"Kalau begitu mari kita mulai makan," kata Alina kepada Amanda dan Jonathan.
Ketiga remaja itu mulai menyantap pizza dan makanan ringan. Alina mencoba mencerahkan suasana, sementara Amanda dan Jonathan terus saling menatap dengan sikap canggung. Setelah satu jam, ketiga remaja itu akhirnya menghabiskan pizza dan makanan ringan mereka.
"Wow, aku kenyang," kata Amanda sebelum pergi ke dapur untuk mencuci tangannya.
"Kurasa aku tidak akan punya ruang untuk makan malam ini," kata Jonathan sebelum menyesap soda untuk terakhir kalinya.
"Haha, kalau gitu kamu bisa bilang kamu telah dibuat kenyang oleh kami," Alina berkata dengan nada sarkastik.
"Haha, sangat lucu," Amanda menjawab saudaranya saat dia mengeringkan tangannya dengan kain kecil.
"Lelucon Alina sama enaknya dengan pizza," kata Jonathan sambil melemparkan senyuman menggoda kepada Alina yang membuatnya tersipu.
"Wow, terima kasih! Aku tersanjung," Alina berkata sambil tersenyum malu malu pada Jonathan.
"Oke, mari kita bersihkan ini sebelum mama kembali," kata Amanda sambil mulai mengambil mengambil kain untuk membersihkan meja makan.
"Ya, Ibu Amanda," kata Jonathan sebelum berpose seperti seorang jagoan, membuat Amanda dan Alina tertawa sangat kencang.
Beberapa hari kemudian...
Di Sekolah....
"Aku senang tugas dengan Pak Dika akhirnya selesai," kata Vina kepada teman temannya. Seperti biasa, mereka duduk bersama di Kantin.
"Kenapa begitu, Vin?" Carissa bertanya pada Vina.
"Aditya benar-benar TIDAK membantu sama sekali! Yang dia lakukan hanyalah membual tentang mobil barunya selama berjam jam!" Vina menjawab Carissa.
"Terus bagaimana ia bisa menjadi satu kelompok dengan kamu?" Alina bertanya.
"Tidak ada yang menginginkan dia! Jadi yah terpaksa ia masuk kelompok ku," Vina menjawab Alina.
"Oh," Amanda berkata.
"Apa barusan?" seorang remaja laki-laki dengan rambut belah samping berkata dengan nada menggoda. Para gadis gadis menoleh untuk melihat bahwa ia adalah Aditya.
"Hai Adit! Sepertinya tidak ada yang menginginkanmu," Alina berkata padanya dengan nada sarkastik.
"Diam! Kamu akan memohon untuk pergi bersamaku begitu kamu melihat mobil baruku," Aditya menjawab Alina dengan nada sombong. Jelas ini membuat para gadis-gadis merasa muak.
"Mungkin tahun depan, Dit! Dibutuhkan lebih dari sekadar mobil mewah untuk pergi bersama kami," kata Alina kepada Aditya, sebelum memalingkan muka untuk menghabiskan makan siangnya.
"Hati-hati dengan apa yang kamu katakan, Alina Katheryn! Suatu hari kamu akan memohon untuk jalan denganku," kata Aditya sambil berharap Alina akan menyesal atas perkataannya.
Alina menoleh untuk menghadap Aditya dengan wajah kesal.
"Biar ku luruskan dulu. Pertama-tama, aku tidak tertarik dengan mobilmu, Aditya! Dan kedua, tidak ada yang memanggilku Alina Katheryn kecuali Jo," Alina menjawab Aditya dengan nada ketus.
"Apa? Apakah dia pacarmu?" Aditya bertanya dengan nada penasaran.
"Tidak! Tapi aku lebih suka berkencan dengannya daripada ikut denganmu dalam MOBIL BARU," jawab Alina kepada Aditya. Ia merasa lebih kesal dengan Aditya sekarang. Amanda menatap saudara kembarnya dengan mata terkejut. Apakah dia benar-benar mengatakan bahwa dia akan memilih Jonathan daripada Aditya? Ya...tidak terlalu mengejutkan. Aditya memang benar-benar menyebalkan.
"Ingatlah perkataan ku, Alina! Aku akan membuatmu berkendara bersamaku seperti mimpi terindah," kata Aditya sambil terlihat seperti sedang marah sekarang.
"Yang dimana hanya dalam mimpi, Dit!" Alina menjawab dengan sinis. Dengan wajah kesal, Aditya meninggalkan meja para gadis dengan marah.
"Waduh," kata Amanda dengan sangat terkejut.
"Kau benar-benar berani! Tidak ada gadis yang pernah cukup berani untuk menolak Aditya seperti itu," Carissa berkata pada Alina.
"Memang siapa dia? Penindas atau semacamnya? Aku tidak mengerti kenapa kita perlu takut padanya," kata Alina.
"Ya, sering kali perempuan menolaknya, tapi belum pernah ada gadis yang pernah menolaknya seperti mu! Kamu sangat hebat," kata Nadine.
"Yah, saudara kembarku memang hebat," Amanda berkata sambil tersenyum pada Alina.
"Aku hanya tidak suka jika Adit atau pria menyebalkan lainnya mencoba untuk menggoda kita. Menurut ku itu menjengkelkan," kata Alina.
Setelah sekolah...
"Mama bilang dia akan tiba sekitar 10 menit. Dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelumnya," Amanda berkata pada Alina. Mereka sekarang menunggu di luar sekolah agar mama mereka menjemput mereka. Sambil menunggu, tiba tiba Aditya mendekati mereka.
"Hei gadis cantik," kata Aditya sambil bernada menggoda pada Amanda dan Alina. "Jadi .. menunggu mama mu?"
"Ya," Amanda menjawab Aditya dengan malas. Ia bahkan tidak ingin melirik ke arahnya.
"Kamu tahu bahwa aku tipe pria yang tahu apa yang kuinginkan, kan?" Aditya bertanya pada mereka. Amanda dan Alina menjadi bingung mendengar perkataannya, dan memutuskan untuk menatap wajahnya.
"Apa maksudmu?" Alina bertanya padanya dengan rasa ingin tahu.
Aditya berjalan mendekati Alina, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa inci dari satu sama lain.
"Caramu berbicara kembali padaku cukup berani, Alina! Tapi biarkan aku memberitahumu ini..Jika aku menginginkanmu, aku akan memilikimu," dia mengatakan sebelum dia dengan cepat meraih lengan kanan Alina dan menariknya pergi. Amanda kaget dan mengejar keduanya. Amanda akhirnya memegang lengan kiri Alina.
"Lepaskan dia, Dit! Kamu sudah gila," Amanda berteriak saat dia berjuang untuk menarik Alina dari tarikan Aditya.
"SESEORANG TOLONG," Alina berteriak kesakitan. Kedua lengannya sakit, dan dia sangat lelah berteriak dan berjuang untuk menjauh dari Aditya. "Lepaskan aku, Aditya!" Alina berteriak.
"Tidak akan pernah! Lebih baik kamu diam saja dan ikuti aku ke dalam MOBIL BARU," kata Aditya sambil menarik Alina lagi. Namun, seorang pria kemudian menarik Aditya dari belakang.
"Lepaskan dia, Adit," pria itu berkata kepada Aditya.
"Minggir, Jo! Ini bukan urusanmu," kata Aditya sambil menghindar dari Jonathan. Namun Jonathan dengan cepat menarik salah satu tangan Aditya.
"Cepat, Amanda! Selamatkan Alina! Masuk ke mobilku," teriak Jonathan sambil berusaha menahan Aditya.
Amanda menarik Alina dari tangan Aditya dengan kedua tangannya. Amanda, Alina, dan Jonathan kemudian berlari menuju mobilnya yang tidak jauh, dan dengan cepat meminta sopirnya untuk membawa mereka pulang.
"Bawa teman-temanku pulang, Pak," kata Jonathan kepada sopirnya, Pak Irwan.
"Baik, Jo," jawab Pak Irwan.
Amanda dan Alina sekarang duduk di kursi belakang (bersama dengan Jonathan). Mereka semua mencoba mengatur napas setelah adegan berlari lari.
"Kita harus menelepon mama, Amanda! Kita perlu memberitahunya bahwa kita sudah dalam perjalanan pulang," Alina memberi tahu saudara perempuannya. Amanda menarik napas lagi, sebelum berbalik menghadap Alina. "Iya! Aku akan meneleponnya," kata Amanda sebelum mengambil ponselnya dan mencari nomor ibunya.
"Ngomong ngomong..Jo..?" tanya Alina pada Jonathan yang duduk di sisi kanannya, sedangkan Amanda di sisi kirinya. Jonathan menatap Alina. "Iya?" Jonathan menjawab Alina.
"Terima kasih telah menyelamatkan aku dari Adit hari ini," Alina berkata sambil menatap mata Jonathan. Menurut Alina, mata Jonathan sangat menyihir dirinya.
"Sama-sama, Alina," kata Jonathan kepada Alina dengan senyuman manis.
"Kamu dan Amanda seperti saudara perempuanku! Aku akan selalu ada untuk melindungi kalian," Jonathan berkata sebelum menoleh untuk melihat ke jendela. Amanda baru saja selesai menelepon ibunya. Akhirnya, gadis-gadis itu tertidur sambil menunggu Pak Irwan benar-benar tiba di rumah mereka. Alina tertidur dengan kepala di bahu Jonathan.
Beberapa menit kemudian, Pak Irwan akhirnya sampai di rumah Amanda dan Alina.
"Sudah sampai," kata Pak Irwan.
Jonathan melihat Alina yang tertidur di bahunya. Dia harus mengakui, dia terlihat sangat imut saat dia sedang tidur. Seolah-olah dia kelelahan, tetapi bahagia pada saat yang sama. Dia tersenyum sebelum dia memberi tahu bahwa mereka telah tiba.
"Alina, Amanda! Kita sudah sampai," kata Jonathan sambil menatap Alina yang tertidur di bahunya, dan Amanda yang tertidur di sampingnya. Perlahan, Alina dan Amanda mulai membuka mata mereka.
"Apa?" Alina bertanya pada Jonathan.
"Kita sudah sampai," Jonathan menjawab Alina.
"Oh oke!" Amanda menjawab Jonathan.
Amanda dan Alina keluar dari mobil Jonathan dan mengucapkan terima kasih padanya sebelum memasuki rumah mereka. Ketika gadis-gadis itu masuk, ibu mereka sudah menunggu mereka di ruang tamu.
"Ya ampun...beruntung kalian selamat," kata ibu mereka sambil memeluk Amanda dan Alina.
"Tidak apa-apa, Ma," Amanda menjawab.
"Aku ingin memelintir Aditya karena mencoba mengambil kalian," kata ibu mereka dengan nada yang sangat marah.
"Tenang, Ma! Adit hanya bersikap tak waras karena ia terlalu ingin memamerkan mobil barunya," Alina berkata sambil mencoba untuk menenangkan ibunya.
"Siapa yang peduli jika dia punya mobil baru? Anak itu benar-benar perlu belajar sopan santun," Ibu mereka kembali untuk mengungkapkan rasa kesalnya.
"Ya," jawab Amanda dan Alina kepada ibu mereka.
Malamnya, Alina memutuskan untuk melakukan panggilan video dengan Jonathan di kamarnya, sementara Amanda sedang di kamar mandi menyikat giginya.
"Hai Jo! Lagi apa?" Alina bertanya padanya melalui telepon video.
"Hanya bersantai. Sebenarnya orang tuaku sudah membentakku untuk tidur, tapi kupikir 5 menit lagi tidak apa-apa. Hahaha," Jonatham memberi tahu sahabatnya dengan tertawa.
"Hahaha, lucu sekali, Jo," Alina menjawab Jonathan sambil tertawa. Melalui panggilan video, ia terus menatap mata Jonathan yang menurutnya sangat menarik dan mempesona.
"Kau terlihat keren sebelum tidur! Aku harap aku bisa pergi tidur dengan penampilan sepertimu," kata Jonathan pada Alina yang membuatnya sedikit tersipu. Apakah sahabatnya baru saja memberitahunya bahwa dia terlihat keren? Alina sulit untuk percaya hal ini.
"Terima kasih," Alina berkata pada Jonathan. Amanda kemudian keluar dari kamar mandi dan memperhatikan bahwa baik saudara perempuan dan sahabatnya sedang tertawa satu sama lain melalui telepon video. Tidak begitu mengerti apa yang ia rasakan, namun Amanda merasa sedikit aneh ketika melihat dua orang yang sangat ia sayangi terlihat begitu dekat. Apakah ia sedih?
"Sepertinya aku mendengar mama ku berteriak lagi dari bawah! Sampai jumpa besok," Jonathan berkata pada Alina.
"Oke! Sampai jumpa, Jo," Alina menjawab Jonathan sebelum mengakhiri panggilan video. Di satu sisi, Amanda kini sedang berbaring di tempat tidurnya dan telah bersiap untuk tidur.
"Mau aku matikan lampunya?" Alina bertanya pada saudara kembarnya.
"Iya," Amanda menjawab sambil menatap ke atas dengan posisi berbaring diatas ranjang. Alina mematikan lampu dan melompat ke tempat tidurnya untuk tidur.
Satu jam kemudian, sudah jam 12.45, namun kedua gadis masih belum bisa tidur. Keduanya tenggelam dalam pikirannya sendiri tentang satu orang: tidak lain adalah sahabat mereka, Jonathan.
Kenapa aku merasa sangat berbeda ketika dia melakukan panggilan video dengan Alina? Kami selalu melakukan panggilan video bersama, tapi aku tidak pernah seperti ini. Kami selalu menghabiskan waktu bersama sejak kami masih kecil, dan aku baik-baik saja dengan itu. Perasaan apa ini? Tidak mungkin aku bisa menyukai sahabatku sendiri. Amanda berpikir.
Aku selalu berpikir dia manis sejak kita masuk SMP. Tapi aku tidak pernah benar-benar memikirkan perasaan seperti ini padanya, sampai hari ini. Cara dia menyelamatkanku dari Adit, aku tidak tahu apa yang ku rasakan. Apa aku menyukainya? Ataukah aku baru saja tersentuh oleh tindakannya sebagai sosok kakak? Alina berpikir.
Keesokan harinya, di Sekolah ..
"Ada berita bagus," kata Carissa dimana nadanya terdengar seolah ia hampir berteriak.
"Rio mengajak mu kencan?" Amanda bertanya.
"Iya," Carissa membalas dengan senyumnya yang paling cerah.
"Haha, sudah ku duga," kata Nadine.
"Yang benar?" tanya Vina.
"Iya! Apa lagi yang bisa membuat Carissa sebahagia ini?" Kata Nadine.
"Haha, benar sekali, Nad," kata Alina.
"Aduh, indahnya," kata Amanda.
"Terima kasih, Amanda! Aku tak sabar untuk hari Sabtu," kata Carissa sambil memejamkan mata dan membayangkan semua hal romantis yang dapat terjadi.
"Sebuah kencan di hari Sabtu dengan Rio terdengar seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi Carissa," Alina berkata dan membuat semua gadis tertawa.
"Dan bagaimana dengan kalian?" Vina bertanya pada Amanda dan Alina.
"Bioskop lagi bareng Jo?" tanya Nadine.
"Kita akan mencoba ke taman acara baru di tengah kota! Ku dengar mereka akan hadir selama satu minggu," Amanda menjawab.
"Ooh..terdengar keren," kata Carissa.
"Jadi, apakah kalian berkencan bertiga lagi?" Tanya Nadine sambil tertawa.
"Haha, lebih seperti kita hanya pergi bersama tapi tidak pacaran, Nad," jawab Amanda.