih bagi Minjoo untuk bisa menerima dirinya sepenuhnya. Sementara di tempat lain, lebih tepatnya kantor tempat Hunjae bekerja.  Pria itu hanya diam memandang ke arah depan, ia menghembuskan napas perlahan kemudian mencoba menyibukan diri dengan pekerjaan.  "Sunbae," suara dari meja bekalang Hunjae. Pria itu menoleh dan mendapati seorang gadis dengan kemeja kerja berwarna merah muda juga rambut lurus sebahu tersenyum ke arahnya.  Jika Hunjae tidak salah ingat, dia adalah salah satu anak magang yang baru datang kemarin dan ditugaskan di divisinya. Dan Hunjae jugalah yang ditunjuk sebagai leader sekaligus pembimbing bagi beberapa di antara mereka.  "Ada apa?" Gadis itu tampak ragu, ia melirik ke kanan dan kiri beberapa kali sebelum mendekat ke arah Hunjae.  "Apa Sunbae bisa membantuku?" ia bertanya lagi.  "Selama aku bisa, akan ku coba." Tanpa aba-aba gadis itu mendekat lebih dekat, ia membisikan sesuatu di telinga Hunjae yang berhasil membuat pria itu melotot kaget. "Kenapa harus aku?" Hunjae bertanya heran. Gadis itu mengulum bibir bawahnya dan menunduk. "Hanya Hunjae Sunbae yang bersikap ramah padaku, dan aku hanya berani meminta tolong pada Sunbae saja. Senior yang lain, agak sedikit galak," ia berucap dengan berbisik pada akhir kalimat.  Hunjae terkekeh kecil, ia berpikir sejenak kemudian mengangguk mengiyakan.  "Jadi, dimana kalian akan bertemu?" "Di cafe tidak jauh dari sini, kita akan bertemu saat jam pulang kerja," jelasnya sumringah. Hunjae mengangguk saja sebagai respon.  "Baiklah, sana kembali bekerja." "Siap! Terimakasih Sunbae," gadis itu membungkuk kecil kemudian kembali ke mejanya. Di tempat lain Minjoo masih terus berusaha menghubungi ponsel Hunjae, gadis itu menggerutu saat ponsel Pria itu tidak kunjung bisa dihubungi.  Jihoon yang melihat Minjoo  terus menggerutu sejak tadi hanya bisa menggelengkan kepala, ia tidak ingin ikut campur untuk yang satu ini.  Waktu berlalu menjelang sore. Keadaan cafe masih ramai dengan beberapa pasang pengunjung yang datang silih berganti, Minjoo terlihat menyunggingkan senyum lebar seperti ia yang biasanya.  Tapi hal itu tidak bertahan lama saat tidak lama kemudian senyum cerah yang sejak tadi bertengger di wajahnya luntur seketika.  Mengikuti ke mana arah pandangan Minjoo, Jihoon jadi tertegun. Dua orang pasangan baru saja memasuki cafe dengan posisi si gadis melingkarkan tangannya pada lengan si pria.  Juga senyum cerah keduanya yang tampak serasi dengan mantel berwarna serupa. Keduanya terlihat seperti pasangan kekasih.  Jika mereka adalah pasangan seperti tamu yang lainnya hal itu tidak akan mengundang raut masam pada wajah Minjoo hal itu terjadi karena salah satu dari mereka adalah orang yang sangat gadis itu kenali.  Ia adalah Hunjae. Pria itu datang dengan seorang gadis cantik yang tengah menggandeng lengan Pria itu dengan mesra, juga senyum cerahnya yang sering ia berikan pada Minjoo kini justru juga ia berikan untuk gadis itu.  Masih mengikuti ke mana dua orang itu berjalan, Minjoo meremat kuat appron yang melingkar di pinggangnya.  Gadis itu mendesis saat Hunjae menarik satu kursi agar bisa di duduki oleh si gadis.  Tidak lama setelahnya si gadis melambai, memberi kode agar salah satu pelayan datang karena mereka ingin memesan.  Jihoon saat itu akan menghampiri mereka dengan buku menu dalam tangan, tapi langkah laki-laki itu tertahan oleh Minjoo yang lebih dulu merebut buku menu tersebut dari tangannya.  "Biar aku yang melayani mereka," ujarnya dengan nada dingin.  Gadis itu berjalan cepat ke arah mereka tanpa melihat kanan dan kiri.  Sementara Jihoon yang melihat hal itu hanya bisa menggeleng dan tertawa kecil, kadang ia tidak bisa mengerti dengan pemikiran Do Minjoo.  . . Mwohae : sedang apa/ngapain (informal) Sunbae : Senior
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD