Minjoo mendongak, wajah gadis itu yang sudah memerah kini langsung banjir akan air mata begitu tahu siapa orang yang turut memunggut tas makan miliknya.
"Hunjae-ya," gumam Minjoo tidak percaya.
Sementara Hunjae tersenyum, ia segera membantu Minjoo untuk berdiri. Ia juga kembali memungut tas makan gadis itu dan menguncinya dengan benar.
"Kau di sini?" tanya Minjoo masih tidak percaya.
Pria itu hanya mengangguk kecil, senyum tulus itu masih terpatri di wajah tampannya kemudian tangan besarnya terulur untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi Minjoo.
"Aku di sini," jawabnya dengan nada lembut.
Soora tampak kebingungan, ia menoleh ke tempat terakhir kali pria itu ada di sana tengah tertawa bersama Yura. Tapi kali ini gadis itu juga sudah tidak ada di sana.
"Tapi, kau, tadi," perkataan Soora terhenti saat Hunjae meletakan telunjuknya tepat di atas bibir gadis itu, mengisyaratkannya untuk diam.
"Yura sudah kembali ke kantor. Apa yang kau lakukan? Membawa bekal untukku?"
Hunjae menenteng tas makan Minjoo dengan ekspresi bertanya, dan mau tidak mau Minjoo mengangguk karenanya.
Sebenanrya Hunjae telah menyadari kedatangan Minjoo sejak dirinya dan Yura baru saja keluar dari gedung.
Pria itu sempat tersenyum antusias dan akan menyapa gadis itu sebelum kemudian Minjoo lebih dulu bersembunyi di antara tanaman kantor. Hal itu membuat Hunjae mengerutkan dahi, tapi kemudian ia sadar akan apa yang tengah terjadi.
Pasti karena Yura. Minjoo bersembunyi karena melihatnya berjalan berdua dengan si gadis Lee, dan ia bersembunyi untuk mencari tahu soal apa yang tengah terjadi.
Maka dengan berbisik Hunjae meminta bantuan pada Yura, ia meminta gadis itu untuk berpura-pura bersikap agak manja dan sedikit menempel padanya.
Yura sempat bertanya kenapa tiba-tiba Hunjae meminta hal itu padanya, tapi dengan cepat Hunjae mengatakan jika ia hanya ingin, dan jika Yura mau membantunya kali ini maka keduanya telah impas.
Tanpa harus menunggu dua kali Yura setuju, keduanya masih berakting agar terlihat begitu akrab sampai Hunjae dengan sukarela membenar kan rambut Yura yang berantakan karena terkena angin.
Pria itu juga sesekali melirik ke arah Minjoo yang kini bersembunyi di halte bus tidak jauh dari mereka, dalam hati Hunjae tertawa geli saat bagaimana Minjoo berusaha menyembunyikan badannya tapi ia tidak sadar jika kakinya masih terlihat dengan jelas.
Hunjae masih tertawa kecil sampai kemudian ia sadar jika Minjoo telah pergi dari sana, pria itu segera menyudahi aktingnya dengan Yura dan pergi menyusul Minjoo.
Bisa ia lihat gadis itu terjatuh setelah seorang anak kecil menabraknya. Ia bahkan masih menangis sembari memungut tas makan miliknya dengan isi yang telah berhambur ke luar.
Dengan langkah pelan Hunjae mendekat, ia memungut tas makan milik Minjoo lebih dulu dari gadis itu dan membuatnya mendongak dengan wajah penuh air mata.
Setelah Hunjae menceritakan kejadian yang sebenarnya, ia langsung mendapat hadiah berupa pukulan tas makan dari Do Minjoo.
Gadis itu berteriak kesal dan memberi Hunjae pukulan beruntun yang menurut Hunjae sendiri sama sekali tidak terasa sakit.
"Jahat! Kenapa kau melakukan itu padaku, padahal tadi aku benar-benar marah. Dan kau tahu, lututku terasa sangat sakit karena terjatuh," katanya dengan tersedu.
Hunjae memperhatikan lutut Minjoo yang memang terluka, ia agak meringis melihat hal itu karena secara tidak langsung ialah yang menyebabkan hal itu terjadi.
Ia mendudukan gadis itu pada kursi halte, memintanya menunggu sebentar kemudian pergi.
Tidak sampai sepuluh menit Hunjae sudah kembali dengan sekantong plastik berukuran kecil yang berisi beberapa obat-obatan.
Dengan telaten Hunajae berjongkok dan mulai mengobati luka pada lutut Minjoo, sesekali ia meniup-niup luka tersebut saat si gadis merintih karena merasa perih.
Tahap terakhir adalah memasang plester. Hunjar memasang plester bergambar penguin kemudian tersenyum ke arah Minjoo yang melakukan hal sama.
Hunjae lantas membantu gadis itu berdiri, ia memapahnya pelan-pelan sembari menunggu taksi yang sebelumnya telah ia pesan.
Tidak lama kemudian taksi datang, dengan hati-hati Hunjae membantu Minjoo masuk ke dalam taksi. Ia juga mengatakan ke mana tujuan mereka seharusnya sekaligus membayar tagihan taksi sesuai dengan tarif yang diperkirakan.
Minjoo sempat ingin menolak saat Hunjae membayar biaya taksi yang ia gunakan, tapi protesanny tidak digubris pria itu sama sekali.
Mobil melaju dan Hunjae masih diam di sana, hatinya merasa hangat saat tahu Minjoo merasa kesal disaat melihat dirinya dekat dengan Yura.
Ia tidak tahu apakah arti dari kesalnya gadis itu benar-benar karena ia yang takut kehilangan sosok Hunjae sebagai teman atau lebih.
Cemburu? Iya, Hunjae masih mengharap Minjoo bisa membalas perasaanya meski saat ini ia tahu nama Chankyung masih menjadi nama yang paling memiliki kesan pada hati gadis itu.
Omong-omong soal Chankyung, baik Minjoo maupun Hunjae tidak ada yang tahu jika Chankyung menyaksikan semuanya.
Saat pria itu tidak mendapati Minjoo di apartemennya ia segera bergegas melaju ke cafe milik si gadis.
Di sana ia hanya bertemu dengan Jihoon yang mengatakan jika Minjoo tengah keluar, Chankyung segera bertanya pada Jihoon apa ia tahu ke mana perginya Minjoo.
Dan Jihoon mengatakan jika Minjoo tengah mengantar makan siang untuk Hunjae ke kantornya. Pada mulanya Jihoon enggan memberitahu Chankyung soal alamat kantor Hunjae, tapi setelah sedikit memohon pada akhirnya pria muda itu mau memberikan alamat kantor Hunjae.
Dengan kecepatan tinggi Chankyung mengemudikan mobilnya menuju kantor Chankyung, senyumnya sempat terbit saat pria itu menemukan Minjoo di sana.
Tapi itu tidak berlangsung lama karena kerutan pada dahinya muncul begitu melihat Minjoo bersembunyi dengan cepat.
Gadis itu terlihat mengintip beberapa kali ke satu arah hingga mau tidak mau Chankyung mengukuti ke mana arah pandangan Minjoo.
Gadis itu terpaku melihat interaksi Hunjae dengan seorang gadis, Chankyung mengikuti langkah Minjoo yang mengendap.
Ia berusaha menjaga jarak aman dengan gadis itu, tidak terlalu dekat ataupun terlalu jauh.
Dan Chankyung menyaksikan semuanya, di mana Hunjae yang ternyata berpura-pura dekat dengan seorang gadis juga Minjoo yang terjatuh.
Ia juga menyaksikan bagaimana Hunjae mengobati Minjoo dengan tulus. Ia tersenyum kecut, melihat bagaimana raut kesal Minjoo saat melihat Hunjae bersama gadis lain membuat sesuatu dalam pikiran Chankyung menyeruak.
Minjoo cemburu dengan Hunjae, apa gadis itu menyukai Hunjae? Apa sebenarnya hubungan keduanya lebih dari sekadar sahabat dan apa itu juga yang membuat Minjoo menolaknya untuk kembali dan memilih bersikap menjauh?
Chankyung hanya bisa menghela napas dalam mobil, ia mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Apa saat ini ia juga harus bersaing dengan Hunjae demi mendapatkan Minjoo?
Jelas ia kalah telak jika dibandingan dengan Pria berkulit putih pucat itu, ia telah melakukan banyak kesalahan sementara Hunjae justru adalah orang yang selalu ada untuk Minjoo.
Apa Chankyung bisa menang melawan Hunjae nantinya?
Pada akhirnya Chankyung memilih pergi, tetapi saat Pria itu akan menaiki mobilnya yang terparkir tidak jauh seseorang lebih dulu menahannya.
Itu Baekhee, gadis itu berjalan pelan ke arah Chankyung yang menatapnya dengan heran.
"Kau sudah bertemu dengan Minjoo?" tanya-nya.
Mendengar pertanyaan Baekhee membuat Chankyung kembali teringat kejadian belum lama ini, ia hanya mengangguk sekilas.
Mengatakan pada Baekhee bahwa ia sibuk dan beranjak akan segera pergi, langkah pria itu tertahan saat dengan cepat Baekhee menjegal lengannya lebih dulu.
Gadis itu menatap Chankyung dengan tatapan menyelidik yang sejujurnya cukup menganggu bagi si Pria Park.
"Kau kenapa? Terlihat murung begitu."
Butuh jeda beberapa saat sebelum kemudian Chankyung berkata ia baik-baik saja, meski pria itu tahu Baekhee tidak mempercayai apa yang ia katakan, itu terlihat jelas dari ekspresinya.
Chankyung tetap saja pergi, ia beralasan jika sebentar lagi ia akan ada meeting penting.
Memang benar Chankyung kembali ke kantornya, pria itu langsung menuju ruangan miliknya tanpa mau melihat kanan dan kiri. Ia bahkan mengabaikan beberapa karyawan yang menyapa ramah dirinya.
Chankyung juga melewati Jongsoo begitu saja saat keduanya tanpa sengaja berpapasan di satu lorong menuju ruangan Chankyung. Pria itu terlihat menatap malas dan kosong ke arah depan, dan hal itu terlihat aneh di mata Jongsoo.
Setelah menyelesaikan pekerjaanya Jongsoo segera masuk ke ruangan Chankyung, ia bahkan tidak mengetuk pintu tersebut seperti biasanya.
"Kau kenapa?" tanya Jongsoo tanpa basa-basi. Ia langsung mendaratkan bagian belakang miliknya tepat di kursi yang ada di depan Chankyung.
"Bisakah kau masuk dengan mengetuk pintu?" ujar Chankyung terdengar malas. Ia bahkan melihat Jongsoo dengan tatapan yang sama, seolah tanpa semangat sama sekali.
"Tidak sempat. Kau ini kenapa? Kau bilang akan menemui Minjoo, tapi kenapa kau terlihat lesu sekali?" Jongsoo mengulangi pertanyaanya.
Chankyung menghela napas berat, ia menengadahkan wajahnya, menyandarkan badan besarnya pada kursi yang ia duduki.
"Apa aku harus menyerah saja ya?" gumamnya tapi masih bisa di dengar Jongsoo.
Si Pria Kim kian menatap aneh pada Chankyung yang saat ini terlihat larut dengan dunianya sendiri.
Menyerah? Untuk apa?
"Kau ingin menyerah untuk apa?" Jongsoo bertanya dengan nada penasaran, Chankyung yang ia tahu bukanlah tipe orang yang mudah menyerah dengan sesuatu yang memang ia inginkan.
Ia akan berjuang semaksimal mungkin bahkan kadang sampai memaksakan diri demi apa yang ia mau, tapi saat ini ia akan menyerah?
"Minjoo," kata Chankyung lirih.
Jongsoo berpikir, mencoba menyambung segala sesuatu yang terjadi juga perkataan Pria di hadapannya belum lama ini.
Semula Chankyung mengatakan jika ia akan menemui Minjoo untuk memastikan satu hal setelah sebelumnya ia memberitahu jika Baekhee tengah memberikan penjelasan soal kesalahpahaman mereka dulu.
Lalu kemudian Chankyung kembali dengan lesu dan juga tampang putus asa miliknya yang tertera jelas.
Dan jika Jongsoo tidak salah tebak, apa semua itu berkaitan dengan ucapan Chankyung beberapa saat lalu soal Pria itu yang akan menyerah?
Dengan opini juga teori cocoklogi yang ia rangkai sendiri, Jongsoo bisa menarik satu kesimpulan yang sebenarnya ia sendiri tidak yakin.
Pria itu ragu untuk menanyakan soal kesimpulan yang ia tarik berkat cocokloginya sendiri kepada Chankyung, ia tentu merasa tidak enak dengan pria itu.
Ia juga khawatir jika tebakannya salah dan justru Chankyung akan marah karena Jongsoo berbicara atau berpikir hal yang tidak-tidak.
Tapi niat Jongsoo yang tidak ingin menanyakan hal itu pada Chankyung justru diketahui Pria itu, ia menatap Jongsoo dengan tatapan memincing.
"Kau kenapa?"
Jongsoo sempat tergagap mendengar pertanyaan Chankyung, ia menggeleng dengan senyum canggung yang justru membuat Chankyung kian curiga.
"Ada apa?" tanya Pria itu lebih tegas.
Jongsoo menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, ia melihat Chankyung lekat kemudian berkata.
"Ini hanya asumsiku, kesimpulan yang ku buat berdasarkan semua hal yang ku tahu. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu patah semangat atau bagaimana, tapi," perkataan Jongsoo terputus saat Chankyung dengan cepat menyela.
Pria itu terlihat gemas-gemas kesal dengan Jongsoo yang berbicara panjang lebar.
"Katakan saja!"
Jongsoo lagi-lagi menarik nafas dan menghembuskannya, kali ini secara kasar. Ia sempat melirik sekilas ke arah Chankyung sebelum pada akhrinya memberanikan diri untuk berucap.
"Apa kau akan menyerah untuk membuat Minjoo jatuh cinta lagi padamu?"
Jongsoo mengucapkannya pelan, ia masih berharap jika Chankyung menggeleng atau memarahinya untuk itu.
Tapi hal yang terjadi selanjutnya sanggup membuat Jongsoo membulatkan matanya seketika. Chankyung, pria itu mengangguk tanpa ragu akan pertanyaan yang Jongsoo ajukan.
Mata Jongsoo membulat lebar, tidak percaya dengan apa yang jadi jawaban sang kawan. Apa ia yakin? Bukankah kemarin-kemarin ia begitu bersemangat untuk kembali mengejar cintanya itu, tapi kenapa sekarang ia ingin menyerah begitu saja?
"Kau yakin?" tanya Jongsoo tidak yakin. Ia benar-benar tidak percaya.
Anggukan kecil kembali jadi jawaban, Chankyung menghela napas kemudian melihat ke arah Jongsoo yang menatapnya dengan rasa penuh keingintahuan besar.
"Minjoo sepertinya menyukai Hunjae."
Lagi-lagi perkataan singkat dari seorang Park Chankyung membuat Kim Jongsoo terkejut. Apa maksudnya?
Jika seorang Oh Hunjae yang menyukai Do Minjoo mungkin akan terdengar masuk akal, hal itu sudah jadi rahasia umum bahkan semenjak mereka masih menempuh bangku pendidikan.
Tapi Minjoo menyukai Hunjae? Apa itu benar adanya?