Di kantin....
"Ku tebak Adit telah membagikan undangan?" Nadine bertanya pada Amanda.
"Ya," kata Amanda dengan nada jengkel.
"Ayolah... Aku tahu dia sangat menyebalkan, tapi apakah kita benar-benar akan melewatkan pesta ulangtahun seorang Aditya?" Carissa bertanya dengan sikap menenangkan.
"Ya ampun. Terakhir kali dia mengadakan pesta, dia menumpahkan soda di baju ku," kata Alina.
"Gila sekali," kata Nadine.
"Tapi serius. Ini hanya sebuah pesta. Lagipula, kita tidak akan bertemu dengannya lagi setelah lulus. Apa ruginya menghabiskan waktu bersama?" Carissa bertanya.
Alina menatap Carissa dengan tatapan bingung.
"Selain itu, Rio akan ada di sana," kata Carissa.
"Gila! Apakah kepala mu baru terbentur bola?" Alina bertanya dengan nada sarkastik namun mimik wajah terkejut.
"Alina," Amanda memanggil nama saudaranya, berusaha mengingatkannya untuk tidak terlalu emosional.
"Maaf," kata Alina.
"Tak masalah. Gini ya, aku tahu Adit itu menyebalkan, tapi bisakah kita menghabiskan waktu bersama di sebuah pesta?" Carissa bertanya.
"Kurasa kamu ada benarnya," kata Nadine, mulai setuju dengan pernyataan Carissa.
Amanda terdiam sesaat saat dia mulai mempertimbangkan kembali pernyataan Carissa. Meskipun dia selalu merasa Aditya sebagai pria paling menyebalkan di dunia, Carissa cukup yakin bahwa tidak ada ruginya hanya menghadiri pesta ulang tahunnya. Lagi pula, mereka mungkin tidak dapat melihatnya lagi setelah lulus.
"Jadi? Apa yang kamu katakan?" Carissa bertanya pada teman-teman.
Amanda menghela nafas, "Kurasa kami harus setuju denganmu dalam hal ini."
Beberapa jam kemudian...
"Jadi, apakah kalian datang ke pesta Adit?" Jonathan bertanya pada Amanda dan Alina saat mereka bertiga berjalan melewati lorong.
Alina mendesah, "Kurasa."
"Meskipun kadang-kadang dia bisa membuat ku sakit kepala, tidak ada salahnya untuk hadir," kata Amanda, berusaha terdengar sedikit positif saat memikirkannya. Dia bukan orang yang suka berpikiran negatif tentang orang, tidak peduli betapa menyebalkannya mereka.
"Ya," kata Jonathan. "Kudengar Rio dan Revan merencanakan kejutan kecil untuknya."
"Kejutan apa?" Alina bertanya dengan penasaran.
"Aku tidak tahu. Rio bilang lebih baik menunggu dan mencari tahu," kata Jonathan.
"Aku yakin itu salah satu ide bodohnya," kata Alina dengan nada muak.
Mendengar ini, Jonathan menahan ketawa melihat sikap sarkastik Alina. Gadis muda itu selalu menjadi yang paling emosian dalam kelompok mereka, dimana itu adalah kebalikan dari saudara kembarnya, Amanda.
Tak bisa ia pungkiri bahwa Alina terlihat sangat menggemaskan di beberapa saat. Jonathan kemudian menoleh untuk melihat Alina dari samping. Rambut hitam yang tengah dikuncir dan sedikit berayun ketika ia berjalan, ditambah bibirnya cemberut, menandakan dia merasa sedikit kesal.
Amanda memperhatikan tatapan Jonathan pada saudara kembarnya. Entah mengapa dia merasakan sengatan aneh di hatinya ketika dia melihat mata sahabatnya menatap Alina. Dia tahu bahwa dia seharusnya tidak merasa seperti ini, dan bahwa setelah ciuman terakhirnya dengan Jo dia merasa lebih cemas ketika dia melihat Jo terlihat lebih memperhatikan Alina, atau sebaliknya. Dia bisa mengatakan bahwa dia mulai merasa cemburu.
Apa-apaan, Amanda? Dia adikmu dan dia sahabatmu. Lupakan perasaan ini. Amanda pikir.
"Aku harus pergi. Sopirku sudah disini," kata Jo sambil mengembalikan ponselnya ke saku.
"Ok. Hati-hati, Jo," kata Alina saat dia tersenyum kecil pada Jo, di mana dia balas tersenyum.
"Sampai jumpa," kata Jo sebelum dia menoleh dan berjalan menjauh dari mereka.
Satu jam kemudian...
Perspektif Jonathan...
Aku membuka kunci pintu depan rumahku dan masuk dengan beberapa belanjaan di tangan. Ku ingat ibu ku memberi tahu ku pagi ini bahwa dia sedang tidak enak badan dan meminta agar aku membeli bahan makanan dalam perjalanan pulang.
"Ma, aku sudah pulang," suaraku sedikit menjadi lebih tinggi saat aku mencari tanda-tanda dirinya di ruang tamu. Tidak ada.
Penasaran, aku berjalan ke dapur untuk melihat apakah dia kebetulan ada di sana. Namun, aku tidak cukup siap untuk menyaksikan apa yang terlihat.
"Mama!"
Aku melihat ibuku terbaring di lantai. Wajahnya menghadap ke lantai, sementara rambutnya berantakan dan menutupi wajahnya. Khawatir, aku menjatuhkan belanjaan dan membungkuk untuk melihat kondisinya. Kulitnya pucat sekali. Hatiku tiba-tiba terasa sakit saat melihatnya.
Hari berikutnya...
Di Sekolah...
Alina berjalan melewati kerumunan saat dia melihat Rio menggoda Carissa di dekat loker. Dia menatap kedua anak muda tersebut dengan perasaan muak sambil terus berjalan.
Sementara pikirannya terbang ke mana-mana saat melihat Rio dan Carissa (dan benar-benar tidak memperhatikan ke mana dia pergi) tiba-tiba Alina menabrak sosok laki-laki tinggi, membuat kedua buku mereka jatuh ke lantai. Alina memandang pria yang baru saja dia tabrak, dan untuk sesaat dia agak menyesal harus menabrak orang tersebut.
"Tidak punya mata apa?" Alina berkata dengan emosi sambil berlutut untuk mulai mengambil buku-bukunya dari lantai.
"Penglihatanku tidak salah ketika memutuskan untuk bertemu dengan gadis cantik sepertimu, Alvina," kata Aditya dengan senyumam nakal sambil juga berlutut untuk mengumpulkan buku-bukunya.
"Namaku Alina! Dasar cowok gila," kata Alina sambil memungut semua bukunya dari lantai, sebelum memutuskan untuk berjalan.
"Jangan lupa pesta ulang tahunku! Kamu akan menyesal jika tak datang," kata Aditya saat dia melihat Alina meninggalkan pandangannya dengan kesal.
Bersambung...