Suasana seketika menjadi canggung. Minjoo menggaruk tengkuknya sendiri yang sebenarya tidak terasa gatal.
Pengakuan mendadak yang dikatakan Chan Kyung membuatnya tidak dapat berpikir untuk saat ini, gadis itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
Ditengah keheningan yang terjadi di antara mereka, tiba-tiba tangan besar Chan Kyung terangkat dan mengusak rambut Minjoo. Hal itu membuat si gadis Do mendongak kearah Chan Kyung dengan ekspresi kebingungan.
“Tidak perlu terlalu dipikirkan, kau hanya perlu berkata, ya. Dan aku akan melakukan sisanya,” ujarnya dengan sebuah senyuman.
Senyuman yang dulu Minjoo lihat saat Chan Kyung tengah berbicara dengan orang yang ia pikir disukai pria itu.
“Kau hanya perlu membiarkan ku berusaha, juga memberikan jawabanmu saat waktunya tiba nanti,” lanjut Chan Kyung masih dengan senyum yang bertengger di wajahnya.
Setelah terdiam selama beberapa detik, Minjoo pada akhirnya mengangguk. Gadis itu menyetujui permintaan Chan Kyung untuk kembali berusaha.
Tidak ada dasar khusus atas keputusan yang diambil oleh Do Minjoo, ia hanya berpikir jka semua orang pernah berbuat salah dan bisa saja menyesal.
Lagipula, Chan Kyung telah membuktikan jika dirinya sudah berubah, Minjoo hanya perlu memantapkan hatinya dan meyakinkannya sekali lagi dengan jawaban yang akan dirinya ambil nantinya.
Badan Minjoo membeku, otaknya mendadak sulit untuk mencerna apa yang baru saja terjadi saat dengan tiba-tiba Chan Kyung menariknya ke dalam pelukan pria itu.
Ia juga sempat beberapa kali mendaratkan kecupan ringan di kepala Minjoo, membuat gadis itu merasa berubah seperti batu seketika.
Otaknya seakan menguap saat itu juga, tidak ada yang bisa dilakukannya pada saat itu. Bahkan untuk menolak ataupun membalas pelukan Chan Kyung, Minjoo tidak bisa memikirkannya.
“Terima kasih, Do Minjoo,” hanya itu yang bisa Minjoo dengar dari Chan Kyung dengan suara lirih.
Setelah selesai dengan kegiatan mereka di Namsan Tower, keduanya kembali melanjutkan petualangan mereka ke arah sungai Han.
Tidak ada tujuan khusus bagi mereka untuk datang ke sana, hanya sekadar jalan-jalan sebagai teman. Mungkin.
Saat itu hari sudah menunjukan sore hari. Setelah seharian puas berjalan-jalan kini saatnya bagi Chan Kyung untuk mengantarkan Minjoo kembali ke rumahnya.
Keduanya kembali menggunakan bus dan berhenti di halte yang sama. Bahakan Chan Kyung juga mengantarkan Minjoo hingga ke depan pekarangan rumah gadis itu.
Namun ada yang berbeda saat ia mengantarkan si gadis Do hingga di depan rumahnya, lebih tepatnya soal seseorang yang ada di depan rumah Minjoo saat itu.
Seorang pria dengan mantel berwarna coklat yang tengah menatap ke arah pintu dalam diam.
“Hunjae,” gumam Minjoo dengan suara lirih.
Chan Kyung yang mendengar itu mengernyitkan dahi. Hunjae? Ada urusan apa pria itu bertamu ke rumah Minjoo?
Dengan segera Minjoo mendekat ke arah Hunjae diikuti Chan Kyung di belakangnya, ia menepuk bahu pria itu.
Hunjae menoleh, mata Minjoo terbelalak begitu menyadari ada yang salah dengan sahabatnya ini. Wajahnya nampak murung juga matanya yang terlihat cukup merah, seperti baru saja selesai menangis.
“Hai,” sapa Hunjae dengan suara lirih.
Ia sempat menoleh sebentar ke arah Chan Kyung yang berdiri di antara mereka, pria itu juga menyunggingkan senyum tipis yang masih bisa disadari oleh dua orang lainnya.
Sadar jika ada sesuatu yang tejadi dngan Hunjae, Minjoo kemudian meminta Chan Kyung untuk kembali.
“Chan Kyung, terima kasih untuk hari ini,” katanya.
Chan Kyung yang juga sadar dengan keadaan mengangguk setuju, pria itu kemudian berpamitan pergi dari sana.
“Mauklah, ceritakan semuanya di dalam,” ucap Minjoo dan membawa Hunjae masuk ke dalam rumahnya.
***
Minjoo baru sajakembali dapur dengan segelas air hangat, ia menyerahkannya pada Hunjae yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
“Apa yang terjadi?” tanya Minjoo dengan suara lirih.
Pria itu terdiam selama beberapa saat, menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
“Aku benar-benar muak dengan Ayahku dan jalang itu,” ucap Hunjae dengan satu tangan yang terkepal di atas paha.
Minjoo tahu apa maksudnya, ia tahu bagaimana perasaan pria itu dan siapa yang dimaksud.
Meski Hunjae tidak pernah menceritakan semuanya secara gamblang soal apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya, namun Minjoo paham dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
“Apa yang dilakukan wanita itu kali ini?” tanya Minjoo.
Terdengar sekali lagi helaan napas berat Hunjae, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, merasa muak juga kesal dengan apa yang terjadi sebelumnya.
Beberapa jam yang lalu, tepatnya setelah kepulangan Hyeso dari rumahnya, terdengar suara bel yang berasal dari pintu utama.
Hunjae yang saat itu masih berada di rumahnya dan baru saja akan bersiap berangkat ke kantor menghentikan aktivitasnya.
Baru saja ia berjalan hendak membuka pintu, aksinya tertahan saat Yura menghentikannya lebih dulu.
“Biar aku saja,” kata gadis itu.
Hunjae mengangguk saja, ia kembali ke ruang tengah dan kembali menyiapkan berkas-berkas yang akan ia bawa ke perusahaan.
Selang beberapa menit Yura tidak kunjung kembali, membuat Hunjae sedikit khawatir akan gadis itu. Ia khawatir jika ternyata yang datang ke rumahnya adalah mantan kekasih Yura.
Saat Hunjae melangkah untuk menyusul Yura, langkah pria itu terhenti saat mendengar suara yang tidak asing.
Suaraseorang wanita yang tengah melontarkan kalimat-kalimat sarkas ke arah Yura yang tengah menunduk.
“Kim Gaeun,” lirih Hunjae.
Wanita yang bernama Gaeun tersenyum kecil ke arah Hunjae. Ia kemudian mengabaikan Yura dan mendekat ke arah Hunjae dengan senyum yang bertengger di wajahnya.
Wanita dengan dress berwarna merah itu melihat ke arah Hunjae dengan senyum miring di wajahnya.
“Apa sekarang kau berniat menghianati ku?’ Gaeun berbisik lirih, membuat napas Hunjae memburu juga tangannya yang terkepal di samping tubuh.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hunjae dengan suara yang dingin.
Terlihat jelas raut wajah yang terlihat begitu kontras dengan beberapa saat yang lalu. Kepalan tangan Hunjae mengerat hingga buku-buku jarinya memutih, terlihat jelas jika pria itu tengah menahan emosi.
“Apa salah jika seorang Ibu menengok anaknya?” sahut Gaeun masih dengan senyum yang tersemat di wajahnya.
Hunjae terkekeh sumbang, ia menyingkirkan tangan Gaeun yang saat itu bertengger di bahunya, ia kemudian menoleh ke arah Yura dan meminta gadis itu untuk masuk ke kamar miliknya.
“Ku dengar kau menerima perjodohan dengan Hyeso,” tanya Gaeun.
“Apa pedulimu?”
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini, tapi apa kau yakin jika keselamatan gadis itu akan baik-baik saja setelah ini? Juga soal gadis itu, apa ia kekasihmu?”
“Apa yang ku lakukan dan apa yang terjadi padaku, itu bukan urusanmu. Kau hanya peduli dengan harta yang dimiliki oleh Ayahku, bukan?”
Gaeun mengganguk, ia tersenyum sekali lagi ke arah Hunjae dan membisikkan sesuatu pada pria itu membuat Hunjae menggeram kesal dan mengumpat saat itu juga.
“Jika kau berani menyentuh Hyeso dan Yura, maka aku tidak akan segan untuk menghabisi dirimu,” ucap Hunjae dengan menggeratakkan gigi.