Lima Belas

1707 Words
Acara makan malam berlangsung agak canggung, sejak tadi baik Minjoo atau Chankyung lebih banyak diam. Berbanding terbalik dengan Jongsoo yang banyak bicara, Pria itu membicarakan banyak hal. "Kalian kenapa? Sariawan?" celetuk Jongsoo tiba-tiba. Minjoo hanya melirik sekilas ke arah Pria itu kemudian fokus pada makanan di depannya, lain dengan Chankyung yang justru memberikan sorot peringatan lewat tatapan matanya juga bibirnya yang menggumamkan kata tanpa suara. "Aku sudah selesai," itu Minjoo yang berbicara. Satu-satunya wanita di antara tiga pria itu meminum air putih lalu melirik Hunjae yang juga tengah menatapnya. Ia memberikan kode pada Pria itu untuk segera menyelesaikan acara makannya dan pulang, ia belum terbiasa untuk berada dekat dengan Chankyung dengan waktu yang lama. Seolah mengerti dengan kode dari Minjoo, Hunjae segera meminum air miliknya dan menyudahi acara makan malamnya. Ia mengatakan pada Chankyung dan Jongsoo jika mereka harus segera pergi karena ada urusan lain. Setelah kepergian Minjoo juga Hunjae, Chankyung menjadi tidak napsu dengan makanan di hadapannya. Ia hanya mengaduk-aduk makanan tersebut tanpa minat. "Kau kenapa? Kenapa semua orang bertingkah aneh hari ini?," gumam Jongsoo kesal.  "Bukan orang-orang yang aneh, kau saja yang tidak peka," sahut Chankyung malas. Ia meminum air miliknya kemudian memilih berkutat dengan ponsel, ia tidak lagi lapar. "Aku yang tidak peka atau kau yang bodoh? Aku tahu Minjoo merasa tidak nyaman dengan kehadiran kita," "Lalu kenapa kau masih menurut untuk duduk di sini?" potong Chankyung cepat. "Kau sedang emosi sekarang, kau tidak bisa berpikir jika Minjoo masih belum merasa nyaman terlalu dekat denganmu. Itu hal wajar karena kalian sudah lama tidak bertemu bukan, itu salahmu karena tidak mendengarku kemarin," jawab Jongsoo sewot. Mendengar penuturan Jongsoo membuat Chankyung kembali mengingat apa yang Pria itu katakan setelah dirinya bercerita soal dia yang berhasil mengantar Minjoo sampai ke apartemen. Saat itu Chankyung meminta saran dan pendapat Jongsoo soal apa yang harus ia lakukan untuk langkah selanjutnya, ia juga sudah bercerita pada Pria itu jika mereka sekarang sudah menjadi teman. "Itu bagus, aku bahkan tidak menyangka jika Minjoo akan kembali menerima mu sebagai teman. Tapi saranku, kau jangan terburu-buru. Biarkan Minjoo terbiasa dengan kehadiranmu tanpa harus merasa terpaksa apalagi tertekan," katanya saat itu. Chankyung menyahut. Ia mengatakan akan menjemput Minjoo pagi harinya dan mengatarkan gadis itu ke tempat ia bekerja. Tahu apa yang Jongsoo katakan saat itu? Dia melarang Chankyung melakukannya, dan hal itu disambut Chankyung dengan decakan juga protes berkepanjangan. Pria itu tidak terima. Ia berkata bukankah Jongsoo sendiri yang menyarankan agar ia kembali mengejar cintanya, tapi kenapa saat ini ia justru melarang Chankyung untuk kembali berusaha. Dan ini jawaban Jongsoo. "Aku akui semangatmu memang bagus, tekadmu juga. Tapi jangan seperti itu, kau akan membuat Minjoo merasa tidak nyaman." "Kenapa? Dia bahkan sudah mau menerimaku lagi meski menjadi teman, artinya dia sudah mulai membuka hati bukan?" "Astaga! Aku tidak tahu kau bisa sebodoh ini," ujar Jongsoo frustasi. "Menerima tidak sama dengan membuka hati, Chankyung. Dia bisa saja menerima mu tapi belum tentu dia bisa membuka hati untukmu, bisa saja dia menerima permintaan mu untuk menjadi teman padahal dia hanya terpaksa tapi kau menganggapnya sebagai satu peluang," "Selain melihat segala sesuatu sebagai peluang, kau juga harus mencari tahu soal kondisi dan keadaan. Kau sendiri yang bilang jika ekspresi dan gerak tubuh Minjoo masih terlihat seperti canggung, itu membuktikan jika dia masih belum bisa membuka hati untukmu. Kalau kau terus-terusan menempeli dia seperti ulat itu akan membuatnya risih dan menjauh." Penjelasan Jongsoo memang terdengar masuk akal, bisa saja Minjoo menerima permintaan Chankyung saat itu hanya sebagai cara agar ia tidak lagi diikuti olehnya. Tapi masa iya? Jika itu hanya pura-pura lalu kenapa gadis itu mau-mau saja saat Chankyung minta untuk mendengarkan penjelasannya soal masa lalu mereka?  Apa Minjoo hanya penasaran akan hal itu? Mungkinkah sebenarnya Minjoo tidak ingin berdekatan atau bahkan berhubungan lagi dengan Chankyung meski mereka telah menjadi teman. Setelah mengobrol dengan Jongsoo, Chankyung memikirkan perkataan Pria itu hampir semalaman. Ia bahkan hanya tidur tiga jam akibat terlalu memikirkan perkataan Pria itu. Hatinya benar-benar bingung, apa yang harus ia lakukan sebaiknya. Sampai kemudian pagi datang dengan cepat, Chankyung yang saat itu masih tertidur terlonjak saat suara alarm membangunkannya dari tidur singkatnya.  Ia mengecek ponsel dan mendapati alarm dengan note yang ia buat sendiri untuk mengingatkannya agar menjemput Minjoo di apartemennya. Pada akhirnya Pria itu mengindahkan perkataan Jongsoo, ia tetap datang dan kemudian terjadilah kejadian seperti pada beberapa waktu yang lalu. Kembali pada Chankyung dengan waktu sekarang, Pria itu kini membenarkan perkataan Jongsoo. Ia terlalu terburu-buru dan tidak hati-hati. Minjoo pasti merasa risih karena ia yang berusaha terlalu keras untuk mendapatkannya kembali, terlalu menunjukan niatnya sampai membuat gadis itu merasa terikat. Ia harus memberi sedikit jarak juga waktu agar Minjoo bisa terbiasa dengan kehadirannya, ia harus bisa lebih sabar dan berhati-hati jika ia ingin selamat sampai ke tujuan. "Kau benar, aku memang terlalu terburu-buru," pada akhirnya Chankyung mengaku. Jongsoo hanya menganggukan kepalanya seolah setuju dengan apa yang baru saja dikatakan sahabatnya. "Lalu apa yang harus ku lakukan? Tidak mungkin, 'kan aku hanya diam menunggu? Jika seperti itu aku akan kehilangan Minjoo lagi." "Jika kau melakukannya, namanya kau bodoh," hardik Jongsoo gemas-gemas kesal. Sahabatnya ini kenapa jadi bodoh begini, padahal saat menempuh bangku SMA dulu Chankyung adalah salah satu murid paling berprestasi di sekolah. "Kau masih harus mendekatinya, hanya saja dengan metode berbeda." Alis Chankyung menukik, metode berbeda? Apa maksudnya? "Metode seperti apa?" "Tarik ulur. Kau bisa menarik perhatian Minjoo dengan mendekati gadis itu, tapi kau juga harus mengulur agar memberinya waktu untuk berpikir. Buat dirinya merasa nyaman dan tidak terkekang dibarengi dengan kau yang terus memberikan perhatian juga keseriusan," jelas Jongsoo. "Pasti berhasil?" tanya Chankyung antusias. Rencana Jongsoo terdengar meyakinkan baginya. "Tidak tahu, kau belum mencobanya. Tapi sebagian besar wanita akan merasa bahagia juga luluh dengan cepat saat seorang Pria berani menunjukan keseriusannya dengan perhatian." Chankyung melihat Jongsoo dengan ekspresi takjub, ia tidak tahu jika temannya bisa berpikir sampai sejauh itu.  "Kau benar-benar Kim Jongsoo, sahabatku?"  Alis Jongsoo terangkat naik mendengar pertanyaan Chankyung yang menurutnya konyol, memang siapa lagi jika bukan dia. "Jangan mulai," kata Jongsoo tegas. Chankyung terkekeh sebagai respon, ia benar-benar berterimakasih mempunyai teman seperti Jongsoo. "Tapi aku tidak pernah melihatmu memiliki kekasih, darimana kau belajar semua ini?" tanya Chankyung kemudian. Hal itu mengundang desisan sebal dari Jongsoo. "Kan sudah ku bilang, kau saja yang tidak up to date tentang Kim Jongsoo. Sudahlah percuma bicara dengamu, kau tidak update tentangku, tidak seru," kata Jongsoo pura-pura kesal. Pria itu beranjak meninggalkan Chankyung yang hanya terkekeh saja di tempatnya. Pria itu kemudian bangkit dan mengejar sang sahabat. "Hei! Tunggu aku!" Sementara di unit apartemen nomor 612 Minjoo duduk termenung di dekat jendela besar yang mengarah langsung ke arah jalan raya di bawahnya.  Gadis itu membuat garis abstrak pada kaca jendela yang mengembun karena air hujan, ia juga menatap kosong ke arah jalanan sampai kemudian menghembuskan napas kasar. Ia memeluk lututnya sendiri yang berbalut celana panjang berbahan kain, ditumpukannya dagunya pada lutut sembari ia memikirkan sesuatu. Ia berpikir soal apa yang baru saja terjadi di tempat makan juga soal perlakuannya pada Chankyung. Apa ia sudah keterlaluan? Apa harusnya ia tidak berbuat sampai sejauh itu? Bagaimana pun juga dirinya lah yang memberikan kesempatan Pria itu untuk kembali membuktikan perasaanya. Chankyung memang terlihat bersungguh-sungguh, ia seperti benar-benar ingin menunjukan soal apa yang ia katakan tempo hari. Ia melakukan semuanya, sampai Minjoo sendiri bisa menerima Pria itu meski berlabel sebagai teman dengan cukup mudah.  Tapi bukan tanpa alasan Minjoo menerima Chankyung menjadi teman dengan cepat. Ia mengira jika Chankyung akan berhenti saat ia menerima permintaan pertemanan Pria itu, tapi ternyata tidak. Ia semakin membuktikan perkataanya untuk membuat Minjoo mendapatkan apa yang dulu ia dapatkan, Pria itu benar-benar membuktikan jika dirinyalah yang akan berusaha mengejar gadis itu seperti apa yang dulu ia lakukan. Selain soal Chankyung, Minjoo juga memikirkan soal Hunjae dan Yura. Ia merasa tidak suka saat Hunjae menyebut nama gadis itu sembari tersenyum, apalagi saat ia menunjukan foto keduanya yang tengah membentuk love sign di Namsan Tower di saat keduanya memakai pakaian yang terlihat mirip. Minjoo tidak cemburu, harus ditekankan jika ia tidak cemburu. Mungkin iya, tapi bukan dalam konteks seperti apa yang dimaksud banyak orang, itu lebih kepada cemburu sebagai teman. Minjoo mendongak begitu suara bel terdengar nyaring, ia bergumam bertanya soal siapa kiranya yang datang saat hujan turun seperti sekarang. Langkahnya ia bawa pelan menuju pintu, membukanya pelan dan mendapati seorang wanita dengan senyum ramah ada di sana. "Nuguseyo?" "Bisa biarkan aku masuk dulu?" Meski ragu pada mulanya, Minjoo akhirnya mempersilahkan wanita itu untuk masuk. Keduanya kini duduk di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang tengah apartemennya. "Biar ku buatkan minum dulu," baru saja Minjoo akan beranjak, wanita itu lebih dulu menahan dirinya. Ia mengatakan jika kedatangannya kemari tidak akan lama. "Sebelumnya maafkan aku jika kedekatan ku dan Chankyung hari itu membuatmu terluka. Tapi ada hal yang harus kau tahu, aku dan Chankyung tidak memiliki hubungan apapun, baik itu saat SMA ataupun saat ini." Minjoo masih diam tanpa suara, ia mencoba mendengarkan dengan seksama tiap-tiap kata yang keluar dari mulut wanita di hadapannnya ini. "Sebelumnya perkenalkan. Aku Baekhee, kau mungkin tidak pernah melihatku saat SMA, atau mungkin jarang. Kita memang tidak sekelas, tapi beberapa kali aku pernah berpapasan denganmu," kata Baekhee memperkenalkan diri. Mendengar nama itu membuat Minjoo mengingat soal dulu, salah satu hal yang membuatnya memutuskan mundur adalah Baekhee. Gadis itu sempat dirumorkan memiliki hubungan dengan Chankyung selama beberapa waktu, dan hal itu sanggup membuat Minjoo merasa tertekan selama beberapa hari. Tapi ia tidak menyerah saat itu karena ia belum melihat sendiri bukti atau indikasi dari kebenaran rumor tersebut. Sampai pada suatu hari ia menyaksikan bagaimana Baekhee menyapa Chankyung juga interaksi keduanya yang memang bisa dibilang dekat. Masih tidak menyerah, Minjoo masih terus berpikir jika apa yang dilihatnya adalah interaksi biasa antar teman. Tapi semakin lama ia memikirkannya, Chankyung tidak pernah telihat seramah itu kepada murid perempuan lain termasuk dirinya. Sampai kemudian ia melihat sendiri bagaimana Chankyung menerima sekotak coklat pemberian Baekhee dan menyimpannya. Dan sejak hari itulah ia merasa jika rumor tersebut sepertinya memang benar adanya. Kembali ke saat ini, Minjoo dikejutkan dengan panggilan Baekhee yang terdengar beberapa kali. Gadis itu meminta maaf karena telah melamun dan mengabaikan panggilannya, sampai kemudian perkataan Baekhee membuat alis juga dahi Minjoo berkerut. "Apa kau mau mendengarkan ceritaku? Ada beberapa hal yang harus ku ceritakan dan ku luruskan padamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD