Bab 6

928 Words
Perspektif Amanda.. Setelah ciuman saya dengan Jonathan, saya memutuskan untuk pulang ke rumah untuk menyelesaikan PR saya. Entah bagaimana, menciumnya awal membuatku merasa lebih baik. Aku sadar bahwa tidak apa-apa untuk tersesat pada saat ini. Tidak apa-apa untuk mencintai dengan bersalah, jika ia adalah orang yang benar. Tidak apa-apa untuk mencintai dan tidak memiliki, meski sangat menyakitkan. Aku tiba di rumah dan memasuki kamar ku, melihat bahwa Alina sekarang tengah sibuk dengan HP nya. Aku berasumsi dia telah menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya. "Kak, jadi bagaimana dengan Jo? Apakah dia bertingkah normal lagi sekarang?" Alina bertanya. Aku hampir melompat karena terkejut. Saya melihat Alina duduk di tempat tidurnya sambil menggenggam HP nya. Perasaan bersalah tiba-tiba mengisi hati ku, mengetahui bahwa aku baru saja mencium pria yang aku tahu juga disukai saudara kembar ku. Namun, terlepas dari apa yang baru saja saya lakukan dengan Jonathan, kami sepakat untuk tidak memberi tahu Alina tentang hal itu, demi kebaikan perasaannya sendiri, dan untuk mencegah konflik apapun. "Tidak apa-apa," aku berkata. "Jadi apa yang membuat Jonathan menjadi aneh akhir-akhir ini?" Alina bertanya. Aku hampir mengeluarkan keringat gugup. Aku tidak pandai mengarang cerita, tapi sepertinya aku harus melakukannya sekarang, dengan cepat. "Oh... dia begitu sibuk dengan PR nya belakangan ini. Sepertinya ibunya telah mendorongnya untuk lebih fokus untuk belajar," kataku, mengetahui fakta bahwa apa yang baru saja kukatakan adalah salah satu alasan terburuk yang bisa kukarang. Alina menatap ku dengan tatapan bingung. Aku ragu dia akan mempercayai pernyataan ku, tapi aku berharap dia benar-benar percaya. "Umm...ok," jawabnya, masih ada kebingungan dalam suaranya. "Tapi dia baik-baik saja sekarang. Jadi semuanya kembali normal," kataku sambil melepas kardigan hitamku saat berjalan melewati kakakku, menghindari kontak mata dengannya di saat-saat canggung ini. Saat ini aku hanya ingin pergi tidur secepat mungkin. Hari berikutnya... Di Sekolah... "Jadi pria itu benar-benar melompat keluar dari jendela," kata Jonathan kepada Alina dengan nada bersemangat namun serius. "Pria itu seperti seorang i***t," kata Alina. Dia sedang mendengarkan Jonathan menceritakan spoiler dari film yang baru saja dia tonton. Aku tengah mengunyah makanan ku, sebelum pandangan ku bergerak bolak-balik di antara kedua remaja itu. Aku senang semuanya telah kembali normal, dengan kami bertiga berkumpul dan berbicara seperti biasa. Yah, setidaknya 99% perasaanku sudah kembali normal. Dan untuk 1% itu, yah, entah bagaimana itu adalah jenis perasaan kecil yang berbeda. "Menyebalkan sekali," Alina berkata, sebelum menggigit roti panggangnya. Jonathan tersenyum. "Itu hanya film, Alina. Santai saja." Aku melihat Jonathan tersenyum pada Alina, di mana aku melihat Alina agak tersipu oleh tindakannya. Aku tahu seharusnya aku merasa benar-benar normal dengan ini, tapi entah kenapa, aku tidak bisa menahan perasaan aneh di dadaku. Meskipun kemarin malam Jonathan dan aku setuju bahwa kami bertiga harus tetap berteman, dan fakta bahwa kami juga setuju untuk menyembunyikan ciuman yang terjadi kemarin malam dan perasaanku padanya dari Alina, namun entah kenapa aku tidak bisa mengatakan bahwa aku 100% puas dengan keputusan akhir kami. Tentu aku tidak berpikir Alina mengetahui tentang apa yang terjadi antara Jonathan dan aku akan ada gunanya, dan aku tidak ingin menimbulkan masalah baru. Sudah cukup bahwa kami bertiga terlibat dalam cinta segitiga ini, tanpa Alina menyadarinya. Aku perhatikan bagaimana mata cokelat Alina berbinar saat dia menatap Jo dengan rasa malu. Tentu saja, Jonathan tidak menyadari hal ini karena dia hanya menatap nasi goreng yang berada di kotak makannya. Aku tidak perlu mempelajari saudara kembar ku untuk mengetahui apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Cukup jelas bahwa dia tertarik pada Jo. Bahkan, aku pikir perasaannya lebih jelas daripada perasaan ku, atau mungkin.... Aku lebih baik dalam menyembunyikannya? Beberapa jam kemudian.... Setelah Sekolah... "Sampai jumpa besok," kata Jonathan sambil melambai pada Amanda dan Alina. "Sampai jumpa, Jo!" Alina melambai ke arah Jonathan, sementara Amanda hanya berdiri diam, bahkan tidak mau repot-repot menatap Jonathan. Saat Jonathan memasuki mobilnya, Alina mengalihkan pandangannya ke Amanda, hanya untuk melihatnya diam sambil menatap sepatunya. "Kak, kamu baik-baik saja?" Alina bertanya. Amanda menggerakkan kepalanya dan melihat ke arah saudara kembarnya, tentu dia agak terkejut ketika Alina memanggilnya. "Ya, aku baik-baik saja. Ayo pergi," jawab Amanda dan kedua gadis itu berjalan menjauh dari sekolah, bersiap untuk pulang. Jam 7 malam... Di rumah... Amanda dan Alina sedang makan malam dengan ibu mereka, sambil mendengarkan dia berbicara tentang bagaimana harinya di kantor. Untuk malam ini, mereka memutuskan untuk memasak sup ayam. Ini adalah makanan favorit ibu mereka. Perspektif Amanda... Ketika saya terus mendengarkan ibu saya berbicara tentang salah satu rekan kerjanya yang menyebalkan, mau tidak mau saya membiarkan pikiran saya melayang ke tempat lain. Katakan saja, saya bahkan tidak fokus pada apa yang ibu saya bicarakan, karena dia selalu menceritakan kisah lama yang sama berulang kali. Bukannya itu menggangguku, tapi malam ini aku tidak bisa fokus padanya. Malam ini, lucu menyadari bahwa pikiran ku sedang memikirkan sesuatu, atau lebih tepatnya, memikirkan orang lain. "Amanda, kamu baik-baik saja?" Aku sedikit terkejut. Ya ampun, aku begitu tenggelam dalam pikiranku sendiri sehingga aku bahkan belum menghabiskan supku dalam keadaan seperti ini. Biasanya aku selalu menyelesaikan makan malamku sebelum Alina. Yah, bisa dikatakan karena Alina cukup lambat, tapi malam ini berbeda. Alina tengah menyantap kue coklat sebagai pencuci mulut, dan di sini aku masih belum selesai dengan supku. "Sayang, kamu lelah?" Aku menghela nafas. Aku tidak punya alasan yang lebih baik di kepala ku, jadi hanya akj mengatakan bahwa aku lelah kurasa cukup. Aku tidak ingin menjelaskan kepada ibu ku tentang pemikiran ku tentang sahabat ku. "Ya," jawabku. "Kalau begitu kamu harus tidur lebih awal. Tidak heran kamu terlihat sangat lelah," kata ibuku. "Itu benar," Alina berkata. "Oke," ku berkata, sebelum melanjutkan untuk menghabiskan supku, lagi-lagi dengan pikiran yang masih melayang. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD