Sore hari saat Minjoo akan menutup cafe bersama Jihoon satu mobil berwarna hitam melintas dan berhenti tepat di depan cafe mereka.
Jihoon dan Minjoo sempat saling pandang beberapa saat seolah bertanya satu sama lain soal siapa kira-kira pengemudi mobil tersebut.
Pintu mobil terbuka dan munculah seorang Pria dengan style casual dari sana. Tubuhnya yang tinggi tampak cocok saat mengenakan celana berbahan jeans berwarna hitam yang ia padukan dengan sepatu berwarna abu.
Untuk sejenak Jihoon melongo sedang Minjoo berkedip beberapa kali. Keduanya mendekat dengan cepat, meneliti dengan lamat pada Pria yang masih tersenyum lebar ke arah mereka.
"Hyung?"
"Hunjae?"
Jihoon dan Minjoo berbicara serempak. Kedunya agak terkejut dengan penampilan Hunjae yang agak berbeda hari ini.
Setahu Minjoo, Hunjae itu amat tidak menyukai varsity atau sejenisnya. Ia selalu berkata panas saat memakai pakaian sejenis itu, tapi sekarang?
Ia dengan percaya diri memakai varsity berwarna abu-abu dengan tulisan angka 94 pada d**a sebelah kiri.
"Kau kenapa?" ini Minjoo yang bertanya. Takut-takut jika Hunjae terbentur sesuatu dan otaknya menjadi agak tergeser dari tempatnya.
"Bagaimana? Cocok tidak?" bukannya menjawab Hunjae justru bertanya soal penampilannya hari ini.
Sebenarnya baik Minjoo ataupun Jihoon ingin tertawa sekarang. Bagaimana tidak, jika biasanya Hunjae akan berpenampilan rapi dan elegant hari ini Pria itu mengenakan pakaian yang berkebalikan dengan dirinya yang biasanya.
Sebenarnya penampilan Hunjae cocok-cocok saja, proporsi tubuhnya yang tegap juga tinggi badannya yang menjulang menjadi poin plus untuknya saat mengenakan pakaian.
Pria itu cocok mengenakan pakaian apapun. Bahkan saat ia memakai pakaian biasa dan bukan dari brand terkenal itu akan terkesan mewah begitu melekat pada tubuh Hunjae.
"Hyung? Kau sedang cosplay ya?" sekonyong-konyong Jihoon bertanya. Hunjae yang mendengar hal itu hanya terkekeh kecil lantas melepas jaket varsity yang ia gunakan.
"Panas," keluhnya mengibaskan tangan di sekitar leher. Tipikal Oh Hunjae sekali.
"Kau kenapa sih? Kenapa berpakaian seperti itu?" tanya Minjoo menyodorkan satu lembar tissue yang disambut baik oleh Hunjae.
"Aku baru saja menemani Yura untuk bertemu dengan kekasihnya lagi," sahut Hunjae seadanya. Tangannya masih sibuk mengelap keringat yang ada di wajah juga sekitaran kening.
Mendengar nama itu membuat Minjoo merasa tidak suka, ia sendiri tidak tahu kenapa. Ia hanya takut jika kedekatan Yura dan Hunjae akan berubah menjadi lebih dari senior dan junior atau rekan kerja.
Ia tidak ingin kehilangan Hunjae, ia tidak ingin pria itu berpaling darinya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Minjoo menggeleng, ia memberikan satu kaleng cola ke arah Hunjae tapi tidak langsung ia terima seperti beberapa saat lalu.
"Kenapa?" tanya Minjoo heran.
"Tasmu itu kantong Doraemon ya? Semuanya tersedia di sana," ujar Hunjae dengan wajah polosnya.
Semua yang ada di sana tergelak, mereka tertawa mendengar apa yang baru saja Hunjae ucapkan.
"Tas Minjoo Noona itu serbaguna Hyung," katanya.
"Hampir semua barang ada di sana, benar-benar sepertu toserba," lanjut Jihoon lagi sebelum ia berlari kencang meninggalkan dua orang lainnya dengan eskpresi berbeda.
Hunjae tertawa geli melihat interaksi Jihoon juga Minjoo sedang wanita itu sendiri tampak agak kesal mendengar penuturan Jihoon. Tapi meski begitu Hunjae tahu jika Minjoo hanya berpura-pura, gadis itu sulit marah jika menyangkut soal Jihoon.
"Jadi, apa yang baru saja kau lakukan?"
Menanggapi pertanyaan si gadis dengan gedikan bahu, Hunjae lebih memilih masuk ke dalam mobil dan membawa gadis itu bersamanya.
"Ya! Kau belum menjawab pertanyaanku barusan," lagi-lagi Minjoo mendengkus. Ia memang tidak suka diabaikan, terlebih oleh Hunjae. Ia selalu berkata jika hal itu mengingatkannya pada masa lalu.
"Kita makan dulu, akan ku ceritakan setelah makan," ujarnya mencoba memberi pengertian.
Keduanya kini telah sampai di satu kedai yang terkenal dengan makanan lautnya. Keduanya masuk dan duduk berhadapan di samping jendela besar.
Setelah seorang pelayan datang keduanya pun memesan makanan dengan segera, setelah itu giliran Minjoo yang mencecar Hunjae dengan beragam pertanyaan yang sebenarnya sudah sejak tadi ia kumpulkan.
"Kau habis darimana?" sergap Minjoo tanpa memberi aba-aba.
"Namsan Tower," sahut Hunjae tanpa hambatan.
"Apa yang kalian lakukan di sana?"
"Berjalan-jalan, makan dan berfoto."
"Hanya itu?" selidik Minjoo kurang yakin.
"Kau pikir apalagi? Kau ingin mengatakan aku melakukan apa, Nona Do?" respon Hunjae cepat. Minjoo menggeleng, ia lebih memilih menutup mulutnya saat seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka berdua.
Tahu bahawasanya gadis di hadapannya ini masih kurang percaya, Hunjae menyerahkan ponselnya. Di sana tertera foto dirinya dan Yura yang tengah berada di Namsan Tower seperti apa yang Pria itu katakan sebelumnya.
Minjoo hanya melirik sekilas, kemudian gadis itu lebih memilih memfokuskan pandangan ke arah makanan di depannya.
"Kalian terlihat benar-benar seperti pasangan kekasih," ujarnya lirih.
Hunjae tertawa kecil, ia menyeruput minuman miliknya sebentar sebelum berbicara.
"Terimakasih," katanya sengaja menggoda Minjoo agar lebih kesal.
Seperti dugaan, Minjoo mendengkus kesal dengan wajah merengut sebal. Gadis itu langsung meminum minuman miliknya kemudian memalingkan wajah, menghadap ke arah jendela besar yang menampakan keadaan langsung jalanan di depan kedai.
"Loh? Itu bukannya Chankyung?" perkataan Minjoo membuat Hunjae turut serta mengarahkan pandangannya ke arah di mana Minjoo menunjuk.
Benar jika Pria itu ada di sana. Bukan hanya Chankyung, tapi juga Jongsoo dan seorang wanita yang mereka tidak tahu siapa.
Ketiganya terlihat berbincang sebentar sebelum kemudian si wanita masuk ke dalam satu taksi yang datang dan berlalu pergi.
Dan jika tidak salah lihat juga, dua orang yang tersisa berjalan menuju kedai tempat Hunjae dan Minjoo berada.
Tidak berapa lama kemudian terdengar pintu kedai terbuka, dan benar saja dua orang Pria tersebut masuk ke dalam kedai.
Posisi duduk Minjoo dan Hunjae yang memang strategis jika dilihat dari arah pintu masuk membuat Jongsoo dapat dengan mudah menemukan mereka meski dengan tanpa sengaja.
Pria berkulit tan itu menepuk bahu Chankyung yang tengah sibuk sendiri dengan ponsel dalam tangannya, si Pria Kim menunjuk ke arah tempat di mana Minjoo dan Hunjae berada.
Sedang pada meja yang tengah dituju, Minjoo hanya diam mematung. Ia yang posisi duduk menghadap pintu utama bisa melihat dengan jelas jika Chankyung dan Jongsoo datang ke arah mereka hanya bisa diam tanpa mengeluarkan suara apapun.
Hunjae yang menyadari ada sesuatu langsung menoleh ke belakang, Pria itu tampak agak terkejut dengan kedatangan Chankyung dan Hunjae tapi ia bisa menormalkan eskpresinya kemudian.
"Hai, boleh kami bergabung?" tanya Jongsoo semangat. Minjoo mengangguk kaku sedang Hunjae masih diam seperti sebelumnya.
Pada akhirnya dua pria itu mengisi dua bangku kosong yang tersedia. Suasana agak canggung untuk Minjoo dan Chankyung yang kini duduk bersebelahan, Pria dengan tinggi badan 189cm itu masih saja diam.
Ia belum mengatakan apapun sejak beberapa menit yang lalu.
Chankyung sendiri merasa tidak enak hati pada Minjoo ataupun Hunjae, ia masih ingat dengan jelas bagaimana raut Minjoo pagi tadi saat ia ditinggal Hunjae dan terpaksa berangkat ke cafe bersamanya.
Juga soal ia yang tiba-tiba turut bergabung pada acara nonton Minjoo dan Hunjae. Chankyung bukan orang yang tidak tahu malu, ia berniat memberi jarak terlebih dulu pada Do Minjoo.
Berniat mengubah strategi untuk mendekati gadis itu dengan metode pelan-pelan, membiasakan gadis itu dengan kehadirannya tanpa harus membuatnya merasa tidak nyaman.
Tapi yang terjadi adalah, ia kembali mengacaukan acara makan malam gadis itu dengan Hunjae. Dan jika dilihat dari ekspresi Minjoo, ia sepertinya tidak terlalu menyukai kehadirannya.
Ia sempat memberi kode pada Jongsoo agar sebaiknya mereka pindah meja atau lebih baik pindah ke tempat makan lain.
Tapi Pria dengan kemeja abu-abu itu sama sekali tidak mengerti dengan kode yang diberikan. Ia justu bertanya maksud Chankyung dengan suara yang cukup keras.
"Kau kenapa sih?"
Ingin sekali rasanya Chankyung memukul sahabat karibnya itu, bagaimana bisa ia bertanya dengan nada keras seperti itu.
Mendengar apa yang dikatakan Jongsoo dan menyadari bagaimana raut Chankyung yang seperti ingin menguliti kawannya itu membuat Hunjae juga Minjoo sadar jika Pria itu ingin beranjak tapi Jongsoo tidak paham dengan kode yang diberikan.
"Tidak perlu pindah," kata Minjoo tiba-tiba. Gadis itu kini pura-pura sibuk dengan makanan di depannya, berusaha mengacuhkan tiga laki-laki yang tengah serempak menatapnya.
"Apa? Aku bukan ikan!" sentaknya kemudian yang membuat tiga laki-laki itu mengalihkan pandangan.
"Ah, aku tahu. Kau memberi kode padaku untuk pindah meja?"
Demi pekerjaan yang menumpuk! Kenapa lagi-lagi Jongsoo harus mengatakan hal itu dengan suara keras? Rasa-rasanya Jihoon benar-benar bisa melayangkan satu pukulan pada wajahnya itu.
"Bergabung saja, tidak apa-apa. Lagipula kita teman lama," kali ini Hunjae yang membuka suara.
Mau tidak mau Chankyung dan Jongsoo tetap duduk di sana. Meski Chankyung sendiri merasa kurang enak hati karena membuat Minjoo kurang nyaman karenanya, ia tidak bisa melakukan apapun.
Karena jika dirinya memilih undur diri atau parahnya berganti meja hal itu juga pasti akan membuat Minjoo sakit hati karena merasa tidak dihargai.