Bab 4

1942 Words
Sabtu, di Taman Acara ... "Jadi apa yang akan kita lakukan dulu?" Jonathan bertanya pada Amanda dan Alina. "Ada yang punya ide?" Amanda bertanya pada Alina dan Jonathan. "Mungkin...mencari camilan?" Alina berkata kepada Amanda dan Jonathan. Mereka mengangguk setuju. "Bagus! Mari mencari camilan," kata Alina sambil memimpin. Ketiga remaja itu mencari camilan yang terlihat enak, dari satu kios ke kios lainnya. Mereka berakhir dengan membeli banyak camilan. "Kalian benar-benar sangat kuat makan," kata Jonathan sambil menghitung berapa banyak camilan yang kini ada di tangan mereka. "Haha terima kasih," kata Amanda. "Mungkin kita mewarisi ini dari mama kita," kata Alina sambil tersenyum. "Haha, dan kenapa begitu?" tanya Jonathan. "Mama kita sangat suka kuliner," kata Amanda kepada Jonathan. Tepat ketika ketiga remaja itu berbicara sambil berjalan, tiba-tiba seorang pria yang mereka kenal dari Sekolah mendatangi mereka. "Hai gadis gadis cantik," Aditya menggoda dengan senyum sinis dan murahan. "Apa mau mu, Dit?" tanya Alina dengan kesal. Dia benar-benar siap untuk memukul pria ini setiap saat jika dia ingin memulai sesuatu konyol lainnya. "Yah..karena teman kencan saya sedang di toilet, saya pikir saya melihat-lihat dan mencari gadis-gadis cantik! Dan yah ... saya menemukan kalian," kata Aditya sebelum memberi gadis-gadis itu salah satu kedipan khasnya (yang sering dia lakukan ketika dia mencoba merayu semua gadis yang ia temui). "Kencan? Dengan siapa?" Amanda bertanya dengan tidak percaya. Dia tidak bisa membayangkan gadis mana yang bisa cukup mengasihankan untuk pergi bersama Aditya alias buaya darat paling menyebalkan di Sekolah. Di sisi lain, Rio adalah buaya kedua. "Tentu saja banyak gadis yang ingin berkencan dengan ku! Pria seperti ku bisa mendapatkan gadis mana pun dan tetap menjadi idola," kata Aditya dengan nada bangga. "Wah, siapa gadis tersebut, Dit?" tanya Jonathan dengan rasa ingin tahu. “Jujur..dia bukan tipeku, tapi ya,” Aditya belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena dia mendengar suara yang mengejutkannya dari belakang. "Adit! Aku sudah mencarimu," Nadine mendekati Aditya dan melingkarkan lengannya di pinggang Aditya. "Nadine? Kamu di sini?" tanya Amanda. "Bersama Adit?" tanya Alina dengan wajah kaget. "Dia mengajakku jalan-jalan kesini! Lagipula aku bosan di rumah, jadi aku memutuskan untuk jalan dengannya," Nadine menjawab sambil tersenyum. "Oh, oke," Amanda menjawab Nadine dengan wajah kebingungan. "Yah..aku dan Adit akan mengambil beberapa foto lucu di booth foto! Bye," Nadine berkata sebelum berjalan mesra dengan Aditya. "Sejak kapan mereka berpacaran?" Alina bertanya dengan bingung. "Adit mungkin ingin mengajaknya kencan sehingga dia bisa memposting hal-hal klise di i********:. Percayalah, ia akan berpura-pura tidak ada yang terjadi di antara mereka pada hari Senin," Amanda berkata pada saudara kembarnya. "Seseorang seperti dia sepertinya tidak bisa fokus hanya pada satu wanita," kata Jonathan. "Cinta adalah petualangan bermain untuk Aditya," kata Alina membuat Amanda dan Jonathan tertawa. "Oke! Mari kita berhenti membicarakan Adit si buaya dan lanjutkan menjelajahi tempat ini," Jonathan menyarankan. "Ya," jawab Amanda dan Alina. Sementara itu, Aditya dan Nadine memutuskan untuk beristirahat di sebuah kafe dekat sana. Mereka memesan milkshake dan kentang goreng. "Taman acaranya cukup bagus, Dit," Nadine berkata sambil mengambil satu kentang goreng. "Lumayan sih." Kata Aditya sambil menatap layar HP nya. "Ngomong-ngomong, saya suka foto yang kami ambil di stan foto," kata Nadine. "Iya," jawab Aditya dengan santai. Kedua remaja itu terus berbicara selama 40 menit. Saat Nadine seakan mengambil kentang goreng terakhir, tanpa sengaja tangan Aditya tersentuh tangannya yang juga mau mengambil kentang tersebut. Nadine kaget melihat tangan Aditya yang tak sengaja menyentuh tangannya. "Oh maaf," Aditya meminta maaf, sambil tetap berusaha untuk terdengar tenang. "Tidak apa-apa! Ngomong-ngomong, itu buat kamu saja," kata Nadine sambil merasa sedikit canggung. "Tidak apa-apa, buat kamu," kata Aditya sebelum menyesap milkshake cokelatnya lagi. Setelah kedua remaja itu selesai makan, Aditya memutuskan untuk mengantar Nadine pulang. Ia menelepon sopirnya dan memintanya untuk mengantar Nadine pulang terlebih dahulu, sebelum mengemudi kembali ke rumah Aditya. Di rumah Nadine ... "Terima kasih untuk hari ini, Adit," kata Nadine sambil tersenyum di depan gerbang rumahnya. "Sama-sama, Nad! Aku akan pulang sekarang," kata Aditya sambil membuka pintu mobilnya. "Tunggu," kata Nadine. Aditya menoleh untuk menghadapinya. Dia baru saja akan masuk ke mobilnya. "Tentang hari ini, Dit..apa," kata Nadine dengan sedikit gugup untuk menemukan kata yang tepat untuk kalimat tersebut. "Apa?" tanya Aditya. "Merasa ada yang berbeda tentang ...... hari ini?" tanya Nadine sambil merasa semakin canggung sekarang. Tak biasanya Nadine merasa segugup ini. "Tidak..tidak ada," jawab Aditya padanya dengan santai, sebelum ia masuk ke mobilnya dan melambai dari jendela. Mobil hitam Aditya berjalan jauh dari rumah Nadine, meninggalkan Nadine berdiri di depan rumahnya dengan perasaan campur aduk. Aditya ... dasar kau buaya sejati. Nadine berpikir dalam hati. Perasannya seolah-olah seseorang baru saja menghancurkan hatinya menjadi jutaan keping. Senin, di Sekolah ... "Aku masih tidak percaya dia melakukan itu," Nadine berkata kepada teman temannya di Kantin. "Aditya benar-benar buaya terbesar di Sekolah kami," kata Amanda. "Dan juga tak dewasa," kata Alina. "Itu benar. Aku ingat Adit mencoba merayuku pada hari Valentine dengan buket bunga," kata Carissa. "Dan apa yang terjadi?" tanya Alina. "Dia memberi SEMUA GADIS buket bunga," kata Carissa. "Oh ya! Aku ingat tidak mau menerimanya, jadi aku berikan saja pada Vina," kata Amanda. "Dan itulah kenapa aku punya dua karangan bunga di hari Valentine," kata Vina. Para gadis kemudian menertawakan bagaimana Aditya memiliki kepribadian yang sangat aneh yang terkadang terlihat sangat lucu. Selasa, di Sekolah ... "Ok anak-anak! Hari ini kita akan bermain sepak bola," Pak Juno, guru olah raga, memberi tahu murid-muridnya. Aku bahkan tidak berlatih sepak bola. Pikir Amanda. "Untuk hari ini, Rio dan Revan akan menjadi penjaga gawang," Pak Juno menunjuk pada Rio dan Revan. "Tapi Pak! Kacamata hitam saya baru! Saya baru saja membeli ini di Paris 2 bulan yang lalu," kata Rio sambil melambai-lambaikan rambutnya untuk membuat dirinya terlihat keren. "Yah, itu bukan urusanku, Rio," Kata Pak Juno. Rio merasa kesal mendengar hal ini. "Baik anak-anak! Ayo mulai," kata Pak Juno. Para remaja mulai bermain sepak bola, menendang bola dari satu orang ke orang lain. "Masuk," Nadine melompat saat dia baru saja menendang bola ke gawang. "Oke, aku akan menendang ini kembali padamu! Awas!" Rio menendang bola keluar gawang. Bola terbang sangat jauh, membuat mereka semua berpikir bahwa bola tersebut bisa jatuh kapan saja. "Jo! Awas," Alina berteriak kepada Jonathan tetapi sebelum Jonathan bahkan bisa bergerak, bola telah mengenai kepalanya, menyebabkan ia jatuh ke tanah. "JONATHAN," Amanda dan Alina sama-sama berteriak saat mereka berlari ke arah Jonathan. Siswa lain juga berkumpul untuk melihat keadaan Jonathan. "Ayo bawa dia ke kantor perawat," Amanda berkata pada Alina. "Ya! Ayo pergi," Alina berkata pada saudara perempuannya. Di kantor perawat ... "Baiklah Jonathan..tidak ada kerusakan pada dirimu. Pukulan dari bola hanya membuatmu merasa sedikit pusing, tapi rasa pusing itu akan cepat pulih," Perawat menjelaskan kepada Jonathan, Amanda, dan Alina. "Terima kasih sekalk," Amanda berterima kasih pada perawat. "Sama-sama, anak-anak," Perawat menjawab ketiganya sebelum meninggalkan ruangan. "Apa kau sudah membaik, Jo?" Alina bertanya sambil menatap wajahnya. "Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing," Jonathan menjawab Alina sambil menyentuh kepalanya. "Gila, aku tidak tahu Rio punya tendangan tinggi," Jonathan melanjutkan. "Tak seorang pun dari kami tahu," Amanda membalas sahabatnya. "Tapi senang mengetahui bahwa kamu baik-baik saja." Jonathan tersenyum pada sahabatnya. Dia kemudian melihat ke bawah ke lutut mereka dan melihat bahwa lutut mereka sangat kotor. "Lutut kalian," ucap Jonathan sambil menunjuk kedua lutut sahabatnya. "Oh..kami menjadi panik saat bola menghantammu. Kami menekuk lutut kami di tanah, jadi yah mereka sedikit kotor sekarang," Alina menjelaskan kepada Jonathan. Jonathan kemudian mengambil beberapa kapas dan air. Dia membasahi kapas dengan air, dan membungkuk untuk membersihkan lutut Amanda dan Alina. "Jo, tidak apa-apa. Tidak usah," kata Amanda namun ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya. "Tidak apa-apa! Jangan khawatir tentang itu," Jonathan berkata kepada Amanda sambil masih membersihkan kedua lututnya dan Alina. Sudut pandang Amanda ... Kamu hanya mempersulitku untuk hanya melihatmu sebagai orang yang aku kenal sejak kecil. Kamu lebih dari seorang saudara, tapi bagaimana aku bisa berani untuk mengakui perasaan ini? Aku merasa seperti aku mencintai kakak ku sendiri. Jonathan, jangan membuatku jatuh cinta padamu. Apa yang akan Alina pikirkan jika kita menjalin hubungan? Selama ini, mungkin saja ia telah jatuh cinta dengan mu sama seperti aku, dan aku bahkan tidak tahu. Sama sepertiku..kapan aku mulai memiliki perasaan yang berbeda padamu? Pikirku sambil terus menatapnya. Dia sedang membersihkan lutut kami dengan kasih sayang. Orang ini .. bisakah dia berhenti memberi ku begitu banyak perhatian kasih sayang? Sudut pandang Alina... Bagaimana aku bisa melihatmu dengan cara yang sama lagi? Bagaimana aku bisa berhenti merasa seperti ini, ketika kamu selalu memberiku perhatian dan kasih sayang? Akhir-akhir ini kamu tampak lebih dekat dengan Amanda, dan aku tidak ingin menyakitinya jika ia benar-benar punya perasaan untukmu. Satu hal, dia bertingkah berbeda sejak pertunjukan itu. Aku tidak ingin merusak hubungan yang baik. Seandainya aku tahu kapan aku mulai jatuh cinta padamu. Saya berpikir ketika saya melihat sahabat saya, yang baru saja selesai membersihkan saya dan lutut saudara perempuan saya. Wow, cinta segitiga itu rumit! "Selesai," kata Jonathan kepada Amanda dan Alina. "Terima kasih, Jo," Alina berkata sambil melihat lututnya sekarang bersih. "Ya! Terima kasih, Jo," Amanda membalas sahabatnya dengan senyuman. "Sama-sama," Jonathan membalas sahabatnya sambil tersenyum. Setelah Sekolah... "Sopir saya sudah sampai," kata Jonathan sambil melambaikan tangan kepada kedua sahabatnya. Amanda dan Alina membalas melambaikan tangan kepada Jonathan sebelum ia memasuki mobilnya. Di rumah Jonathan ... Jonathan sedang membaca buku di kamarnya. Sebuah novel misteri menjadi pilihannya untuk malam ini. Ia kemudian mendengar ketukan di pintunya. "Masuk," kata Jonathan. Sosok tinggi dengan rambut yang sedikit berantakan memasuki ruangan. Ia adalah kakak laki laki Jonathan, yakni Johnny. "Jo, mama baru saja bilang dia ingin kamu menyelesaikan PR-mu, sebelum membaca buku itu lagi," kata Johnny kepada adik laki-lakinya. "Aku sudah menyelesaikan semua PR ku! Itulah mengapa saya membaca ini sekarang," Jonathan membalas kakak laki-lakinya. "Bagus kalau gitu," kata Johnny. Ia kemudian berjalan di dekat pintu. Baru saja ia akan keluar ketika ia melihat foto di dekat meja kecil di dekat pintu. Itu adalah foto Jonathan, Amanda, dan Alina, bersama-sama di Taman Acara. "Jadi ... bagaimana kabar sahabat mu?" Johnny bertanya pada Jonathan sambil melihat foto itu. "Mereka baik," Jonathan menjawab, namun tidak meninggalkan pandangannya dari buku yang ia baca. Johnny menatap foto itu selama beberapa detik, sebelum menanyakan pertanyaan lain kepada adik laki-lakinya. "Dan kau belum pernah berkencan dengan salah satu dari mereka?" Johnny bertanya dengan rasa penasaran. Jonathan menatap kakaknya sebelum menjawab pertanyaan tersebut. "Mereka adalah sahabatku, Kak! Mereka saudara perempuan ku, bukan kekasih ku," kata Jonathan dengan kebingungan tertulis di wajahnya. "Aku pikir kamu benar-benar kehilangan pengertiannya di sini," kata Johnny kepada adik laki-lakinya. Ia berhasil membuat Jonathan menutup bukunya dan memperhatikan dirinya. "Apa maksud mu?" Jonathan bertanya pada kakaknya. "Mereka ini menyukai mu," Johnny memberitahu Jonathan dengan tatapan serius sambil sedikit tersenyum. "Tentu saja mereka menyukai ku! Aku seperti saudara bagi mereka," Jonathan menjawab dengan santai. "Kamu benar-benar tidak bisa membaca wajah mereka, yah?" Johnny bertanya pada adik laki-lakinya. "Apa?" tanya Jonathan. Ia masih belum menangkap bahwa sahabatnya menyukainya. "Amanda dan Alina menyukai mu! Dalam arti, mereka SUKA dengan kamu," kata Johnny kepada adik laki-lakinya yang sekarang terkejut. Jonathan terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. "Seperti..seperti cinta?" Jonathan bertanya pada kakaknya. Johnny memberinya anggukan, yang membuatnya semakin terkejut. "Ya ampun," kata Jonathan. Ia sekarang benar-benar kehabisan kata-kata. Tiba-tiba, dia baru mendengar dari kakaknya bahwa kedua sahabatnya menyukainya? Ini terlalu cepat baginya. "Jaga mereka, Jo! Mereka gadis gadis yang baik!" Johnny berkata, sebelum meninggalkan ruangan dan menutup pintu. Jonathan ditinggalkan sendirian dengan perasaan terkejut. Selama ini, dia tidak tahu bahwa baik Amanda maupun Alina memiliki perasaan padanya. Kapan semua itu mulai? Apakah sejak pertunjukan? Mungkin itu bagi Amanda, tapi bagaimana dengan Alina? Dengan semua pemikiran berputar dalam kepalanya, Jonathan akhirnya memikirkan perasaannya sendiri terhadap kedua sahabatnya. "Tapi bagaimana denganku? Apakah aku menyukai salah satunya?" pikir Jonathan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD