Tujuh belas

1763 Words
"Temanmu itu bodoh sekali," komentar Baekhee kemudian. Jongsoo tergelak pada tempatnya kemudian mengangguki apa yang baru saja dikatakan kekasihnya. Iya, Chankyung memang bodoh. Sangat bodoh. "Lalu apa yang akan dia lakukan?"  "Tidak tahu," balas Jongsoo singkat. Lelaki itu memegang bahu Baekhee kuat-kuat, ia menatap sang kekasih kemudian memberinya satu kecupan ringan pada bibirnya. "Maaf membuatmu harus dirumorkan dengan Chankyung," katanya menyesal. Baekhee yang semula bereskpresi sebal kini berganti jadi merengut, ia kembali mengingat soal rumor dirinya dan Chankyung yang digosipkan memiliki hubungan khsusus meski sebenarnya hal itu tidak benar adanya. "Salahmu! Kenapa aku harus memberikan hadiahmu melalui anak itu?" semprot Baekhee kesal. Jongsoo hanya menghela nafas mendengar hal itu, ia menangkup pipi Baekhee yang kini jadi mengerucut ke arah depan. "Dengar, untuk sementara waktu aku belum bisa membeberkan soal hubungan kita pada siapapun. Kau tahu aku memiliki rencana dengan memanfaatkan rumor tersebut, kita bisa membantu Chankyung agar berani mengutarakan perasaanya atau minimal membuatnya berhenti bersikap kasar pada Minjoo," terang Jongsoo kalem. Dahi Baekhee berkerut, kurang paham dengan maksud kekasihnya ini. "Caranya?" "Kau bisa terus berhubungan dekat dengan Chankyung, dan aku yakin Minjoo akan menjauh perlahan. Dan saat Minjoo menjauh maka Chankyung akan sadar dengan perasaanya," jelas Jongsoo membuat Baekhee berpikir. Kemudian satu kalimat yang keluar dari bibir tipis Baekhee malah membuat Jongsoo terkekeh hebat. "Apa bisa? Temanmu itu kan bodoh, tidak peka." Baekhee mengakhiri ceritanya pada Minjoo ia mengatakan jika rencananya dan Jongsoo berakhir gagal, Chankyung tidak juga bisa merubah sifatnya bahkan sampai Minjoo pergi.  Ia baru menyesal saat Minjoo benar-benar meninggalkannya dan menghilang tanpa jejak.  "Dia benar-benar bodoh, ia sama sekali bukan orang yang bisa peka oada suatu hal." Hal itu membuat Minjoo yang mendengarnya terdiam, jika cerita Baekhee disambung dengan cerita Chankyung beberapa waktu belakangan itu terdengar agak mirip seperti cerita yang menyambung dari beberapa sudut pandang. Chankyung yang mengatakan jika dirinya tidak memiliki hubungan apapun dengan Baekhee juga kesaksian gadis itu sendiri soal kejelasan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka dan seperti apa situasi sesungguhnya. "Aku hanya ingin menyampaikan kesalahpahaman ini agar tidak terus berlanjut, mau bagaimanapun juga kau pasti pernah merasa kesal dengan apa yang ku lakukan saat itu. Tapi sungguh, memiliki kekasih seperti Jongsoo saja sudah cukup untukku," ujarnya sembari tersenyum dan membuat eyesmile yang cantik. Mau tidak mau Minjoo turut melakukan hal yang sama, ia tersenyum kemudian meminta maaf atas pemikirannya pada Baekhee yang selama ini ternyata keliru. "Aku minta maaf. Aku sempat memiliki pemikiran buruk soal dirimu saat itu, bahkan aku pernah membenci dirimu tanpa alasan. Aku melakukannya tanpa tahu bagaimana sebenarnya yang terjadi di antara kalian, aku hanya menilai apa yang ku lihat dan ku dengar saat itu," kata Minjoo penuh sesal. "Tidak masalah, lagipula kita masih terlalu muda saat itu. Masih terlalu labil untuk memikirkan dan melihat sesuatu dari segala sisi." Pada akhirnya dua wanita itu tertawa dan berkahir dengan ngobrol bersama. Keesokan pagi datang dengan cepat, Jongsoo mengetuk pintu ruangan Chankyung dan membukanya perlahan. Alis Pria itu menukik saat menemukan sang sahabat hanya menatap ke arah lurus ke depan dengan tatapan kosong dengan dua  jarinya yang sibuk memutar pena miliknya. Bahkan pria itu masih belum sadar jika kini Jongsoo telah duduk di hadapannya, Chankyung masih saja asyik terlarut dengan acara melamunnya sendiri. Geram Jongsoo merebut paksa pen dalam tangan Chankyung dan membuat Pria itu terperanjat karenanya. Ia sempat menatap Jongsoo horor yang justru dibalas hal serupa oleh si Pria Kim. "Apa? Kau mau apa?" tanya Jongsoo menantang. Ia tahu Sahabatnya itu tengah  banyak pikiran dsn pasti enggan untuk meladeninya adu mulut. "Laporan untuk rapat hari ini sudah kau tanda tangani? Berkas kerjasama dengan SO entertaiment apa sudah beres?" Jongsoo bertanya runut. Chankyung yang mendengar hal itu berdecak, ia menyodorkan setumpuk dokumen ke arah Jongsoo. "Kau cari saja sendiri, jika sudah ketemu berikan padaku," ujarnya pasrah sembari memijat kening. Jongsoo mencibir, pria itu kemudian menelisik setumpuk berkas tersebut. Mencari-cari dokumen yang sekiranya ia perlukan sekaligus. "Kau tahu, ayam tetanggaku mati setelah stress dua hari. Sebaiknya kau berhati-hati," celetuk Jongsoo sambil masih terus mencari. Chankyung melotot, apa-apaan dirinya disamakan dengan ayam. "Apa kau juga tahu, ayam tetanggaku mati karena sangat cerewet hampir setiap hari," ujarnya tidak mau kalah. Jongsoo terbahak di tempat sementara Chankyung memutar bola matanya malas. Kadang-kadang Jongsoo memang seabsurd itu untuk bisa ia mengerti. "Kau masih memikirkan Minjoo?" tanya Jongsoo setelah menemukan dokumen yang ia maksud. Pria dengan kulit eksotis itu duduk di hadapan Chankyung sembari mengecek isi dokumen tersebut. "Kau sudah tahu jawaban dari pertanyaanmu itu Kim," balas Chankyung jengkel. Lagi-lagi Jongsoo hanya tertawa, sahabatnya ini sensitif sekali pikirnya. "Ya, ya. Terserahmu saja, tapi asal kau tahu gadisku tengah menemui Minjoo untuk menjelaskan soal kesalahpahaman kalian dulu." Chankyung yang semula tengah memejamkan matanya sontak membuka mata, ia menatap Jongsoo dengan tatapan serius seolah meminta Pria itu untuk mengatakan maksudnya yang sebenarnya. "Iya, Baekhee baru saja mengabariku lewat chat jika dirinya sudah menceritakan soal kesalahpahaman kalian pada Minjoo, juga soal siapa sebenarnya kekasih Baekhee saat itu." "Soal rumor aku dan Baekhee?" Chankyung bertanya penasaran, respon Jongsoo hanya mengangguk. Pria itu lantas berdiri, mengatakan jika dirinya akan keluar untuk kembali bekerja dan memberi pesan pada Chankyung agar menemui Minjoo nantinya. Selepas perginya Jongsoo, Chankyung terdiam. Ia berpikir bagaimana kiranya reaksi Minjoo terhadap cerita Baekhee soal kesalahpahaman mereka dulu. Apa hal itu akan membuat gadis itu menyadari dan mau percaya jika dirinya memang benar-benar menyukainya dari lama atau ia akan tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Chankyung mengusak rambutnya sendiri, dengan gesit ia meraih jas miliknya yang tersampir di kursi kebanggan. Ia juga meraih ponsel dan kunci mobil miliknya yang tergeletak di atas meja kerja. Ia berniat akan mendatangi apartemen Minjoo saat ini juga, ia akan mengkonfirmasi sendiri soal apa yang baru saja dikatakan Jongsoo.  Ia tidak ingin berharap pada sesuatu yang masih abu-abu setidaknya dengan ia bertanya itu akan memperjelas soal rencana apa yang sebaiknya ia buat kedepannya. Chankyung segera keluar dari ruangannya, ia bahkan melewati Jongsoo yang bertanya padanya mau kemana.  Chankyung hanya berpikir jika dirinya harus segera sampai menemui Minjoo dan bertanya soal apa yang ada di pikirannya. Ia tidak ingin jika penjelasan Baekhee justru membuat sesuatu salah paham yang baru. Chankyung segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia dengan gesit menyelip di antara beberapa mobil meski harus mendapatkan bunyi klakson memekakan telinga juga sumpah serapah dari pengguna jalan lainnya. Setelah sampai di gedung apartemen Minjoo, Chankyung segera menaiki lift dan menekan tombol menuju lantai tempat unit apartemen Minjoo berada. Setelah sampai di depan unit apartemen Minjoo, Chankyung menekan bel dengan membabi buta, ia bahkan tidak peduli jika tetangga sebelah unit apartemen si gadis akan mengamuk karenanya. Menunggu, Chankyung menunggu hampir sepuluh menit lamanya. Namun pintu berwarna coklat kehitaman itu masih tertutup rapat, suasana begitu sepi seolah tidak ada tanda kehidupan di dalam. Pada akhirnya Chankyung memutuskan pergi, ia akan mencari Minjoo ke cafe milik gadis itu. Dan ia berharap semoga Minjoo benar-benar ada di sana kali ini. Sementara di sisi lain, Hunjae tengah sibuk meneliti beberapa laporan keuangan di mejanya. Pria dengan kacamata bulat yang bertengger di hidung mancungnya itu tampak serius mengerjakan pekerjaan miliknya. Atensinya teralih saat seseorang berbisik, itu terdengar seperti memanggil-manggil namanya dengan suara lirih. Hunjae menoleh, ia mendapati Yura yang posisi duduk di belakangnya tersenyum. Gadis itu memberikan secarik kertas ke arah Hunjae.  Hunjae membaca tiap baris yang ada pada kertas tersebut, di mana di sana Yura mengucapkan rasa terimakasihnya dan mengajak Hunjae makan siang bersama sebagai balas budi. Hunjae sempat melirik sebentar ke arah Yura yang menanti jawaban Pria itu, Hunjae tersenyum lalu membuat tanda ok dengan ibu jari dan jari telunjuk yang disatukan. Yura tersenyum senang, gadis itu mengatakan terimakasih tanpa suara.  Tidak terasa waktu makan siang telah tiba, Hunjae merengangkan otot-ototnya sebentar sebelum meneliti sejenak pekerjaanya. Pria itu terlihat amat berkonsentrasi sampai kemudian suara seorang gadis membuatnya terkejut. "Sunbae!"  Hunjae berjingkat, ia hampir saja mengumpat jika tidak sadar ia tengah berada di kantor. Ia menatap Yura dengan ekspresi bertanya, gadis itu hanya tersenyum sebelum berbicara. "Ayo makan siang," katanya menggunakan bahasa banmal (informal) Sepersekian detik setelahnya gadis dengan kemeja berwarna merah muda itu menutup mulutnya sendiri, sepertinya ia baru saja sadar telah berbicara secara informal dengan seniornya. Hunjae terkekeh, ia lantas menganggukan kepala tanda setuju. Setelah mematikan komputer keduanya segera beranjak ke salah satu cafe tidak jauh dari sana. Keduanya memutuskan untuk berjalan kaki karena jarak yang tidak terlalu jauh, Hunjae sesekali tersenyum saat Yura menceritakan beberapa kisah lucu ataupun hal-hal random yang dia alami. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu amat riang dan cerewet, ia bisa membuat siapa saja yang berdekatan dengannya tertawa meski hanya mendengar suaranya saja.  Dan itu terjadi pada Hunjae, lelaki itu sejak tadi tertawa lepas berada di sekitaran Yura. Ia terus tersenyum dengan segala tingkah polah si gadis yang menyenangkan. Tapi ada yang mereka tidak tahu. Di balik tawa lebar Hunjae ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dengan lamat, dua mata bulat itu mengawasi keduanya dari dekat halte bus yang memang berjarak tidak terlalu jauh dari Hunjae dan Yura. Dia Minjoo, gadis itu semula berniat mengantarkan makan siang khusus untuk Hunjae. Ia berniat memberikan kejutan untuk lelaki itu dengan datang di kantornya tanpa pemberitahuan. Tapi belum sampai ia ke kantor Hunjae, gadis itu lebih dulu melihat si lelaki keluar dari arah kantor. Semula Minjoo ingin memberikan kejutan, ia ingin menyerbu Hunjae saat Pria itu baru saja keluar gedung. Tapi Minjoo urung melakukan hal tersebut, begitu netranya menangkap sosok lain keluar bersama Hunjae. Seorang gadis yang Minjoo tahu bernama Yura ada di sana, berjalan disamping Hunjae dan tertawa bersama Pria itu.  Minjoo mundur perlahan, ia memilih bersembunyi di antara tanaman yang berada di depan gedung kemudian mengikuti langkah keduanya. Minjoo masih saja mengikuti mereka sampai kemudian ada satu kejadian kurang menyenangkan yang terjadi.  Hunjae tertawa lepas saat tiba-tiba angin menerbangkan rambut Yura yang tergerai bebas, gadis itu menggembungkan pipinya karena merasa kesal dengan Hunjae yang justru tertawa lepas karenanya. Kemudian tangan besar Hunjae terangkat merapikan anak rambut Yura yang berantakan. Ia melakukannya dengan hati-hati sembari meminta maaf karena telah menertawakan gadis itu. Hal itu membuat Minjoo berdecak, ia bahkan mendumal sendiri karenanya sebelum menghentakan kaki dan berlalu. Kesialan Minjoo belum berakhir di sana, tanpa sengaja seorang anak kecil menabraknya sampai tas makan yang ia bawa jatuh dengan isi yang menghambur ke luar karena ia lupa menutup tas tersebut dengan benar. Anak kecil tersebut kabur dan Minjoo hanya bisa mengumpat kesal dengan apa yang baru saja ia alami. Gadis itu terus mendumal sembari memunguti tas makan tersebut sampai kemudian seseorang turut melakukan hal yang sama sepertinya. Minjoo mendongak, wajah gadis itu yang sudah memerah kini langsung banjir akan air mata begitu tahu siapa orang yang turut memunggut tas makan miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD