Bab 5

1043 Words
Sudah seminggu sejak Jonathan menjadi lebih diam sejak apa yang diceritakan Johnny padanya tentang perasaan Amanda dan Alina. Dia memilih untuk duduk sendirian di Kantin belakangan ini, dan dia benar-benar tidak berkomunikasi dengan banyak orang. Hal ini sangat berbeda dengan kebiasaannya yang sangat ramah dengan semua orang. Amanda dan Alina memperhatikan perubahannya, tetapi Jonathan mengatakan kepada mereka bahwa dirinya baik-baik saja. Di rumah Amanda dan Alina... "Cukup sudah disini! Aku akan mencoba berbicara dengan Jonathan lagi!" Kata Amanda sambil mengambil HP nya dari mejanya. "Kami mencoba berbicara dengannya selama seminggu, dan dia bilang dia baik-baik saja. Yah, meskipun dia jelas TIDAK BAIK, tapi mungkin kita harus mencari tahu kenapa? Karena dia menolak untuk membicarakannya." Kata Alina sambil duduk di tempat tidurnya. "Aku akan mengunjungi rumahnya!" Kata Amanda sambil mencoba menelpon Jonathan untuk ke sekian kalinya. Namun, ponselnya Jonathan sedang tidak aktif. Amanda berasumsi ia mungkin sedang mengisi daya ponselnya, atau bisa saja yang sengaja mematikan HP nya agar terhindar dari telepon Amanda dan Alina. "Dia tidak mengangkatnya! Ya sudah aku kesana dulu!" Kata Amanda. "Mama menyuruh kita menyelesaikan PR kita dulu!" Alina mengingatkan saudara kembarnya bahwa mereka masih memiliki banyak PR. "Aku tinggal menyelesaikan 2 lagi. Aku bisa menyelesaikannya saat aku kembali." Amanda berkata sambil mengenakan kardigannya. "Kau tidak ikut dengan ku?" Amanda bertanya pada saudara kembarnya. "Aku benar-benar masih harus menyelesaikan PR ku dulu." Alina menjawab dengan kecewa, karena dia sangat ingin mengunjungi Jonathan. "Oke. Aku akan kembali sekitar 2 jam lagi. Bye!" Kata Amanda sebelum meninggalkan ruangan dan menutup pintu. Di rumah Jonathan ... Johnny membuka pintu dan melihat Amanda berdiri dengan kardigan hitam dan celana jins hitam. Amanda mengatakan kepadanya bahwa dia ingin bertemu dengan Jonathan. Johnny pun mengantarkan Amanda ke kamarnya Jonathan. Di kamar Jonathan .. "Baik Jo, cukup sudah semua ini! Apa yang terjadi?" Amanda bertanya pada sahabatnya. "Aku baik-baik saja! Aduh, kenapa kamu harus membicarakan hal ini sepanjang waktu?" Kata Jonathan dengan nada mengeluh. Ia benar-benar terdengar seperti ia tidak ingin membicarakan hal ini. "Bukankah kamu mengatakan itu terlebih dahulu, Jo? Bukankah aku akhirnya mengubah cara ku setelah pertunjukan, yang membuat kamu merasa ada sesuatu yang berbeda tentang aku? Ya, sekarang semua itu berbalik pada mu! Kami bertindak sangat beda, Jo!" Kata Amanda kepada sahabatnya. Dia kecewa padanya karena menjaga jarak selama seminggu. Jonathan yang terus mendengar hanya dapat terdiam di kursinya sambil menatap ke lantai. "Aku merindukan sahabat ku! Aku dan Alina..kami merindukan mu! Kami merindukan kakak laki laki kami! Kami merindukan pria yang tidak pernah membuat kami canggung. Kami merindukan pria kesukaan kami di Sekolah!" Ucap Amanda sambil mencoba menahan air mata yang mulai memenuhi matanya. Jonathan memerhatikan bahwa Amanda berusaha menahan air matanya. Perlahan, Jonathan mulai beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah Amanda. Dia menatap wajahnya dan mengusap air mata Amanda menggunakan ibu jarinya. "Maaf. Aku tidak pernah bermaksud menghindari mu dan Alina. Kalian seperti saudara perempuan ku! Aku tidak akan pernah menyakiti kalian! Aku peduli pada kalian berdua." Jonathan meminta maaf sambil mencoba menenangkan sahabatnya yang kini tengah meneteskan air mata. "Lalu kenapa kamu berubah, Jo?" Amanda bertanya dengan mata masih berlinang air mata. Jonathan menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengeluarkan kata-kata. Dia pikir ia tidak bisa menyimpan ini untuk dirinya sendiri lagi. Apa pun yang terjadi, lebih baik kebenaran diungkapkan, daripada hidup dalam kebohongan. Jonathan tak tahan lagi menghindar dari orang orang yang ia sayangi. "Seminggu yang lalu, kakak ku melihat sesuatu di foto kami dari Taman Acara yang tidak pernah aku sadari sebelumnya." Jonathan mulai menceritakan kisahnya sambil memegang bahu Amanda. "Apa itu?" Amanda bertanya dengan nada bingung. "Dia melihat ekspresi wajah mu dan Alina. Dia bilang pada ku, mungkin ada kemungkinan kalian berdua ...." Jonathan mencoba menemukan kata yang tepat untuk menyelesaikan kalimatnya. "Apa?" Tanya Amanda. "Menyukai ku." Jonathan akhirnya menyelesaikan kalimatnya. Wajah Amanda menjadi terkejut dalam sekejap. "Setelah itu, aku memikirkan segalanya. Aku ingat kalian berdua bertingkah berbeda akhir-akhir ini, seolah-olah ada sesuatu yang istimewa disembunyikan. Aku merasa bodoh karena tidak tahu lebih awal mengenai perasaan kalian, dan perasaanku menjadi bingung. Mengingat kalian berdua adalah sahabat ku, aku tidak tahu harus berbuat apa. Ini sangat rumit. Sejak itu, aku hanya ingin sendiri, dan itulah mengapa aku menjauhkan diri dari kamu dan Alina. Aku takut hanya akan menyebabkan kesalahpahaman diantara kami." Jonathan memberi tahu Alina semua yang dia rasakan selama seminggu. Amanda hanya berdiri diam dengan wajah kaget. Dia tidak tahu harus berkata apa. Jonathan baru saja memberitahunya bahwa dia tahu dia (Amanda) dan Alina memiliki perasaan padanya, dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Setelah hening beberapa saat, Jonathan akhirnya memutuskan untuk memecah keheningan. "Amanda.." Kata Jonathan. "??" Amanda hanya menatapnya sahabatnya dengan mata kosong. Dia tidak tahu harus berkata apa. "Besok, aku ingin bicara dengan Alina di taman. Aku ingin menceritakan semuanya padanya, seperti yang baru saja ku katakan padamu." Jonathan berkata pada Amanda. "Iya." Amanda hanya menjawab dengan kepala menunduk. Jonathan menatap sahabatnya yang kini menunduk dengan wajah bingung. "Jo?" Amanda bertanya pada Jonathan. "Iya?" Jonathan menjawab Amanda. Kini ia merasa sedikit lebih baik karena sahabatnya akhirnya mengeluarkan beberapa kata. "Hubungan ini terlalu berat untuk kita bertiga! Jika aku bersama mu, aku akan menyakiti Alina. Dan aku tidak ingin menyakiti saudara kembar ku. Tapi jika kau bersama Alina, aku tahu kau tidak ingin membuatku dan Alina merasa sakit hati. " Amanda berkata dengan kesedihan di matanya. "Aku tidak pernah bisa melakukan itu!" Kata Jonathan. "Tapi suatu hari, saya tidak ingin hidup dalam penyesalan, mengetahui bahwa saya tidak pernah memberi tahu sahabat ku bagaimana perasaan ku yang sebenarnya." Amanda berkata dengan mata berkaca-kaca. "Amanda, kamu baru saja memberitahuku semua. Aku sudah mengerti." Jonathan memberi tahu sahabatnya bahwa dia mengerti. "Bukan hanya itu, Jo! Ada hal lain." Kata Amanda. "Apa itu?" Jonathan bertanya pada sahabatnya. "Jonathan... suatu hari kita bertiga akan melupakan cinta kita yang masih muda dan melanjutkan hidup kita masing masing. Akhirnya, kita akan menikahi orang yang tepat untuk kita, yang akan kita cintai untuk selamanya." Kata Amanda. "Tapi sebelum itu, bisakah kita memeluk cinta muda ini saat kita masih muda?" Amanda bertanya padanya dengan harapan di matanya. "Bagaimana?" Jonathan bertanya kepada sahabatnya yang mulai berjalan lebih dekat dengannya. "Ini, Jo .." Kata Amanda sambil perlahan menutup matanya. Hanya dalam beberapa detik, bibir Amanda menyentuh bibir Jonathan, dan keduanya berciuman dengan harapan semua tak akan berakhir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD