Tiga belas

1576 Words
Minjoo berjalan pelan ke arah dua orang yang masih asyik mengobrol, sampai kemudian gadis itu tiba di sana. Ia berdiri tepat di sebelah meja tempat keduanya duduk lantas mengulurkan buku menu. "Kami pesan dua ice americano dan dua kue coklat," ucap si gadis dengan senyum cerah. Minjoo sempat melirik ke arah Hunjae yang tengah melihatnya sembari memberikan smirk meledek. "Anda sendiri ingin pesan apa?" Minjoo sengaja bertanya hal demikian pada Hunjae, ia ingin memberitahu Pria itu jika dirinya tengah kesal.  Minjoo pikir Hunjae akan peka pada kode ekspresi yang ia berikan seperti biasanya, tapi reaksi yang ia dapat benar-benar tidak terduga. Pria itu malah tersenyum manis, satu tangannya ia gunakan untuk menggenggam jemari gadis yang datang bersamanya tadi. "Bukankah tadi gadisku sudah mengatakannya?" Sungguh! Melihat ekspresi juga wajah tersenyum Hunjae hari ini sama sekali tidak membuat Minjoo juga ingin tersenyum. Berkebalikan dari itu ia justru ingin memukul wajah Pria itu yang kini tersenyum lebar dengan wajah menyebalkan. Tanpa mengatakan apapun Minjoo kembali ke arah dapur, ia memberikan pesanan dua orang sebelumnya dengan wajah tertekuk. Minjoo memilih duduk di sudut ruangan dengan mulutnya yang terus mendumal kesal, gadis itu terlihat benar-benar kesal dengan Pria bernama Oh Hunjae. Kurang dari sepuluh menit pesanan telah siap, Jihoon mendekati Minjoo bertanya apa gadis itu ingin mengantarkan pesanan mereka sendiri seperti apa yang ia lakukan beberapa saat yang lalu. "Noona, pesanan mereka sudah siap. Noona yang akan mengantar atau bagaimana?" "Kenapa harus aku?!"  Jawaban tidak terduga keluar dari mulut Minjoo, masih mempertahankan ekspresi kesalnya ia kembali berucap. "Kau antarkan saja sana, aku tidak mau melihat wajahnya lagi," ketus. Minjoo mengatakan hal itu dengan ketus sambil bersedekap dadaa. Jihoon hanya bisa diam dan mengantarkan pesanan seperti yang diperintahkan. Ia tidak akan bisa membantah Minjoo saat gadis itu tengah dalam dua keadaan. Yang pertama saat ia kesal seperti sekarang, Minjoo yang sebelumnya lembut seperti permen kapas akan berubah beringas dan buas layaknya singa hutan. Yang kedua adalah, mungkin hal ini terjadi hampir pada setiap wanita. Saat masa periode gadis itu datang, ia akan jadi sama persis seperti saat Minjoo tengah merasa kesal, hanya bedanya ia jadi lebih sensitif dan hanya Hunjae yang bisa menjinakan gadis itu. Tapi saat ini justru yang membuat Minjoo kesal adalah Hunjae sendiri, dan karena hal itu juga Jihoon hanya bisa diam menurut. Ia masih belum ingin mendapat amukan dari Minjoo, batinnya. Jihoon melangkah pelan ke arah meja Hunjae, tidak ada gadis yang bersamanya di sana. Hanya ada tas juga Hunjae yang tengah sibuk dengan ponselnya sendiri. "Hyung," Jihoon bersiap mengadu pada Hunjae, ia akan bertanya kenapa pria itu bisa bersama gadis lain dan membuat Minjoo mengamuk. "Minjoo mengamuk?" tebak Hunjae tepat sasaran.  "Tidak, maksudku belum. Noona baru mendumal sejak sekitar dua puluh menit yang lalu, lebih tepatnya saat ia melihat Hyung datang bersama gadis lain. Apa dia kekasihmu Hyung?"  Hunjae tertawa kecil melihat raut penasaran Jihoon, pria itu menggeleng lantas menunjuk satu arah dengan dagunya. Jihoon berbalik, mengikuti ke mana arah dagu Hunjae menunjuk dan ia mendapati gadis yang tadi bersamanya melangkah pelan ke arah mereka dan tersenyum canggung. Begitu si gadis tiba dan duduk di hadapan Hunjae, Jihoon bisa melihat dengan jelas jika si gadis sama cantiknya dengan Minjoo. Ia jadi berpikir jangan-jangan benar gadis ini adalah kekasih Hunjae. "Yura-ya, perkenalkan dia Jihoon. Salah satu karyawan di sini," ujar Hunjae memperkenalkan. Gadis dengan lesung pipi bernama Yura itu tersenyum ramah, ia mengulurkan tanganya ke arah Jihoon yang juga disambut baik oleh lelaki itu. "Lee Yura." "Jihoon." Meneliti dari atas ke bawah dan mengulanginya lagi. Jihoon mengamati Yura sedemikian rupa sampai membuat si gadis agak risih karenanya. "Jihoon-ah sudahlah, dia bukan kekasihku," kata Hunjae seolah tahu apa yang jadi isi pertanyan di kepala Jihoon. "Dia hanya meminta tolong padaku untuk berpura-pura menjadi kekasihnya karena dia yang selalu dikejar-kejar oleh mantannya." Penjelasan Hunjae membuat Jihoon terkejut, ia menengok ke arah Yura dan gadis itu mengangguk seperti menyetujui dan membenarkan apa yang baru saja Hunjae katakan. "Hunjae Sunbae adalah senior di tempatku bekerja, oleh karena itu aku meminta tolong padanya untuk berpura-pura," tambah Yura. Jihoon mengangguk mengerti, ia percaya pada penjelasan Hunjae dan Yura. Tapi masih ada satu hal yang masih membuat lelaki itu gelisah. "Kau harus menjelaskan hal itu juga pada Minjoo Noona. Kau tahu, Hyung. Noona benar-benar kesal, ia terus mendumal sejak tadi," gerutu Jihoon yang justru dibalas kekehan kecil oleh Hunjae. "Iya, akan ku jelaskan. Kembali bekerja sana sebelum kau jadi sasaran empuk Minjoo nanti." Baru saja Jihoon berbalik, suara Hunjae lebih dulu menahannya. "Jangan katakan soal tadi pada Minjoo-ya," pintanya yang langsung diangguki Jihoon. Ia memang tidak berniat untuk hal itu. Sekitar beberapa menit setelahnya Minjoo keluar dari dapur untuk mencatat pesanan pelanggan lain, Hunjae yang masih ada di sana melirik si gadis dengan ekor mata. ia terkekeh geli saat mendapati raut masam yang begitu ketara di wajahnya. Yura yang mengetahui hal itu hanya ikut tersenyum kecil. Saat Minjoo berjalan melewati meja Hunjae gadis itu membuang muka, berpura-pura tidak melihat pria itu ada di sana. Sampai kemudian langkahnya terhenti karena Hunjae yang mencekal lengan Minjoo. Gadis itu meminta dilepaskan lewat matanya, tapi Hunjae hanya membalas dengan smirk mengejek dan ekspresi jahil. Ia mengambil buku menu dari tangan Minjoo lantas meletakannya di meja. "Yura-ya, kau bisa pulang sendiri?" Hunjae bertanya dengan lembut. Ia tidak sadar jika hal itu kian membuat Minjoo yang ada di sampingnya meradang. Gadis itu mulai agak memberontak, ia berusaha melepas diri dari cengkeraman Hunjae meski hasilnya sia-sia. "Ya, tidak apa. Aku akan naik taksi," jawab Yura tersenyum kecil. Ia lantas beranjak setelah sebelumnya tersenyum kecil ke arah Minjoo yang justru dibalas dengkusan gadis itu. "Ikut aku," kata Hunjae pelan.  "Tidak mau." Singkat. Jawaban Minjoo membuat Hunjae menghela napas, ia berusaha tidak terpancing emosi menghadapi Minjoo saat ini. "Ikut aku, Do Minjoo." Suara Hunjae yang terdengar serius membuat Minjoo menurut pada akhirnya, gadis itu hanya diam saat Hunjae membawanya keluar kemudian masuk ke dalam mobil miliknya. Keduanya hanya diam di sana, Minjoo sibuk melihat ke arah luar dari kaca jendela mobil sementara Hunjae hanya sesekali melirik ke arah gadis itu. "Kau marah?" "Tidak," sahut Minjoo pendek. Gadis itu menjawab tanpa mau mengalihkan pandangannya dari kaca mobil. "Lalu kenapa kau menjawabku dengan kalimat pendek?" "Tidak apa-apa." Hunjae menarik napas pelan lalu menghembuskannya perlahan, ia masih mencoba bersabar. "Kau cemburu?" Pertanyaan Hunjae kali ini ampuh membuat Minjoo membalikkan badan, gadis itu mebulatkan mata dengan mulut yang terlihat serupa. "Apa?" "Kau cemburu?" Masih dengan ekspresi tidak percaya gadis itu menggeleng kuat, ia kini telah sepenuhnya menghadap Hunjae. "Mana mungkin, jangan mengada-ada seperti itu," sahutnya agak keras. Hunjae mengangguk kecil mendengarnya, ia mengulum bibirnya ke bawah memasang ekspresi kecewa. "Jadi cemburu padaku hal yang mengada-ada ya menurutmu?" Kini giliran Minjoo yang panik, ia tergagap untuk beberapa waktu. "Tidak, bukan begitu maksudku. Tapi pertanyaanmu terlalu aneh, untuk apa cemburu padamu," sanggahnya kemudian. "Benar juga, buat apa cemburu padaku. Kau kan tidak menyukai ku," pancing Hunjae lagi. Dalam hati laki-laki itu tertawa puas melihat ekspresi memelas Minjoo yang seakan memintanya untuk berhenti berpikir yang macam-macam. "Hunjae-ya," nada memelas mendominasi kalimat Minjoo beberapa saat lalu. Gadis itu benar-benar terlihat akan menangis dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Hunjae masih mempertahankan eskpresi kecewanya sampai beberapa menit kemudian, Minjoo, gadis itu sudah benar-benar akan menangis jika saja Hunjae tidak tertawa terbahak secara tiba-tiba. Dahi Minjoo mengernyit, ia menatap kebingungan ke arah Hunjae yang kini tertawa lebar sampai-sampai pria itu menangis saat tertawa. "Kau kenapa?" Hunjae mengangkat satu tangannya meminta Minjoo menunggu sampai ia bisa meredakan tawanya yang meledak. Seolah sadar dengan apa yang terjadi, Minjoo memicingkan mata dengan satu alis menukik tajam. "Kau mengerjaiku ya!" serunya marah. Tahu jika Minjoo telah sadar Hunjae hanya bisa terkekeh kecil, ia sudah pasrah apabila cubitan juga pukulana akan ia terima sebagai hadiah. Tapi hal itu tidak terjadi kemudian, Minjoo hanya diam dengan isak tangis yang terdengar. Hal itu membuat Hunjae buru-buru menangkan gadis itu. "Hei, kau kenapa?" terbalik. Kini justru Hunjae yang merasa panik. Minjoo mengangkat wajahnya yang tengah menjulurkan lidah dengan dua matanya yang ia buat julig. "Satu sama," katanya kemudian tertawa lebar. Hunjae mengumpat dalam hati, lagi-lagi ia kalah dari Minjoo. Pikirnya. Setelah puas tertawa Minjoo kembali memusatkan perhatiannya ke arah Hunjar, ia menatap si pria lekat sampai membuatnya salah tingkah. "Kau ini kenapa? Aku tahu aku tampan." "Cih, percaya diri sekali," dumal Minjoo. "Apa kau benar-benar berkencan dengan gadis itu?" tanya Minjoo dengan ekspresi serius. "Gadis yang mana?" "Gadis yang datang bersamamu ke cafe tadi," sahut Minjoo gemas. Satu ide muncul di otak Hunjae, ia penasaran bagaimana Minjoo akan merespon jika ia mengatakan Yura adalah kekasihnya. "Memangnya kenapa? Kau cemburu?" "Aku? Cemburu? Yang benar saja," jawabnya tertawa kecil. "Aku hanya penasaran gadis tidak beruntung mana yang menjadi kekasihmu itu," ujarnya tertawa kecil. "Namanya Lee Yura. Dia juniorku di kantor, ia hanya meminta tolong padaku untuk menjadi kekasih pura-puranya demi membuat mantan kekasihnya tidak lagi mengikuti gadis itu," jelas Hunjae menatap lurus ke depan. "Kalian terlihat cocok," tanggapan Minjoo membuat Hunjae menoleh ke arah gadis itu. Ia terkekeh pelan karenanya. "Yakin? Kau tidak akan menangis saat aku benar-benar berpacaran dengan Yura, baru masuk dan makan siang di cafe berdua saja kau sudah kesal bukan main. Mendumal sendirian sampai memarahi Jihoon." Perkataan Hunjae membuat Minjoo kembali melotot. Gadis itu segera mengelak namun Hunjae masih terus saja menggodanya. "Aku pernah berpikiran bodoh jika suatu saat kau akan membuka hati untukku. Mempercayai diri sendiri jika aku bisa menggeser nama itu dari hatimu, tapi nyatanya anganku selamanya hanya akan menjadi angan," batin Hunjae tersenyum tipis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD