Gaeun tertawa kecil mendengar ancaman yang dilontarkan Hunjae. Wanita itu berjalan mengelilingi si pria dengan mata yang masih saja terfokus menatap ke arahnya.
"Kita lihat saja, apa kau bisa menghancurkan diriku dengan rencana bodoh mu itu. Atau justru kau sendiri yang akan hancur karenanya?"
"Ingat satu hal, sayang. Bahkan Ayahmu saja takluk denganku apalagi dirimu, seorang anak muda yang memiliki ambisi kosong dengan pemikiran naif penuh emosi."
Perkataan Gaeun membuat emosi Hunjae kian naik. Jika saja ia tidak tengah berhadapan dengan seorang wanita, sudah tentu sebuah tinju dengan senang hati ia layangkan.
Tapi sayangnya ia masih waras untuk tidak menjadi seorang pecundang dengan memukul seorang wanita.
"Sebaiknya kau pergi sekarang juga, sebelum aku kehilangan kesabaran ku," ucap Hunjae dengan mata tajam menatap ke arah Gaeun.
Wanita itu kembali tersenyum, tidak tampak guratan takut sedikitpun di wajahnya. Ia justru berjalan mendekat, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hunjae yang merah padam karena menahan emosi.
"Terserah padamu, Oh Hunjae."
Tepat setelah itu, sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Hunjae. Gaeun pergi melenggang dengan santainya, meninggalkan Hunjae dengan rasa marah luar biasanya.
"Sialan!" umpat Hunjae.
Tangan pria itu masih saja terkepal di samping tubuh, bahkan kini tangannya nampak begitu nenerah akibat kuatnya kepalan tangan.
Sementara itu, tanpa disadari siapapun. Yura mengintip dari balik tembok penghubung ruang tengah juga tuang tamu.
Ia mendengar dan melihat semuanya, termasuk saat Gaeun mencium pipi Hunjae.
Ada sedikit rasa cemburu di dalam perasaan gadis itu, namun rasa penasaran akan sosok Gaeun juga apa hubungannya dengan Hunjae jauh lebih besar.
Ia takkan bertanya hal itu pada Hunjae, ia masih cukup tahu diri dengan melihat bagaimana kondisi juga emosi si lelaki bermarga Oh pada saat ini.
Setelah menceritakan semuanya pada Minjoo, Hunjae menghela napas kasar. Ia memijat kepalanya yang terasa pening dengan ibu jari.
Minjoo tidak langsung berkomentar, gadis itu memilih untuk diam sejenak dan membiarkan Hunjae menenangkan diri selama beberapa waktu.
Setelah dirasa Hunjae mampu menguasai dirinya lagi, Minjoo baru bersuara. Gadis itu menanyakan soal apa yang jadi rencana Hunjae selanjutnya.
"Lalu apa rencana mu? Ku pikir Gaeun sudah mulai tahu dengan rencana mu saat ini, dia tidak akan berani mendatangimu tanpa tahu kelemahan mu," kata Minjoo yang di angguki oleh Hunjae.
Ia juga tahu, Gaeun bukanlah orang sembarangan. Dengan otak licik juga kemampuannya dalam bersandiwara, dia dapat dengan mudah memanipulasi ataupun merencanakan sesuatu yang diluar dugaan.
Berhadapan dengan Gaeun sama dengan berhadapan dengan seekor belut. Licin dan sulit untuk di dapat.
Hunjae harus memiliki siasat cerdik dan tentunya lebih licik agar bisa menangkap Gaeun dalam perangkapnya.
Ia tidak akan kalah dari wanita yang sudah menghancurkan keluarganya itu.
"Kau benar. Aku harus bisa memanfaatkan keadaan dan menjadi lebih licik agar wanita ular itu bisa tertangkap dan membongkar seluruh kejahatannya sendiri," gumam Hunjae dengan tangan terkepal.
Emosinya selalu saja berapi-api jika hal itu menyangkut dengan Gaeun.
"Katakan saja padaku jika kau perlu bantuan. Aku akan membantumu dengan senang hati," kata Minjoo dengan senyum tulus.
Hunjae melihat ke arah si gadis Do, dengan gerakan cepat tubuh mungil Minjoo sudah berada dalam dekapannya.
Hunjae memang tidak pernah salah menjadikan Minjoo sebagai rumah, tempat ia kembali dan pulang disaat lelah.
Meski di sisi lain Hunjae juga tidak tahu apakah gadis dalam pelukannya saat ini juga akan menjadikannya rumah, tempatnya kembali atau justru ia menemukan rumah lain untuk tempatnya pulang.
Hunjae tidak terlalu mempedulikan itu sekarang. Selama Minjoo masih ada untuknya, dan selama gadis itu belum memiliki rumah yang pasti. Maka selama itu pulalah Hunjae akan dengan siap siaga menjadi 'rumah singgah' untuknya.
***
Chan kyung kembali ke rumahnya dengan perasaan bahagia. Ia tidak menyangka jika jawaban yang diberikan Minjoo sesuai dengan apa yang dirinya harapkan.
Sesampainya pria itu di pelataran rumah, ia dikejutkan dengan adanya seorang wanita dengan rambut panjang juga pakaiannya yang serba panjang.
Jika dilihat dari figur bagian belakang, Chan kyung serasa familier dengan perempuan yang saat ini berdiri di depan pintu rumahnya.
Ia nampak ragu-ragu untuk mengetuk pintu, sampai kemudian wanita itu berbalik dan tampak cukup terkejut mengetahui mobil milik Chan kyung telah terparkir di depan pekarangan rumah.
Pria itu keluar dari mobilnya dan menghampiri si gadis. Sementara gadis itu hanya terdiam mematung dengan matanya yang senantiasa mengikuti kemana langkah Chan kyung dibawa.
"Mencari siapa?" pertanyaan yang terucap dari bibir Chan kyung tidak pantas membuat gadis tersebut menjawab dengan cepat.
Ia masih saja terpaku menatap Chan kyung hingga saat ini keduanya sudah berhadapan di depan pintu masuk.
"Hello? Kau mendengar ku, nona?"
Lambaian tangan di depan wajah membuatnya tersadar. Ia berdeham beberapa kali karena gugup, ia iuga memalingkan wajahnya berusaha menghindari kontak mata Chan kyung yang saat ini tengah melihat ke adanya.
Sebuah anggukan kecil jadi jawaban kemudian. Meski Chan kyung masih melihat dengan wajah kebingungan, gadis itu bertanya dengan suara lirih.
"Apa … kau Park Chan kyung?"
Meski pada mulanya alis Chan kyung terangkat karena merasa aneh, pria itu mengiyakan kemudian.
Terlihat jika mata gadis itu mulai memerah, juga embun yang berada di sekitar matanya. Seolah menandakan jika gadis di depannya ini akan menangis.
"Anda siapa? Ada keperluan apa anda kemari?"
"Kau tidak mengingatku? Aku …."
Ucapan gadis itu tertahan, ia lebih dulu mengusap air matanya dan berusaha menenangkan diri sejenak.
"Aku, Hyeso."
Tidak ada respon berarti yang diberikan Chan kyung setelah mendengar nama dari si gadis. Justru Hyesoo lah yang saat ini tampak begitu emosional.
Mata gadis itu berkaca-kaca juga memerah seperti menahan tangis. Belum lagi dengan suasana hatinya yang mendadak berubah-ubah sehingga sulit diketahui apa yang sebenarnya tengah dirinya rasakan.
"Ada keperluan apa Nona datang ke rumahku?"
Pertanyaan yang sebenarnya sama sekali tidak terduga keluar dari sela bibir Chan kyung. Raut wajah pria itu juga sama seperti beberapa saat sebelumnya, kebingungan.
"Bisa kita masuk sebentar?" pinta Hyesoo dengan suara lirih.
Sejujurnya ia sudah tidak bisa menahan diri. Air mata sudah mulai mencuri start turun membasahi pipinya, meski dengan secepat kilat gadis itu menghapusnya.
Ragu-ragu Chan kyung menyetujui permintaan Hyesoo, keduanya masuk ke dalam rumah Chan kyung.
Dua orang dewasa tersebut duduk berhadapan dengan suasana hening di antara mereka.
Jujur saja Chan kyung sendiri merasa kebingungan, ia tidak tahu harus melakukan apa. Gadis di hadapannya ini tampak begitu emosional, ia juga terlihat seperti mengenalnya.
Tapi sebenarnya siapa dirinya? Hyesoo ….
Nama yang sebenarnya tidak asing, tapi entah kenapa Chan kyung tidak bisa mengingat siapa itu Hyesoo dan apa hubungan gadis ini dengan dirinya.