Bab 10

902 Words
Setelah pulang sekolah... Di Mal... "Kamu beneran akan memberikan kado untuk Adit?" Alina bertanya dengan nada merengek saat dia melihat-lihat bagian yang menjual kaos pria. "Ini bisa jadi terakhir kali kita melihatnya membuat kita kesal," kata Amanda yang tengah memilih kaos yang ia merasa cocok untuk Aditya. "Dan ini akan menjadi terakhir kali aku melihat pria itu sebelum dia berangkat ke Amerika," "Hah? Adit akan ke Amerika?" tanya Amanda. Ia merasa sedikit terkejut karena dia tidak mendengar berita itu. "Ya, dia baru saja menulis itu di i********: story-nya 15 menit yang lalu," kata Alina. "Oh, ku baru dengar. Ya sudah, ayo pergi ke toko lain. Kurasa tidak ada yang seleranya disini," kata Amanda. "Ya, ayo pergi," kata Alina. Setelah satu jam mencari di seluruh Mal, Amanda dan Alina akhirnya memutuskan untuk membeli sweter hitam dengan huruf "A" di bagian depan dan topi berwarna biru dongker. Amanda memutuskan untuk memberinya topi karena dia sering melihat Aditya mengenakan topi di Sekolah, jadi dia pikir memberinya topi bukanlah ide yang buruk. Sementara Alina, dia memutuskan untuk membeli sweter karena dia sudah merasa "muak" melihat Aditya mengenakan kaos ketat yang membentuk tubuhnya setiap mereka bertemu di luar Sekolah. Di rumah.... "Jujur aku ragu dia akan memakai sweter itu," kata Amanda sambil menatap sweter yang dibelikan Alina untuk Aditya. "Pria itu perlu memakai sesuatu yang berbeda. Aku sudah kesal melihatnya dengan kaos ketat," kata Alina. "Ok. Ayo istirahat saja. Cape sekali," kata Amanda. Sabtu.... Jam 9 Pagi... Perspektif Amanda.. Setelah sarapan bersama, ibu dan ayah memutuskan untuk pergi bersama untuk membeli bahan makanan, meninggalkan aku dan Alina sendirian di rumah. "Jadi jam berapa pestanya dimulai?" Alina bertanya sambil terus mencuci piring, sementara aku sibuk mengelap meja setelah sarapan. "7 malam." "Aku selalu lupa waktu tapi sepertinya aku tidak bisa melupakan orangnya," kata Alina dengan nada dramatis. "Santai, Nak! Kamu terdengar seperti mantan pacar yang dramatis." "Aku selalu dramatis jika menyangkut Aditya Riyano," kata Alina sambil meletakkan piring bersih di lemari dapur. Aku memberinya tawa kecil sebelum berjalan ke wastafel untuk mencuci tanganku. Setelah itu, aku mengeringkan tanganku menggunakan handuk kecil di atas meja dapur sebelum mengambil ponselku untuk memeriksa apakah ada pesan baru. Sementara itu, di rumah sakit... "Kamu yakin tidak ingin aku tinggal di sini, Ma?" tanya Jonathan sambil duduk di samping ibunya yang terbaring di ranjang rumah sakit. "Aku akan baik-baik saja, Nak. Selain itu kamu harus pergi ke pesta malam ini. Aku akan baik-baik saja," kata ibu Jonathan. "Aku selalu bisa melewatkan pesta, Ma. Adit pasti akan mengerti," kata Jonathan. "Tidak perlu, Jo. Lagipula ayahmu memberitahuku dia akan kembali malam ini. Dia akan bermalam di sini, jadi kamu bisa pergi untuk bersenang-senang," kata ibu Jonathan. Jonathan menatap ibunya saat dia tersenyum kecil untuk menghiburnya. Dia menganggukkan kepalanya sebelum berdiri dari tempat duduknya di samping tempat tidur rumah sakit. "Aku akan kembali ke sini besok pagi jam 9 pagi," kata Jonathan. "Kamu istirahat ya, Ma." "Baik, Jo. Kamu hati-hati ya!" "Ya..." Dengan kalimat terakhir itu, Jonathan keluar dari ruangan dan keluar dari rumah sakit. Beberapa jam kemudian... 19:20.. Di rumah Aditya... "Ini minuman lagi, teman-teman," kata Aditya sambil berjalan keluar dari dapur dengan dua botol soda. "Ya ampun, minum lagi, minum lagi," kata Rio sambil mengangkat gelas kosongnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya melingkari pinggang Carissa. Semoga si Rio pingsan di lantai. pikir Alina. Saat para remaja sibuk makan, minum, dan bersenang-senang, bel pintu tiba-tiba berbunyi menandakan ada tamu lain yang datang. Tim berjalan ke pintu depan untuk membukanya, memperlihatkan Jonathan berdiri di sisi lain. Aditya mengizinkannya masuk dan memberinya segelas minuman buatannya bernama "Pelangi". "Si bocah telah datang," kata Aditya "Gila...kayak aku anak kecil aja," kata Jonathan. "Oh, dan selamat ulang tahun," lanjut Jo sambil menyerahkan hadiah ulang tahunnya kepada Adit. Dia telah membelikannya sebuah kamera baru untuk dibawa ke Amerika. "Terima kasih, Jo," kata Aditya dengan senyum khasnya. Saat itu bel pintu berbunyi lagi, membuat Aditya membuka pintu, memperlihatkan seorang pria jangkung dengan rambut belah samping khas dan mata coklat gelap yang tajam di depan pintu. Dia memakai jaket kulit hitam dan celana jeans robek, lengkap dengan sepatu kets putih. "Hei, Kak Dika," kata Aditya sambil membiarkan pria jangkung itu masuk. "Dan kupikir kau terlalu sibuk sampe lupa pesta." "Masih ingat aku," kata Dika dengan nada santai. Matanya kemudian berpaling ke Jo uang berdiri dengan kebingungan. "Jadi gini ya. Dika, ini temanku Jonathan. Dan Joe, ini sepupuku, Dika," kata Aditya saat Jo dan Dika berjabat tangan. "Dika ini orang baru di Jakarta. Jadi kalau kebetulan kamu tahu suatu tempat yang keren dan banyak gadis cantik, jangan ragu untuk mengajaknya kesana dalam perjalanan pencarian cinta." Dika langsung menatap Aditya dengan risih saat mendengar pernyataannya. Sontak hal ini membuat Jo merasa canggung berada di situasi tersebut. Tepat ketika Jo hendak meninggalkan keadaan itu dan mencari teman-temannya yang lain, seorang gadis dengan rambut panjang sebahu, mengenakan kaos kuning serta celana jeans hitam mendekati mereka. "Jonathan!" "Hai Lin," kata Jo sambil tersenyum kecil. "Hei! Aku baru lihat kamu sudah sampai," kata Alina sambil tersenyum kecil. Seperti Jo, dia juga memegang segelas "Pelangi" dan sudah setengah kosong. Senyum manisnya segera memudar ketika dia menoleh ke arah Aditya dengan tatapan kesal. "Adit membutuhkan campuran yang lebih baik jika kamu ingin menjadi seorang bartender." "Aku aja bingung sama minuman dia. Tidak pernah ada yang cukup enak," kata Dika, membuat Alina dan Aditya memandangnya. "Haha, ya," kata Alina. Matanya kemudian bertemu dengan Dika dan keduanya melakukan kontak mata sejenak. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD