MWCB17. Kecemplung Sawah

1045 Words
Arsen memutuskan untuk kembali ke mansionnya. Karena kepala Arsen saat ini mau pecah sebab ulah Alisha. Ditambah, Arsen belum mendapatkan kabar apapun tentang Elena. Drett Ponsel Arsen berdering, menandakan ada panggilan masuk. Saat dilihat, ternyata panggilan dari salah satu anak buahnya. "Maaf menganggu waktu Pak Arsen. Saya sudah menemukan Nona Elena," ucap salah satu anak buah Arsen dari seberang telepon. "Dimana keberadaan Elena?" tanya Arsen dengan rayt bahagia. "Nona Elena berada di Semarang. Di sebuah desa kecil, saat ini dia sedang berada di sawah bersama dengan asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya," jawab anak buah Arsen. "Kirim lokasi sekarang, saya akan datang kesitu sekarang juga." Ucap Arsen dan segera mematikan sambungan teleponnya. Arsen pun bergegas menuju kamarnya untuk menyiapkan baju yang dirinya butuhkan dan segera menuju ke bandara. Untuk terbang ke Semarang saat ini juga. Dilain tempat, Elena sekarang sedang istirahat di sebuah gubuk ditengah sawah. Mereka semua sedang makan siang untuk mengisi perut yang kosong karena setengah hari waktunya dihabiskan untuk menanam padi. "Makan yang banyak non. Biar kuat," ucap Bi Inah. "Kalau kebanyakan nanti gak bisa gerak bi. Biar Laras aja yang makan banyak. Kasihan, Laras badannya kecil," ucap Elena sambil terkekeh. "Udah dari lahir mbak badan aku kecil. Mau dikasih makan sebaskom pun tetep gak bisa gemuk," ucap Laras. "Wah, nanti kalau aku pulang ke Jakarta ikut ya. Nanti kita konsultasi dokter disana. Kebetulan kamu juga nganggur to di kampung, disana ada banyak lapangan pekerjaan. Nanti tinggal aku tanyain ke temen aku," ucap Elena dengan senyuman di bibirnya. "Jadi ngrepotin Mbak Elena. Laras mah udah biasa kaya begini," ucap Laras. "Gak boleh gitu, Ras. Pokoknya nanti kalau aku pulang ke Jakarta kamu harus ikut. Kan bisa tinggal sementara dulu bareng sama Bi Inah," ucap Elena. "Terserah Mbak Elena aja deh. Percuma saya bantah, pasti bakalan Mbak Elena paksa," ucap Laras sambil terkekeh. "Itu tau, hahaha." Ucap Elena sambil tertawa. Bi Inah dan Pak Wirya juga ikut tertawa akan perdebatan Elena dan Laras. Setelah itu mereka oun melanjutkan makan siang dan kembali menyelesaikan pekerjaannya yaitu menanam padi. Hari mulai senja, waktu menanam padi dihentikan dan akan dilanjutkan besok. Elena pun segera naik ke atas sawah. Tak sengaja, anak mata Elena melihat keseberang sawah. Seorang laki-laki dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya dan beberapa anak buah dibelakangnya yang sedang menjaga tuannya sambil memegangi payung. "Pak Arsen," lirih Elena. Laras yang melihat Elena melamun ke seberang sawah pun mengikuti arah pandang Elena. "Ada apa mbak?" tanya Laras bingung saat melihat orang-orang berpakaian rapi masuk ke sawah. "Itu, bos aku. Ralat mantan bos aku. Kenapa dia masuk ke sawah?'' tanta Elena. "Mungkin nyari Mbak Elena. Apa pas Mbak Elena dipecat lupa ngasih pesangon terus dianterin sendiri sampai kesini?" tanya Laras. "Gak mungkin deh, Ras. Yaudah, mending sekaeang kita pulang aja. Keburu malam juga," ucap Elena. Laras dan Elena pun segera pulang lewat jalur sebelah. Karena jalur yang biasa dilewatinya di penuhi oleh anak buah Arsen. Di lain sisi, Arsen berusaha menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh ke lumpur. Karena kondisi jalannya sangat licin dan Arsen juga belum pernah masuk ke sawah. Ini adalah kali pertama Arsen masuk ke sawah, jika bukan untuk mengejar Elena. Tak sengaja, anak mata Arsen melihat jika Elena lewat jalur di sebelahnya. Arsen pun bergegas mengejar Elena dengan kondisi jalan yang licin karena dipenuhi lumpur. Keseimbangan Arsen hilang dan Arsen pun terjatuh ke dalam kubangan lumpur. Byur Seluruh atensi anak buah Arsen mengarah pada bosnya. Tak lupa atensi Elena dan Laras. "Bos mbak jatuh. Kita tolongin ya, kasihan tau,'' ucap Laras. "Yaudah, yuk kita tolongin sekarang," ucap Elena dan segera bergegas berjalan menuju tempat Arsen jatuh. Arsen menatap tajam ke arah anak buahnya. Kenapa mereka malah diam saja dan seperti orang yang sedang menahan tawa. Bukannya menolong bosnya yang sedang terjatuh di lumpur. "Kenapa kalian diam saja? Cepat tolongin saya," kesal Arsen sambil mengulurkan tangannya. Belum saja anak buahnya menolong Arsen. Elena mengulurkan tangannya untuk membantu Arsen keluar dari dalam lumpur. "Mari pak, saya bantu," ucap Elena dengan uluran tangannya. Arsen pun menggapai tangan Elena dan segera bangkit dari jatuhnya. Baju Arsen terlihat sangat kotor karena terkena lumpur. "Pak Arsen ngapain masuk sawah? Kan bajunya jadi kotor," ucap Elena. "Saya masuk ke sawah karena pengen ketemu sama kamu. Mendingan kita keluar aja dari sini. Daripada saya jatuh lagi ke lumpur," ucap Arsen. Sedari tadi Laras melihat ke arah baju Arsen yang penuh lumpur. Sebenarnya, tadi sawah sebelahnya tadi habis dibajak oleh kerbau. Dan otomatis pasti kerbaunya buang kotoran di sawah itu. "Maaf menganggu obrolan kalian. Baju pak bosnya Mbak Elena mending celetan diganti. Soalnya, tadi sawahnya habus dibajak pakai kerbau bukan traktor. Pasti kerbaunya buang kotoran juga di sawah ini," ucap Laras. Arsen yang mendengar penuturan Laras pun memelototkan matanya. Arsen mencium bajunya sebentar dan ya baunya seperti bau t*i kerbau yang tercampur dengan lumpur. "Siapkan baju saya sekarang juga!" perintah Arsen pada anak buahnya. Elena yang melihat ekspresi kesal mantan bosnya itu menahan tawa dengan sekuat tenaga. "Kamu mau ngetawain saya? Silahkan tertawa sepuasmu, asal kamu bahagia saya juga bahagia," ucap Arsen sambil tersenyum. Harusnya Elena yang baper karena ucapan Arsen, tetapi malah Laras lah yang baper. Sedangkan Elena memasang wajah datarnya. "Aaa, ucapannya bikin terbang loh Mbak Elena. Masa Mbak Elena cuek gitu. Kasihan, cowok ganteng dianggurin. Sampai dibelain kecemplung sawah yang lumpurnya habis dibajak kerbau. Bau kotoran lagi," ucap Laras. "Sudah-sudah. Mending sekarang kita keluar dari sawah, nanti Bi Inah sama Pak Wirya khawatir sama kita," ucap Elena dan segera berjalan mendahului Laras dan Arsen. Mereka bertiga pun segera keluar dari sawah dan berjalan menuju ke pinggir sawah agar lebih leluasa saat mengobrol. "Pak Arsen mending pulang aja. Kita juga mau pulang," ucap Laras. "Kalian mau pulang naik apa?" tanya Arsen dengan wajah bingung. "Jalan kaki lah pak. Yakali naik pesawat jet kaya Pak Arsen. Sekarang mending Pak Arsen pulang, terus mandi jangan lupa gantu baju. Besok kesini lagi aja, tanya sama warga. Rumahnya Bi Inah sama Pak Wirya dimana," ucap Elena. "Tapi ...," ucap Arsen yang terpotong. "Gak ada tapi-tapian. Bapak gak sadar apa, kalau badan Pak Arsen bau kotoran kebo," ucap Elena sambil menutup hidungnya. "Iya-iya saya pulang. Apes banget hari ini. Cuma mau ketemu sama bidadari di depan saya ini, sampai jatuh ke lumpur yang habis dibajak sama kebo." Ucap Arsen dan segera memasuki mobilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD