"Kita telah kembali. Kamu tidak perlu khawatir," kata Jonathan dengan nada santai.
"Jika kita sudah kembali ke masa lalu, mengapa kamu harus berharap tak ada rasa canggung di antara kita?" suara Amanda menjadi sedikit lebih tinggi, bukan dengan nada marah, namun lebih seperti nada kesal.
Sekali lagi keadaan menjadi hening saat Jonathan terdiam mendengar pertanyaan Amanda. Merasa canggung, Jonathan mengalihkan pandangannya dari sahabatnya. Namun, Amanda tidak menyukai tindakannya. Dia tidak menyukai kenyataan bahwa Jo memilih untuk memalingkan muka, menghindari kontak mata. Ini membuat Amanda merasa kesal. Perlahan Amanda mencondongkan tubuh lebih dekat ke Jo, membuatnya menoleh, di mana mata mereka bertemu lagi.
"Amanda..."
Jonathan idak dapat menyelesaikan kalimatnya, setelah dia merasakan bibir lembut Amanda menyentuh bibirnya. Bukan lagi hal yang mengejutkan, namun Jonatham menemukan perasaan nyaman ketika bibir mereka terhubung. Sensasi lembut sentuhannya mengirimkan perasaan yang begitu hangat, sesuatu yang belum pernah dia alami sebelumnya. Meskipun dia tahu bahwa dia baru saja melanggar "perjanjian persahabatan" mereka, dia tidak ingin menghentikan apa yang sedang terjadi saat ini. Perlahan, tangan Jo mulai menemukan jalan ke pinggang Amanda. Dia perlahan menariknya ke atas pangkuannya, saat mereka melanjutkan apa yang mereka tengah lakukan, dengan perasaan bersalah yang melekat di hati mereka berdua.
Hari berikutnya...
Di Sekolah...
"Aku serius aku telah meletakkannya di sini kemarin," kata Nadine sambil terus mencari buku matematika di lokernya.
"Mungkin ada di ranselmu," kata Alina.
"Tidak mungkin. Aku ingat jelas telah memasukkannya ke lokerku," kata Nadine sambil terus menggeledah lokernya, dengan Amanda dan Alina berdiri di sana saat mereka menunggu teman mereka menemukan bukunya.
"Halo para malaikat cantik!"
Amanda dan Alina sama-sama merasa kesal saat mendengar suara menggoda dari pria yang mendekati mereka. Mereka bahkan tak ingin menoleh untuk melihat pria itu, karena kekesalan sudah memenuhi kepala mereka.
"Mengabaikan saya lagi," kata pria itu, Aditya, sambil berdiri di samping Alina.
"Awas kalau kamu melakukan hal bodoh, Dit," Alina berkata dengan nada dingin, masih tak mau melakukan kontak mata dengan Aditya.
"Waduh, Alina Sayang. Santai saja karena aku di sini bukan untuk membuat kekacauan," kata Aditua.
Bohong banget. Amanda berpikir sambil menatap Aditya dengan tatapan kesal.
"Ngomong-ngomong, sayangku si Nadine mengapa terlihat sangat stres?" Aditya bertanya, tapi Nadine bahkan tidak repot-repot menjawabnya.
"Dia mengurus urusannya sendiri. Dan sekedar informasi aja, lebih baik Anda mengurus urusan Anda sendiri," kata Alina dengan nada lancang dengan tangan di pinggul.
"Wah, Alina. Ada apa dengan sikap mu di pagi yang cerah?" Aditya bertanya dengan sikap menggoda khasnya.
"Dia muak dengan kehadiranmu, Dit," kata Amanda.
"Ya ampun...tidak perlu muak segala. Aku hanya mampir untuk mengundang kalian ke acara paling keren," kata Aditya.
"Acara apa?" tanya Amanda.
"Seperti yang kalian tahu, aku akan mengadakan pesta ulang tahun ke 16 yang super meriah pada hari Sabtu ini. Dan kalian semua diundang," kata Aditya sebelum dia membalik poninya yang tampak aneh ke sisi kiri.
"Ulang tahun? Astaga, aku lupa kamu bertambah satu tahun lebih tua," kata Alina menyadari bahwa dia lupa hari ulang tahun Aditya.
"Lebih tua dan lebih bijak. Tentu saja, kamu harus datang," kata Aditya, sebelum mengalihkan pandangannya dari Alina ke Nadine, yang masih menggeledah lokernya.
"Ngomong-ngomong, aku harus pergi. Aku juga perlu mengundang yang lain. Sampai jumpa bidadari ku," kata Aditya sebelum mengedipkan mata kanannya pada Amanda dan Alina, di mana mereka berdua hanya tambah muak.
"Aku tidak akan pergi ke pestanya," kata Nadine sebelum membanting pintu lokernya, akhirnya menyerah mencari buku matematikanya.
"Aku tak kaget," kata Amanda. Dia dan gadis-gadis itu tahu betapa sakitnya Nadine setelah apa yang terjadi di kencan terakhir mereka.
"Lebih baik aku jungkir balik daripada melihatnya menari hip-hop," kata Alina.
"Itu dia," kata Nadine. "Ayo pergi."
"Umm.. buku matematikamu?" tanya Amanda.
"Lupakan saja. Mungkin aku meninggalkannya di rumah," kata Nadine. "Ya, terpaksa ku harus siap dihukum."
Mendengar itu, Alina sedikit melebarkan matanya. Ini pertama kalinya dia mendengar Nadine terlihat tidak terlalu khawatir karena akan dihukum Sementara itu, Amanda tetap bersikap tenang dan tetap diam. Ketiga gadis itu akhirnya berjalan melewati lorong dan menuju ke kelas.
20 menit kemudian...
Di kelas...
"Sekarang mari kita buka halaman 80!"
Saat para siswa menjalani hari lain di kelas IPA, entah bagaimana Amanda tidak dapat menemukan energi untuk berkonsentrasi di kelas, yang merupakan kesadaran baru baginya. Selalu dikenal memiliki fokus yang baik dalam segala hal, entah bagaimana hari ini dia bahkan tidak dapat mengingat apa yang dikatakan guru di kelas. Matanya sesekali sibuk melirik Jo yang duduk tak jauh darinya. Dia bisa merasakan kupu-kupu menari-nari di perutnya setiap kali melihatnya, dan merasa lega karena pria itu sepertinya tidak menyadarinya.
Bayangan dari semalam mulai terulang di kepalanya. Dari mereka mengerjakan PR bersama seperti sahabat pada umumnya, hingga ciuman tak terduga mereka yang sekarang meninggalkan makna yang lebih dalam di hati Amanda. Dia ingin mengatakan bahwa itu adalah kesenangan yang salah, dan terlepas dari kenyataan bahwa dia tahu itu salah, dia sepertinya tidak bisa melupakannya, atau bahkan tidak berpikir untuk mengharapkan kesempatan lain. Antara merasa bersalah terhadap Alina dan perasaannya yang semakin besar terhadap Jonathan, Amanda hanya ingin melanjutkan kesalahan yang membuatnya bahagia, meskipun rasa bersalah tetap ada di hatinya.
Saat Amanda melanjutkan lamunannya, sebuah bola kertas tiba-tiba mengenai sisi kanan kepalanya, membuatnya sedikit terkejut. Dia menoleh dengan kesal melihat siapa pun yang berani melempar bola kertas ke arahnya. Tidak heran, ternyata Aditya yang menjulurkan lidah ke arahnya sebelum memalingkan wajahnya agar guru tidak menyadarinya.
Dasar. Pikir Amanda, sebelum dia mengambil bola kertas dari mejanya. Dia kemudian membuka bola kertas untuk melihat apa yang tertulis.
Kesal boleh, dan terus menyangkal ketertarikan mu terhadap saya, tapi jangan lupa bahwa kamu tidak dapat melewatkan pesta saya. Sampai jumpa di sana, kesayanganku. Amanda membaca kertas tersebut di kepalanya, hanya untuk akhirnya merasa muak dengan apa yang baru saja ia baca.
Bersambung....