Sementara di tempat lain, Yura tengah duduk gelisah dengan menggigit kuku jemarinya sendiri.
Meski saat ini dirinya aman berada di kediaman Hunjae, namun gadis itu masih saja merasa khawatir.
Ia takut jika sang mantan kekasih akan nekat mencarinya demi bisa membalaskan dendam. Belum lagi ponsel miliknya sudah sejak tadi terus bergetar, menampakan pop up notifikasi panggilan telepon juga pesan teks dari sang mantan kekasih.
Sebenarnya, sudah beberapa kali Yura memblokir nomor sang mantan. Hanya saja lelaki itu selalu kembali menghubunginya dengan nomor baru.
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Yura dengan segera menghampiri pintu utama karena mengira jika itu adalah Hunjae.
Langkah gadis itu terhenti saat ia justru mendapati seorang gadis dengan dress panjang yang dibalut dengan sebuah mantel berdiri di depan pintu masuk.
Keduanya sempat beradu tatap selama beberapa saat, sampai gadis yang baru saja datang membuka suara lebih dulu.
“Siapa kau?” tanyanya.
Yura tergagap, ia hendak menjawab namun terhenti saat pintu utama kembali terbuka dan menampakkan sosok Hunjae yang membawa dua paperbag di tangannya.
Suasana semppat menjadi canggung selama beberapa saat. Tiga orang dewasa yang saat ini duduk di sofa ruang tamu hanya terdiam dengan saling melirik satu sama lain.
Tidak ada yang mau membuka suara lebih dulu sampai terdengar suara Hunjae menghela napas panjang.
“Hyeso, ada urusan apa kau kemari? Dan bagaimana kau bisa tahu password rumahku?” tanya Hunjae.
Gadis yang ditanyai menoleh, ia mendengkus sebelum menjawab pertanyaan Hunjae.
“Ada yang ingin ku katakan padamu,” jawabnya.
Hyeso sempat menatap Hunjae dengan seksama, kemudian memberikan pria itu kode dengan ekor matanya yang melirik ke arah Yura beberapa kali.
Seakan mengatakan pada pria itu jika ada hal yang harus dikatakan hanya berdua.
Mengerti dengan apa yang dimaksud Hyeso, Hunjae menoleh ke arah Yura kemudian berkata.
“Yura, bisakah kau coba pakaian ini dulu di kamar? Aku tidak tahu apa ini akan muat dengan mu atau tidak,” ucapnya.
Yura yang sebenarnya sudah sadar jika ada hal penting yang akan mereka bicarakan mengangguk saja. Ia kemudian berjalan ke arah kamar tamu yang ditempatinya seperti apa yang dikatakan Hunjae sebelumnya.
Setelah kepergian Yura, keduanya kembali berbincang. Hanya saja volume suara yang mereka keluarkan menjadi lebih lirih dari sebelumnya.
“Ada apa?” Hunjae mengulangi pertanyaanya.
Terdengar helaan napas dari Hyeso, gadis itu sempat terdiam selama beberapa saat sebelum kemudian mengatakan hal yang membuat Hunjae bungkam selama beberapa saat.
“Ayahmu mengetahui soal perjodohan kita.”
Mendengar perkataan Hyeso, Hunjae menghela napas. Ia sudah tahu jika hal ini akan terjadi, dan sudah tentu dirinya memiliki sebuah rencana untuk mengatasinya.
“Lalu?” tanya Hunjae sekali lagi.
Ia tahu masih ada hal lain yang akan dikatakan Hyeso.
Gadis itu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat, ia sempat melihat sekilas ke arah Hunjae sebelum menundukkan kepala.
“Ibu tirimu, dia mendatangiku dan mengancam ku,” perkataan Hyeso membuat Hunjae melotot.
Tanpa sadar tangannya yang berada di samping tubuh terkepal. Mengingat nama sang Ibu tiri membuat amarah Hunjae kembali memuncak.
Smpai sekarang ia masih tidak bisa menahan amarahnya jika hal itu menyangkut soal Tuan Oh ataupun Gaeun. Sampai kapan pun Hunjae takkan bisa memafkan dua orang yang sudah menghancurkan hidupnya dan membut sang Ibu tiada.
“Apa yang wanita itu katakan?” nada suara Hunjae berubah drastis.
Kesan dingin juga gelap menyelimuti pria itu, bahkana ekspresinya menjadi cukup seram saat ini.
“Sebuah ancaman. Wanita itu mengatakan jika ia akan mencelakai ku dan membuat perhitungan jika aku masih meneruskan perjodohan ini. Dia ingin aku menolak dan memutuskan perjodohan ini,” jelas Hyeso.
Kemarin, Gaeun mendatangi butik miliknya. Dengan langkah angkuh wanita itu membuat keributan agar bisa bertemu dengan Hyeso.
Kemudian wanita itu berkata juga mengancam Hyeso agar membatalkan perjodohannya dengan Hunjae.
Ia juga mengatakan dengan nada percaya diri jika tidak ada yang bisa memiliki Hunjae selain dirinya, dan jika hal itu terjadi maka dirinya tidak akan segan untuk memberi pelajaran pada siapapun itu.
Genggaman tangan Hunjae kian menguat setelah mendengar cerita Hyeso soal Gaeun. Ia benar-benar sudah muak dengan perilaku wanita itu, dan dirinya takkan membiarkan wanitaitu hidup dengan tenang setelah semua kejahatan yang dilakukannya.
“Sebenarnya siapa Ibu tirimu, itu? Kenapa ia terlihat begitu terobsesi denganmu?” tanya Hyeso penasaran.
Hunjae terdiam, pria itu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kesal. Ia sempat melihat ke arah Hyeso sebentar, bimbang apakah ia harus menceritakan soal Gaeun atau tidak.
Setelah berpikir selama beberapa saat, pada akhirnya Hunjae memilih untuk menceritakan soal Gaeun pada Hyeso. Meski ia tidak menceritakan secara keseluruhan pada gadis itu.
“Dia adalah Ibu tiriku, sekaligus salah satu tersangka penyebab kematian Ibu,” buka Hunjae dengan nada lirih.
Sejujurnya menceritakan apa yang menimpa sang Ibu juga siapa dalang di belakang itu semua, sama dengan membuka luka lama yang coba Hunjae tutupi dengan sebaik mungkin.
Tapi jika ia tidak menceritakannya pada Hyeso dan Gaeun kembali berulah, maka Hunjae akan merasa kian bersalah sudah membawa gadis itu ke dalam masalahnya.
“Gaeun menjalin hubungan terlarang dengan Ayah dibelakang Ibu selama beberapa tahun. Sebenarnya Ibu sudah mengetahui hal itu, hanya saja karena rasa cinta Ibu yang begitu besar dengan keluarganya ia menahan diri. Membiarkan dirinya terluka demi keutuhan keluarga yang sebenarnya sudah hilang sejak Ayah mengenal wanitasialan itu.”
“Pada awalnya Ayah menjalin hubungan dengan sembunyi-sembunyi, namun kemudian ia dengan terang-terangan membawa Gaeun ke rumah. Ayah berniat menceraikan Ibu dan mengambil semua harta miliknya, tapi Ibu menolak dengan tegas. Karena alasan itulah Ayah juga Gaeun merencanakan untuk mencelakai Ibu dan membuat kematiannya seakan karena laka lantas,” jelas Hunjae lirih.
Sungguh, mengingat bagaiamana sang Ibu meregang nyawa karena ulah sang Ayah juga bagaimana raut bahagia keduanya setelah berhasil menyimgkirkan sang Ibu membuat emosi Hunjae kian memuncak.
“Lalu, kenapa ia terlihat begitu marah dengan perjodohan kita? Bukankah ia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan?” tanya Hyeso sekali lagi.
“Apa kau pikir Gaeun benar-benar menncintai Ayahku? Seorang wanita muda menikah dengan lelaki yang bahkanlebih cocok menjadi Ayahnya.”
Hyeso mendengkus, bukan itu yang dirinya maksud.
“Bukan begitu maksud ku. Bukankah ia sudah mendapatkan keinginanya untuk memiliki Yahmu dan harta yang kalian miliki meski hal itu belum seratus persen menjadi miliknya. Tapi kenapa ia sangat menentang perjodohan kita? Bukankah dengan kau menikah dan pergi dari rumah itu akan memudahkannya untuk menguasai semuanya?”
“Dia terobsesi denganku. Setelah kematian Ibu, dua orang menjijikan itu menikah. Dan semenjak ia datang ke rumah, Gaeun terus mencoba mendekatiku juga melakukan hal menjijikan!”
Hyeso tidak bisa berkata apapun, ia terlalu terkejut dengan apa yang baru diketahuinya sekarang. Dibalik sosok menyebalkan Hunjae, ternyata pria itu memiliki kisah kelam yang ia simpan dengan begitu rapat.
Tidak heran juga jika diriinya memilih keluar dari rumah orang tuanya. Juga ambisinya untuk menghancurkan orang tuanya sendiri yang begitu besar.