Minjoo kembali memoles diri di depan cermin. Gadis itu tersenyum sendiri melihat pantulan wajahnya di sana.
Entah kenapa ia merasakan suhu hangat di wajah, khususnya daerah pipi.
Terlalu asyik dengan lamunannya, Minjoo tidak sadar jika ponsel yang tergeletak di sampingnya sudah bergetar sejak tadi.
Tertera nama Park Chan kyung sebagai id pemanggil. Dengan segera Minjoo mengangkat panggilan tersebut.
"Halo," sapa nya pelan.
"Halo. Apa kau sudah siap?" tanya Chan kyung dari seberang panggilan.
Minjoo menjawab dengan cepat, gadis itu kemudian segera bersiap setelah Chan kyung mengatakan jika dirinya telah sampai di halte tidak jauh dari rumah Minjoo.
Ia dengan gerakan kilat menyambar tas yang tergeletak di atas ranjang, bersenandung kecil sambil berjalan ke luar rumah.
Entah kenapa perasaannya hari ini begitu baik. Atau mungkin karena dirinya yang akan bertemu dengan Chan kyung?
Entahlah, yang jelas suasana hati Minjoo benar-benar sedang dalam kondisi baik.
Gadis dengan celana jeans yang dipadukan dengan Sweater berwarna baby blue itu tersenyum cerah dengan satu tangan yang melambai di udara saat ia melihat Chan kyung yang benar-benar tengah menunggunya di halte.
Pria dengan celana panjang juga kemeja polos yang menutupi kaos putih di dalamnya. Pria itu memakai kemeja berwarna baby blue, sama seperti yang Minjoo kenakan.
"Kita memakai warna yang sama," ucap Chan kyung menyadari kesamaan di antara mereka.
Minjoo terkekeh, gadis itu mengangguk mengiyakan.
"Kau benar, padahal kita tidak janjian," ujarnya disertai kekehan.
"Apa mungkin itu sebuah takdir?"
Perkataan Chan kyung membuat Minjoo terdiam. Gadis itu tampak salah tingkah dan menggaruk bagian tengkuknya sendiri.
Chan kyung yang menyadari hal itu ikut tertawa kecil, tanpa sadar satu tangannya terangkat, mengusap kepala gadis di depannya dengan pelan.
Membeku. Minjoo terdiam setelah Chan kyung melepaskan tangannya dari atas kepalanya.
Semu merah samar muncul begitu saja di pipinya, membuat semburat rasa hangat tiba-tiba ia rasakan.
"Kau …, blushing?" pertanyaan konyol yang dilontarkan Chan kyung membuat Minjoo tersadar.
Gadis itu kemudian memalingkan wajah, ia memegangi pipinya sendiri yang masih saja terasa hangat.
"Sial! Kenapa aku harus bersemu?!" rutuk Minjoo dalam hati.
Keduanya saat ini terlihat seperti dia remaja yang baru saja akan melakukan kencan pertama mereka.
Cukup lama Minjoo mengalihkan wajahnya, sampai kemudian gadis itu rasakan sebuah tepukan halus di bahu sebelah kanan.
Ia berbalik, melihat ke arah Chan kyung dengan ekspresi bertanya.
"Busnya sudah datang, ayo."
Tanpa mengatakan apapun Chan kyung segera menggandeng tangan Minjoo dan menyeret pelan gadis tersebut ke arah bus yang memang sudah menunggu mereka.
Tidak ada yang dilakukan Minjoo, gadis itu masih cukup terkejut dengan apa yang sudah terjadi beberapa saat yang lalu.
Sungguh, saat ini Minjoo merasa jika dirinya seperti menjadi dirinya yang dulu. Menjadi Do Minjoo saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
Menjadi sosok gadis yang mudah tersipu bahkan dengan perlakuan kecil yang diberikan Park Chan kyung untuknya.
Meski dulu pria itu lebih sering memberikan perilaku buruk padanya, tapi semuanya terasa begitu mirip. Pikir Minjoo.
Keduanya duduk bersebelahan dengan Minjoo yang duduk di samping jendela. Gadis itu masih saja diam dengan wajah kaku karena salah tingkah.
Perjalanan menuju Namsan tower membutuhkan waktu lebih kurang lima belas menit dari tempat keduanya saat ini.
Minjoo menyandarkan kepalanya pada jendela bus, mengamati kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di samping bus yang mereka tumpangi.
Sebenarnya bukannya tanpa alasan Minjoo melakukan hal tersebut. Ia sengaja melakukannya demi menghindari kontak mata dengan Chan kyung.
Ia masih saja merasa gugup saat ini dan lebih memilih untuk berpura-pura fokus dengan hal lain.
Meski pada nyatanya gadis itu melihat melalui pantulan kaca bus jika Chan kyung tengah memperhatikan dirinya.
Juga genggaman tangan mereka yang masih belum mau terlepas.
Rasanya benar-benar membuat Minjoo tidak tahu lagi harus berkata ataupun melakukan hal lain.
Ia terlalu bahagia, juga … khawatir.
***
Keduanya sampai di tempat tujuan tidak lama kemudian.
Setelah turun dari bus keduanya berjalan menuju cafe yang berada tidak jauh dari Namsan Tower. Chan kyung bilang, dirinya kelaparan dan memutuskan untuk mampir sebentar mengisi perut sebelum nantinya kembali ke tujuan awal mereka.
Cafe yang dikunjungi berukuran tidak terlalu besar dengan desain minimalis.
Keduanya duduk di meja tidak jauh dari pintu masuk. Dengan pemandangan langsung mengarah ke jalanan melalui kaca besar yang ada di samping mereka.
Tidak ada percakapan yang berarti setelahnya, hanya ada Chan kyung yang sibuk dengan makanannya dan juga Minjoo yang sibuk memperhatikan pria itu.
Entahlah, mendadak memperhatikan Chan kyung jadi hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Atau sebenarnya, ada alasan lain untuk itu. Tidak ada yang tahu.
Merasa diperhatikan, Chan kyung yang semula masih fokus menyantap Egg Drop miliknya mendongak. Pria itu juga memperhatikan Minjoo yang nampaknya belum sadar dengan apa yang dilakukannya.
Tiba-tiba Chan kyung menyodorkan egg drop miliknya ke arah Minjoo, ia berpikir jika gadis itu juga lapar.
"Kau mau?" tawarnya.
Seakan tersadar dari lamunannya, Minjoo menggeleng dengan ekspresi canggung. Ia dengan segera meminum americano yang dipesan nya sambil mengalihkan wajah.
Melihat hal itu membuat Chan kyung tertawa kecil. Ia merasa lucu dengan ekspresi yang ditujukan Minjoo saat ini, ekspresi malu.
Setelah selesai mengisi perut, keduanya kembali berjalan ke arah Namsan Tower. Sudah sejak tadi jemari Chan kyung tertaut dengan jemari Minjoo.
Bahkan pria itu beberapa kali pria itu mengayunkan tangan keduanya dengan perlahan. Benar-benar terlihat seperti anak remaja yang tengah berkencan.
Keduanya menaiki tangga masih dengan bergandengan satu sama lain, menaiki kereta gantung hingga sampai di atas menara.
Keduanya menikmati pemandangan menakjubkan dari atas sana, mengobrol juga bercerita banyak hal layaknya teman lama.
Sampai kemudian Chan kyung bertanya pada Minjoo soal gembok.
"Kau mau memasang gembok?" tanyanya.
Tanpa berpikir panjang Minjoo mengangguk, keduanya kemudian membeli gembok masing-masing dan menulis harapan mereka di sana.
"Apa yang kau tulis?" tanya Chan kyung setelah selesai menulis harapan pada gemboknya.
Minjoo yang saat itu masih belum selesai menulis dengan cepat menyembunyikan gembok miliknya, menghalangi Chan kyung agar tidak melihat apa yang sedang dirinya tulis.
"Rahasia," ujarnya dengan senyum jahil.
Chan kyung mendengkus, dan Minjoo terkekeh melihat hal itu.
"Kau sendiri, apa yang kau tulis?"
Dengan gerakan cepat, Chan kyung melakukan apa yang sebelumnya dilakukan Minjoo, menyembunyikan gembok miliknya.
"Rahasia," sahutnya sambil menjulurkan lidah.
Minjoo mendecih, tidak lama kemudian mereka memasang gembok masing-masing di tempat yang berbeda.
"Bagaimana kalau kita buat perjanjian?" perkataan Chan kyung membuat Minjoo menoleh. Bertanya lewat sorot mata apa yang sedang dimaksud oleh pria di sebelahnya ini.
"Aku ingin berjuang sekali lagi. Sebulan. Hanya satu bulan waktu yang ku minta untukku berusaha mengembalikan kepercayaan mu soal perasaanku."
"Jika sampai waktunya habis kau masih belum bisa menerimaku kembali, maka aku akan mencoba untuk menghapus perasaan ini. Tapi jika itu berhasil, kita akan kembali ke sini dan memberitahu keinginan yang kita tulis di gembok."
"Aku tahu mungkin yang ku lakukan sekarang adalah egois. Aku masih mencoba mempertahankan keinginanku tanpa mau menoleh ke belakang, melihat bagaimana perlakuanku padamu dulu. Aku mengakui itu."
"Tapi ada hal yang harus kau tahu, bahwa penyesalan itu benar-benar ada dan aku baru mengetahuinya setelah kau pergi. Dan apa yang ku rasakan saat ini aku juga menyadarinya. Semuanya murni dari hatiku, perasaanku dan rasa penyesalanku."
"Jadi, apa kau mau memberikan ku kesempatan sekali lagi untuk berjuang?"